Saturday, April 01, 2023

Uang haram di lingkaran pejabat

 






“We shall meet.”

Pesan itu muncul di layar SafeNet tanpa salam dan tanpa penjelasan. Hanya tiga kata. Namun saya mengenal Steven terlalu lama untuk menganggapnya sebagai undangan biasa. Dia tidak pernah memakai jalur terenkripsi hanya untuk berbasa-basi. Bila pesan disampaikan sependek itu, berarti persoalannya sudah melewati batas yang bisa dibicarakan melalui telepon. Bukan lagi sekadar masalah bisnis. Ada ancaman terhadap dirinya. Dan sangat mungkin, terhadap saya juga.


Saat pesan itu masuk, saya sedang berada di Kuala Lumpur. Beberapa menit kemudian, pesan kedua menyusul. “Saya terbang ke KL dengan private jet. Kita bicara di pesawat dalam perjalanan ke Hong Kong.”


Saya menjawab singkat. “Baik.”


Menjelang sore, saya sudah berada di Kuala Lumpur International Airport. Seorang petugas membawa saya melewati terminal khusus penerbangan privat. Di kejauhan, Steven berdiri di samping sebuah jet berwarna putih tanpa logo perusahaan. Wajahnya pucat. Dia tidak menyambut saya dengan senyum seperti biasanya. Hanya mengangguk, lalu berjalan lebih dahulu menuju tangga pesawat.


Kami lepas landas ketika langit Kuala Lumpur mulai berubah jingga. Di dalam kabin hanya ada kami berdua. Awak pesawat berada di bagian depan. Pintu pemisah ditutup. Steven menunggu sampai pesawat mencapai ketinggian jelajah. Setelah lampu sabuk pengaman padam, dia menuangkan air ke dalam gelas. Tangannya bergetar tipis.


“Lona hilang,” katanya.


Saya menatapnya. “Sejak kapan?”


“Tiga hari lalu.”


Dia menarik napas, tetapi tidak segera melanjutkan. “Di tempat kerjanya, semua staf dan pengawalnya ditemukan tewas. Tubuh mereka dirusak dengan bahan kimia korosif. Identifikasi forensik hampir tidak mungkin dilakukan.”


Saya tetap diam.


“Tidak ada rekaman kamera yang tersisa. Server lokal dihancurkan. Tidak ditemukan sidik jari atau jejak kendaraan. Polisi Kamboja menghentikan penyelidikan awal dan menyebutnya konflik antarsindikat.” Nada suaranya datar. Terlalu datar. Seperti seseorang yang telah berkali-kali mengulang cerita mengerikan itu agar pikirannya tidak runtuh.


Saya menyandarkan tubuh ke kursi. Setahun sebelumnya, saya masih bertemu Lona di Singapura. Dia tampak tenang. Bisnis platform game dan taruhan daringnya berkembang cepat. Struktur perusahaannya tersebar di beberapa yurisdiksi. Lisensi operasionalnya berasal dari Malta, sedangkan nama beberapa klub sepak bola Eropa dipakai melalui kontrak sponsorship, data pertandingan, dan hak pemasaran. Dari luar, bisnis itu terlihat legal. Rapi. Diaudit. Memiliki kantor, server, pengacara, dan rekening di bank internasional. Namun dalam bisnis seperti itu, apa yang tampak di layar tidak selalu sama dengan apa yang mengalir melalui rekening.


“Masalah sebenarnya apa?” tanya saya.


Steven menatap meja di antara kami. “Lona terjebak dalam skema pencucian uang sindikat yang beroperasi dari Kamboja.”


“Terjebak?”


Steven tidak menjawab. Saya langsung memahami arti diamnya. Dia melanjutkan, “Jaringannya terhubung dengan sindikat di Taipei. Sebagian orangnya buronan pemerintah Tiongkok. Mereka tinggal di Kamboja menggunakan identitas palsu dan paspor dari beberapa negara.”


“Termasuk Indonesia?”


Steven mengangguk. Dia mengambil gadget dari tasnya, membuka sebuah folder terenkripsi, lalu menyodorkannya kepada saya. Sebuah foto muncul di layar. Lona sedang duduk di sebuah kafe di London. Di seberangnya ada seorang pria berjaket abu-abu. Wajahnya tidak menonjol. Penampilannya bahkan terlalu biasa untuk seseorang yang memiliki reputasi mengerikan. Saya mengenalnya. Bukan nama aslinya. Dunia bawah tanah menyebutnya Eagle Nam. EN. Salah satu penghubung keuangan kartel Golden Triangle. 


Saya mengangkat wajah. “Kapan kamu mendapatkan foto ini?”


“Dua hari setelah Lona hilang. Jaringan saya di Hong Kong yang mengirimkannya.”


“Lokasinya pasti?”


“Mayfair. Tiga bulan lalu.”


Saya mengembalikan gadget itu. Selama beberapa saat, hanya terdengar dengung mesin pesawat. Masalah Steven ternyata jauh lebih besar daripada yang saya perkirakan. EN bukan sekadar pedagang narkotika. Orang seperti dia hidup di antara bisnis legal, perbankan gelap, kasino, perusahaan ekspor-impor, dan jaringan perlindungan politik. Menyentuhnya berarti menyentuh struktur yang jauh lebih luas daripada satu organisasi kriminal. Di belakang jaringan itu terdapat aparat yang dibeli. Perwira yang dilindungi. Pejabat yang menerima bagian. Bankir yang sengaja tidak bertanya. Pengacara yang memastikan setiap kepemilikan berakhir pada sebuah perusahaan tanpa wajah.


“B,” kata Steven akhirnya, “apa yang harus saya lakukan?”


Untuk pertama kalinya saya melihatnya benar-benar tidak berdaya. “Tenang,” kata saya. “Kita jangan mulai dari ketakutan. Kita mulai dari angka.”


Steven menatap saya. “Sebutkan seluruh masalahnya.”


“Hanya satu.”


“Apa?”


Dia menarik napas panjang. “Lima belas miliar dolar yang berada dalam jaringan rekening offshore telah lenyap.”


Saya tidak langsung bereaksi. “Lenyap bagaimana?”


“Saldo dipindahkan melalui beberapa lapisan transaksi. Rekening penampung kosong. Custodian menolak memberikan informasi. Beneficial owner pada dokumen sudah berganti. Beberapa fund vehicle dibubarkan.”


“Dana siapa?”


“Sebagian besar milik jaringan Golden Triangle.”


Saya menatapnya tajam. “Dan Lona menghilang tepat setelah uang itu hilang?”


“Ya.”


“Sekarang mereka mengira kamu yang mengambilnya.”


Steven menundukkan kepala. “Saya pemegang saham mayoritas perusahaan Lona. Secara hukum, saya juga tercatat sebagai ultimate controlling party pada beberapa entitas.”


Saya menahan amarah. “Belum selesai, kan?”


Steven mengusap kepalanya. “Ada satu hal lagi.”


“Apa?”


“Sebagian uang masuk melalui kontrak komersial dengan organisasi olahraga. Mereka memperoleh fee dari penggunaan merek, data pertandingan, dan akuisisi pelanggan.”


“Itu hanya lapisan legalitas?”


Steven tidak menjawab. Saya mendekatkan tubuh. “Steven.” Dia akhirnya mengangkat kepala. “Ya.”


“Artinya sejak awal kamu mengetahui arsitekturnya.”


Wajahnya membeku.


“Kamu yang merancang struktur perusahaan itu,” kata saya. “Kamu yang menghubungkan lisensi Malta, entitas offshore, kontrak olahraga, rekening merchant, dan settlement lintas negara.”


“B…”


“Lona hanya menjalankannya.”


“Saya tidak pernah menduga uang sindikat sebesar itu masuk.”


“Tapi kamu menciptakan pintunya.”


Steven terdiam. 


Saya memukul meja kecil di antara kami dengan telapak tangan. “Bodoh sekali kamu!” Gelas bergetar. Air tumpah ke permukaan meja.


Steven tidak membela diri. “Maafkan saya, B.” Suaranya nyaris tidak terdengar.


Saya berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar hanya ada langit gelap dan garis tipis cahaya di cakrawala. Amarah tidak akan menyelesaikan apa pun. Steven memang bersalah. Namun bila saya membiarkannya sendiri, dia tidak akan pernah sampai ke Hong Kong dalam keadaan hidup. Orang-orang yang kehilangan lima belas miliar dolar tidak akan menunggu proses hukum. Mereka akan mencari seseorang untuk dihukum. Dan nama pertama dalam dokumen itu adalah Steven.


Saya kembali duduk. “Dengarkan saya.”


Steven mengangkat wajah.


“Mulai sekarang kamu tidak menghubungi siapa pun di perusahaan Lona. Jangan membuka rekening, jangan memindahkan aset, dan jangan mencoba menghubungi EN.”


Dia mengangguk.


“Kamu serahkan seluruh dokumen kepada saya. Struktur saham, rekening, transaksi, custodial agreement, beneficial ownership, komunikasi internal, dan daftar orang yang mempunyai akses.”


“Baik.”


“Setelah ini, kamu tidak pernah menyentuh lagi bisnis perjudian, kasino, payment gateway gelap, atau perusahaan yang menerima dana tanpa mengetahui pemilik sebenarnya.”


“Saya janji.”


Saya memandangnya lama. “Jangan berjanji karena kamu sedang takut.”


Steven terdiam.


“Berjanjilah karena kamu akhirnya memahami bahwa uang yang terlalu mudah masuk selalu mempunyai pemilik yang akan datang mencarinya.”


Dia menunduk. “Andai sejak awal saya mendengarkan nasihatmu, semua ini tidak akan terjadi.”


“Penyesalan tidak bisa mengembalikan lima belas miliar dolar.”


Saya mengambil telepon satelit dan menghubungi Victor di Moskwa. Dia menjawab setelah dering kedua. “Ya, B.”


“Bawa timmu ke Makau.”


Di seberang sana hening sesaat. “Tim investigasi?”


“Semua yang diperlukan.”


Victor memahami maksud saya, tetapi tetap meminta penegasan. “Termasuk tim lapangan?”


“Ya.”


Saya menutup sambungan. Steven mulai mengirimkan seluruh dokumen melalui SafeNet. File muncul satu demi satu di layar saya: diagram perusahaan, rekening bank, aliran dana, kontrak sponsorship, daftar direktur nominee, trust deed, dan korespondensi yang selama ini disembunyikan.


Saya meneruskannya kepada Victor. Hanya dua kalimat yang saya tulis sebagai catatan: “Petakan aliran dananya. Selamatkan Steven.”


Pesawat terus melaju menembus malam menuju Hong Kong. Steven duduk diam di hadapan saya. Wajahnya seperti seseorang yang baru menyadari bahwa kekayaan tidak selalu memberikan jalan keluar. Kadang-kadang, kekayaan justru membangun ruangan tanpa pintu.


Saya menatap foto EN sekali lagi. Lalu menutup layar. “Mulai malam ini,” kata saya pelan, “kita tidak mengejar perang.”


Steven memandang saya, bingung.


“Kita cari uangnya. Kita temukan siapa yang memindahkannya. Kita buka semua pihak yang terlibat.” Kata saya.


“Dan kalau mereka menyerang lebih dulu?”


Saya menatapnya. “Kalau itu terjadi, barulah mereka memahami kesalahan terbesar mereka.”


“Apa?”


“Mereka mengira kamu sendirian.”


Di luar jendela, cahaya kota Hong Kong mulai terlihat seperti bara yang mengambang di atas laut. Perang belum dimulai. Tetapi semua orang yang akan terlibat di dalamnya telah mengambil posisi.


***

Keesokan harinya, saya bertemu Victor di penthouse hotel milik Steven. Dia datang membawa sejumlah laporan. Peta hubungan antarperusahaan. Jalur rekening. Nama-nama nominee director. Riwayat perjalanan. Foto. Nomor telepon. Daftar pejabat yang diduga melindungi jaringan EN. Victor menjelaskan semuanya hampir satu jam. Saya mendengarkan tanpa menyela.


Setelah dia selesai, saya menutup map di atas meja. “Atur EN bertemu dengan saya.”


Victor menatap saya. “Di mana?”


“Di mana pun dia mau.”


“B, ini bukan orang yang biasa menyelesaikan masalah melalui negosiasi.”


“Saya juga tidak meminta dia menjadi orang baik.”


Saya berdiri dan berjalan ke dekat jendela. “Sampaikan kepadanya saya siap bertemu.”


Victor masih diam.


 “Sendirian kalau perlu.”


Akhirnya dia mengangguk. “Siap, B.”


Saya memintanya keluar.


Sejak hari itu, pengamanan Steven diperketat. Jumlah pengawal ditambah. Pergerakannya dibatasi. Setiap perjalanan harus diketahui tim Victor. Tidak ada pertemuan pribadi. Tidak ada kendaraan yang digunakan dua kali berturut-turut. Tidak ada komunikasi yang melewati SafeNet. Steven tidak membantah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tahu bahwa kebebasan adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh orang yang tidak sedang diburu.


***

Tiga puluh hari kemudian, Victor menghubungi saya. “B, sudah terkonfirmasi.”


“Apa?”


“EN bersedia bertemu.”


“Di mana?”


“Wilayah netral dekat perbatasan Kamboja.”


“Kapan?”


“Besok malam.”


“Baik.”


“Kita terbang ke Malaysia. Dari sana lanjut dengan kendaraan darat.”


Victor berhenti sejenak. “Saya perlu mengingatkan sekali lagi. Pertemuan ini berisiko tinggi.”


“Saya tahu.”


“Selama tiga puluh hari terakhir, jaringan mereka memang sudah terganggu. Beberapa rekening tertahan. Beberapa penghubung mereka di London, Taipei, Thailand, dan Kamboja tidak lagi bisa bergerak. Tetapi EN belum sepenuhnya lumpuh.”


“Tidak perlu lumpuh.”


Victor menatap saya.


“Dia hanya perlu takut.”


Victor menghela napas.


“Kamu bisa menunggu satu bulan lagi. Saat itu tekanan kepada mereka akan jauh lebih besar.”


“Saya tidak ingin perang ini berlanjut satu bulan lagi.”


“EN meminta kamu datang tanpa pengawal.”


“Tidak masalah.”


Victor menggeleng. “Saya tetap menempatkan tim dalam radius aman. Tidak terlihat, tetapi cukup dekat untuk masuk bila keadaan berubah.”


Saya mengangguk.


Victor menatap saya lama. “B, saya tahu kamu bisa bertahan dalam situasi buruk.”


Dia berhenti.


“Tapi kali ini saya tetap khawatir.”


Saya menepuk bahunya. “Kamu tahu apa yang paling ditakuti EN?”


Victor tidak menjawab.


“Bukan kematian.”


Saya tersenyum tipis. “Kemiskinan.”


Victor menatap saya. “Orang seperti EN hidup dari keyakinan bahwa uangnya selalu bisa bergerak. Bahwa semua orang bisa dibeli. Bahwa setiap hukum punya harga.”


Saya mengambil jas dari sandaran kursi. “Saya datang untuk menunjukkan bahwa keyakinan itu salah.”


***

Malam berikutnya, saya bertemu EN di sebuah suite hotel lantai delapan. Dari jendela besar di belakangnya terlihat laut gelap. Jauh di tengah perairan, sebuah kapal pesiar berlabuh tanpa lampu berlebihan. Tim Victor berada di sana. EN tidak mengetahuinya secara pasti. Tetapi orang seperti dia selalu tahu bahwa seseorang yang datang sendirian belum tentu benar-benar sendirian.


Kesan pertama saya, dia tampak seperti seorang bankir investasi. Jasnya mahal. Sepatunya mengilap. Gerakannya tenang. Tidak ada tato. Tidak ada cincin besar. Tidak ada kesan seorang gangster. Justru itulah yang membuatnya berbahaya. Kekerasan modern jarang memakai wajah kasar. Ia lebih sering mengenakan jas yang dijahit di Savile Row.


“B,” katanya sambil menunjuk kursi di depannya, “saya orang bisnis.”


Saya duduk.


“Saya tidak suka perang.”


Saya menatapnya.


“Bukan eranya lagi,” lanjutnya.


Saya tahu mengapa dia berkata demikian. Dalam tiga puluh hari terakhir, tim Victor memotong banyak saluran operasionalnya. Bukan melalui baku tembak. Bukan dengan mengejar anak buahnya di jalan. Kami menyentuh sesuatu yang jauh lebih sensitive, arus uang. Rekening perantara dihentikan. Transaksi ditahan untuk pemeriksaan. Bank koresponden meminta penjelasan asal dana. Struktur trust diperiksa. Pihak yang biasanya diam mulai bertanya. Dalam dunia kejahatan terorganisasi, peluru dapat menggantikan seorang manusia. Tetapi rekening yang dibekukan dapat melumpuhkan seluruh jaringan.


EN menuangkan minuman ke dalam gelasnya. “Kembalikan akses terhadap dana saya,” katanya. “Saya bebaskan Lona.”


Saya tersenyum. Dia masih ingin membuat persoalan itu terdengar seperti perdagangan biasa. Padahal kami sama-sama tahu posisinya sudah berubah. Tim Victor di London berhasil memetakan aliran dananya. Jaringan finansial kami di New York kemudian mengirimkan laporan kepatuhan kepada sejumlah lembaga keuangan yang menjadi pintu masuk transaksi dolar.


Tidak ada peretasan. Tidak perlu. Dalam sistem keuangan modern, pertanyaan yang tepat sering lebih berbahaya daripada senjata. Setelah bank bertanya mengenai beneficial owner, asal dana, tujuan transaksi, dan dasar ekonominya, EN hanya memiliki dua pilihan. Menjawab dengan jujur dan membuka seluruh jaringan. Atau diam dan membiarkan dananya tetap terkunci. Dia memilih diam. Dan waktu bekerja melawannya. Semakin lama dia tidak menjawab, semakin luas pemeriksaan dapat berkembang. Bank lain akan ikut menghentikan transaksi. Otoritas di berbagai yurisdiksi akan menerima permintaan penelusuran. Pejabat yang selama ini melindunginya mulai takut nama mereka muncul. Bila itu terjadi, persoalannya tidak lagi menjadi kasus pencucian uang. Ia berubah menjadi krisis politik.


Saya bersandar. “Saya datang bukan untuk bernegosiasi.”


Wajah EN tidak berubah.


“Kembalikan dana Steven.”


Dia menatap saya.


“Bebaskan Lona.”


Saya berhenti sebentar.


“Setelah itu, akses dana kamu dipulihkan. Pemeriksaan berhenti pada titik yang bisa kami kendalikan.”


“Dan kalau dokumen sudah tersebar?”


“Tim kami bisa menjaga agar persoalannya tetap menjadi kasus kepatuhan perbankan, bukan skandal politik.”


EN terdiam.


“Saya tidak menjanjikan dosa kamu hilang,” kata saya. “Saya hanya memberi kamu kesempatan agar semua orang yang berdiri di belakang kamu tidak ikut tenggelam.”


Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Sedikit saja. Tetapi cukup. Dia tahu saya tidak sedang menggertak. Bila dokumen itu dibuka penuh, bukan hanya dirinya yang bermasalah. Ada bankir. Pejabat. Perwira. Pemilik kasino. Politikus. Pengusaha. Semua orang yang selama ini merasa aman karena nama mereka tidak pernah muncul dalam transaksi utama.


EN berdiri dan berjalan ke dekat jendela.


 “Lima belas miliar dolar bukan uang kecil.” Katanya.


“Karena itu kamu datang.”


Dia menoleh. “Dan kamu?”


“Saya datang karena Steven masih hidup.”


Ruangan hening. Di belakang saya berdiri tiga orang anak buah EN. Seorang lagi menjaga dekat pintu. Saya tidak menoleh kepada mereka. Orang bersenjata sering merasa berkuasa hanya karena semua orang memandang senjatanya. Cara terbaik menghilangkan kekuasaan itu adalah bersikap seolah senjata tersebut tidak ada. Salah seorang dari mereka bergerak. Pelan. Mungkin hanya mengubah posisi. Mungkin hendak mendekat. EN langsung mengangkat tangannya.


“Cukup.”


Orang itu berhenti. EN tahu aturan pertemuan ini. Bila dalam beberapa menit saya tidak mengirimkan konfirmasi, tim Victor akan menganggap negosiasi gagal. Dia juga tahu hotel ini bukan satu-satunya pintu keluar yang diawasi.


“B,” katanya, “saya setuju.”


Dia kembali ke meja dan membuka komputer. Sebuah perangkat autentikasi diletakkan di sampingnya. Dia memasukkan beberapa kode, menghubungi seseorang, kemudian mengotorisasi serangkaian transaksi. Saya tidak bertanya dari rekening mana dana itu berasal. Saya hanya menunggu. Tiga menit kemudian, pesan muncul di SafeNet. Steven: Dana telah diterima. Lengkap.


Saya berdiri.


“Dalam sepuluh menit, penahanan terhadap rekening utama kamu mulai dilepaskan.”


EN menutup komputernya. “Dan file?”


“Ditutup selama kamu tidak membuka perang baru.”


“Lona berada di Bangkok.”


Saya menatapnya. “Di mana?”


“Sheraton Grande. Orang saya akan mengantarnya malam ini.”


Saya berjalan menuju pintu. EN mengantar sampai beberapa langkah dari sana.


Sebelum keluar, saya berhenti dan menatapnya. “Pertahananmu kuat.”


Dia tidak menjawab.


“Tetapi operasi keuanganmu lemah.”


Wajahnya mengeras.


“Kamu terlalu percaya kepada orang-orang bersenjata dan terlalu sedikit menghormati orang-orang yang membaca transaksi.”

Saya mendekat sedikit.


“Sekali lagi kamu menyentuh Steven atau Lona, saya tidak perlu mengirim orang untuk mengejarmu.”


Saya menunjuk komputer di belakangnya. “Saya hanya perlu membuat seluruh dunia keuangan bertanya dari mana uangmu berasal.”


EN diam.


“Ketika itu terjadi, semua orang yang hari ini melindungimu akan menjauh. Bukan karena mereka menjadi baik.”


Saya tersenyum. “Karena mereka takut ikut miskin.”


Saya membuka pintu. “Dan ingat satu hal.”


EN menatap saya.


“Tidak semua aparat bisa dibeli. Masih ada orang bersih. Mungkin jumlahnya tidak banyak. Tetapi satu orang bersih dengan dokumen yang benar lebih berbahaya daripada seratus gangster.”


EN menundukkan kepala sedikit. Bukan tanda hormat. Lebih menyerupai pengakuan bahwa untuk malam itu, permainan telah selesai.


Di luar suite, Victor dan timnya sudah menunggu di ujung koridor. Kami masuk ke lift tanpa bicara. Begitu pintu tertutup, Victor menatap saya. “Selesai?”


“Belum.”


“Lalu?”


“Kita ke Bangkok.”


Lift bergerak turun. Di layar ponsel saya, pesan dari Steven masih terbuka. Dana telah diterima. Tetapi uang bukan alasan utama kami pergi ke Bangkok. Kami pergi untuk memastikan satu hal yang tidak bisa dibuktikan oleh angka, rekening, maupun dokumen kepatuhan. Bahwa Lona masih hidup.


***

Ketika saya masuk ke kamar Sheraton Grande, Lona sedang duduk di sofa. Empat orang dari tim Steven berdiri mengelilinginya. Tidak ada borgol di tangannya, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa selama berminggu-minggu dia hidup dalam penjara yang jauh lebih buruk daripada jeruji.


Steven segera mendekati saya. “Terima kasih, B. Urusannya selesai.”


Saya tidak menjawab. Saya hanya menatap keempat orang yang berada di ruangan itu. “Keluar semua.”


Steven tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya. Satu per satu mereka meninggalkan kamar.


Pintu tertutup. Tinggal saya dan Lona. Beberapa detik kami saling diam. Lona bangkit dari sofa. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bersujud di depan saya.


Saya memandangnya dingin. “Kamu sampah.”


Tubuhnya bergetar.


“Begitu rendahnya kamu menghargai kepercayaan Steven.”


Lona menangis, tetapi saya tidak berhenti.


“Kamu pikir kami bodoh?”


Dia menggeleng sambil tetap menunduk.


“Mengapa kamu tega mengorbankan anak buahmu demi uang?”


“B…” suaranya pecah. “Saya jatuh cinta kepada EN.”


Saya diam.


“Saya tidak tahu dia anggota kartel. Awalnya dia sangat baik. Dia membuat saya merasa dihargai. Merasa dicintai.”


Lona mengangkat wajah. Air mata membasahi pipinya. “Tetapi setelah dia mendapatkan semua informasi dari saya, dia berubah.”


“Berubah bagaimana?”


“Menjadi monster.”


Dia kembali menangis.


“Dia memaksa saya memindahkan uang ke rekening yang dia kuasai. Ketika anak buah saya menolak, mereka dibunuh. Semua orang yang mengetahui jalur transaksinya dihabisi.”


Saya tetap berdiri. “Lalu kamu?”


“Saya ditahan.”


“Untuk apa?”


“Untuk bekerja bagi dia.”


Lona mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Dia menjadikan saya alat untuk merampok aliran dana dari perusahaan judi online. Saya dipaksa membuka rekening, membuat perusahaan baru, mengubah settlement, dan menyalurkan uang kotornya.”


Dia kembali bersujud. “Kasihani saya, B.”


Saya tidak menjawab.


“Saya lahir dari keluarga miskin. Sejak kecil saya selalu menjadi keset kaki orang kaya. Saya lelah dihina. Saya lelah merasa tidak berarti.”


Tangisnya semakin keras.


“Ketika EN datang, dia membuat saya merasa seperti seseorang.”


Saya menatapnya tanpa belas kasihan. “Dan karena ingin merasa menjadi seseorang, kamu menjual semua orang yang mempercayaimu?”


Lona terdiam.


“Anak buahmu mati.”


Dia menangis.


“Steven hampir dibunuh.”


Tangisnya semakin pelan.


“Lima belas miliar dolar hilang.” Saya mendekatinya. “Dan kamu masih ingin saya mengasihanimu hanya karena kamu pernah miskin?”


Lona tidak menjawab.


Saya memandangnya lama. Bagi saya, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Kemiskinan bisa menjelaskan luka seseorang, tetapi kemiskinan tidak otomatis membenarkan kejahatan. Banyak orang lahir miskin dan tetap memilih hidup dengan kehormatan. Banyak orang dihina, tetapi tidak menjual manusia lain. Banyak orang kesepian, tetapi tidak menyerahkan hidup orang-orang yang mempercayainya kepada seorang monster.


“Kamu keluar,” kata saya.


Lona mengangkat wajah.


“Berdiri.”


Dia tidak bergerak.


“Berdiri dan keluar.”


Lona perlahan bangkit. Namun setelah berdiri, dia tetap berada di hadapan saya. “Kenapa belum pergi?”


“B…”


“Apa lagi?”


Dia kembali berlutut. “Saya salah. Saya tahu saya salah. ….”


Saya memalingkan wajah. Di luar jendela, Bangkok menyala dalam gemerlap malam. Kota besar selalu terlihat seperti menjanjikan kesempatan kepada semua orang. Padahal bagi sebagian manusia, kota hanya menyediakan lebih banyak tempat untuk tersesat.


Lona mengangkat wajah lagi. Matanya merah. Napasnya tersengal oleh tangis yang sejak tadi dia tahan.


“B, saya tahu setelah ini tim Steven akan mengeksekusi saya.”


Saya menatapnya tanpa bergerak.


“Saya terima,” lanjutnya dengan suara pecah. “Karena semua ini memang salah saya. Kesalahan saya terlalu besar. Mungkin memang tidak bisa diampuni.”


Air matanya jatuh ke lantai.


“Tapi, please…”


Dia kembali menunduk.


“Saya tidak meminta hidup saya diselamatkan.” Tangisnya pecah semakin keras. “Saya hanya membutuhkan maaf dari kamu. Tanpa kebaikan kamu tidak mungkin Steven percaya kepada saya. Saya tahu kamu sangat tulus membantu saya. Kamu juga dulu ingatkan saya agar jangan masuk wilayah abu abu. Cukup judi online berlisensi..” 


Ruangan mendadak terasa sunyi. Saya memandang Lona yang masih berlutut. Lona memang bersalah. Kesalahannya besar. Terlalu besar untuk dianggap sebagai kelemahan biasa. Namun apa gunanya menyelamatkan seseorang dari tangan seorang monster bila setelah itu saya membiarkannya dibunuh oleh orang-orang saya sendiri? Apa bedanya saya dengan EN apabila satu-satunya jawaban yang saya miliki terhadap kesalahan adalah kematian? 


Lona bukan tidak bersalah. Tetapi dia juga bukan EN. Dia bodoh. Lemah. Lapar akan penghargaan. Dan karena kelemahannya itu, dia dipakai oleh seseorang yang jauh lebih kejam. Kalau saya tidak mampu membedakan orang yang tersesat dengan orang yang sengaja menyesatkan, berarti saya tidak lebih baik daripada mereka.


“Kemari,” kata saya.


Lona mengangkat wajah. Dia menatap saya seperti tidak percaya kepada apa yang baru didengarnya.


“Kemari.”


Dia berdiri perlahan dan melangkah mendekat. Ketika saya membuka kedua tangan, Lona berhenti. Lalu tiba-tiba dia menghambur ke dalam pelukan saya. Tangisnya pecah di dada saya. Saya membiarkannya menangis.


“Saya memaafkan kamu,” kata saya.


Tubuhnya bergetar semakin keras. “Tetapi pengampunan bukan berarti kesalahanmu hilang.”


Dia mengangguk.


“Kamu harus hidup dengan kesadaran bahwa beberapa orang mati karena kebodohanmu.”


“Saya tahu.”


“Jadikan itu hukumanmu.”


Lona menangis dalam diam. “Mulailah hidup baru.”


Saya memegang kedua bahunya dan menatap matanya. “Selalu ada kesempatan bagi manusia untuk menjadi lebih baik. Tetapi kesempatan itu hanya berguna kalau kamu benar-benar berubah.”


“Saya akan berubah, B.”


“Jangan katakan kepada saya.”


Saya melepaskan pelukan. “Buktikan kepada dirimu sendiri.”


Saya mengambil sebuah amplop yang sebelumnya diberikan Victor kepada saya. “Ambil.”


Lona ragu-ragu.


“Ini bukan hadiah.”


Dia menerima amplop itu dengan kedua tangan. “Ini modal agar kamu tidak punya alasan kembali ke dunia lama.”


Lona menunduk. “Terima kasih.”


Saya membuka pintu dan memanggil Steven. “Antar dia ke bandara.”


Steven menatap Lona, lalu menatap saya. Wajahnya jelas tidak puas. Namun dia tidak membantah. “Baik, B.”


Lona membungkuk di depan saya sebelum pergi. Saya tidak berkata apa-apa lagi. Pintu tertutup.


Beberapa saat kemudian, Steven kembali ke kamar. “B, mengapa kamu membiarkan Lona pergi begitu saja?”


Saya sedang berdiri di dekat jendela. “Menurutmu harus bagaimana?”


“Dia seharusnya dikirim menghadap Tuhan.”


Saya menoleh perlahan. Steven melanjutkan dengan kesal. “Kesalahannya terlalu besar. Perang tiga puluh hari itu mahal sekali. Banyak orang kita terluka. Operasi di London, Taipei, Thailand, dan Kamboja menghabiskan sumber daya besar.”


Saya tetap diam.


“Dia pantas mati.”


“Sumber masalahnya ada pada kamu, Stev.”


Wajah Steven berubah. “Pada saya?”


“Ya.”


Saya berjalan mendekatinya. “Kamu berpikir bisa menjadi kaya dari bisnis aplikasi judi dan game online. Kamu membangun jalur transaksi yang bisa dipakai untuk menyamarkan uang. Kamu menerima dana tanpa benar-benar peduli siapa pemiliknya.”


Steven tidak menjawab.


“Kamu tahu ada risiko.”


“Saya tidak tahu akan sejauh ini.”


“Itu masalahnya.”


Saya menunjuknya. “Kamu ingin menikmati keuntungan dari bisnis gelap, tetapi tidak mau mengenal harga sebenarnya.”


Steven menunduk.


“Orang-orang yang menjadi mitra Lona bukan pebisnis biasa.” Saya berjalan kembali ke meja. “Mereka menjadikan uang sebagai Tuhan.”


Saya berhenti.


“Dan ketika manusia menjadikan uang sebagai Tuhan, dia mulai merasa berhak bertindak seperti Tuhan.” Lanjut saya.


Steven menatap saya.


“Menentukan siapa yang hidup.”


Saya mengambil gelas air.


“Siapa yang mati. Siapa yang boleh kaya. Siapa yang harus dihancurkan. Siapa yang bisa dibeli.”


Saya meletakkan gelas kembali.


“Kita tidak berbisnis seperti itu.”


Steven diam.


“Kita memang bukan orang baik.”


Saya menatapnya tajam. “Tetapi kita bukan monster.”


Ruangan menjadi hening.


Saya mendekati Steven. “Dan jangan hanya menyalahkan Lona.”


“Dia mengkhianati saya.”


“Benar.”


“Lalu?”


“Apakah kamu pernah bertanya kenapa?”


Steven tidak menjawab.


“Kamu memberikan gaji. Fasilitas. Perlindungan. Perhatian?”


“ Ya..”  Jawab Steven. “Masalah Lona itu berbeda, B.”


“Tidak.”


Saya menggeleng. “Justru itu yang paling penting.”


Saya duduk di sofa. “Mengelola proxy tidak cukup dengan gaji dan fasilitas. Mereka bukan mesin.”


Steven berdiri di hadapan saya.


“Mereka manusia.”


Saya melanjutkan. “Mereka punya ketakutan. Kesepian. Ambisi. Rasa rendah diri. Kebutuhan untuk dihargai.”


“Lona seharusnya profesional.”


“Profesionalitas tidak menghapus kemanusiaan.” Saya menatapnya. “Supir pribadimu juga proxy.”


Steven mengerutkan kening.


“Dia membawa kendaraanmu setiap hari. Kalau dia ingin membunuhmu, dia tidak perlu senjata.” Saya mengangkat tangan. “Cukup membelokkan mobil ke jurang.”


Steven diam.


“Kenapa dia tidak melakukannya? Tanya saya.


“ Karena dia dibayar. “


“ Bukan hanya itu.”


Saya bersandar.


“Karena dia merasa diperlakukan sebagai manusia.”


Steven mulai memahami.


“Disiplin tetap perlu,” kata saya. “Kontrol tetap harus ada. Audit. Sistem keamanan. Pembatasan akses. Semua itu wajib.”


Saya berhenti.


“Tetapi tidak ada sistem yang bisa menggantikan hubungan manusia.” Lanjut saya.


Saya memandang Steven.


“Anak buah yang hanya mengenalmu sebagai orang yang memberi perintah akan meninggalkanmu ketika ada orang lain yang menawarkan lebih banyak uang.”


Steven menyimak.


“Tetapi anak buah yang merasa kamu memahami hidupnya, keluarganya, ketakutannya, dan harga dirinya akan berpikir seribu kali sebelum mengkhianatimu.”


“Jadi saya harus memanjakan mereka?”


“Bukan.” Saya menggeleng.


“Kamu harus mengenal mereka.” Saya berdiri. “Perhatian bukan kelemahan.”


“Lalu?”


“Itu bagian dari manajemen risiko.”


Steven terdiam.


“Saya punya banyak proxy,” lanjut saya. “Mereka loyal bukan hanya karena uang dan fasilitas.”


“Karena apa?”


“Karena mereka tahu saya tidak memperlakukan mereka seperti alat sekali pakai.”


Saya menatap Steven. “Saya tahu nama anak mereka. Masalah keluarga mereka. Apa yang mereka takutkan. Apa yang mereka impikan. Dan saya melakukannya bukan untuk membangun citra.”


Saya berhenti.


“Saya melakukannya karena mereka memang manusia.” Lanjut saya.


Steven menundukkan kepala.


“Lona salah,” kata saya. “Sangat salah.”


“Tetapi?”


“Tetapi kamu juga gagal menjadi tempat dia berbicara sebelum masalah itu berubah menjadi bencana.”


Steven tidak membantah lagi. Saya berjalan ke arah pintu. “Masalah Lona selesai.”


Steven mengangkat kepala.


“Itu keputusan saya.”


“Baik.”


“Dan kamu lupakan bisnis ini.”


Steven diam sejenak.


“Judi online. Payment gateway gelap. Rekening yang asal dananya tidak jelas. Semua dihentikan.”


“Baik, B.”


Saya menatapnya tajam. “Paham?”


Steven berdiri tegak. “Siap, B.”


Saya membuka pintu. Sebelum keluar, saya berhenti. “Stev.”


“Ya?”


“Jangan pernah membangun loyalitas hanya dengan rasa takut.”


Dia menunggu.


“Rasa takut memang membuat orang patuh ketika kamu berada di dekatnya.”


Saya menatapnya. “Tetapi hanya cinta yang membuat mereka tetap setia ketika kamu tidak melihatnya.”



Disclaimer. Name and place, just a fiction.

Tuesday, March 28, 2023

Doniku...

 




“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.  Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doniku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.


“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol. Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he! “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di korsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.


Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu, apalagi dimaki maki dan dimarahi di depan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”


“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda. Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “


“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “


Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas. Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.


Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian, ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. 


Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka di sekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.


Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.


Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.


“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “


“ Biar dia bisa dididik dengan benar”


“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”


“ Ini sudah keputusanku, Titik.


“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.


Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.


Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.


Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.


Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “


Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.


Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.


Kuperhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.


Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal di rumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.


Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak dihabiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami, tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada di belakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.


Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud di kaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. Tidak, Bunda percaya kan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” 


Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.


Tapi akibat kejadian itu, suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku ” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.


“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.


“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.


***

Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. 


Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “


***


Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. 


Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.


Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku di rumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. 


Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Satu hari aku melihat sosok pria gagah berdiri di depan pintu rumah. Doniku ada di depanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.


Kehadiran Doni di rumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu dicemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. 


Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya


“ Hidup ini bukan mencari rasa hormat di hadapan manusia. Hidup ini mecari ridho Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan adalah cobaan terberat dalam hidup dan cara menghadapinya hanya satu yaitu rendah hati dan berbagi. Kita harus berjalan dengan cara yang benar menurut Allah agar kita sampai kepada jalan sebenarnya. Dekatlah kepada Allah. Jangan pernah sekalipun tinggalkan sholat. Kalau kita dekat kepada Allah, maka Allah akan menjaga kita siang dan malam.   Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita di dunia ini selain Allah.? Apapun yang hllang selalu ada gantinya, tetapi kalau Tuhan hilang dari hati kita, maka itu tidak ada gantinya. Kita akan menjadi korban kehidupan yang akan menjadi sesal tak berujung. “


“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini pesan cinta dari Tuhan. Kita semua punya peran hingga membuat ayah terpidana koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas. Tentang hakikat kehidupan, kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan.  Kembali dalam keadaan husnul khatimah. " Kata Doni. Aku menangis. Doniku memelukku dengan segenap cintanya. 


Tuhan memang tidak memberiku putra yang pintar dan terpelajar. Tapi Tuhan mengajarinya untuk hidup berakal  dan dia mendapatkan itu untuk menjadi cerdas dalam keimanan. Doniku cerdas secara spiritual dan cerdas secara intelektual. Dia mandiri dan bertanggung jawab kepada ayah dan ibunya, serta adik adiknya.  Doniku menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku di penjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram.  Kalau ada harta terindah maka itu adalah anak yang sholeh, Mahasuci Allah.

Pendidikan Adalah Jalan Naik Kelas

  Setelah satu bulan Amel mengikuti sekolah malam untuk mendapatkan ijazah SMA, saya datang ke tempat belajarnya di kawasan Cempaka Putih. S...