Sunday, March 23, 2025

Bakti kepada Ibu..

 



“ Ale, aku Deny. Masih ingat kau teman sales kamu dulu tahun 80an? terdengar suara telp di seberang.


“ Hay Den,  tentu ingat. “ Kata saya cepat.


“ Aku dapat telp kau dari Akhiat. Teman lama kita, yang sales tekstil. Ayolah basobok. Kangen nih. “


“ Ok, Besok ketemu di kantorku di Pecenongan ya. “ 


“ Siap. “ 


Deny adalah sahabat saya. Dulu tahun 80an dia sales pharmasi. Kali pertama kenal dia di Monas. Tempat para sales istirahat setelah lelah mengukur jalan. Saat itu saya sales Kimia. Mengapa saya tidak bisa melupakannya? Karena persahabatan kami sangat membekas tak lengkang dipanas dan tak lapuk di hujan. Dia lahir dari keluarga miskin di Medan. 


Dia ada 3 bersaudara. Ayah nya sudah meninggal sejak usianya 12 tahun. Kakak tertuanya tinggal di Kalimantan bekerja pada kebun sawit. Kakak nya satu lagi, wanita menikah dan tinggal di Malaka, Malaysia. Ibunya dagang sayur di pasar tradsional. Memaksanya untuk focus belajar. Karena dari dua orang kakaknya tidak ada yang tamat SMP. 


Setamat SMA dia pergi merantau ke Jakarta. Tiga tahun kemudian dia pulang ke Medan. Karena dapat kabar mamanya sakit keras. Dia berikan surat itu kesaya. Tanpa banyak tanya, saya beri uang kepada Deny “ Pulanglah. Jangan tunda seharipun. “ kata saya. Saat itu Denny berlinang airmata. Sebulan kemudian, Denny ketemu saya lagi di Jakarta. Dia undang saya ke rumahnya. Mamanya sangat baik. Saat itu dikenalkan wanita kepada saya. Betapa terkejut saya, “ Aku sudah menikah, ale.” 


Ditengah hidup yang tidak ramah, di usia yang masih belia. Denny memutuskan menikah. Mengapa ? “ Selama tiga tahun aku di Jakarta. Sari yang merawat mama. Dia tetanggaku.  Padahal dia juga anak yatim. Kerjanya sebagai pembantu di toko. Ketika aku memutuskan mengajak mama ke Jakarta, Mama minta aku menikahi Sari. Aku tidak bisa menolak permintaan Mama. Aku percaya rezeki itu ada pada kepatuhan kepada mama. Itu aja “ katanya.


Tahun 85 saya tidak lagi sales. Sudah punya bisnis sendiri dengan mendirikan Perusahaan. Hubungan dengan Denny terputus. Saya tahu dia sudah punya bisnis sendiri juga.  Mungkin karena bisnis kami berbeda dan sibuk dalam merintis, kami hanya bisa saling mendoakan saja. Tahun 2003 saya dapat kabar dari Akhiat, Denny buka Apotik di Riau. 


***


Denny datang ke kantor saya dengan penampilan sederhana. Dia peluk saya lama. “ 35  tahun lebih ya engga ketemu. Kau nampak sehat. “ Katanya. 


“ Kau juga sehat dan kekar tubuhnya. “kata saya.


Kebiasaannya merokok tidak hilang sejak muda. Jadi kami bisa santai bicara sampai merokok.


“ Keadaan ekonomi sekarang lagi susah ya Ale.. Daya beli melemah. Tapi pemerintah bantah dengan data inflasi yang rendah. Kenapa bisa begini ?


“ Memang inflasi kita rendah sekitar 2-3 %. Tapi itu kan inflasi year to year atau monthly to monthly. Kalau diukur dari peningkatan harga 10 tahun lalu jelas inflasi diatas itu. Contoh. Beras tahun 2014 harga 1Kg Rp.9.500. Sekarang harga Rp. 13.000. Itu artinya terjadi peningkatan 50%. Pertahun inflasi jadinya 5%. 


Belum lagi harga rumah yang tiap tahun naik mencapai 10%. Dulu kita engga perlu air minum gallon. Cukup masak air. Kan sekarang beli air gallon. Dulu kita engga masak pakai kompor gas, sekarang pakai gas. Dulu engga ada belanja quota internet. Sekarang setap keluarga punya hape dan butuh quota internat..


Nah sekali harga naik, tidak pernah turun lagi. Sementara peningkatan pendapatan kelas bawah dan menengah kebanyakan tidak naik signifikan. Akibatnya samakin lama semakin kurang daya beli orang. Kadang terjadi deflasi. Itu karena orang mengurangi konsumsi. “ kata saya.


“ Kalau lihat Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, mereka bisa mitigasi kenaikan harga itu dengan kenaikan upah dan mengurangi pejak penjualan.  ” kata Denny.


“ Sejak kita menganut ekonomi terbuka. Tangan pemerintah sudah dirantai mengatur harga. Barang bebas masuk dari luar negeri dan budaya dari luar juga bebas masuk, termasuk budaya konsumsi via daring. Seharusnya dengan keterbukaan itu pemerintah mendorong industrialisasi yang punya nilai tambah tinggi, sehingga upah bisa meningkat in line dengan kenaikan harga kebutuhan orang modern.


Tapi Indonesia selama 10 tahun belakangan ini abai soal industrialisasi. Bahkan kita mengalami deindustrialisasi. Nah dalam keterbatasan income publik dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan, pemerintah membuka kanal berhutang, KPR, kendaraan, hape dan lain lain. Ini menambah lagi beban pengeluaran publik dalam bentuk bunga. Tentu akan mengerus pendapatan tetap mereka. Data tabungan mereka di bank terus turun“ Kata saya.


“ Lambat laun orang kelas menengah bisa jatuh miskin dan kelas misikn jadi blangsat. “ Kata Denny.  “ oh kenapa terjadi crash bursa saham kemarin? aku ingin tahu dari kau” 


“Yang menggerakan bursa itu kan bukan hanya trader netting. Masuk pagi keluar sore. Tapi kan karena ada skema utang untuk main di bursa. Walau skema short selling dibatasi namun skema lain terbuka. Apalagi bagi investor asing. Mereka bisa dapat uang dari bank atau pialang lewat margin lending. Umumnya bank local juga ikut terlibat memberikan pinjaman. Setidak nya mereka jadi channeling agent untuk dana offshore


Dengan skill hitungan ekonomi quantitative dan pengalaman melantai di bursa,  mereka bisa menganalisa pergerakan saham dimasa depan dan menentukan posisi pada hari ini.  Dan tentu dengan menguasai peredaran saham di bursa mereka bisa mengatur bandul harga.  Namun itu hanya bisa terjadi kalau likuiditas lancar. Tapi disaat likuiditas seret sejak tahun 2024, ya bunga sudah tinggi. Engga bisa lagi main pompom harga. Ya mereka sell down saham di bursa.. Otomatis index jatuh. “ kata saya.


“ Mengapa likuiditas jadi seret.?


“ Karena pemerintah serap uang publik yang ada di Bank dan Dapen termasuk asuransi lewat SBN. Engga ada lagi uang mudah yang bisa dimainkan. Sementara pemerintah juga tidak punya pilihan lain. Karena tanpa utang SBN, APBN engga bisa dibiayai. Ekonomi bisa stuck. “ kata saya.


“ Ale, boleh tahu. Apa sih sebenarnya resiko main saham itu ? tanya Denny.  “ AKu sering ditawarin main saham.”sambung Denny.


“Resiko sebenarnya adalah apabila kualitas saham emiten itu jatuh karena kebijakan ekonomi negara yang salah management. Dan itu berimplikasi kepada kebijakan politik yang melahirkan state capture dan memburuknya index demokrasi.  Soal harga turun naik atau volatile biasa saja. Itu bukan resiko. Justru peluang cuan itu ada pada pasar yang volatilitas tinggi 


Makanya issue soal defisit melebar akibat pendapatan pajak turun dan realokasi anggaran ke politik populis seperti MSB, dan serta keberadaan BPI Danantara yang mengurangi PNB dari deviden BUMN, itu cepat sekali membuat pihak asing walk away. “ Kata saya. 


" Bisa beri jelaskan ..."


" Ada emiten yang tahun 2024 pertumbuhan saham dan marcap nya naik lua biasa. Padahal bisnis sudah masuk sunset, yaitu tambang batu bara. Naik nya engga tanggung tanggung Rp. 100 triliun lebih. Sudah pernah di suspended oleh OJK. Tetapi engga ada investigasi secara menyeluruh. Jalan terus. Bahkan pemegang saham pendiri nya naik peringkat dalam list TOP rich di Indonesia. Eksekutif  diangkat jadi dubes oleh Jokowi. Anaknya temanan dengan putra Jokowi. 


Di Indonesia ada deretan saham emiten di BEI yang memiliki valuasi yang sudah setinggi langit (overvalued) tapi tidak dibarengi oleh peningkatan kinerja laba yang signifikan. Mengapa ? Tentu itu didorong pemain yang focus pada value investing, Tidak ada alasan fundamental. Lebih karena narasi dan persepsi doang. Makanya bila agenda selesai, atau air habis digalon untuk padamkan api, ya habis tuh terbakar saham. Jatuh tapai." kata saya.


" Oh jadi, mau narasi gimanapun, kalau akal sehat tetap ada. Engga suit kita tahu motive dari adanya value investing itu. Apa tujuanya sebenarnya ? Tanya Denny.


" Pasti tujuannya hanya ada dua. Leverage dan money laundering. Leverage  karena sudah lebih dulu terikat dengan kontrak REPO. Mau engga mau harus terus goreng saham agar saat jatuh tempo REPO engga tekor. Money laundering, karena memang digunakan untuk memindahkan asset dari non disclose ke disclose sehingga clean.


Apalagi semua emiten besar itu pasti bagian dari ring kekuasaan. Bahkan ada beberapa diantara mereka jadi Wantimpres. Saya sering dengar langsung dari mereka. Saat mereka menawarkan skema investasi bursa. Saya ragukan.“ Ah engga usah kawatir. Saya bisa atur semua. “ katanya seraya memberikan kartu namanya sebagai ring kekuasaan.


Kalau cara mereka itu hebat menarik capital inflow dari luar negeri. Itu bagus. Artinya meningkatkan neraca Posisi investasi international. Memperkuat stabilitas IDR. Tetapi malah melancarkan capital out flow. Saat uang money laundering masuk ke system bursa, asset itu pasti mobile ke luar negeri. Repo dengan Dapen, yang korban malah likuiditas dalam negeri. Kan mantiko" Kata saya.


" Mantiko memang. " Kata Denny geram. " Tetapi kalau lihat gaya mereka bicara seperti orang paling idealis dan nasionalis. Kalau memang baik dan professional, kan engga perlu dekat di ring kekuasaan. Focus aja tingkatkan laba dan setor pajak sebesar mungkin untuk negara. " Kata Denny. Saya mengangguk. " Mending aku orang kampung menjauh sajalah dari pasar saham." Kata Deny tersenyum.


Kemudian saya ajak Denny makan di restoran Korea.


“ Maaf, tempo hari kau menikah, aku sedang di Jambi. “ katanya.


“ Bagaimana kabar Sari ? tanyaku


“ Sehat. Kami punya anak 2. Keduanya sudah menikah.


“ Mama ?


“ Udah meninggal, tahun 2008.  Kakak ku dan ipar ku kerja sama aku sekarang. Mereka Kelola dua toko grosir obat yang aku punya. Karena itu pesan mama agar aku menjaga kakak ku.” Kata Denny.


“ Aku kagum dengan sikap hidup kau denny. Anak yang sangat berbakti kepada ibu. Makanya rezeki kau mudah dan badan sehat.  "


“ Ale, senang sekali ketemu dengan kau. Usiaku sudah hampir 70 tahuh. Entah mengapa minggu lalu aku bermimpi ketemu kau. Makanya aku berusaha cari tahu tentang kau. Untung aku ketemu Akhiat di Medan. Dia beri tahu nomor telp kau. Kita sudah tua. Entah kapan lagi kita akan bertemu. “ Kata Denny. Saya peluk dia.

Saturday, March 22, 2025

Berubah karena waktu.

 




Kemarin aku ke SQ. Meeting dengan Tom dari NY. Dia investment banker. Bersamanya juga ikut banker dari London. Aku  tidak mau pertemuan di ruang publik. Dan tak ingin ada penyadap dari tempat tersembunyi. Jadi,  pertemuan diadakan di ruang sauna di Hotel Bintang V. 


Saat masuk lounge SPA, aku melihat wanita dari masa lalaku. “ Ale…” sapanya. Aku lihat di bet nya ada nama perusahaan. Itu nama bank yang CEO nya akan bertemu denganku di tempat sauna. “ Lailah..sehatkah kamu ? tanya ku. Dia mengangguk.  Namun karena dikejar waktu. Aku tidak sempat menyalaminya. Aku hanya melempar senyum dan terus  jalan ke arah ruang sauna.


Kami semua bugil di ruang sauna. Banker itu perhatikan perut kami. Perut saya dan Tom memang tidak buncit “ Kalian memang pria petarung. Keliatan dari tubuh kalian terawat baik. Pasti jaga makan dan tidur. “ kata banker.


“ Bukan itu” kata Tom “ Saya dan B tidak punya liabilities selain bini di rumah. Kami bisa happy di mana saja dari tempat low class sampai high class, bahkan di tempat hiburan kelas dunia.  Tanpa ada beban apapun melobi elite politik yang tak henti meminta.. “ kata Tom.


“ Ya karena kalian jadi predator kepada orang seperti kami. Gimana bisa stress. Happy terus..” kata banker itu tersenyum masam.


Saya dan Tom ketawa dan duduk dengan menyender menikmati hawa panas steam.


“ B, dia ada reksadana struktur, value nya hanya 10%. Dia butuh likuiditas 10% atau asset busuk itu. Dia bisa Repo dengan harga diatas 5% pada harga tebus setahun kemudian. “ Kata Tom.


“ Boleh aja. Tetapi kita engga kasih duit. Tetapi kita bantu aja hidupkan likuiditas Reksadana nya  sampai 10%. Dari itu dia bisa window dressing atas asset busuk nya itu.” Kataku.


“ Duh B..” Kata banker itu merengut meliatku“ Kami udah boncos karena ulah kalian. Kenapa sekarang kalian suruh kami tipu market “ kata banker itu.


Aku dan Tom menatap banker itu. “ Itu setidaknya bisa menunda kamu masuk bui dan tahun depan kamu masih bisa dapat bonus besar. Apa kurang baik kami? “ Kata Tom.


“ Atau kami akuisisi bank kamu lewat pasar negosiasi. Jadi soal reksadana itu sama saja kami bailout. Gimana ? kataku.


“ Itu sama saja kalian hostel TO. “ Kata Banker itu keluar dari ruang sauna. Dia merengut. Kami senyum aja.


Aku minta Tom dan banker jangan keluar dari hotel tempat sauna sebelum aku sudah di bandara. Dia tersenyum.” Perfect hidden” Katanya menepuk bahuku. 


Di bandara, Tom telp aku.”  Dia setuju kita akuisisi banknya. “

“ Ya udah kita rock. Kirim team ke London. “ Kataku.

“ Siap B..”


*** 

Ingatanku seolah segar kembali menoleh ke puluhan tahun lalu. 1984 tragedi Tanjung Priok berdarah. Walau saat itu terdengar massa semakin banyak datang ke Tanjung Priok. Suara Toa  terdengar keras mengutuk pemerintah. Namun aku tetap dengan aktifitasku. Aku bukan demontran. Aku hanya pedagang ikan. Kebetulan memang kantorku ada di Kawasan Tanjung Priok. Jalan Cilincing raya tidak jauh dari pusat Demo.  Malam hari lampu kota padam. Sekonyong konyong terdengar suara rententan senjata. Para demontran  berhamburan tak jelas arahnya. 


Saat dalam kebingungan dan suasana mencekam itu, aku terus melangkah ke arah kantorku, Di jembatan Cilincing. Ada wanita berjilbab berlari kearahku. Di belakang nya tentara mengejarnya.  Wanita itu  melompat ke bawah, jatuh ke sungai. Mungkin malam hari tidak begitu jelas. Tentara itu berlalu tanpa peduli dengan nasip wanita itu. Kejadian cepat sekali. Dengan replek. Aku turun ke bawah kolong jembatan. Ternyata wanita itu sedang berpagut kepada tembok jembatan. 


“ Mbak, saya bukan tentara. Mari ikut saya. “ kataku. Dia mengangguk.  Ada tiga jam kami bersembunyi di bawah jembatan. Setelah keadaan tenang. Kami keluar dari bawah jembatan. Tentara baret hijau mendekati kami. “ Kami mau pulang ke Cilincing, Pak. Itu dekat. Saya tinggal di Ruko itu. “ Aku menunjuk kantorku. Tentara itu tanpa bersuara mengibaskan senjatanya, sebagai tanda untuk kami bisa terus jalan. 


Setelah sampai di kantorku. Wanita itu minta izin  membersihkan tubuhnya yang kotor. Aku hanya ada kain sarung di kantor. Itupun kain sarung untuk sholat. Tapi aku berikan kedia guna menutupi tubuhnya sampai keesokan paginya.  Dia cuci pakaianya yang kotor dan dikeringkan di kamar mandi. Baru keesokan paginya aku tahu Namanya, Lailah. Asal Garut.


Setelah peristiwa itu, dia dan aku jadi akrab. Dia dengan aktifis kampus dan aku pedagang. Namun walau dunia kami berbeda dalam usia tidak jauh terpaut. Kami selalu luangkan waktu untuk ketemu dan ngobrol banyak hal. Aku lebih banyak mendengar daripada bicara. Aku suka melihat bahasa tubuhnya saat bicara. Namun dia sendiri berkata jujur bahwa dia rindu denganku untuk diskusi. Katanya walau aku hanya tamat SMA tetapi teman yang enak diajak bicara intelek. Tetapi, sebenarnya dia suka karena aku tidak pernah bantah dia.


Kadang aku menerka-nerka, betulkan dia waktu itu bicara atas nama orang-orang kalah, bukan karena gelisah mencari jati diri. Bila saja sempat kutanyakan hal ini padnya, pasti dia tersinggung, lalu dengan ganas menyerangku sambil mengutip kalimat Mark sampai Andre Gunder Frank. Sumpah, kadang aku suka pada bagian dirinya yang berapi-api dan gagah. Pantas saja dia  sering mendapat tugas sebagai koorlap sewaktu aksi. 


“Aku hanya perempuan biasa yang mencoba membuktikan bahwa sekarang ini adalah abad perempuan. Juga berusaha dengan cara apa pun agar kami tidak hanya dipandang seperti sekerat daging,” katanya  dengan nada tinggi. Lalu aku pasti akan terburu mengiyakan, khawatir kalimatnya  kepanjangan. 


Dia memang tipe perempuan yang mengandalkan kekayaan literasi dalam berperang. Aku paham itu. Tak mungkin rasanya dia bisa terlibat dalam organisasi kampus, LSM, dan organisasi lain di masyarakat bila hanya mengandalkan bicara dan bentuk fisiknya yang cantik. Tak ada suatu hasil terbaik tanpa konkret diperjuangkan, no pain no gain! ujarnya mengutip kata kata Soetan Sjahrir.


Setelah diwisuda dia sudah jarang bertemu denganku. Alasannya sedang berjuang dapatkan beasiwa ke luar negeri. Akhirnya diapun pergi. Tanpa meninggalkan pesan apa pun dan membuatku menunggu dalam pertanyaan sampai bertahun-tahun kemudian. Bila saatnya berpisah, maka berpisahlah. Tak ada yang kekal di dunia ini. Tetapi bagaimanapun perpisahan itu menyakitkan. Sampai akhirnya aku bisa berdamai dengan realita. Aku hanya pria yang dengan sabar menyediakan kuping untuk mendengar keluhan dan obsesi wanita.


Yang kutahu dari teman. Dia dapat beasiswa di Harvard dan bekerja  pada Lembaga keuangan kelas dunia di London. Saat dia ke tanah air, dia sempatkan bertemu dengan teman temannya yang kini sudah banyak yang jadi elite. Dia tidak pernah menanyakan kabar tentang aku. Sepertinya aku hanyalah debu dalan perjalanannya. 


Tapi kini mengapa dia ingin bertemu dengaku setelah 30 tahun berlalu. Apakah karena pertemuan di lounge spa Singapore itu. Aku sanggupi bertemu dengannya di café di Ritz, Jakarta. Aku tetap dia dengan seksama. Rasanya terlalu berat bagiku menafikan kesempatan melihat wajahnya sedekat sekarang. Walau tidak lagi sesegar dulu, namun sorot mata tajam dan cemerlang itu sepertinya tak pernah bisa kulupakan. 


“ Sejak tahun 2014 aku pembaca setia blog kamu. Aku dapat alamat blog kamu dari Burhan, teman kita dulu. Sekarang dia elite partai. “ Kata Lailah “ Mengapa pemerintah sampai terjebak kepada pragmatism dan transaksional politik sehingga ekonomi terdistorsi? Tanya Lailah.


“ Penyebabnya ada dua. Pertama. Lanskap ekonomi yang kita anut tidak didukung design pembangunan jangka Panjang yang dijamin oleh konstitusi. Sehingga siapapun jadi presiden bisa mengubahnya. Nah karena kekuasaan presiden dibatasi 5 tahun. Itu mendorong presiden membuat program populis yang punya nilai electoral untuk periode keduanya.


Kedua,  Gap knowledge antara tekhnorat dan elite jauh sekali. Apa jadinya kalau politik jadi panglima?  Yang terjadi adalah kebijakan datang dari bisikan para oportunis yang ada di ring istana. Yang berusaha gergaji sistem keuangan negara lewat kebijakan populis. Pada waktu bersamaan mereka menciptakan kartel pedagangan yang mengontrol kebutuhan pasar domestik. Menciptakan rente di sektor SDA. Tanpa disadari yang dirusak bukan hanya sistem keuangan negara tetapi juga sistem produksi. Maka lahirlah state capture memanjakan kekuasaan dan terlena tentunya. “ Kataku.


“ Artinya kamu tidak sependapat dengan populisme ? Seperti program pengadaan rumah murah yang angsurannya di tanggung negara sebesar Rp. 600.000/bulan. Program MSB per anak Rp. 10.000. Program pembiayaan Koperasi Desa sebanyak 70.000 unit melalui perbankan BUMN.  Mengapa? 


“ Kalau dananya dari APBN, itu against terhadap sekuritisasi PDB. Pasti tidak feasible lewat sistem perbankan, apalagi lewat investor institusi. Kalau dipaksakan, jangan ngeluh kalau Yield SBN akan naik, trust perbankan akan jatuh. IHSG akan jatuh“ kataku


“ Bagaimana dengan sumber dana BPI Danantara untuk membiayai PSN lewat sekuritisasi asset BUMN? Tanya Lailah.


“ Itu tidak eligible. “Kataku cepat.


“ Mengapa ? 


“ Karena SBN juga dalam penerbitan SUKUK Syariah menjadikan asset BUMN sebagai underlying. Total Sukuk Syariah sampai dengan tahun 2024 mencapai Rp 2.800 Triliun dengan outstanding sebesar Rp1.600 Triliun. Sementara net worth BUMN berdasarkan neraca konsolidasi tahun 2024 hanya +/- Rp.1000 triliun. Itu sudah unsecure sebenarnya. Mau tambah lagi ?  Itu sama saja bunuh diri.” Kataku. Lailah mengangguk tanda setuju.


Sebenarnya kalau kita konsisten meng-applies sistem keuangan negara  dan disiplin menerapkannya. Kita sudah berada di atas sumber daya melimpah. SDA tersedia. SDM tersedia, sumber daya keuangan lewat sekuritisasi PDB tersedia, lingkungan geopolitik kita bersinggungan dengan geostrategis negara asia pasific. Kita pasti bergerak ke depan menjadi negara maju. 


Tentu tidak bisa instant. Perlu proses yang Panjang. Perlu kerja keras. Perlu ketekunan melakukan R&D atas dasar visi besar. Dan yang terpenting hukum harus tegak agar sistem transfaransi jalan dan indek korupsi membaik.  Tahu dirilah..” Lanjutku.


Lailah lama menatapku.  “ Kamu memang sekolah sebatas SMA. Namun dalam diri kamu terbenam budaya “pembelajar”. Dengan itu kamu berproses membentuk kepribadian empat, yaitu sanguinis, melakonlis, plegmatis dan korelaris. Sehingga kelemahan masing masing sifat itu ditutupi oleh kelebihan sifat lainnya. Itu terjadi lewat proses belajar dari waktu ke waktu. Pada akhirnya “ pembelajar” akan mencari jalan Tuhan untuk sebaik baiknya kesudahan..


Sementara “pengekor” seperti aku. Walau aku berkembang karena Pendidikan namun aku  tidak tumbuh membangun karakter. Hidupku datar saja. Tamat kuliah dapat beasiswa ke luar negeri. Setelah itu berkarir di perbankan. Aku hidup mengadopsi pemikiran orang lain, dan tentu menjadi korban atas kelemahan pemikiran itu. Aku sadar dalam usia menu aini. Aku tidak kemana mana dan bukan siapa siapa. Selalu bergantung kepada manusia dan lupa bahwa hanya Tuhan tempat satu satunya manusia bersandar. “ Kata Lailah. Aku diam aja. Itu hak dia menilai aku.


“ Aku diminta CEO  bicara secara personal dengan kamu, Ale. Berat sekali mau ketemu kamu. Aku tahu, aku salah. Tetapi itu hanya masalalu saat kita masih berjuang mencari jati diri.” Katanya. Oh mau ketemu denganku hanya karena pertimbangan pragmatis dan transakasional. Tentu terkait dengan karir nya. Soal hubungan masalalu dengan ku tidak dianggapnya  serius. Walau dulu dia suka rela telanjang dalam pelukanku, Itu tida ada arti baginya. 


Hening...


“ Aku heran kenapa masih bisa mengingat begitu banyak hal konyol dalam dirimu. Kadang terkesan naif dan urakan. Kamu mengajariku berpuisi tentang Tuhan, sementara bulir bir terserak di seputar bibirmu. Mungkin kau membayangkan saat itu serasa bagai seorang Abunawas, hedonis yang berputar arah menjadi seorang sufi lalu membuat syair menggetarkan dalam Al I’tiraf. Atau seperti Sutardji Calzoum Bahri yang bersyair tentang Tuhan dengan mulut penuh busa bir. “Kata Lailah.


“ Ya, Kamu sangat moderat memandang agama,  namun tentu bukan seorang ateis, dan bukan tipe pria penggoda namun mudah membuat wanita pasrah. “ Lanjut Lailah.


Aku menyeringai. 


“ Sekarang, setelah puluhan tahun berlalu. Kekuasaan negeri ini pun sudah beberapa kali berganti. Kurasa segala kebadungan, kebrengsekan, dan kenekatanmu di masa lalu hanya kisah perempuan yang sedang mencari jati diri. Banyak kawan seperjuangan mu dulu pun berubah. Sebagian ada di partai, sebagian memakan mentah-mentah apa yang dulu mereka maki-maki, dan sisanya tak punya cukup alasan lagi untuk tetap berjuang. “ Kataku bersatire tentang masa lalu hanya drama saja. Hanya aku terlalu bodoh percaya akan idealis orang terpelajar.


Lailah terdiam dan aku membiarkan dia dengan pikirannya.  Akhirnya dia bercerita tetang pejalanan hidupnya selama ini yang tidak pernah aku dengar. “ Ale, saya dapat pesan dari CEO. Dia berharap rencana akuisisi bank kami tidak dilanjutkan. Kami  berharap kamu bantu likuiditas Reksadana kami “ Kata Lailah.

 

Aku diam saja dan setelah sekian menit. “ Mengapa kamu berubah. Kini kamu jadi predator. ”Kata Lailah dengan suara lirih.


“ Aku tidak memangsa orang miskin dan bodoh. Aku memilih lawan setimpal.  Yang kuhadapi adalah Bos kamu dan deretan pemegang saham bank. Mereka adalah para bangsawan dan terpelajar. Mereka tidak akan pernah punya empati kepada orang miskin dan tidak terpelajar seperti aku. Aku melawan, itu namanya survival. Ini soal dimangsa atau memangsa. Paham? Kataku. 


" Ya paham. Tetapi aku merindukan ALe yang dulu.." Kata Lailah dengan airmata berlinang.


Aku panggil waitress dan bayar bill. “  You take care, Lailah. “ Kataku  seraya melangkah pergi. Kalau aku tetap seperti Ale yang dulu, mana mungkin Lailah datang kepadaku dengan memelas setelah tanpa berdosa pehape aku...

Kalau ingin jadi pemenang...

  “ Saya tidak ingin rapat diadakan di Jakarta. Akan lebih baik ketemunya di Singapore.” Kata saya kemarin sore kepada Awi, yang mengatur pe...