Friday, January 13, 2023

Jakarta kelabu.

 


Di tepi pantai di sebuah Pulau yang masih bagian dari King City, Burhan berjalan bersebelahan dengan Dono. Di belakang mereka ada pengawal swasta merangkap asisten pribadi. Sebentar lagi matahari akan terbenam di balik teluk. Kesunyian yang sengaja diciptakan barang sebentar dari kejauhan Istana Mutiara. “ Kamu harus tahu Don, presiden itu bukan raja. Ia tidak dilahirkan menjadi penguasa, tapi diciptakan. Politik dalam sistem apapun selain kerajaan memang adalah permainan mental. Kita tidak membangun apapun, tetapi kita membangun persepsi dalam dimensi waktu dan keadaan. Dari sanalah kekuasaan itu menjadi teater yang menarik bagi aktor di dalam nya dan juga bagi penonton” 


Burhan terdiam seraya menatap matahari sedang merangkak turun di kaki langit. Dono hanya menyimak saja. Dia hanyalah pengusaha. Bukan konglomerat yang bisa mengatur para elite kekuasaan. Tapi bagi Burhan, Dono diperlukan sebagai aset untuk mendapaktan uang dari luar negeri. “ Kamu tahu, “ seru Burhan. “ Negeri ini didirikan dari konspirasi kaum bangsawan. Walau kermedekaan diawali dengan revolusi bau amis darah. Namun politik akhirnya menghabisi semua mereka yang paling militan membela kemerdeakaan. Ya revolusi memakan anak bangsa. Tapi itulah politik, harga yang harus dibayar untuk sampai kepada persetujuan kedaulatan kita sebagai bangsa tahun 1949 dan akhirnya …. Burhan terdiam. Dono menyimak


Mereka duduk menatap ke pangkal akanan. “ setelah itu terus berproses sampai akhirnya babak awal pejuang dihabisi semua. Politik juga yang melahirkan kaum komprador. Mereka berkuasa tapi untuk kepentingan asing. Engga percaya? setelah itu UU PMA disahkan. Kita kembali kepada sistem kekuasaan era kolonial saat kartel bisnis asing menguasai bangsa ini. Hanya beda model dan istilah saja. Esensinya tetap sama. Tapi karena itu kekuasaan bisa bertahan 32 tahun. Sejak itu kita masuk dalam jebakan hutang. Dan selesailah agenda asing pada episode ke dua. 


Selanjutnya masuk ke episode ke tiga. Saat sekarang. Kekuatan asing tidak lagi dalam bentuk hegemoni militer tapi sudah  menjadi hegemoni mata uang. Dengan situasi jebakan utang itu, mata uang sangat penting dijaga agar kurs tidak jatuh. ia bukan lagi produk ekonomi  tapi geopolitik. Kita sangat bergantung kepada asing untuk menjamin skema likuiditas valas. Sehingga kita tetap bisa cetak uang. Walau kurs terus jatuh, ekonomi tetap terhubung ke luar negeri untuk belanja dan berhutang. “Kata Burhan. 


Dono hanya menyimak. Apa peduli dia. Dia hanya pengusaha, dan mindset nya ya pengusaha. Soal politik bukan urusan dia. Dari tadi dia hanya menanti Burhan bicara tentang bisnis. 


“ Don, lanjut Burhan. Dan Dono siap mendengar “ Saya perlu uang USD 3 miliar. Saya rasa bukan jumlah uang besar. Itu uang kecil. Tapi masalahnya sumber daya keuangan saya tidak bisa diakses. Maklum pemerintah sekarang sangat ketat mengawasi aliran uang ke politik. Kamu tahu apa sebabnya? Partai penguasa sekarang bukan partai pragmatis. Mereka tidak gila uang tapi terobsesi dengan agenda politik kaum tertindas. Jelas itu paradox dengan situasi ekonomi global yang tidak ada sekat lagi. Kalau dipaksakan, negeri ini akan bubar atau terpuruk seperti kasus negara lain yang mata uangnya jadi sampah. Walau sumber daya besar, tetap saja useless. Saya tidak ingin itu terjadi. Kita perlu nasionalisme, tapi bukan berarti menguasai tapi berbagi atau sharing resource dengan dunia private agar negara dapat pajak dan pembangunan bisa berlanjut. “ kata Burhan.


“ Apakah kamu bisa paham maksud saya.” Tanya Burhan.


Dono mengangguk.


“ Nah sekarang kita bicara bisnis. “ Kata Burhan. “ Saya akan serahkan proposal ringkas yang bisa kamu pelajari. Mari kita kembeli ke Pesanggrahan “ Lanjut Burhan. Mereka berjalan menuju ke pesangrahan. Dono menerima proposal itu dan berjanji akan mempelajarinya.


***

Lewat empat bulan, seseorang menghubungi Dono. Orang itu mengaku asisten dari Burhan. “ Mohon bapak ada waktu untuk bertemu Vina. “ katanya. Hotel dan tempat ditentukan.


Di suatu hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan. Seorang wanita menyambutnya di lounge dengan ramah. “ Pak Dono” Tegur wanita itu 


“ Ya saya. “


“ Kenalkan saya Vina. Saya yang diminta untuk bertemu denga anda.” wanita itu usianya mungkin sekitar 40 tahun. Keliatan cerdas. “ Bagaimana kita bicara di kamar saya saja.” Lanjut vina menawarkan diri. Dono mengangguk dan ikut saja. Dia memang di hubungi oleh salah satu petinggi partai untuk melanjutkan rencana pembicaraan dengan Burhan. Tentu ini berkaitan dengan proposal. 


“ Pak, “ Kata Vina setelah sampai di kamar. “ Rencana pembangun infrastruktur IT di daerah pedesaan harus dihentikan atau ditunda pembangunannya. Setidak sampai  pemilu. Kami perlu untuk memastikan  tidak semua  wilayah bisa diakses secara real time lewat IT. Sehingga hasil pemilu bisa diatur. Kami punya sumber daya untuk mengatur logistik kotak suara sampai ke tempat terisolir. Ini potensi suara ada 20%. Artinya kalau tanpa infrastruktur itu, 20 % sudah ditangan kami. Sisanya bukan masalah besar untuk bisa diatas 50% suara sebagai pemenang.


Dari proyek ini kami punya potensi cash untuk politik sekitar USD 300 juta. Tapi dari konsorsium backbond FO tier 1 IT, kami berharap dapat  konpensasi USD 4 miliar. Karena proyek tertunda itu akan memudahkan konsorsium menguasai jalur tier 1. Dan negeri ini akan tergantung kepada mereka. Bapak bisa paham lah. Siapa yang kuasai backbond IT, dia menguasai bangsa. Di abad modern ini tidak ada produk modern dan sistem administrasi tanpa IT. 


Nah pak, USD 3 miliar dari anda cukup lobi vendor dan konsorsium backbond FO itu. Kami tahu anda punya akses ke sana.” Kata Vina. Dono dari tadi hanya menyimak.


“ Saya kenal dengan Vendor dan financial yang backup konsorsium itu. Tapi tidak mudah meyakinkan mereka. Maklum anggota konsorsium itu umumnya sudah perusahaan publik dan kamu tahu lah, mereka diawasi oleh otoritas negaranya untuk patuh kepada good governance.  Kalau ketahuan suap, harga saham akan jatuh, bukan tidak mungkin mereka akan delisting. “ Kata Dono.  Vina terdiam tapi terkesan dia sedang berpikir.


“ Pak,  gini aja “ seru Vina, “ anda keluar uang USD 3 miliar, soal penundaan proyek itu urusan kami. Bagaimana deal dengan konsorsium itu urusan anda. Apapun yang anda perlukan untuk memastikan konsorsium percaya, kami akan siapkan legalitasnya. Ayolah. Ini bisnis mudah. Anda kan tahu, kami dari koalisi penguasa sekarang. Semua persiapan untuk memenangkan pemilu itu sudah kami siapkan. Media, influencer, dan bahkan sosial media bisa kami filter agar influencer tidak bisa diakses oleh pengguna sosial media. Itu ada aplikasi algoritma dari  vendor kami di Israel” 


Dono berdiri dan melangkah ke arah pintu. “ Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Besok jam 8 malam saya akan hubungi kamu. Tempatnya saya yang tentukan.”


***

Lewat 3 bulan. Dono bertemu dengan Daniel di Sentosa, Singapore. Mereka berteman lama. Daniel punya bisnis PE dan jago dalam hal hedge fund. “ Burhan wajar saja dekati kamu. Karena dia pernah lihat kamu makan malam dengan Lim di Conrad. Burhan kan proxy dari Lim, konglomerat dari Formosa yang punya koneksi dengan China mainland. Beberapa tahun lalu kan Lim di eksekusi mati oleh KPK China. Makanya dia berusaha cari cantolan lain ” Kata Daniel.


Dono tersenyum. Dengan mengisip cigar dia mendekatkan wajah ke Daniel. Berbicara secara berbisik. “ Kamu ada bukti kalau kamu punya power atas proyek Infrastruktur It itu? Tanya Daniel. 


“ Saya akan kirim agent ketemu kamu. Dia akan atur semua untuk pastikan agenda kita sukses “ kata Dono.


“ Siap Don.  Senang berbisnis dengan anda.”


***


6 bulan kemudian, Vina telp Dono. “ Pak Dono bisa ketemu ? 

“ Ok. “ Dono tentukan tempatnya. Mereka bertemu di safehouse Dono.


“ Kenal sama Daniel ? Tanya Vina


“ Tidak. Siapa dia.? Jidat Dono berkerut “ Ada apa ?


“ Karena bapak tidak ada kabar, kami deal dengan Daniel. Dia serahkan jaminan USD 3 miliar. Tapi setelah kami tunda proyek sekian lama sesuai waktu yang dia tentukan. Uangnya tidak bisa dicairkan.  Sementara proyek infrastruktur tier 1 udah rampung melintasi wilayah kita. Jadi gimana ya pak? Kata vina bingung. " Kami harus kembalikan uang proyek. Kalau engga, akan jadi urusan hukum." Lanjut Vina.


“ Saya tidak paham. Dari awal saya tidak tertarik dengan bisnis ini. Apalagi saya tidak paham soal politik “ Kata Dono seraya menuangkan teh ke cangkir Vina.


***

Akhir tahun menjelang tahun baru. Dono jalan kaki di kawasan Pacinan untuk makan malam di kafe tenda bersama Madam Poh. “ Melalui private investment. Terdaftar di offshore, Budapes kita punya saham 10% bersama Daniel pada proyek konsorsiun FO trans ASiA-Amerika. Sementara proyek IT nasional berhasil mereka tunda, tapi mereka juga ambil uang proyek dari agent pemerintah untuk persiapan menggalang kekuatan Politik.  Karena yakin ada jaminan dari uang Daniel. Rencananya uang dari agent pemerntah itu akan dikembalikan setelah proyek konsorsium selesai. Nyatanya uang Daniel tidak bisa dicairkan ”  Kata Poh.


Dono perlihatkan berita lewat media digital  dalam bahasa inggris  kepada Poh. “ Aparat melakukan investigasi atas kegagalan proyek dan korupsi triliunan..“ Poh membaca berita itu dan menatap Dono. “ Kamu nakal “ kata Poh mencubit perut Dono dan akhirnya mereka berpelukan. “ Kangen Don. Udah lebih 2 tahun tidak ketemu. “ Kata Poh.  


Saat akan meninggalkan tempat itu, ada anak kecil menawarkan tissue kepada mereka. Poh membeli dengan menyerahkan uang pecahan Rp. 100.000. “Saya suka cara anak ini struggle. Dari kecil dia sudah punya rasa hormat untuk survival. Kelak besar dia akan sama dengan kamu. ” Kata Poh mencubit lengan Dono. Tapi Dona tertawa. Mereka kembali ke Hotel di downtown. Jakarta kelabu…

 Diclaimer : Only fiction.

1 comment:

Anonymous said...

Ijin share ya babo🙏

Jangan melewati batas..

  Tahun 2013 september, Holding Company yang aku dirikan sejak tahun 2006 berada dibawah pengawasan dari pihak yang ditunjuk oleh konsorsium...