Saturday, June 12, 2021

Di jalan Taubat.

 



Tahun 2015 di Changi Airport. “ Abang masih ingat Dewi engga ? Waktu di Taipeh. Terakhir kita ketemu di Makkah tahun 2010” Katanya berusaha mengingatkan saya. Taipeh saya ingat. Tapi Makkah? Saya pergi haji tahun 2003. Setelah itu tidak pernah.


“ Kamu kan yang kerja di KTV waktu di Taipeh kan? kata saya menegaskan takut salah orang.


“ Ya bang.”


“ Terus kapan kita ketemu di Makkah? Mungkin orang lain.?”


“ Aduh abang” dia tersenyum. “ Mana mungkin Dewi lupa. Di hati Dewi selalu ada abang. Bukti sekarang Dewi engga salah tegur abang, ya kan. Tapi waktu itu abang hanya senyum aja ke Dewi. Situasi ramai waktu mau ke Arafah. Jadi engga sempat bicara. “ Katanya. 


“ Gimana keadaan kamu? Masih kerja di Travel agent ? Kata saya.

“ Udah engga bang. Tahun 2004 Dewi menikah. Tahun 2014 Suami Dewi meninggal. 


“ Punya anak berapa kamu? “


“ Belum punya bang. Sejak suami meninggal, Dewi lanjutkan usaha suami.


“ Usaha apa kamu ?


“ Jasa.”


“ Jasa apa ?


“ Cleaning solution untuk vessels. “


“ Oh sesuai standar kapatuhan terhadap lingkungan ya”


“ Tepat bang. Kita ada tekhonologi dan bahan kimia untuk memastikan kapal clean sesuai standar lingkungan. Sekarang perusahaan Dewi dapat kontrak dengan 6 pelabuhan di beberapa negara.”


“ Hebat kamu. “


“ Engga terbilang Dewi kirim email tetapi tidak pernah abang balas. Tetapi nama Abang, setiap habis sholat, selalu dewi sertakan dalam doa. Tahun 2010, Dewi pergi Haji bersama Suami.” Katanya seakan tanpa jarak dengan saya.


“ Ya. Sejak tahun 2004 saya ganti email, karena saya hijrah ke China. Yang penting kamu jaga kesehatan ya.” Kata saya segera berlalu karena jemputan saya sudah datang.


***

Mengapa Saya ceritakan tentang Dewi kepadamu ? sebetulnya tidak ada yang istimewa. Namun baiklah saya ceritakan selengkapnya. Dia kali pertama saya mengenalnya di Taipeh tahun 2001. Perkenalan dengan Dewi di suatu tempat hiburan di Taipeh. Ralasi business mengaja saya menikmati hiburan malam di KTV berkelas. Ketika deretan gadis ayu berjejer di depan kami, pandangan saya kepada seorang wanita yang disebutkan oleh Mamisan bahwa dia berasal dari Indonesia, namanya Dewi. Saya memilihnya untuk menjadi pendamping saya.


“ Kamu dari Indonesia “ tanya saya.

“ Ya Bang.”

“ Sudah berapa lama kerja disini ?

“ Sudah hampir setahun. “ katanya dengan pandangan tertunduk ke bawah. Kutahu Dewi merasa tidak nyaman berada di samping saya. Mungkin karena saya berasal dari Indonesia. Namun , mamisan, mengatakan bahwa Dewi memang begitu sifatnya. Namun dia tetap primadona di KTV ini. Dia lembut dan pasrah untuk memanjakan setiap tamunya.

“ Bagaimana kamu sampai kerja di tempat ini ?

“ Awalnya saya ditawari untuk menjadi duta seni. Setelah melewati standard test di agent modeling di Jakarta, akhirnya saya diberangkatkan ke Taipeh. Namun setelah sampai di sini malah diperkerjakan di tempat hiburan., Tak ubahnya sebagai pelacur. Saya tak berdaya karena sudah kontrak. Dan lagi ketika kerja disini orang tua saya terpaksa menggadaikan sawah rumah untuk bayar biaya keberangkatan. “

“ Kamu tamatan apa sekolahnya ?

“ Saya tamatan ABA. “

“ Oh itu sebabnya kamu bisa bahasa inggeris dengan sempurna dan bekerja di tempat berkelas seperti ini.”

Dewi hanya mengangguk.


Saya tak mau lagi bertanya lebih jauh. Bagi saya ini sudah menjadi cerita klasik di tempat hiburan bahwa semua wanita pada dasarnya tak ingin menjadi pelacur. Mereka sadar akan dosa dan setiap hari mereka tentu menyesal dengan perbuatannya itu. Ketika jam menunjukan dini hari , relasi saya menutup Bill. Saya memberikan tip kepada Dewi. Dia menolak dengan halus. Alasannya saya cancel bill untuk membawa dia kehotel. Namun saya tetap bersikeras agar dia menerima tip dua lembar USD 100 dollar ketangannya.


“ Tidak perlu Bang. “ Katanya sambil mundur dan berusaha untuk menjauh dari saya. Namun ketika saya keluar dari ruang KTV , Dewi tetap mengantar saya sampai di depan pintu dan saat itulah saya memaksakan agar dia menerima tip dari saya, Diapun menerima dan nampak airmatanya berlinang. Entah kenapa saya memberinya kartu nama saya.


Sebulan setelah pertemua itu, saya mendapat email dari Dewi. Pesan yang ditulisnya dalam email itu sangat mengharukan. Betapa tidak. Menurutnya dan berdasarkan pengalaman teman temannya, mereka akan dirotasi dari tempat yang mewah sampai ketempat yang kumuh. Dia mengkawatirkan keselamatannya bila sampai di rotasi ke tempat yang kumuh. Dia hanya berharap agar saya dapat menolongnya pulang ke Indonesia. “ Dewi ingin pulang, Bang. Bantu Dewi. “ Demikian diakhir kalimatnya.


Email Dewi saya forward ke teman di Taipeh yang kukenal punya relasi kuat di pemerintahan. Saya tidak menjanjikan apapun kepada Dewi. Saya hanya bisa berdoa semoga teman di Taipeh bisa membantunya pulang ke Indonesia. Tiga bulan setah itu, sayapun mendapat telp dari seseorang mengatakan bahwa dia sahabat Dewi dan Dewi sedang sakit keras.


***

Di kamar tak lebih berukur 4 meter. Dia tergeletak di dipan lusuh. Tubuhnya terbujur lemah. Matanya terpejam. Wajahnya pucat. Itu yang kusaksikan ketika sampai di tempat kost nya. “ Sejak kepulangannya dari Taipeh , dia nampak murung. Kadang menangis sendiri tanpa sebab. Bila ditanya dia hanya diam. Bila malam dia tahajud dan berdoa dalam berurai air mata. Ketika pulang dari Taipeh uang dia hanya bisa menyewa kosan ini untuk tiga bulan. Kini dia sakit. Tak ada uang untuk berobat. Sayapun sebagai sahabatnya tak bisa berbuat banyak. Ingin saya ajak dia pulang kampung tapi dia bersikeras tak mau pulang. “ Demikian sahabat Dewi mengatakan kepadaku. Saya terenyuh.


Dengan serta merta saya memanggil ambulance untuk membawa Dewi ke rumah sakit. Dewi terkena radang usus dan butuh perawatan dokter di Rumah sakit. Saya berikhlas hati untuk menanggung semua biaya berobat Dewi untuk diopname selama dua minggu. Ketika Dewi sembuh dari penyakitnya, kenalan saya mau menerima dia sebagai karyawan CS. Setelah itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan Dewi.


***

Tahun 2003 Desember. Saya berangkat ke tanah suci melaksanakan rukun islam ke lima. Pada hari Jumat, saya melaksanakan sholat jumat di Masjidil Haram. Ketika itu semua tempat yang beratap penuh. Tersisa hanya satu tempat luang di dekat Ka’bah. Cuaca panas sekali. Teman yang satu rombongan haji, kebetulan juga adalah ustadz, memilih keluar dari shap.


” Ini konyol. Kita bisa mati kepanasan disini. Bukan soal keimanan tapi ini sudah konyol. ” Kata teman itu yang segera berdiri dan berusaha mencari tempat lain yang ada atapnya. Saya memilih tetap ditempat. Sementara Kotbah jumat sedang berlangsung. Beberapa orang dari negara lain, tetap bertahan karena mamang mereka punya daya tahan tubuh yang kuat.


Selang beberapa menit , kepala saya terasa pusing dan lemah sekujur tubuh. Kening berkeringat banyak. Saya tertunduk dalam keadaan duduk bersila. Serasa tubuh seperti melayang jauh ke udara. Nampak seorang wanita berhijab putih tersenyum kearah saya. Dewi! Dia memberi air zam zam. Seketika tubuh saya terasa segar dan sekonyong konyong saya sudah berada di dalam istana nan indah dan sejuk. Nampak dari kejauhan pengkotbah jumat dan orang yang hadir, semua berseragam putih. Entah mengapa setelah itu saya tersadarkan semua sudah usai. Kembali seperti semula.


Ketika sampai di hotel. Saya teringat Dewi dan ingin mengirim email kepada dia. Tapi di dalam mail box sudah terdapat email dari dia. Isinya: ….


“ Aku terima email dari Abang tentang rencana keberangkatan ke tanah suci. Setiap malam aku tahajud untuk memohon ampun kepada Allah. Juga aku tidak pernah berhenti berterimakasih dengan segala keikhlasan abang membantuku. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk membalas kebaikan abang, kecuali dalam setiap tahajud, aku berdoa untuk keselamatan abang. 


Doa ku kepada Allah ” Tuhan dengan segala dosaku rasanya aku tidak pantas untuk meminta apapun kepadamu. Namun, ya Allah, Seorang manusia yang engkau kirim kepadaku yang akhirnya aku dapat menemukan kembali keimananku setelah masuk dalam lembah hitam, kini dia sedang berada di rumah mu ya Allah. Bila semua adalah karena Mu, maka lindungilah seseorang itu dari segala bencana. Engkau maha tahu dan berkuasa diatas segala galanya. …”


***

Sampai kini Dewi tetap menjadi sahabat saya. Kalau ada kesempatan kami bertemu. Usianya sudah diatas 40, namun dia tetap sendiri. Alasannya “ Kebaikan almarhum suami, membuat Dewi tidak pernah ada niat untuk memulai second chance menikah. Dan lagi kan ada abang. Setiap Dewi ada masalah , abang selalu ada. “ 

No comments: