Friday, June 04, 2021

Gagal menjadi diri sendiri.


1941. Usiaku masih remaja. Aku bukanlah siapa siapa. Aku anak bangsa yang lahir  ditengah kancah revolusi. Lani, adalah sahabatku dan juga mungkin pacar. Entahlah. Aku tidak pernah ungkapkan cintaku. Tetapi dia rela melepas keperawarannya untukku.. “ Kau baca artikel ini. Hebat ya. Aku suka pemikirannya. “ Kata Lani. Aku tersenyum.  Aku memang merindukan Lani,  bukan karena amoy ini  aktifis sosialis. Tatapi rambutnya harum dan sentuhannya sangat mengelora. 


“Aku bacakan ya.” Kata Lani. Aku mengangguk. “ Ini artikel ditulis oleh Soekarno. Itu mahasiswa Technische Hoogenschool te Bandoeng. Ganteng orangnya Din. Pintar sekali dia. 


“ Ya terus ajalah baca. Apa dia kata? Kataku.


“ Nasionalisme, Islam, dan Marxisme, inilah azas-azas yang dipegang teguh oleh pergerakan-pergerakan rakyat diseluruh Asia. Inilah faham-faham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu. Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia-kita ini. “ Kata Lani membacakan artikel tahun 1927.  “ Dengan kekuatan tiga itu, Kita bisa goncang revolusi menuju kemerdekaan Indonesia. Aku maunya Indonesia merdeka. “ lanjut  Lani bersemangat.


“ Semua revolusi lahir dari kaum terpelajar dan menjadikan rakyat jelata sebagai martir. Tapi biasanya, setelah revolusi sukses, rakyat tetap jadi korban kaum terpelajar. Selalu begitu “ Kataku skeptis.


“ Tapi,  kau tidak boleh skeptis. Kita perlu idiologi kuat untuk melawan idiologi kapitalisme Belanda. Ya idiologi harus dilawan dengan Idiologi juga.” Kata lani tangkas. Aku tersenyum. Dalam hati aku mengkawatirkan Lani. Belakangan aku tahu, Lani bergabung dengan gerakan bawah tanah berafilliasi ke sosialis , Sjahril. Sebagian besar adalah pemuda militan. Setelah jepang masuk, Lani hilang seperti di telan bumi.


Aku  bertemu kembali dengan Lani awal 1945.  Pertemuan itu di markas Pemuda Pelopor, Cikini Jakarta. “ Ada apa kamu di sini? tanya lani.


“ Aku terseret arus revolusi. Ya ikut gelombang aja.” jawabku


“ Tapi ini kelompok radikal. “


“ Yang bina Soekarno, idola kau sendiri. Kau sendiri ngapain kemari?


Lani terdiam. Usia belum 30 memang tidak membuat Lani menua. Sejak saat itu dia sering ketempat tinggalku di Cikini. Kami menghabiskan malam bersama. Dalam gelora muda, seperti gelora revolusi.


***

1956.

Aku dapat tugas ke Tiongkok sebagai diplomat. Malam hari setelah rapat dengan petinggi partai komunis China, aku mabuk berat karena wine. Seorang wanita dari jauh menghampiriku. Dia memapahku kembali ke hotel. Aku tidak tahu siapa wanita itu. Sampai di hotel dalam keadaan setengah mabuk, entah mengapa aku memeluknya dan terus menciumnya. Wanita itu membalas setiap sentuhanku dengan pagutan yang mendesah. Aku terasa berada diatas puncak gelombang laut yang berayun ayun bersama buih. Setelah itu aku tidak ingat apa apalagi.


Aku bemimpi Lani datang kepadaku  “Engkau bukan milikku, aku bukan punyamu.” Tetapi, terimalah jam tangan ini sebagai hadiah agar kau tidak pernah lupakan aku. Paginya aku terjaga. Terdenga suara dari kamar Mandi. “ Bung sudah  bangun. Mari aku mandikan. “ Aku segera berlari ke kamar mandi. “ Lani!” Dia tersenyum. “Kau yang antar aku ke kamar hotel? 


“ Kamerat partai menghubungiku untuk antar kamu ke hotel. “


“ Dan tadi malam, luar biasa sekali.” Kataku. Wajah Lani merona menatapku. Dengan telaten dia memandikanku. Inilah yang tidak pernah aku dapatkan dari istriku. 


“ Kita ini lucu ya. Kamu yang setia berada dibarisan Soekarno sejak remaja. Akhirnya berlabuh ke komunis. Sementara aku yang sedari awal memuja komunisme karena anti kelas, akhirya hidup dibawah ketiak Soekarno dalam barisan Nasional” Kataku ketika sarapan pagi 


“ Tidak ada yang lucu. Karena kita adalah anak bangsa yang lahir dari rahim ibu pertiwi.”  Kata Lani dengan matasipitnya dan kulitnya yang putih. 


“ Ya revolusi yang tidak satu irama, melahirkan anak anak yang punya agenda sendiri sendiri. Mungkin salah gaul. “ Kataku sekenanya


“ Bukan salah gaul. Tetapi proklamasi tanpa agenda besar dan kuat. Makanya setelah proklamasi, terjadi perpecahan kekuatan.


“ Oh yaaa. Bisa jelaskan” Kataku tersenyum


“ Kita semua tahu pemikiran Soekarno tentang Nasakom. Dalam proses politik menuju Indonesia merdeka gagasan Soekarno itu  dimentahkan oleh golongan Islam terutama dari Muhammadiyah dan NU. Tapi Soekarno memang jenius. Dia bawa gagasan politiknya itu dalam kerangka Trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan. Dia peras lagi trisila itu dalam bentuk Eka Sila , yaitu Gotong Royong. 


Nah golongan islam dalam BPUPKI menolak gagasan itu dengan curiga. Kemudian Soekarno keluarkan lagi ide tentang Pancasila. Dan itu disetujui  oleh Golongan islam,  tetapi urutanya diubah dengan menempatkan Ketuhanan pada sila pertama. Semua golongan saling curiga. Pancasila adalah kompromi yang tidak sudah.”


“ Menarik. Makanya dalam proses politik di meja perundingan menuju pengakuan kedaulatan Indonesia oleh PBB, berkali kali perjanjian damai dengan Belanda dilanggar. Karena golongan islam dan sosialis sengaja memprovokasi rakyat menentang perjanjian damai itu. Reputasi Soekarno dan kawan kawan dirusak oleh mereka.” Kataku


“Ya adalah wajar kalau karena itu memaksa Belanda melakukan aksi polisionalnya. Menegakan akta perdamaian. Perang terbuka tidak bisa dihindari. Semua wilayah di Indonesia terjadi pertempuran melawan Belanda. Setelah KMB pengakuan kedaulatan Indonesia oleh PBB tahun 1949. Bentuk negara Indonesia adalah Republik Indonesia Serikat (RIS). “Kata Lani.


“ Lagi lagi RIS itu dilanggar.  Lagi lagi itu adalah golongan Islam, yaitu Natsir dan Agus Salim dari faksi Masyumi. Natsir menolak menerima jabatan menteri Penerangan  pada kabinet RIS. Natsir keliling Indonesia memprovokasi para pemimpin daerah untuk menolak KMB. Mau perang, perang aja lagi. Kira kira begitu sikap Natsir. Mosi Integral  disampaikan Natsir ke Parlemen 3 April 1950 dan disetujui. Indonesia kembali kepada NKRI. Tapi NKRI tidak mengakui Pancasila dan UUD 45. Yang diakui adalah UUD-Sementara 1950. UUD akan dibuat setelah Pemilu 1955.” Kataku.


“ Ya. Usai pemilu 1955 dibentuklah Badan Kostituante di Parlemen, yang anggotanya semua fraksi yang dapat suara di Pemilu. Tugas badan ini adalah membuat UUD. Nah dikonstituante itu terbukti kecurigaan Soekarno. Bahwa golongan Islam ingin menggolkan agenda Negara berdasarkan syariat islam.” Kata Lani


“ Bukan hanya golongan Islam. PKI ingin juga menggolkan agenda komunisme. Dua faksi ini di parlemen terus aja ribut tampa ada progress terbentuknya UUD. Sehingga dikawatirkan akan terjadi perpecahan. Situasi persatuan dalam posisi kritis. Suhu politik memanas. Saat itulah Soekano kembali kepada ide lamanya, yaitu NASAKOM. Dia mendekati NU agar keluar dari Masyumi. Soekarno tahu bahwa Masyumi tampa NU tidak ada kekuatan. NU bersedia. Atas dasar itu, Soekarno keluarkan dekrit kembali kepada UUD 45 dan Pancasila. 


Tapi UUD 45 dan Pancasila itu menjadi idiologi tertutup lewat Demokrasi terpimpin yang berisi tiga kekuatan besar, yaitu Nasionalis PNI, Agama ( NU ) dan Komunis (PKI). Faksi Masyumi diluar NU meradang marah. Mereka tuduh NU berkhianat. Terjadilah pemberontakan PRRI dan DII/TII yang didalangi elite golongan Islam. Semua berhasil dipadamkan Soekarno.”Kataku dengan bahasa diplomasi.


Kami bedua terdiam. Akhirnya setelah beberapa saat aku berkata dengan lirih.” NASAKOM adalah utopia. Too good to be trues. Faktanya, bagaimana mungkin mempersatukan agama dan komunis. Walau tujuannya sama namun metodelogi jauh sekali berbeda. Bagaimana mungkin Nasionalis bisa bersatu dengan idiologi totaliter seperti Komunis dan Agama. Persatuan yang diharapkan Soekarno justru paradox.” 


Lani melirik kepadaku dan senyum tipis. Rasanya aku ingin merengkuhnya dalam pelukan.


“ Indonesia itu butuh idiologi tertutup seperti komunisme. Aku mendukung Soekarno dengan demokrasi terpimpin. Mau golongan islam atau sosialis kiri atau kanan, yang membangkang, ya gebuk aja.  Yang penting bisa mempersatukan semua yang berbeda untuk berada pada barisan yang tertip. Kita sedang menghadapi neocolonialisme. Kapitalisme adalah musuh idiologi kita” Kata Lani.

***

Tahun 1970. Aku bertemu Lani di New York. Dia sudah jadi diplomat Tiongkok. Aku tahu dan Lani juga tahu bahwa menteri luar negeri RI menegaskan jangan lagi melindungi sisa-sisa Gestapu-PKI.  Kulihat Lani agak lama terdiam dan akhirnya, “Aku ingin pertemuan kita bukan soal pribadi.”


“Pribadi siapa?”


“Pribadi kita berdua…,” tegas Lani. Aku terkejut. Beginikah cara komunis China mendidik diplomatnya. Tidak ada perasaan personal kalau menyangkut agenda partai.


“ Lan, aku sudah menua, kamu juga. Aku punya hutang yang belum terbayar. Dari awal aku jatuh cinta kepadamu. Dan aku tahu, kamu juga kan. Setahuin lalu istriku meninggal. Kini aku sendiri” Kataku masabodo dengan sikap anehnya.


“Tapi cintaku sekarang hanya untuk partai komunis China. Bung nikmati saja masa tua bersama anak anak dan jangan lagi ingat kenangan masa lalu kita. Sebaiknya kita jangan lagi bertemu”


Politik akhirnya memisahkanku dengan Lani, dengan masalaluku. Aku tahu setelah pecah G30 PKI. Lani berusaha minta tolongku agar bisa pulang ke tanah Air. “ Aku ingin mati di Indonesia. Andaikan harus membusuk di penjara aku ikhlas. Aku cinta kamu, Bram..tolong aku. Aku tidak mau dicap pengkhianat. “ Begitu isi surat Lani. Tetapi ego politikku dan demi karirku, aku mengabaikan surat Lani. Akhirnya dia minta suaka politik ke pemerintah China.  Pindah warga negara…


Kami adalah korban politik yang saling menghabisi. Yang menang bebas menindas dan punya alasan bahwa korban tidak bisa dihindari. Dan tetap  dengan wajah hipokrit


No comments: