Tuesday, January 26, 2021

Berkorban dan mencintai


Tahun 1985

Florence adalah wanita etnis Tionghoa. Dia kelahiran Riau. Sebetulnya dia cantik. Tetapi karena penampilannya tomboy dan malas berhias, tidak ada pria yang naksir dia. Kami kenalan ketika sama sama jadi sales training pada perusahaan Jepang. Akhirnya kami bersahabat tak tepisahkan.  Dia tidak suka berpura pura. Tegar dan sangat tinggi empatinya. Suatu saat aku mengabarkan kepadanya bahwa aku telah membuat keputusan untuk menikah. Dia senang. Tapi dia tidak meresponse untuk aku melamarnya. Suatu saat aku mengabarkan bahwa orang tuaku menjodohkan aku dengan wanita pilihan keluarga. Dia menguatkan aku untuk tidak ragu menikah. Waktu acara pernikahan dia datang memberikan bingkisan buku harian. Yang menarik di halaman depan buku harian itu ada sajak yang dia tulis.


Senja di pangkal akanan.

Menitip rindu anak rantau.

Kepada angin malam.

Di bawa elang menuju entah kemana.

Dalam kesunyian hati merintih.

Berharap dalam doa.

Sang pengeran menjeput

Namun apalah diri ini.

Hanya melihat matahari terbenam

Yang hanya merasakan kehangatan sejenak

Namun dia tetap di pangka akanan.

Tak akan bisa menjangkau ujung langit.

Esok matahari akan terbit lagi.

Dia tetap di pangkal akanan.


Buku harian itu selalu menamiku selama lebih setahun. Setelah itu buku harian itu penuh dengan catatan tentangku. Kehidupanku berubah dan aku tidak lagi bertemu dengan Florence.


Tahun 1988-1989

Usahaku bangkrut. Aku harus memulai dari nol. Aku tak ingin melanjutkan usaha yang lama. Aku harus mengubah bisnis. Karena aku tidak ingin jatuh di tempat yang sama dan tidak ingin berkubang dengan cerita lama. Aku harus berubah. Usiaku masih muda. Tapi memulai hal yang baru tidak mudah. Saat itu aku bertemu lagi dengan florence. Dia punya usaha di Singapore. Dia sudah sukses sebagai aget alat berat. Dia tawarkan aku bermitranya dengan dia sebagai agent di Jakarta. Bukan itu saja. Dia memberiku modal untuk memulai usaha.


Belakangan aku sukses menjual alat berat kepada BUMN. Namun usaha keagenan itu tidak berlangsung lama. Aku mengundurkan diri karena dia terdepak oleh mitranya di Singapore. Florence kembali ke Jakarta. Walau mitranya tetap berharap aku melanjutkan keagenan di Jakarta. Tapi aku tegaskan. Bahwa aku mau berbisnis karena tawaran dari sahabatku, Florence. Tapi bisnis keagenan itu aku punya modal untuk bangkit lagi. Saat itu aku tahu Florence sedang pacaran dengan pengusaha Kimia. Keluarga konglomerat. Sudah punya bayi. Namun dia tidak tahu kapan akan menikah. Setelah itu kami disconnect lagi.


Tahun 1993.

Aku bertemu lagi dengan Florence. Dia cerita tentang hubunganya yang gagal dengan pacarnya. Tetapi dia bersukur sebelum menikah dia sudah dapat bayi laki laki. Dia jadi single parent. Tinggal di Kawasan pluit. Usahanya berkembang sebagai suplier spare part alat berat pada perusahaan minyak. Saat itu usahaku sedang terpuruk akibat kospirasi relasiku yang akhirnya menendangkau dalam kemitraan. Florence datang menarwarkan bisnis. Dia bantu aku modal. Bukan itu saja dia beri aku proyek. Kamipun bermitra dalam proyek Telecom di Malaysia. Proyek itu berhasil menyelamatkanku keluar dari keterpurukan. Setelah itu disconenect lagi.


Tahun 2000.

Usahaku bangkrut. Aku bertemu lagi dengan Florence. Dia bercerita bahwa dia mengambil anak asuh perempuan. Usia sama dengan putranya. Bertambah anaknya. Dia tak lagi berniat untuk menikah lagi. Diapun hijrah ke Batam mengembangkan industri alat beratnya. Dia bukan hanya suplier tetapi juga punya industri alat berat. Dia tawarkan aku bermitra dengannya. Tapi aku menolak. Tapi selama aku bangkrut dia selalu kirimi aku uang. Tanpa pernah aku minta. itu berlangsung hampir setahun. Dia baru berhenti kirimi uang setelah aku bisa bangkit lagi.


Tahun 2002.

Aku berhasil dalam kemitraan dengan eks keluarga cendana mengakuisi group perusahaan melalui BPPN. Dari akuisisi itu, group perusahaan itu dipecah jadi kecil kecil. Salah satunya aku diberikan kepadaku. Ternyata perusahaan itu adalah keagenan alat berat yang tahun 1989 mendepak Florence sebagai mitra. Perusahaan itu sudah berkembang besar. Punya longterm kontrak maintenance dengan beberapa BUMN di Indonesia. Punya agent di beberapa negara ASEAN.


Di penghujung tahun 2002 aku bertemu dengan Florence di Jakarta. Keadaannya sudah beda dengan dua tahun lalu. Dia ditipu oleh mitranya dari korea. Dia harus bayar hutang bank atau semua disita. Aku jual perusahaan keagenan di singapore itu kepada salah satu konglomerat. Uang hasil penjualan itu aku transfer ke rekening Florence. Dengan itu dia bisa bayar hutangnya dan selamat dari sita jaminan bank. Dia terharu. Padahal saat itu aku masih dalam keadaan merintis untuk berusaha bangkit. Setelah itu aku hijrah ke China kami disconnect.


Tahun 2010. 


“ Padang, gua mau ketemu lue di Hong Kong. Jemput gua ya di Bandara.” kata Florence via SMS. Aku tersenyum. Terakhir ketemu dia tahun 2002.  Ketika itu dia kena trap mitranya orang Korea. Sehingga dia harus bayar hutang. Dia gagal bayar selama 2 tahun. Terpaksa bank lakukan penyitaan. Aku bailout hutangnya. Jadi dia bisa terus melanjutkan bisnis bidang Perkapalan.


Dari jauh Aku liat dia jalan cepat di kuridor gate kedatangan. Dia mengenakan jacket musim dingin. Walau usianya sudah 47 tahun. Dia masih keliatan lebih muda 10 tahun. 

“ Selamat datang, Ubi.” Kataku merangkulnya. Dia tersenyum cerah. Aku ambil luggage nya. 

“ Naik apa kita ke downtown? katanya.

“ Kendaraan aja. Sebentar lagi datang. Aku sudah call. Kita tunggu di sini saja.  “ Kataku depan loby bandara.

“ Langkah kamu masih tegap, padang. “ Kata Florence perhatikan Aku. 

“ Emang gua udah tua? Kita seumur. Kamu aja keliatan usia 30 an”


Dalam kendaraan dia perhatikan aku yang duduk di sampingnya.

“ Padang, apa mimpi gue ? Ini benar disamping gue, teman jelek gue? Katanya.

“ Emang kenapa sih, Ubi.”

“ Lue beda banget sekarang. Ini mobil lue ?

“ Kantor gue yang punya. Emang kenapa ?.”

“ Kok kulit lue putihan. Mukanya klimis.” Katanya menyentuh pipih Aku. Aku hanya tersenyum. Florence cerita tentang sahabat kami semasa sales tahun 80an. Aku mendengar. Kadang tertawa. Cara dia bicara tidak berubah. Sama seperti tahun 80an. Tak berapa lama dia tertidur. Mungkin dia lelah. Aku rebahkan kepalanya di pundak Aku. Dia sepertinya sadar. Dia peluk lengan Aku. Tak berapa lama.. “ Kita sudah sampai. “ Kata Aku menyentuh pipihnya. Dia terbangun. 


“ Ini apartement lu? katanya sampai di apatement.

“ Ini apartement khusus tamu perusahaan.  Apartemen gua ada di blok sebelah. Tuh keliatan towernya. “ kata Aku menunjuk gedung sebelah “  Ini semua kamar menghadap laut. Lue  bebas tidur dimana lue mau.  ART nya orang philipine. “ lanjut Aku. 

“ Keren apartementnya. “ Kata Florence masuk ke semua kamar yang ada. “ Tapi gua engga mau tinggal di sini.”

“Jadi dimana ?

“ Di apartemen lue lah. “

“ Ya..udah. “

“ Keberatan ? lue engga percaya sama gua? Kehormatan keluarga lue adalah kehormatan gua. Itu udah gua buktikan selama ini. “ 

“ Ya ya…Udah. Mari kita pindah. “ Kata Aku tarik tasnya. 

“ lue istirahat. Gua harus kembali ke kantor. Nanti jam 7.30 gua jemput. Kita makan malam.  Ok , Ubi” Kataku sampai di apartementku

“ Engga mau. Gue iku lue. “ Katanya cuek. Dia letakan tasnya. 

“ Ya udah. Ikut..” kataku tampa bisa menahan.


Florence duduk di sofa kamar kerja Aku. Aku sibuk dengan aktifitas kerja. Membaca laporan lewat komputer.  Diskusi dengan BDG dan komite investasi.  Mereka datang ke kamar kerja Aku silih berganti. Semua diperhatikan Florence. Jam 6 selesai. Aku hampiri Florence di sofa. “ Mari kita makan di luar.” Kata Aku. Dia berjalan cepat mengikutiku. 

“ Anak buah lue, ada orang Jepang, China, Hong Kong, Korea, Ausi, Belgia.  Lengkap dech. “Kata Florence di dalam kendaraan.

“ Ya. Mau cari orang Medan, kan engga ada di sini.”

“ Eh gua ingat dulu. Waktu lue diomelin boss Kawamura. Lue pernah ngomong ke gue. Lue bermimpi punya anak buah orang asing. Lue janji engga akan kasar sama mereka. Ingat engga lue?

“ Engga lah. Lupa”

“ Ya udah. Gua saksi lue, udah berhasil dengan mimpi lue.”

Ketika masuk restoran. “ ini lantai 108. Kita ada diatap. Restoran rooftop paling mahal. Apalagi di Ritz “‘ kata Florence. Dia terkejut meliat ada wanita menanti depan pintu. “ Itu kan sekretaris lue.” Katanya

“ Ya.Kenapa ?

“ Kenapa dia ada disini ?.”

“ Pesan table untuk kita makan.”

“ Duh segitunya lue persiapkan. Hanya untuk makan.”

“ Tenang aja. Cuek aja. “


Florence berwajah masam. Aku tidak tahu ada apa ? Ada keinginan untuk bertanya. Namun Aku berpikir positip. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. “ Itu kenapa dia ada di belakang lue” kata Florence ketus. Aku menoleh ke belakang. Lena berdiri.

“ Itu Lena. Sektaris gua.  Dia ada di sini. Kalau ada telp masuk dia akan berikan ke gua. Tapi telp yang penting saja.”

“ Hmm.” Dia langsung buang serbet di samping piring ke arah Aku. “ Gua pulang aja.” Katanya. Dia keluar dengan setengah berlari. Aku bengong. Ada apa ini. Aku kejar. Tetapi dia sudah lebih dulu masuk lift. Aku terpaksa pakai lift sebelah. Pintu Lift tersibak. Aku liat FLorence berlari kearah Stasiun MRT di kuridor IFC. Aku kejar dan berhasil menjangkaunya.


” Ada apa, Ubi. Apa salah gua.?

“ Besok gua pulang.” teriaknya.

“ Ya kenapa? kan kamu janji mau liburan di  sini. Gua udah siapkan semua”

“ Gua engga kenal lue lagi, Padang. “ Florence menangis. “ Gua bayangin setelah 8 tahun engga ketemu, gua bisa ketemu dengan pria yang gua kenal. Ternyata gua salah. Kamu seperti orang asing. Gua engga cocok dengan hidup lue, padang. Maafin gua. Gua doain lue selalu. Biarkan besok gua pulang”

“ Ubi. Gua juga engga pengen berubah. Perubahan terjadi seperti slow motion sejak gua hijrah ke Hong Kong. Kalau gua ada modal, engga mungkin gua hijrah ke Hong Kong. Lue kan tahu…”Kata Aku jongkok menundukan kepala.  Tak berapa lama. Terasa ada yang membelai kepalaku. Florence ikut jongkok mengusap kepalaku . “ Dari mana kamu dapatkan semua bisnis kamu itu ? katanya dengan suara lembut layaknya seorang ibu.

“ Dari hutang, Ubi ” Kataku dengan air mata berlinang. “ utang semua. Lu kan tahu, gua engga ada modal. Gua orang miskin. Di Indonesia berkali kali gua bangkrut” Kata Aku. Dia dekap kepalaku. Diletakannya di dadanya. Aku bisa dengar gemuruh jantungnya. Entah mengapa aku terharu. Begitu besar kepeduliannya kepadaku.  “ Sangking besarnya hutang kadang gua takut bangun tidur pagi hari. Kadang gua merasa tidak cukup waktu tersedia untuk semua kerja keras gua. “ 


Aku merasakan Florence menahan tangis. Akhirnya dia menangis dihadapanku. “ Lue harus kuat. Gua engga mau liat lue lemah. Lue pria yang pertama menyentuh gua. Lue kebanggaan gua, padang. Hadapi semua. Kuatlah selalu. ” katanya. Aku mengangguk. Kami terdiam. Di tengah kuridor MTR.  Orang lewat mungkin perhatikan. Kenapa ada pria berjas mahal jongkok bersama wanita.


Akhirnya dia tersenyum memukulku. “ lue terlalu nekat. “ 


Dia tarik lenganku. “ Kita cari makan kaki lima seperti di Jalan Pecongan. Kamu tahu tempatnya. Aku traktir kamu. Ayo..” katanya. Ketika aku akan telp, dia segera  mengambil telp " Telp siapa ? katanya

" Lena"

" Sekretaris lue? engga perlu. Gua dan bini lue lebih hebat jaga lue. Apa lue juga engga yakin lagi soal itu.  " Katanya ketus.

" Ya. Udah. " Kataku menyerah.


Kami pergi ke Time Square. Di belakang South Pacific Hotel, ada restoran seafood kaki lima. Florence memesan menu kesukaanku kepada pelayan dengan bahasa mandarin. Setelah itu kami pergi ke Cafe di kawasan Wanchai. Menikmati kebersamaan dalam suasana bersahaja seperti dulu kami muda.  Florence naik ke panggung setelah dipanggil oleh MC. Ternyata dia ingin menyumbang lagu. Dia menarik lenganku untuk ikut ke panggung.  " Lue pakai iringi gua pakai organ. " Katanya. " Lagunya apa ? kataku terkejut. 

" Labuhan hati. Gampangkan. " Katanya. Aku tersenyum. 


Tapi setelah dia lantunkan. Di tengah lagu dia nampak berlinang air mata. Para pengunjung cafe nampak terpesona. Padahal mereka tidak tahu artinya. Ketika sampai pada bait, Manga kok uda baibo hati, Apo sabab Da karano nyo.." Dia menangis. Namun bisa menyelesaikan lagu itu. Usai nyanyi itu saya peluk dia diatas panggung. Semua pengujung cafe itu umumnya adalah orang asing, bertepuk tangan.


Keesokan sore Florence minta pulang. Dia tidak bisa ditahan. Waktu berpisah  dia peluk aku lama. “ Pikirkanlah untuk menetap di Indonesia. Perusahaan gua udah berkembang 3 kali sejak kamu bailout. Itu semua punya lue, padang. Lue jual aja tuh perusahaan. Lue bisa pensiun. Itu bukan hanya harapan gua, tetapi juga harapan istri lue. Dia pernah curhat kegua. “ Aku hanya diam. Florence tahu, aku tidak mungkin surut langkah. No way return..

***

2015

Setelah Pilpres 2014 aku ke Medan bersama istri untuk ninjau proyek. “ Masih ingat Florence? “ kata sahabatku di Medan waktu makan siang. 

" Ingatlah. Gua masih sering komunikasi via telp. "

" Sekarang dia di Medan? 

“ Medan? bukannya tinggal di Riau sama anak angkatnya. Kenapa dia engga cerita pindah ke Medan.?

“  Tiga bulan lalu dia pindah” Kata sahabatku. Saya segera telp Florence. “ Ya hallo.” terdengar suara khas

“ Hai Ubi. ..” Kataku.

“ Lue pindah ke Medan? Kok engga cerita kegua ?

“ Panjang ceritanya. Tapi engga apa. Bisnis di Batam jalan terus.Lancar semua“

“ Aku di Medan, Eli ikut gua. “ Katanya.

“ Ah. Eli ada.  Gua kangen dia, Padang. Ajak dialah ke rumah gua.

Aku sudahi telp itu setelah berjanji sore akan ke rumahnya.


Malam hari aku datang ke rumah Florence bersama istri. Rumahnya di kawasan real estate di Medan. Sampai di rumahnya yang luas. Florence merangkul istriku. Istriku sudah mengenal Florence sejak sebelum kami menikah. Hubungan mereka semakin dekat, disaat aku terpuruk. Istriku tahu Florence selalu ada untuk kami. Dia sahabat kami. Malam itu aku hanya diam saja. Menyaksikan keakraban mereka berdua. Rencana keluar makan malam batal. Istriku dan florence memutuskan makan di rumah. Mereka masak bersama untuk kami makan malam.


***

Kalau sampai seseorang berkorban untukmu, maka itu dia lakukan dengan hatinya. Dia berbuat karena cinta. Tuhan mengirim seseorang untukmu dan akhirnya menjadi tongkatmu tidaklah gratis. Akan ada proses sampai akhirnya kamu dan dia tak terpisahkan. Ketika Tuhan memberimu sahabat, pada waktu bersamaan juga Tuhan memintamu berkorban untuk dia. Hadapi sahabat atau orang terdekatmu dengan sabar dan ikhlas sampai akhirnya kamu tidak berharap apapun dari dia kecuali inginkan yang terbaik untuk dia..maka setelah itu tunggulah. Tangan Tuhan akan bekerja memberikan reward...selalu indah pada akhirnya..

No comments: