Mecintai tanpa memiliki





Tahun 1985

Florence adalah wanita etnis Tionghoa. Dia kelahiran Riau. Sebetulnya dia cantik. Tetapi karena penampilannya tomboy dan malas berhias, tidak ada pria yang naksir dia. Kami kenalan ketika sama sama jadi sales training pada perusahaan Jepang. Akhirnya kami bersahabat tak tepisahkan.  Dia tidak suka berpura pura. Tegar dan sangat tinggi empatinya. 


Suatu saat aku mengabarkan kepadanya bahwa aku telah membuat keputusan untuk menikah.  Dia senang. Tapi dia tidak meresponse untuk aku melamarnya. Suatu saat aku mengabarkan bahwa orang tuaku menjodohkan aku dengan wanita pilihan keluarga. Dia menguatkan aku untuk tidak ragu menikah. Waktu acara pernikahan dia datang memberikan bingkisan buku harian. Yang menarik di halaman depan buku harian itu ada sajak yang dia tulis.


Senja di pangkal akanan.

Menitip rindu anak rantau.

Kepada angin malam.

Di bawa elang menuju entah kemana.

Dalam kesunyian hati merintih.

Berharap dalam doa.

Sang pengeran menjepu

Namun apalah diri ini.

Hanya melihat matahari terbenam

Yang hanya merasakan kehangatan sejenak

Namun dia tetap di pangkal akanan.

Tak akan bisa menjangkau ujung langit.

Esok matahari akan terbit lagi.

Dia tetap di pangkal akanan.


Buku harian itu selalu menamiku selama lebih setahun. Setelah itu buku harian itu penuh dengan catatan tentangku. Kehidupanku berubah dan aku tidak lagi bertemu dengan Florence.


Tahun 1988-1989

Usahaku bangkrut. Aku harus memulai dari nol. Aku tak ingin melanjutkan usaha yang lama. Aku harus mengubah bisnis. Karena aku tidak ingin jatuh di tempat yang sama dan tidak ingin berkubang dengan cerita lama. Aku harus berubah. Usiaku masih muda. Tapi memulai hal yang baru tidak mudah. Aku hubungi Florence di Singapore. Dia kirim uang untuk aku bangkit lagi. Setelah itu aku bertemu lagi dengan florence. Dia punya usaha di Singapore. Dia sudah sukses sebagai agent alat berat. Dia tawarkan aku bermitranya dengan dia sebagai agent di Jakarta. Bukan itu saja. Dia memberiku modal untuk memulai usaha.


Belakangan aku sukses menjual alat berat kepada BUMN. Namun usaha keagenan itu tidak berlangsung lama. Aku mengundurkan diri karena dia terdepak oleh mitranya di Singapore. Florence kembali ke Jakarta. Walau mitranya tetap berharap aku melanjutkan keagenan di Jakarta. Tapi aku tegaskan. Bahwa aku mau berbisnis karena tawaran dari sahabatku, Florence. Tapi dari bisnis keagenan itu aku punya modal untuk bangkit lagi. Saat itu aku tahu Florence sedang pacaran dengan pengusaha Kimia. Keluarga konglomerat. Sudah punya bayi. Namun dia tidak tahu kapan akan menikah. Setelah itu kami disconnect lagi.


Tahun 1993.

Aku bertemu lagi dengan Florence. Dia cerita tentang hubunganya yang gagal dengan pacarnya. Tetapi dia bersukur sebelum menikah dia sudah dapat bayi laki laki. Dia jadi single parent. Tinggal di Kawasan pluit. Usahanya berkembang sebagai suplier spare part alat berat pada perusahaan minyak. Saat itu usahaku sedang terpuruk akibat kospirasi relasiku yang akhirnya menendangku dalam kemitraan. Florence datang menarwarkan bisnis. Dia bantu aku modal. Bukan itu saja dia beri aku proyek. Kamipun bermitra dalam proyek Telecom di Malaysia. Proyek itu berhasil menyelamatkanku keluar dari keterpurukan. Setelah itu disconenect lagi.


Tahun 2000.

Usahaku bangkrut. Aku bertemu lagi dengan Florence. Dia bercerita bahwa dia mengambil anak asuh perempuan. Usia sama dengan putranya. Bertambah anaknya. Dia tak lagi berniat untuk menikah lagi. Diapun hijrah ke Batam mengembangkan industri alat beratnya. Dia bukan hanya suplier tetapi juga punya industri alat berat. Dia tawarkan aku bermitra dengannya. Tapi aku menolak. Tapi selama aku bangkrut dia selalu kirimi aku uang. Tanpa pernah aku minta. itu berlangsung hampir setahun. Dia baru berhenti kirimi uang setelah aku bisa bangkit lagi.


Tahun 2002.

Aku berhasil dalam kemitraan dengan eks keluarga cendana mengakuisi group perusahaan melalui BPPN. Dari akuisisi itu, group perusahaan itu dipecah jadi kecil kecil. Salah satunya diberikan kepadaku. Ternyata perusahaan itu adalah keagenan alat berat yang tahun 1989 mendepak Florence sebagai mitra. Perusahaan itu sudah berkembang besar. Punya longterm kontrak maintenance dengan beberapa BUMN di Indonesia. Punya agent di beberapa negara ASEAN.


Di penghujung tahun 2002 aku bertemu dengan Florence di Jakarta. Keadaannya sudah beda dengan dua tahun lalu. Dia ditipu oleh mitranya dari korea. Dia harus bayar hutang bank atau semua disita. Aku jual perusahaan keagenan di singapore itu kepada salah satu konglomerat. Uang hasil penjualan itu aku transfer ke rekening Florence. Dengan itu dia bisa bayar hutangnya dan selamat dari sita jaminan bank. Dia terharu. Padahal saat itu aku masih dalam keadaan merintis untuk berusaha bangkit. Setelah itu aku hijrah ke China kami disconnect.


Tahun 2010. 


“ Padang, gua mau ketemu lue di Hong Kong. Jemput gua ya di Bandara.” kata Florence via SMS. Aku tersenyum. Terakhir ketemu dia tahun 2002.  Ketika itu dia kena trap mitranya orang Korea. Sehingga dia harus bayar hutang. Dia gagal bayar selama 2 tahun. Aku bailout hutangnya. Jadi dia bisa terus melanjutkan bisnis bidang Perkapalan.


Dari jauh kulihat dia jalan cepat di kuridor gate kedatangan. Dia mengenakan jacket musim dingin. Walau usianya sudah 47 tahun. Dia masih keliatan lebih muda 10 tahun. 

“ Selamat datang, Ubi.” Kataku merangkulnya. Dia tersenyum cerah. Aku ambil luggage nya. 

“ Naik apa kita ke downtown? katanya.

“ Kendaraan. Sebentar lagi datang. Aku sudah call. Kita tunggu di sini saja.  “ Kataku depan loby bandara.

“ Langkah kamu masih tegap, padang. “ Kata Florence perhatikan aku. 

“ Emang gua udah tua? Kita seumur. Kamu aja keliatan usia 30 an”


Dalam kendaraan dia perhatikan aku yang duduk di sampingnya.

“ Padang, apa mimpi gue ? Ini benar lue disamping gue, teman jelek gue? Katanya.

“ Emang kenapa sih, Ubi.”

“ Lue beda banget sekarang. Ini mobil lue ?

“ Kantor gue yang punya. Emang kenapa ?.”

“ Kok kulit lue putihan. Mukanya klimis.” Katanya menyentuh pipihku. Aku hanya tersenyum. Florence cerita tentang sahabat kami semasa sales tahun 80an. Aku mendengar. Kadang tertawa. Cara dia bicara tidak berubah. Sama seperti tahun 80an. Tak berapa lama dia tertidur. Mungkin dia lelah. Aku rebahkan kepalanya di pundakku. Dia sepertinya sadar. Dia peluk lenganku. Tak berapa lama.. “ Kita sudah sampai. “ Kataku menyentuh pipihnya. Dia terbangun. 


“ Ini apartement lu? katanya sampai di apatementku

“ Ini apartement khusus tamu perusahaan.  Apartemen gua ada di blok sebelah. Tuh keliatan towernya. “ kataku menunjuk gedung sebelah “  Ini semua kamar menghadap laut. Lue  bebas tidur dimana lue mau.  ART nya orang philipine. “ lanjut Aku. 

“ Keren apartementnya. “ Kata Florence masuk ke semua kamar yang ada. “ Tapi gua engga mau tinggal di sini.”

“Jadi dimana ?

“ Di apartemen lue lah. “

“ Serius? Kataku terkejut

“ Keberatan ? lue engga percaya sama gua? Kehormatan keluarga lue adalah kehormatan gua. Itu udah gua buktikan selama ini. “ 

“ Ya ya…Udah. Mari kita pindah. “ Kata Aku tarik tasnya. 

“ lue istirahat. Gua harus kembali ke kantor. Nanti jam 7.30 gua jemput. Kita makan malam.  Ok , Ubi” Kataku sampai di apartementku

“ Engga mau. Gue iku lue. “ Katanya cuek. Dia letakan tasnya. 

“ Ya udah. Ikut..” kataku tampa bisa menahan.


Florence duduk di sofa kamar kerjaku. Aku sibuk dengan aktifitas kerja. Membaca laporan lewat komputer.  Diskusi dengan BDG dan komite investasi.  Mereka datang ke kamar kerjaku silih berganti. Semua diperhatikan Florence. Jam 6 selesai. Aku hampiri Florence di sofa. “ Mari kita makan di luar.” Kataku. Dia berjalan cepat mengikutiku. 

“ Anak buah lue, ada orang Jepang, China, Hong Kong, Korea, Ausi, Belgia.  Lengkap dech. “Kata Florence di dalam kendaraan.

“ Ya. Mau cari orang Medan, kan engga ada di sini.”Kataku tertawa.

“ Eh gua ingat dulu. Waktu lue diomelin boss Kawamura. Lue pernah ngomong ke gue. Lue bermimpi punya anak buah orang asing. Lue janji engga akan kasar sama mereka. Ingat engga lue?

“ Engga lah. Lupa”

“ Ya udah. Gua saks.  Lue udah berhasil dengan mimpi lue.”


Ketika masuk restoran. “ ini lantai 108. Kita ada di atap. Restoran rooftop paling mahal. Apalagi di Ritz “‘ kata Florence. Dia terkejut meliat ada wanita menanti depan pintu. “ Itu kan staff  lue di front office." Katanya

“ Ya.Kenapa ?

“ Kenapa dia ada disini ?.” Florence mengerutkan kening.

“ Pesan table untuk kita makan malam.”

“ Duh segitunya lue persiapkan. Hanya untuk makan.”

“ Tenang aja. Cuek aja. “


Florence berwajah masam. Aku tidak tahu ada apa ? Ada keinginan untuk bertanya. Namun aku berpikir positip. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. “ Itu kenapa dia ada di belakang lue” kata Florence ketus. Aku menoleh ke belakang. Lena berdiri.


“ Itu Lena. Sektaris gua.  Dia ada di sini. Kalau ada telp masuk dia akan berikan ke gua. Tapi telp yang penting saja.”


“ Hmm.” Dia langsung buang serbet ke arahku. “ Gua pulang aja.” Katanya. Dia keluar dengan setengah berlari. Aku bengong. Ada apa ini? Aku kejar. Tetapi dia sudah lebih dulu masuk lift. Aku terpaksa pakai lift sebelah. Pintu Lift tersibak. Aku liat FLorence berlari kearah Stasiun MRT di kuridor IFC. Aku kejar dan berhasil menjangkaunya.


” Ada apa, Ubi. Apa salah gua.?


“ Besok gua pulang.” teriaknya.


“ Ya kenapa? kan kamu janji mau liburan di  sini. Gua udah siapkan semua”


“ Gua engga kenal lue lagi, Padang. “ Florence menangis. “ Gua bayangin setelah 8 tahun engga ketemu, gua bisa ketemu dengan pria yang gua kenal. Ternyata gua salah. Kamu seperti orang asing. Gua engga cocok dengan hidup lue, padang. Maafin gua. Gua doain lue selalu. Biarkan besok gua pulang”


“ Ubi. Gua juga engga pengen berubah. Perubahan terjadi seperti slow motion sejak gua hijrah ke Hong Kong. Kalau gua ada modal, engga mungkin gua hijrah ke Hong Kong. Lue kan tahu…” Kataku seraya jongkok menundukan kepala.  Tak berapa lama. Terasa ada yang membelai kepalaku. Florence ikut jongkok mengusap kepalaku, “ Dari mana kamu dapatkan semua bisnis kamu itu ? katanya dengan suara lembut layaknya seorang ibu.


“ Dari hutang, Ubi ” Kataku dengan air mata berlinang. “ utang semua. Lu kan tahu, gua engga ada modal. Gua orang miskin. Di Indonesia berkali kali gua bangkrut” Kataku. Dia dekap kepalaku. Diletakannya di dadanya. Aku bisa dengar gemuruh jantungnya. Entah mengapa aku terharu. Begitu besar kepeduliannya kepadaku.  “ Sangking besarnya hutang, kadang gua takut bangun tidur pagi hari. Kadang gua merasa tidak cukup waktu tersedia untuk semua kerja keras gua. “ 


Aku merasakan Florence menahan tangis. Akhirnya dia menangis dihadapanku. “ Lue harus kuat. Gua engga mau liat lue lemah. Lue pria yang pertama menyentuh gua. Lue kebanggaan gua, padang. Hadapi semua. Kuatlah selalu. ” katanya. Aku mengangguk. Kami terdiam. Di tengah kuridor MTR.  Orang lewat mungkin perhatikan. Kenapa ada pria berjas mahal jongkok bersama wanita.


Akhirnya dia tersenyum memukulku. “ lue terlalu nekat. “ 


“ Ya hanya itu modal gua. Kalau engga nekat, siapa yang mau beri gua uang.” Kataku tersenyum


Dia tarik lenganku. “ Kita cari makan kaki lima seperti di Jalan Pecenongan. Kamu tahu tempatnya. Aku traktir kamu. Ayo..” katanya. Ketika aku akan telp, dia segera  mengambil telp " Telp siapa ? katanya

" Lena"

" Sekretaris lue? engga perlu. Gua dan bini lue lebih hebat jaga lue. Apa lue juga engga yakin lagi soal itu.  " Katanya ketus.

" Ya. Udah. " Kataku menyerah.


Kami pergi ke Time Square. Di belakang South Pacific Hotel, ada restoran seafood kaki lima. Florence memesan menu kesukaanku kepada pelayan dengan bahasa mandarin. Setelah itu kami pergi ke Cafe di kawasan Wanchai. Menikmati kebersamaan dalam suasana bersahaja seperti dulu kami muda.  Florence naik ke panggung setelah dipanggil oleh MC. Ternyata dia ingin menyumbang lagu. Dia menarik lenganku untuk ikut ke panggung.  " Lue pakai iringi gua pakai organ. " Katanya. " Lagunya apa ? kataku terkejut. 

" Labuhan hati. Gampangkan. " Katanya. Aku tersenyum. 


Tapi setelah dia lantunkan. Di tengah lagu dia nampak berlinang air mata. Para pengunjung cafe nampak terpesona. Padahal mereka tidak tahu artinya. Ketika sampai pada bait, Manga kok uda baibo hati, Apo sabab Da karano nyo.." Dia menangis. Namun bisa menyelesaikan lagu itu. Usai nyanyi itu saya peluk dia diatas panggung. Semua pengujung cafe itu umumnya adalah orang asing, bertepuk tangan.


“ Dari awal kita bertemu gua mencitai lue.” Kata Florence setelah kami duduk kembali ke table.


“ Gua juga. Tetapi lue selalu terkesan gua hanya sahabat saja. Ingat engga waktu gua cerita soal gua akan dijodohkan orang tua. Dan lue tertawakan gua ketika gua melamar lue jadi istri gua. ” Kataku. 


" Ya sebetulnya waktu itu gua senang sekali mendengar lue akan melamar gua. Tetapi entah mengapa gua tidak bisa membuat orang tua lue kecewa. Orang tua lue lebih berhak atas lue, bukan gua. Tetapi..." Suara Florence terhenti. Dia terdiam dan akhirnya airmatanya berlinang. " Andaikan dulu gua bisa perjuangkan cinta gua dan kuat menghadapi semua rintangan, mungkin cerita akan lain. Tetapi itu tinggal hanya sesal yang tak berujung. Gua hanya berharap lue bahagia. Apapun gua akan lakukan." Kata Florence. Aku mengusap airmatanya. “ Waktu lue menikah, kado gua, buku harian. Pada halaman depan gua tulis puisi. Gua berharap setiap lue menulis buku harian, lue ingat gua.” Kata florence berlinang air mata.


“ Oh…Tapi sudahlah. Itu sudah masalalu. Tetapi yang pasti selama ini kita selalu bertemu disaat kita harus berbagi. Lue  sahabat gua dan itu tidak akan berubah.” Kataku.


“ Di ruang hati gua hanya lue. Walau gua pernah pacaran dengan orang kaya dan akhirnya gagal, itu karena gua engga bisa bahagia. Gua senang ambil bagian disetiap masalah lue. Kebahagian yang luar bisa ketika gua bisa berkorban untuk lue. Nah sekarang, satu permintaan gua.” Kata Florence.


“ Apa ?


“ Binalah mantuku. Walau secara legal saham masih aku punya namun perusahaan itu eksis karena uang kamu. Ingat engga, kamu kirim uang untuk selamatkan aku dari kebangkrutan. Aku selalu bilang ke anak dan mantuku. Bahwa perusahaan itu punya sahabatku. Aku hanya pemegang amanah saja. “


“ Engga ren. Udahlah. Itu sudah masa lalu.” Kataku menggeleng gelengkan kepala.


“Dear, lue  pria yang pertama kali menyentuh gua dan itu abadi dalam hati gua. Gua bahagia sekali karena pertama kali darah menitik di sprey, itu gua dapat dari pria yang gua cintai. Kini...gua hanya ingin dimasa tua gua ada pelindung. Anak bisa berubah kapanpun. Tetapi lue sahabat gua. Apa salah gua lebih percaya kepada lue..” Florence berlinang air mata. Saat itu gua serasa jatuh ke jurang terdalam. Ada perasaan bersalah. Aku peluk dia. “ Ya kita akan buat secara legal pengabil alihan itu. Tetapi izinkan gua mmenjadikan lue  sebagai proxy.” Kataku.


“ Thanks my dear..” Florence semakin erat memelukku.


Keesokan sore Florence minta pulang. Dia tidak bisa ditahan. Waktu berpisah  dia peluk aku lama. “ Pikirkanlah untuk menetap di Indonesia. Perusahaan gua udah berkembang 3 kali sejak kamu bailout. Itu semua punya lue, padang. Lue jual aja tuh perusahaan. Lue bisa pensiun. Itu bukan hanya harapan gua, tetapi juga harapan istri lue. Dia pernah curhat kegua. “ 


Aku hanya diam. Florence tahu, aku tidak mungkin surut langkah. No way return..


***

2015

Setelah Pilpres 2014 aku ke Medan bersama istri untuk ninjau proyek. “ Masih ingat Florence? “ kata sahabatku di Medan waktu makan siang. 

" Ingatlah. Gua masih sering komunikasi via telp. "

" Sekarang dia di Medan"

“ Medan? bukannya tinggal di Riau sama anak angkatnya. Kenapa dia engga cerita pindah ke Medan.?

“  Tiga bulan lalu dia pindah” Kata sahabatku. Aku segera telp Florence. “ Ya hallo.” terdengar suara khas

“ Hai Ubi. ..” Kataku.

“ Lue pindah ke Medan? Kok engga bilang kegua ?

“ Panjang ceritanya. Tapi engga apa. Bisnis di Batam jalan terus. Lancar semua. Kan tiap tiga bulan gua buat laporan keuangan ke lue“

“ Oh gitu. Aku di Medan, Eli ikut gua. “ Kataku menyebutkan bahwa aku datang bersama istri.

“ Hah. " Florence terkejut senang. " Eli ikut elu?.  Gua kangen dia, Padang. Ajaklah ke rumah gua." Florence antusias. Aku sudahi telp itu setelah berjanji sore akan ke rumahnya.


Malam hari aku datang ke rumah Florence bersama istri. Rumahnya di kawasan real estate di Medan. Sampai di rumahnya yang luas. Florence merangkul istriku. Istriku sudah mengenal Florence sejak sebelum kami menikah. Hubungan mereka semakin dekat, disaat aku terpuruk. Istriku tahu Florence selalu ada untuk kami. Dia sahabat kami. Malam itu aku hanya diam saja. Menyaksikan keakraban mereka berdua. Rencana keluar makan malam batal. Istriku dan florence memutuskan makan di rumah. Mereka masak bersama untuk kami makan malam.


***

Saya  ketemu dengan Florence di PIK. Kami nongkrong di cafe dan pilih tempat terbuka menikmati malam minggu. Dia cerita bahwa minggu lalu dapat proposal untuk jadi angel dalam bisnis NFT. Dia sendiri tidak mengerti apa itu NFT. Tetapi karena proposalnya terkesan too good to be true. Dia menghindar.


“ Apa sih jel yang dimaksud dengan NFT itu. Jelaskan secara sederhana dalam bahasa indonesia yang bisa gua ngerti” Katanya.


“ Contoh kamu punya punya rumah atau lukisan. Kan rumah dan lukisan itu ada sertifikatnya. Kalau rumah yang keluarkan sertifikat adalah negara. Kalau lukisan, yang keluarkan sertifikat,  lembaga lelang. Dengan sertifikat itu aset kamu terlindung dari orang yang mau curi atau serobot. Jualnya juga gampang. Paham?


“ Kalau itu pasti paham. Terus lanjut”


“ Nah NFT itu aset digital yang disertifikasi oleh sistem blockchain.”


“ Apaan itu blockchain?


“ Blockchain itu sistem terbuka melalui publik domain namun bersifat tertutup. Ketertutupannya karena proses validasi dalam setiap interaksi hanya melibatkan pribadi, tanpa ada pihak lain atau sistem lain. “


“ Bisa kasih saya contoh konkrit binatang bernama Blockchain ini”


“ Contoh setiap orang modern pasti punya akun sosial media, akun email, akun di  wechat, berbagai akun belanja online. Nah setiap informasi tentang orang perorang itu tersimpan di cloud atau big data yang ada dalam jaringan komputer. BLockchain memisahkan informasi orang perorang itu dalam satu block. Bukan hanya data nama, alamat dll yang bersifat formal tetapi data kebiasaan dari orang itu dikodekan. Nah setiap block menyimpan kode unik yang disebut hash yang memungkinkan bisa membedakan satu block dengan block lainya. “


“ Hash? binatang apalagi itu ?


“ Hash adalah kode kriptografi yang dibuat melalui matematika algoritme khusus. “ Kata saya tersenyum.


“ Ok lanjut “


“ Setelah data orang perorang itu sudah di-block dan dikawal oleh Hash maka dia akan ditempatkan di cloud menjadi data publik. Ketika orang melalukan transaksi atau interaksi , sistem blockchain bekerja efisien untuk memastikan orang itu adalah orang yang tepat. Cepat sekali validasinya. “


“ Jadi sebenarnya hash itu sama dengan cetak biru DNA.?


“Tepat sekali. Makanya tidak bisa ditiru oleh siapapun. “ 


“ Nah mulai terang gua. Ok lanjut”


“ Karena begitu hebatnya sistem blockchain, maka misal kalau aset digital sudah terverifikasi milik kamu, maka itu valid. Tidak mungkin bisa digandakan orang lain. Nah bayangkan kalau kamu jago seni lukis atau nyanyi, atau hobi photographi atau video game, atau apa saja. Kamu jadikan itu dalam bentuk digital  atau disebut NFT atau bahasa mesranya non-fungible token. Aset kamu itu dapat identitas yang unik sehingga kamu bisa jual aset. Yang beli dan jual aman. Engga mungkin tipu menipu” Kata saya.


“Apa ada orang mau beli.” Katanya berkerut kening.


“ Kan pasar kripto itu punya market place sendiri.”


“ Apa mungkin ada resiko bisnis ini? 


“ Ya namanya bisnis pasti ada resiko. Mungkin dari sisi tekhnologi tidak ada masalah. Tetapi bisa saja fraud terhadap UU hak cipta real. Misal kamu lagi melamun, Ada orang yang photo kamu. Dia jadikan NFT. Kalau ada yang lihat photo kamu itu unik, dia bisa saja beli. Kan kamu engga dapat apa apa. Tetapi yang dapat yang punya Id dari NFT. Bisa juga pelanggaran hak cipta lain lainnya.”


“Apa bisa dituntut ?


“ Mau tuntut gimana? Itu kan jalur pier to pier tanpa ada bukti siapa yang lakukan transaksi. Atau ada juga penipuan. Dia masukan karyanya atau orang lain yang sudah dijual di dunia nyata. Kemudian dia copy dijadikan NFT. Dijual dengan harga murah. Kan bego jadinya. Apalagi dengan begitu mudahnya aset NFT itu di create maka akan mendongkrak pasar kripto. Ini bisa jadi ajang penipuan creator. “ Kata saya.


Florence manggut manggut. “ Kemarin anak gua telp. Dia tanya kenapa suaminya hanya kerja bagian umum. Padahal waktu gua yang kelola itu perusahaan jabatannya direktur. Ada apa ?


“ Kamu jawab apa ?


“ Gua enggga jawab. Gua bilang akan tanyakan ke lue “ 


“ Sejak perusahaan kamu diakuisisi Perusahaan Yuni, kan Yuni lakukan restruktur bisnis. Bisnis model juga berubah. Kalau tadinya hanya kerja sebagai kontraktor dan kadang kalau dapat order, dijual kepihak lain. Itu tidak bisa berkembang berkelanjutan. Karena semua tergantung kepada kemampuan kamu menjual dan melobi dapatkan kontrak. 


Nah sekarang bisnisnya adalah menjual jasa infrastruktur lapangan Gas dan Oil. Ini jasa yang rumit. Melibatkan ahli logistik dan project management. Ya mau engga mau organisasi juga dirombak. Kompetensi mantu kamu hanya bisa bagian umum saja. “ Kata saya.


“ Kenapa lue lemah banget dihadapan Yuni.” Kata Florence bermuka masam.


“ Yuni hanya melaksanakan visi gua saja. Semua gua yang putuskan dan resiko ada pada gua. Soal mantu kamu engga usah kawatir. Dia akan berproses untuk dapat posisi direktur, bahkan dirut. “


“ Lue janji ya”


“ Lah mantu lue, kan mantu gua juga. Yang penting lue percaya ajalah ke gua.”


“ Kasihan juga dia.” Wajah nampak sedih.


“ Ren, lue dapat uang dari hasil penjualan perusahan ke Yuni,  kalau engga salah USD 6 juta. Nah kalau lue  beri wariskan hasil kerja keras seumur hidup lue, itu akan habis hanya hitungan tahun, mungkin bulan. Tetapi kalau lue didik dia dengan mindset kerja keras melewati process. Dia akan lebih hebat dari lue. Harta yang lue tinggalkan akan berlipat nantinya. Manfaatnya akan lebih besar bagi orang banyak. Tahu mengapa ? Kata saya.


“ Ya mengapa ? 


“ Dia beda dengan kita. Karena dia engga pusing soal biaya hidup hari hari. Walau gajinya kecil tetapi kapan saja dia bisa minta uang ke lue. Jadi dia hanya perlu buktikan pride nya bahwa dia pantas menjadi pewaris lue. Ya kerja keraslah. Lewati proses yang lue tentukan. Jadi jangan pernah ikut apa yang dia mau. Jangan libatkan emosi dalam mendidik dia. Lue harus lebih keras mendidik dia dibandingkan dengan anak buah sendiri. " Kata saya. Florence masih belum puas jawaban saya.


" Lue kan tahun anak laki laki gua. " Kata saya.


" Ya tahulah. Kenapa dia.?


" Setahun  COVID, dia bangkrut. Gua cuekin. Gua bilang kalau mau kerja dengan gua, ya dari bawah.  Dan itu pastikan lulus test. Kalau engga mau test, ya pastikan lulus proses magang. Dia engga mau kerja dengan gua. Alasanya, tanpa kerja aja dia tetap dapat duit dari mamanya. Ya dia focus untuk bangkit lagi. Gua lihat aja.  Nanti kalau benar effort-nya ya pasti gua all out dukung dia. Gitu juga mantu lue. Paham ya sayang.” kata saya tersenyum.


Florence tersenyum. Dia tercerahkan. “ Intinya, pastikan anak mantu kita menghargai proses dan tugas kita mendidik mereka untuk beproses dengan benar. Tidak ragu dengan effort mereka, walau harus terhina, teracuhkan, bahkan gagal sekalipun. Hindarkan mereka dari too good to be true. Dari situlah kita bisa berharap mereka akan lebih  baik dari kita. “ Kata Florence. 


Saya menangguk. 


“ Too good to be true. Itu racun merusak mental mereka dan memperbodoh, sehingga mudah jadi korban predator.” Kata saya.


“ Jel , kapan lue belajar tahu segala galanya. Padahal lue engga kuliah. “ Tanya Florence.


“ Dalam keadaan bisnis  naik, atau bahkan bangkrut sekalipun, semangat belajar gua tidak kurang. Bagi gua belajar itu soal kebutuhan dan  sekaligus perintah Tuhan yang harus gua patuhi. “ Kata saya.


***


Saya sempatkan juga menjenguk Florence yang sedang sakit. Di apartermennya yang nyaman di Kawasan PIK. Ketika pintu tersibak. yang nampak ART. “ Ibu sedang di kamar”  Katanya. Saya tersenyum. Saya langsung ke kamar.” Sakit apa kamu? Kata saya. Florence terkejut. Dia membuka matanya. 


“ Padang? Kamu? Florence nampak langsung berusaha bangun dari pembaringannya. Saya menahan kedua bahunya. Agar dia tetap di tempat tidur “ Ini lutut gua sakti. Tetapi setelah ke dokter, mendingan. Udah engga lagi sakitnya. “


“ Iu biasa. Faktor usia. “ Kata saya. “ Gua juga begitu. Kita kan seumur” Sambung saya. Dia pegang kedua pipi saya. " Kamu tetap tidak nampak menua. Kamu  tidak berubah seperti kali pertama aku kenal ." Katanya. 


" Usia tidak bisa boong sayang."


“ Iya. Faktor usia ya. Ingat waktu dulu tahun 83, kamu ajak aku ke belantara sales jalanan. Jalan kaki dari Roa Malaka, ke Pinangsia. Terus naik angkot ke Tanah abang. Kelilingi kios cari pembeli tekstil. Balik lagi ke Kota. Terus ke Blok M ke pasar mayestik. Dulu waktu masih muda, Kita kuat melangkah jauh. Seperti engga ada capeknya.” Kata Florence dengan suara datar. 


Dia melepas selimutnya. Duduk menyender di tempat tidur. Dasternya tersingkap. Dari atas lutut sampai sampai betis tersingkap. Saya berusaha beresi dasternya. " Kenapa? emang lue engga pernah liat tubuh gua?Katanya tersenyum.


“ Lue masih ingat. Kenapa gua panggil Ubi? Kata saya. “ Itu karena tubuh lue sangat putih. Itu kali pertama gua lihat tubuh telanjang lue. Gua terpesona.” Lanjut saya. 

" Lucunya gua yang goda lue ya. Habis capek pancing lue. Engga ada inisiatifnya." Katanya tertawa. Saya hanya nyengir.


“ Ya ingat. Kenangan masa muda kita sangat indah. Sampai kini gua engga bisa lupakan. Dan menjadi sesal yang tak berujung. Mengapa kita harus bertemu. Mengapa gua teganya mentertawakan lue yang ingin menikahi gua. Tetapi ya sudah. Semua soal pilihan cara kita bersikap di masa muda. Toh akhirnya masing masing kita punya cara berdamai dengan itu. Walau gua menolak lue menikahi gua, tetapi lue sangat bijak terhadap gua. Walau kita tidak menikah namun,  tetap saling menjaga, sampai usia menua ini.” Kata Florence dengan airmata berlinang.


Dia telp ART. “ Bu, antar kopi untuk bapak  ke kamar “ Katanya. Tak berapa lama ART masuk membawa kopi. 


“ Kalau ada kopi. Gua harus ngudut. Boleh gua duduk di teras.” Kata saya. Florence tersenyum. Dia berdiri dari tempat tidur. Melangkah ke arah teras yang ada di kamarnya, Dia membuka pintu teras. Saya duduk bersebelahan dengan dia. Dari jauh keliatan pemandangan teluk Jakarta. 


“ Lue memang bukan pria yang romantis. Tetapi sikap lue sangat romantis. Ingat waktu kita masih muda. Dulu disaat gua stress engga ada uang untuk bawa orang tua gua ke Rumah sakit. Lue datang sebagai pahlahwan gua. Lue selesaikan dengan cepat. Dimasa tua gua lue kasih gua apartement yang indah dan juga lingkungan yang sangat indah. Terutama ketika sunset. Gua kadang  termenung di teras ini. Gua ingat lue..” Katanya dengan airmata berlinang. Saya remas jemarinya. Kami berdiam. Saya asik dengan rokok Gudang Garam. Florence,  entah. 


Dia melantunkan lagu “ Diratoki. Dia memang lahir di Riau. Bahasa minangnya bagus. Usai nyanyi airmatanya berlinang. Saya bingung. Ada apalagi nih. Duh nenek selalu ada drama disaat hari baik dan santai. “ Kalau aku mati, engga usah kamu tengok, tak perlu diantar ke kuburan. Itu lebih baik.”


“ ya aku tahu. Itu sair lagu kan” Kata saya.


“ Ini serius. “


“ Serius ? Serius apa ?


“ Aku benci dengan diriku dan benci semua.”


“ Termasuk benci sama aku?


“ Ya terutama kamu”


“ Ya udah. “ Kata saya. Diam.


Dia mengusap air matanya. “ Mengapa kamu selalu baik sama aku? AKu udah tua. Engga kepakai lagi. Mau ngejek keputusan aku dulu salah. Salah menolak lamaran kamu?


“ Duh aku engga kepikiran begitu. Aku hanya ingin kamu baik baik saja”


“ Boong! Teriaknya.


“ Jadi aku harus gimana ? mengenggam dendam karena kamu tolak cintaku. Tolak lamaranku. Duh..itu udah masa lalu. Kenapa kita harus putar jarum jam ke belakang..puluhan tahun. Kita harus melangkah ke depan” Kata saya.


“ Pintar sekali kamu. Terus ejek aku. Kamu sediakan nurse. Apartement dan segala fasilitas. Apa kurang puas ejek aku. ?


“ Duh..udah dech, bi. Ada apa sih kamu?


“ Aku benci kamu..” Teriaknya.


“ Ya bencilah..” Kata saya. Saya melangkah ke luar apartement. Florence kejar saya” Jangan pergi dalam situasi begini…Katanya pegang tangan saya dengan airmata berurai. 


‘ Salah aku dimana ? Tiga kali aku lamar kamu, tetapi kamu tolak. Bahkan kamu dorong aku menikah dengan pilihan orang tua. Aku terima dengan lapang dada. Tak sedikitpun aku kecewa dan marah. Cintaku padamu mengalahkan egoku. Kuhargai semua alasanmu menolak. Yang salah aku. Terlalu tinggi angan angan. Tapi mencintai itu tidak dosa. Hanya takdir yang tidak menyatukan, kamu sudah membayar sesal kamu. Aku juga, kini kita menua bersama. Bencilah aku tapi jangan larang aku jaga kamu bi. Hanya itu pintaku. Apakah aku terlalu egois? Salah ? Naip ? kata saya. 


Dia terduduk di lantai menangis. Saya diam saja. “Pulanglah. Anggap aku sampah aja” Katanya meratap pegang kedua kaki saya. 


Saya duduk dan merokok sampai dia berhenti menangis.


“ Maafkan aku Jel. Udah lah. Pulang lah. “ Katanya dorong saya keluar.


“ Kalau kamu perlu liburan. Pergilah Kemana kamu mau. Awi akan temanin kamu”


“ Awi .. Awi … ogah. Aku pergi sendiri aja “


“ Engga bisa. Usia kamu 60.. Gimana kalau terjadi apa2 dengan kamu ? 


“ ya udah aku engga akan kemana mana kecuali sama kamu “ kata Florence dekap saya dengan erat. “ sayangi aku selalu Jel, aku engga punya siapa siapa” katanya. Saya belai kepalanya dengan kasih setulus tulusnya…



***


Kalau sampai seseorang berkorban untukmu, maka itu dia lakukan dengan hatinya. Dia berbuat 

karena cinta. Tuhan mengirim seseorang untukmu dan akhirnya menjadi tongkatmu tidaklah gratis. Akan ada proses sampai akhirnya kamu dan dia tak terpisahkan. Ketika Tuhan memberimu sahabat, pada waktu bersamaan juga Tuhan memintamu berkorban untuk dia. Hadapi sahabat atau orang terdekatmu dengan sabar dan ikhlas sampai akhirnya kamu tidak berharap apapun dari dia kecuali inginkan yang terbaik untuk dia..maka setelah itu tunggulah. Tangan Tuhan akan bekerja memberikan reward...selalu indah pada akhirnya..


Comments

Popular posts from this blog

Politik berbisik.

Dendam tertindas seorang wanita

Membantu orang lain kaya