Monday, February 22, 2021

Buah kebaikan..

 

Kesunyian itu ada. Keheningan itu adalah keterpaksaan. Phisik tak berjarak. Mereka tidak saling tatap. Diam seperti sedang berdialogh dengan hati masing masing. Anak usia 5 tahun tak henti berlari kesana kemari. Kadang mendekat  keibunya yang duduk dihadapan pria itu. Anak kecil itu dari arah belakang menyender di kursi Ibunya. Kadang korsi bergoyang goyang


“ Sayang, duduk yang tenang.” Kata ibunya dengan lembut. Anak itu menurut.

“ Engga kebayang betapa repotnya kamu ngurus dia.” kata pria yang dihadapan wanita itu.

“ Ya dia aktif sekali, bang Chan.”

“ Mungkin waktu kecil aku seperti dia ya Ming” 

“ Like father like son, mungkin”. Ming berkata seperti menusuk kejantung Chan. Hening lagi.

Akhirnya “ Aku kembali ke Hotel. Besok kami pulang ke Changsa. Terimakasih udah mau terima kami.” Kata Ming.

“ Terimalah uang ini. “ Kata Chan menyerahkan bank draft USD 200.000. 

“ Aku tdak datang untuk minta kamu merasa bertanggung jawab. Aku kangen, Chan” Ming menangis. “ Kedua tanganku masih kuat untuk memikul beban William. Kami akan baik baik saja. Doakan saja.” Ming bicara terbata bata dalam isakan tangis.

“ Aku salah. Karena meninggalkanmu. Aku tidak tahu kalau ternyata kamu hamil. Aku salah karena tidak bisa menikahimu. Karena kehidupan rumah tanggaku sekarang sangat baik. Tidak mungkin aku rusak karena situasi ini. Tapi cintaku kepadamu, itu tidak salah. Terimalah uang ini, Ming. Didik Wiliam dengan baik. Kalau ada masalah, kamu tahu bagaimana harus menghubungiku. “ Kata Chan dengan perasaan bersalah.  


Chan berdiri dari tempat duduknya. Dia menggendong anak usia 5 tahun itu.  Ming tersenyum bahagia. “ Kamu akan sehebat ayahmu, William. Kamu adalah  bukti cinta mama kepada Ayahmu. Mama akan jaga kamu dengan segenap jiwa mama.” kata Ming. Chan merangkul Ming dengan lengan kanannya dan lengan kiri menggendong William. “ Kita akan baik baik saja.”


***

Chan sudah berusia 65 tahun. Badannya lemah. Sekarat. Dokter mengatakan dia kena kanker prostat. Dua anaknya jarang menengokinnya di Rumah. Anaknya tidak mau kembali ke Indonesia. Mereka sudah nyaman berkarir di Amerika. Sejak 10 tahun lalu dia bangkrut. Sehari hari hidupnya ditopang oleh Ling, adik perempuanya. Namun akhirnya, hari ini dia dapat kabar dari Ling. Dia harus tinggal di rumah Jompo. Chan maklum. Ling hanya ibu rumah tangga. Suaminyapun pegawai biasa. Tidak punya uang berlebih untuk terus menanggung hidupnya.


Chan pasrah saja. Bayangannya kepada Ming dan William. Waktu William tamat SMU, Chan bertemu lagi dengan Ming di Changsa. Chan  memberi Ming uang untuk biaya melanjutkan pendidika William ke Tianjing University.  Itu pertemuan kedua. Pertemua ketiga di Beijing. Waktu menghadiri wisuda Willam. Chan memberi uang USD 200,000.  “ Papa engga bisa terus bantu kamu William. Kamu sudah dewasa, Ini pemberian papa yang terakhir. Jaga ibumu.” Katanya. Sejak itu tidak pernah ada lagi pertemuan. Chan tidak tahu perkembangan terakhir William. Juga Ming.


Sore hari, ambulance sudah datang menjemput. Ling sudah mempersiapkan segala galanya untuk dia selama di panti Jompo. 

“ Rumah ini besok harus sudah kosong. Pembelinya sudah minta begitu.” kata Ling. “ Uang hasil penjualan rumah aku tempatkan di deposito atas nama Kak Mey. Bunganya bisa bayar biaya abang selama di panti. Kak Mey biar tinggal sama aku”  Kata adiknya..

“ Anak anaku sudah kamu kabari, Ling? Kata Chan seraya melirik istrinya, Mey.

“ Lelah aku mengingatkan dan berkirim kabar. Surat, email, SMS tak mereka jawab. Udahlah. Engga usah dipikirkan soal anak. Mereka sudah punya kehidupan masing masing. Ikhlas sajalah bang.” kata Ling. Dia diam dan pasrah. Mey berlinang air mata. Mey sejak 3 tahun lalu kena stroke. Responsenya sudah sangat lambat. Tapi Mey secara phisik sehat. 

Kendaraan ambulance terhalang keluar. Karena ada kendaraan berhenti tepat di depan pagar rumah. Seorang pria gagah keluar dari kendaraan. William. Chan tertegun melihat kedatangan William. Yang tak pernah dia bayangkan.

“ Papa ? sakit ? kata william dengan wajah kawatir. Adiknya bingung meliat keakrapan antara Willam dan Chan. Mey berkerut kening. Wiliam merangkul Chan.

Kemudian William sujud di kaki Chan “ Papa, izinkan aku merawat papa. Menjaga papa. “ 

“ Berdirilah nak. “ Kata Chan seraya memeluk William. “ Bagaimana kabar ibumu ?

“ Mama sudah meninggal, papa”

“ Kapan?

“ 10 tahun lalu.”

Chan menangis. “ Maafkan aku Ming..” Dia sesenggukan. Memeluk erat William.


William mengenalkan dirinya kepada Ling dan Mey. “ Sebelum mama meninggal, dia berpesan agar aku menjaga papa. Izinkan aku menjaganya, Ma, Tante “ kata William seraya sujud dikaki Ling dan Mey. Tak berapa lama, Mey mendekati William, tanpa banyak bicara. Mey memeluk William.  “ Ka …mu .anaku juga..” Kata Mey mengganguk ngangguk kepada William.


Akhirnya Chan terbang ke Beijing bersama William. 6 bulan dalam perawatan dokter terbaik di China. Chan bisa sembuh. Dia kembali ke Indonesia karena harus menjaga Mey. William membelikan apartemen mewah di Jakarta dan menyediakan nurse khusus merawat Chan dan Mey.


William termasuk orang terkaya di China. Dia sukses sebagai pengusaha. Setiap bulan dia pastikan datang menjenguk Chan. Rasa sayangnya kepada Chan dan cintanya kepada Mey tidak berbeda dengan cintanya kepada ibunya sendiri.


Moral cerita : Pada akhirnya yang menyelamatkan dan melindungi kita adalah perbuatan baik kita. Dan itu bisa datang dari siapa saja. Pria sukses karena dia hidup dalam cinta dan pengabdian kepada orang tua. Ia tahu berterimakasih dan bersukur kepada Tuhan.

No comments: