Friday, July 30, 2021

Amel..

 


Saya bertemu dengan Robert di Plaza Indonesia. Dia lebih dulu menegur saya. “ Erizeli..ya.” 

“ Ya.”

“ Masih ingat saya, Robert. Teman waktu kos di Cempaka Putih..”

“ Oh kamu.” saya langsung ingat dan memeluknya. “ Gimana kabar kamu.”

“ Baik. Gua tinggal di Riau.”


Saya segera ajak dia ke cafe untuk ngobrol. Rambutnya sudah putih semua. “ Sudah berapa anak” Tanyanya ketika sampai di cafe.

“ Dua. Kamu?

“ Satu. Istri saya meninggal 5 tahun lalu. Saya kerja di Pabrik Pengolahan CPO. Sampai sekarang tidak lagi menikah.” Katanya dengan raut sedih. Saya terima telp sebentar. 

“ Jel, lue masih ingat engga dengan Tari ?

“ Amel. “

“ Ya. Lue pernah ketemu dia.?

“ Sampai sekarang masih sering telp dan ketemu. Dia kan punya Holding di Singapore kerjasama dengan David dan Tan orang Malay. Tapi gua engga ada bisnis dengan dia. Kenapa ?

“ Tadikan setamat kuliah di jakarta, gua pulang ke Riau lanjutin usaha keluarga. Tahun 1996 gua bangkrut. Gua ketemu Amel di Riau. Dia yang masukin gua kerja di Pabrik pengolahan CPO itu. Tapi sejak itu gua engga pernah ketemu dia lagi. Gua cuman mau bilang terimakasih dan minta maaf.” Katanya dengan raut sedih dan kalah.


***

Tahun 1983


“ Kemana lue Bet ? Kata saya ketika melirik Robert keluar dari kamar kosnya terburu buru bawa tas besar. Dia masuk ke kamar kos saya seraya berbisik” Kabur gua. Pindah tempat. “


“ Kenapa ?


“ Amel minta dikawinin. Bego apa?.”


“ Kan lue udah pacaran sama dia. Dan dia sering nginep di Kosan lue. Tega ama sih lue. Kalau memang belum siap nikah ya bilang aja baik baik “


“ Lah dia hamil. Bego luh. “


“ Ya nikahi. “


“ Ogah gua. Masih banyak  cewek, kenapa harus nikah dengan dia. Apalagi kuliah gua belum kelar.” Katanya ketawa melangkah keluar dari kamar kos saya. Saya hanya bisa geleng geleng kepala.


Benarlah. Sore Amel datang ke tempat kos. “ Bang Jel, Bang robert kemana ?


“ Dia pindah,  Mel”


“ Pindah kemana ?


“ Engga tahu. “ Kata saya. Amel menangis di teras tempat kos. Waktu itu Amel masih SMA di daerah Kwitang. Tapi dia tidak meraung. Hanya air matanya jatuh. “ Mel kamu engga apa apa?


“ Engga apa apa. Aku pulang aja.”


“ Lue kan tahu tempat kerja dia di Jalan Kwitang. Datangi aja.”


“ Dia sales freelance. Jarang di kantor. “ Amel pergi sore itu dengan membawa luka.


Suatu hari saya dapat telp dari klinik. Mengabarkan soal Amel. Saya segera meluncur ke jalan Pramuka. Saya lihat Amel dalam keadaan sekarat. Pendarahan. Ternyata dia keguguran. Harus di bawa ke rumah sakit. Sejak SMP. orang tuanya sudah meninggal. Dia tinggal dengan pamannya di jakarta. Mungkin dia takut memberi tahu kepada pamannya. Dia hanya ada saya sebagai orang yang dia kenal dan percaya. Saya membawanya ke rumah sakit Budi Kemuliaan. Dua hari Amel sudah bisa pulang. Saya ongkosi semua biaya rumah sakit. Setelah itu saya tidak lagi pernah di hubungi Amel.


Tahun 2000 saya bertemu dengan Amel di jalan Batutulis. Dia bekerja di perusahaan agency dari Singapore. “ Boss aku di Singapore suruh aku urus  lelang BPPN. Boss besar dia. Duitnya engga beseri. “ 


“ Wah baguslah. Hati hati kerjanya”Kata saya. Tapi saat itu saya lihat Amel sangat dewasa dan penuh percaya diri.. Walau kami saling tukar kartu namanya namun karena kesibukan masing masing kami tidak melanjutkan komunikasi. Saya baru bertemu kembali dengan Amel tahun 2008 di Hong Kong. Saat itu dia sudah punya holding di Singapore khusus tambang batubara dan Agro industri. Saat itu dia sedang berusaha untuk ambil alih pabrik ethanol dan perkebunan singkong di Sumatera. Dia tawarkan saya ikut konsorsium. Saya ikut hanya 10%. 


Setelah akuisisi , dua tahun kemudian pabrik itu dijual ke Jepang.  Amel memang mendatangkan untung yang lumayan besar. Namun karena itu kami jadi akrab. Barulah saya tahu dia tidak pernah menikah. Saya tidak pernah bertanya tentang masalalunya. Dia juga tidak pernah cerita. Sepertinya Amel sudah melupakan masa lalunya. 


Satu saat dia cerita juga tentang masa lalunya. “ Ketika Bang Robet mencampakan aku, awalnya aku marah dan sedih. Tetapi akhirnya aku bisa berdamai. Mengapa? Cintaku kepada bang Robert itu tulus. Dan belum tentu aku bisa menemukan kembali pria yang bisa membuat ku mencintai dengan tulus. Itu berkah yang harus aku sukuri. Cintaku itu kepadaya juga hakku. Tentu bukan hakku untuk menentukan hidup bang Robert. Hidup soal pilihan. Setiap orang menjalani takdirnya atas pilihan dia sendiri.” kata Amel dengan bijak dan saya terpesona dengan sikap hidupnya. 


Kalau Amel yang yatim, miskin hanya tamatan SMU, bisa punya holding international, hidun mapan, itu karena di saat dia terpuruk dia berhasil menjebol roadbock pikiran bawah sadarnya dengan berprasangka baik. Saat itu kekuatan pikiran bawah sadarnya keluar dan dia mampu melakukan kerja besar yang bagi orang awam itu impossible.


***

“ Gua bisa telp Amel sekarang. Mau bicara dengan dia? atau mau ketemu langsung. Walau usia diatas gocap tapi tetap cantik. Bahkan lebih hebat dari waktu mudanya. Mau ketemu?


“ Engga usah Jel. Biarlah waktu nanti mempertemukan kami. Gua hanya minta tolong. Sampaikan ke dia, maaf dan terimakasih  gua” 


“ Bet..” seru saya. “ Amel itu sukses dan hebat sekarang karena dia bisa memaafkan kamu dan berdamai dengan kenyataan. Andaikan dia punya dendam dan marah, mungkin dia sudah terdampar di barak pelacuran. Gua yakin lue udah dimaafkan dia, apalagi dia bantu lue masuk kerja. Kalau engga, manapula dia mau bantu lue. Nah tugas lue sekarang. Perbaiki diri dan terus doakan dia agar dia baik baik selalu.”


“ Tentu jel. Setiap hari gua doakan dia… rasa sesal pernah mengecewakan dia mungkin gua bawa mati..”


Jam 8 malam kami berpisah di cafe itu. Saya kepalkan 20 lembar pecahan USD 100. “ Itu untuk anak kamu. Bilang dari om Jelek ya.” Kata saya. Dia berlinang air mata seraya memeluk saya..***


Sumber : My diary.
Disclaimer , nama dan tempat hanya rekaan belaka..


No comments: