Thursday, February 25, 2021

Tidak menyerah..

 


Belajar menerima realita


Di Hong Kong saya biasanya weekend di Shenzhen. Kantor sediakan apartemet di kawasan Dongmen. Di luar kota Shenzhen ada  villa. Hari sabtu saya didampingi oleh James atau Tong atau Wenny atau Esther. Namun hari minggu saya sendirian. Maklum hari minggu hari libur bagi mereka bersama keluarga dan teman. Tinggalah saya sendirian. Biasanya saat kesendirian itu saya gunakan bersantai. Minggu Subuh saya sholat di Masjid Libanon yang  berada diatas atap sebuah Hotel. Jalan santai dari kawasan apartement ke stasiun Louhu. Jam 8 pagi saya ke pusat  Gym dan Spa sampai jam 9 pagi. Sarapan pagi di restoran Muslim.


Setelah itu biasanya saya suka pergi ke pasar tradisional. Bukan untuk belanja. Tetapi meliat cara orang berbisnis seperti waktu zaman saya kecil di Lampung temanin ibu saya belanja. Liat orang tawar menawar harga 200 gram cabe. Tarik ulat leher untuk ikan sekilo. Apalagi liat pembeli emak emak bawa sendiri timbangan untuk pastikan engga dibohongi penjual. Lucu dan asyik liat mereka. 

“ Are you from Philipino” Tegur seorang wanita. 

“ No. Inni” Kata saya tersenyum ramah. Orang China tidak bisa sebut Indonesia. Lidah mereka engga sampe. Mereka menyebut Indonesia, Inni.

“ Oh saya ingin memperlancar bahasa inggris saya. Boleh kenalan” Katanya dalam bahasa inggris. Menurut saya mendekati sempurna.

“ Tapi bahasa inggirs anda sudah bagus.” kata saya. Dia memerah wajah. 

“ Kenalkan. Nama saya Lin atau bisa panggil saya Alisa.” Katanya mengulurkan tangan untuk salaman

“ Saya, Bandaro atau B”Kata saya menyambut tangannya. “ Kamu sedang belanja apa ” Kata saya.

“ Ya beli kebutuhan dapur. Anda tidak membeli apapun?

“ Engga. Saya hanya jalan jalan saja. Saya akan ke starbucks untuk minum kopi. Kalau anda selesai belanja, bisa mampir kesana. Kita minum kopi.”

“ Terimakasih. Saya sudah selesai. Mari kita pergi “ katanya.  Saya perhatikan. Alisa bukan orang selatan. Tetapi wilayah Barat. Dia tinggi dan hidunya mancung. Ukuran Bra sedikit lebh besar di bandingkan wanita selatan. Dari pembicaraan ternyata tebakan saya benar. 


Dia berasal dari wilayah Barat China. Pekerjaanya sebagai designer pakaian di sebuah pabrik. Dia sempat mengeluh. Awal dia kerja. Dia dibayar sebulan 12000 Yuan. Tetapi setelah lima tahun kerja. Gajinya terus turun menjadi 5000 Yuan. Alasanya, lulusan designer semakin banyak. Gaji sudah berkompetisi. Dia harus terima atau pabrik persilahkan dia keluar.  Dari kenalan itu, setiap hari minggu saya tidak lagi sendirian. Alisa mau temanin saya selama di Shenzhen.


Belakangan saya tahu. Dia pindah ke Zuhai. Dia banting setir jadi Pengusaha travel. Dia bermitra dengan temannya pengusaha angkutan. Kamipun sudah jarang ketemu. Namun bila ada kesempatan dia sempatkan datang ke shenzhen.  Dia masak makan malam di apartement saya. Setelah itu kami main Bowling atau pergi ke cafe and Bar. Tak terasa persahabatan kami berlangsung 2 tahun.


***

Alisa datang ke saya. Penampilanya berbeda. Pakaiannya sudah lusuh. “ Saya gagal B. Tabungan saya habis. Mitra saya singkirkan saya. Padahal dia janji kalau usaha patungan kami bisa dapatkan agent dari Eropa dan Jepang , dia akan setor modal. Tetapi setelah itu dia tidak juga setor modal.  Saya sabar.  Setelah berkembang, dia datang ke kantor. Memecat saya. Padahal dari awal walau dia pemegang saham mayoritas, dia tidak setor apapun. “


“ Kamu lapor ke Polisi. Saya akan bantu. Saya ada lawyer. “ Kata saya.

“ Engga. Biarlah. Yang salah saya. Teman saya mungkin juga tidak berniat merugikan saya. Itu karena ulah istrinya. “ Kata Alisa. Airmatanya berlinang. Saya terkejut. Dia baru 1 tahun berbisnis. Tetapi mental enterpreneur sudah terbentuk. Dia cepat membuat keputusan dan melupakan kegagalannya. Orang yang cepat melupakan kegagalan adalah petarung unbreakable.


“ Ok. Lantas apa yang bisa saya lakukan?

ALisa terdiam lama. Namun saya genggam jemari dia. Untuk pastikan saya sahabatnya. Saya ada untuk dia. 

“ Saya ada rencana bisnis IT. “ Katanya. Seraya mengambil sesuatu di dalam tasnya. Proposal. “ Kamu pelajari. Apa mungkin?  Saya baca proposalnya yang hanya lima halaman. Setelah saya baca, saya tanya “ masalah  kamu apa dengan proposal ini?

“ Saya butuh modal. “ Katanya.

“ Saya sediakan modal. Tetapi strategi dari saya. Kamu jalankan. gimana? 


Dia memandang saya lama. Sekonyong konyong dia memeluk saya. “ Kamu mau saja bermitra dengan saya itu sudah berkah. Apalagi kamu mau keluar uang. Entah bagaimanan saya membalasnnya.”


Saya minta James untuk mempertajam proposal Alisa dengan dukungan data riset dan analisa prospek bisnis. Saya membuat keputusan investasi sebesar USD 500.000 sebagai start awal modal. Saham saya 70% dan Alisa 30%. Ini bisnis pribadi saya di bawah proxy Holding Wenny. Alisa hanya tiga bulan didampingi team Wenny. Setelah itu dia sudah mandiri melakukan business process. Tiga tahu setelah itu, Wenny tawarkan bisnis Alisa ke Pony Ma. Deal terjadi sebesar USD 30 juta. Saya keluar.  Angel fund saya pada start up Alisa sebesar USD 5 juta. Kami dapat 5 kali capital gain. Alisa dapat USD 7,5 juta. Ditambah bonus dari Wenny sebesar USD 2,5 juta.


Alisa mendirikan venture capital untuk jadi mitra kaum muda yang  ingin bersaing menjadi terbaik di era digital. “ Apa motivasi kamu buka usaha veture capital? tanya saya.


“ Saya orang miskin di kampung. Tersingkir sebagai pekerja karena upah yang terus turun. Tersingkir karena ulah pemodal. Dan saya terselamatkan dari seorang asing, yang juga sahabat saya. Kamu bukan hanya keluar uang tetapi kamu jadi mentor saya, memberikan network business dan rasa hormat. Kaum muda China butuh banyak mentor bisnis. Saya mau ambil bagian dari program pemerintah membantu kaum pemula agar mereka selamat di rimba belantara bisnis dan naik kelas.” Kata Alisa. Saya kagum. Dia memang orang baik. 


Belakangan saya dapat kabar. Venture capital Alisa jadi members associated partners Pony Ma, untuk berburu start up bisnis IT yang layak bergabung dalam ekosistem WeChat.


Moral cerita. Orang baik selalu berpikir positip disetiap masalah. Kamu bisa jadi apa saja. Bekerja keraslah untuk mencapainya. Kalau sukses kembalilah kepada Tuhan. Berbagilah dalam spirit cinta. Hormati orang berilmu dan kaya. Dari dia kamu akan dapatkan jalan menuju mata air. Cintai orang miskin, dari dia kamu akan dapat doa tulus untuk mempertebal empatimu.

No comments: