“ Ale, aku Deny. Masih ingat kau teman sales kamu dulu tahun 80an? terdengar suara telp di seberang.
“ Hay Den, tentu ingat. “ Kata saya cepat.
“ Aku dapat telp kau dari Akhiat. Teman lama kita, yang sales tekstil. Ayolah basobok. Kangen nih. “
“ Ok, Besok ketemu di kantorku di Pecenongan ya. “
“ Siap. “
Deny adalah sahabat saya. Dulu tahun 80an dia sales pharmasi. Kali pertama kenal dia di Monas. Tempat para sales istirahat setelah lelah mengukur jalan. Saat itu saya sales Kimia. Mengapa saya tidak bisa melupakannya? Karena persahabatan kami sangat membekas tak lengkang dipanas dan tak lapuk di hujan. Dia lahir dari keluarga miskin di Medan.
Dia ada 3 bersaudara. Ayah nya sudah meninggal sejak usianya 12 tahun. Kakak tertuanya tinggal di Kalimantan bekerja pada kebun sawit. Kakak nya satu lagi, wanita menikah dan tinggal di Malaka, Malaysia. Ibunya dagang sayur di pasar tradsional. Memaksanya untuk focus belajar. Karena dari dua orang kakaknya tidak ada yang tamat SMP.
Setamat SMA dia pergi merantau ke Jakarta. Tiga tahun kemudian dia pulang ke Medan. Karena dapat kabar mamanya sakit keras. Dia berikan surat itu kesaya. Tanpa banyak tanya, saya beri uang kepada Deny “ Pulanglah. Jangan tunda seharipun. “ kata saya. Saat itu Denny berlinang airmata. Sebulan kemudian, Denny ketemu saya lagi di Jakarta. Dia undang saya ke rumahnya. Mamanya sangat baik. Saat itu dikenalkan wanita kepada saya. Betapa terkejut saya, “ Aku sudah menikah, ale.”
Ditengah hidup yang tidak ramah, di usia yang masih belia. Denny memutuskan menikah. Mengapa ? “ Selama tiga tahun aku di Jakarta. Sari yang merawat mama. Dia tetanggaku. Padahal dia juga anak yatim. Kerjanya sebagai pembantu di toko. Ketika aku memutuskan mengajak mama ke Jakarta, Mama minta aku menikahi Sari. Aku tidak bisa menolak permintaan Mama. Aku percaya rezeki itu ada pada kepatuhan kepada mama. Itu aja “ katanya.
Tahun 85 saya tidak lagi sales. Sudah punya bisnis sendiri dengan mendirikan Perusahaan. Hubungan dengan Denny terputus. Saya tahu dia sudah punya bisnis sendiri juga. Mungkin karena bisnis kami berbeda dan sibuk dalam merintis, kami hanya bisa saling mendoakan saja. Tahun 2003 saya dapat kabar dari Akhiat, Denny buka Apotik di Riau.
***
Denny datang ke kantor saya dengan penampilan sederhana. Dia peluk saya lama. “ 35 tahun lebih ya engga ketemu. Kau nampak sehat. “ Katanya.
“ Kau juga sehat dan kekar tubuhnya. “kata saya.
Kebiasaannya merokok tidak hilang sejak muda. Jadi kami bisa santai bicara sampai merokok.
“ Keadaan ekonomi sekarang lagi susah ya Ale.. Daya beli melemah. Tapi pemerintah bantah dengan data inflasi yang rendah. Kenapa bisa begini ?
“ Memang inflasi kita rendah sekitar 2-3 %. Tapi itu kan inflasi year to year atau monthly to monthly. Kalau diukur dari peningkatan harga 10 tahun lalu jelas inflasi diatas itu. Contoh. Beras tahun 2014 harga 1Kg Rp.9.500. Sekarang harga Rp. 13.000. Itu artinya terjadi peningkatan 50%. Pertahun inflasi jadinya 5%.
Belum lagi harga rumah yang tiap tahun naik mencapai 10%. Dulu kita engga perlu air minum gallon. Cukup masak air. Kan sekarang beli air gallon. Dulu kita engga masak pakai kompor gas, sekarang pakai gas. Dulu engga ada belanja quota internet. Sekarang setap keluarga punya hape dan butuh quota internat..
Nah sekali harga naik, tidak pernah turun lagi. Sementara peningkatan pendapatan kelas bawah dan menengah kebanyakan tidak naik signifikan. Akibatnya samakin lama semakin kurang daya beli orang. Kadang terjadi deflasi. Itu karena orang mengurangi konsumsi. “ kata saya.
“ Kalau lihat Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, mereka bisa mitigasi kenaikan harga itu dengan kenaikan upah dan mengurangi pejak penjualan. ” kata Denny.
“ Sejak kita menganut ekonomi terbuka. Tangan pemerintah sudah dirantai mengatur harga. Barang bebas masuk dari luar negeri dan budaya dari luar juga bebas masuk, termasuk budaya konsumsi via daring. Seharusnya dengan keterbukaan itu pemerintah mendorong industrialisasi yang punya nilai tambah tinggi, sehingga upah bisa meningkat in line dengan kenaikan harga kebutuhan orang modern.
Tapi Indonesia selama 10 tahun belakangan ini abai soal industrialisasi. Bahkan kita mengalami deindustrialisasi. Nah dalam keterbatasan income publik dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan, pemerintah membuka kanal berhutang, KPR, kendaraan, hape dan lain lain. Ini menambah lagi beban pengeluaran publik dalam bentuk bunga. Tentu akan mengerus pendapatan tetap mereka. Data tabungan mereka di bank terus turun“ Kata saya.
“ Lambat laun orang kelas menengah bisa jatuh miskin dan kelas misikn jadi blangsat. “ Kata Denny. “ oh kenapa terjadi crash bursa saham kemarin? aku ingin tahu dari kau”
“Yang menggerakan bursa itu kan bukan hanya trader netting. Masuk pagi keluar sore. Tapi kan karena ada skema utang untuk main di bursa. Walau skema short selling dibatasi namun skema lain terbuka. Apalagi bagi investor asing. Mereka bisa dapat uang dari bank atau pialang lewat margin lending. Umumnya bank local juga ikut terlibat memberikan pinjaman. Setidak nya mereka jadi channeling agent untuk dana offshore
Dengan skill hitungan ekonomi quantitative dan pengalaman melantai di bursa, mereka bisa menganalisa pergerakan saham dimasa depan dan menentukan posisi pada hari ini. Dan tentu dengan menguasai peredaran saham di bursa mereka bisa mengatur bandul harga. Namun itu hanya bisa terjadi kalau likuiditas lancar. Tapi disaat likuiditas seret sejak tahun 2024, ya bunga sudah tinggi. Engga bisa lagi main pompom harga. Ya mereka sell down saham di bursa.. Otomatis index jatuh. “ kata saya.
“ Mengapa likuiditas jadi seret.?
“ Karena pemerintah serap uang publik yang ada di Bank dan Dapen termasuk asuransi lewat SBN. Engga ada lagi uang mudah yang bisa dimainkan. Sementara pemerintah juga tidak punya pilihan lain. Karena tanpa utang SBN, APBN engga bisa dibiayai. Ekonomi bisa stuck. “ kata saya.
“ Ale, boleh tahu. Apa sih sebenarnya resiko main saham itu ? tanya Denny. “ AKu sering ditawarin main saham.”sambung Denny.
“Resiko sebenarnya adalah apabila kualitas saham emiten itu jatuh karena kebijakan ekonomi negara yang salah management. Dan itu berimplikasi kepada kebijakan politik yang melahirkan state capture dan memburuknya index demokrasi. Soal harga turun naik atau volatile biasa saja. Itu bukan resiko. Justru peluang cuan itu ada pada pasar yang volatilitas tinggi
Makanya issue soal defisit melebar akibat pendapatan pajak turun dan realokasi anggaran ke politik populis seperti MSB, dan serta keberadaan BPI Danantara yang mengurangi PNB dari deviden BUMN, itu cepat sekali membuat pihak asing walk away. “ Kata saya.
" Bisa beri jelaskan ..."
" Ada emiten yang tahun 2024 pertumbuhan saham dan marcap nya naik lua biasa. Padahal bisnis sudah masuk sunset, yaitu tambang batu bara. Naik nya engga tanggung tanggung Rp. 100 triliun lebih. Sudah pernah di suspended oleh OJK. Tetapi engga ada investigasi secara menyeluruh. Jalan terus. Bahkan pemegang saham pendiri nya naik peringkat dalam list TOP rich di Indonesia. Eksekutif diangkat jadi dubes oleh Jokowi. Anaknya temanan dengan putra Jokowi.
Di Indonesia ada deretan saham emiten di BEI yang memiliki valuasi yang sudah setinggi langit (overvalued) tapi tidak dibarengi oleh peningkatan kinerja laba yang signifikan. Mengapa ? Tentu itu didorong pemain yang focus pada value investing, Tidak ada alasan fundamental. Lebih karena narasi dan persepsi doang. Makanya bila agenda selesai, atau air habis digalon untuk padamkan api, ya habis tuh terbakar saham. Jatuh tapai." kata saya.
" Oh jadi, mau narasi gimanapun, kalau akal sehat tetap ada. Engga suit kita tahu motive dari adanya value investing itu. Apa tujuanya sebenarnya ? Tanya Denny.
" Pasti tujuannya hanya ada dua. Leverage dan money laundering. Leverage karena sudah lebih dulu terikat dengan kontrak REPO. Mau engga mau harus terus goreng saham agar saat jatuh tempo REPO engga tekor. Money laundering, karena memang digunakan untuk memindahkan asset dari non disclose ke disclose sehingga clean.
Apalagi semua emiten besar itu pasti bagian dari ring kekuasaan. Bahkan ada beberapa diantara mereka jadi Wantimpres. Saya sering dengar langsung dari mereka. Saat mereka menawarkan skema investasi bursa. Saya ragukan.“ Ah engga usah kawatir. Saya bisa atur semua. “ katanya seraya memberikan kartu namanya sebagai ring kekuasaan.
Kalau cara mereka itu hebat menarik capital inflow dari luar negeri. Itu bagus. Artinya meningkatkan neraca Posisi investasi international. Memperkuat stabilitas IDR. Tetapi malah melancarkan capital out flow. Saat uang money laundering masuk ke system bursa, asset itu pasti mobile ke luar negeri. Repo dengan Dapen, yang korban malah likuiditas dalam negeri. Kan mantiko" Kata saya.
" Mantiko memang. " Kata Denny geram. " Tetapi kalau lihat gaya mereka bicara seperti orang paling idealis dan nasionalis. Kalau memang baik dan professional, kan engga perlu dekat di ring kekuasaan. Focus aja tingkatkan laba dan setor pajak sebesar mungkin untuk negara. " Kata Denny. Saya mengangguk. " Mending aku orang kampung menjauh sajalah dari pasar saham." Kata Deny tersenyum.
Kemudian saya ajak Denny makan di restoran Korea.
“ Maaf, tempo hari kau menikah, aku sedang di Jambi. “ katanya.
“ Bagaimana kabar Sari ? tanyaku
“ Sehat. Kami punya anak 2. Keduanya sudah menikah.
“ Mama ?
“ Udah meninggal, tahun 2008. Kakak ku dan ipar ku kerja sama aku sekarang. Mereka Kelola dua toko grosir obat yang aku punya. Karena itu pesan mama agar aku menjaga kakak ku.” Kata Denny.
“ Aku kagum dengan sikap hidup kau denny. Anak yang sangat berbakti kepada ibu. Makanya rezeki kau mudah dan badan sehat. "
“ Ale, senang sekali ketemu dengan kau. Usiaku sudah hampir 70 tahuh. Entah mengapa minggu lalu aku bermimpi ketemu kau. Makanya aku berusaha cari tahu tentang kau. Untung aku ketemu Akhiat di Medan. Dia beri tahu nomor telp kau. Kita sudah tua. Entah kapan lagi kita akan bertemu. “ Kata Denny. Saya peluk dia.