Saturday, May 28, 2022

Jangan lagi...

 


Anak Angkat dari Pasar Baru

Jakarta, 1948.

Kota itu belum sepenuhnya sembuh dari perang dan revolusi. Orang-orang menyebutnya Jakarta, tetapi pada dinding beberapa bangunan tua masih tertinggal nama Batavia. Becak, sepeda, delman, dan mobil peninggalan Belanda berdesakan di jalan yang berlubang. Di sudut-sudut kota, serdadu bersenjata masih mudah dijumpai. Harga beras berubah hampir setiap pekan, sementara uang Republik, uang NICA, dan sisa uang Jepang pernah beredar dengan nilai yang membingungkan rakyat kecil.


Namun Pasar Baru tetap hidup. Sejak pagi, pintu-pintu toko dibuka. Pedagang kain keturunan India berdiri di balik gulungan tekstil. Saudagar Tionghoa menghitung barang dengan sempoa. Tukang sepatu, penjual obat, pedagang kelontong, dan penjaja makanan memenuhi lorong yang telah menjadi pusat perdagangan sejak zaman kolonial.


Di tempat itulah Muklis memulai hidupnya. Usianya baru lima belas tahun ketika turun dari kereta di Stasiun Gambir. Ia membawa sebuah tas kain berisi dua helai baju, sepotong kain sarung, ijazah SMP, dan Al-Qur’an kecil peninggalan ayahnya. Tidak ada saudara yang menunggu. Tidak ada alamat yang dapat dituju. Ia datang ke Jakarta hanya dengan keyakinan bahwa kota besar selalu mempunyai pekerjaan bagi orang yang tidak takut lapar.


Dua malam pertama dilewatinya di serambi masjid. Pada siang hari ia berjalan dari satu toko ke toko lain, menawarkan tenaga. Beberapa orang mengusirnya dengan halus. Sebagian bahkan tidak mengangkat wajah. Pada hari ketiga, ia berhenti di depan sebuah toko kelontong milik Oei Kian Boen. Papan nama toko itu sudah kusam, tetapi bagian dalamnya penuh barang: beras, gula, tepung, minyak tanah, sabun, rokok, kain, obat gosok, serta berbagai perkakas rumah tangga.


Seorang lelaki bertubuh tambun berdiri di belakang meja kasir. Orang-orang memanggilnya Babah Oei. “Kamu bisa kerja apa?” tanyanya.


“Apa saja, Bah.”


“Apa saja itu bukan pekerjaan.”


Muklis menelan ludah. “Saya bisa angkat karung, membersihkan toko, mencatat barang, dan berhitung.”


Babah Oei mengamatinya dari kepala hingga kaki. Tubuh anak itu kurus, tetapi matanya tidak liar. Pakaiannya lusuh, namun bersih. “Kamu tinggal di mana?”


“Belum punya tempat tinggal.”


“Orang tuamu?”


“Ayah sudah meninggal. Ibu menikah lagi.”


“Mengapa tidak tinggal bersama ibumu?”


Muklis menunduk. “Saya tidak ingin menjadi beban bagi keluarga barunya.”


Babah Oei terdiam. Ia cukup lama berdagang untuk membedakan anak nakal yang sedang melarikan diri dari rumah dengan anak miskin yang sedang mencari masa depan. Muklis tidak meminta belas kasihan. Ia hanya meminta pekerjaan.


“Kamu mau jadi kuli toko?”


“Mau, Bah.”


“Tidur di gudang belakang. Makan bersama pekerja lain. Jangan mencuri dan jangan berbohong.”


Muklis mengangguk cepat. “Saya tidak akan mengecewakan Babah.”


Hari itu ia mengangkat karung sampai bahunya lecet. Malamnya ia tidur di antara peti sabun dan kaleng minyak. Badannya sakit, tetapi untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, ia dapat memejamkan mata tanpa mencemaskan hari esok.


Muklis bekerja sebelum matahari terbit. Ia menyapu lantai, menimba air, menyusun barang, mengantar pesanan, dan membantu menghitung persediaan. Dalam beberapa bulan, Babah Oei mengetahui bahwa anak itu bukan sekadar kuat mengangkat barang. Ia juga pandai membaca dan berhitung.


Ketika pegawai pencatat sakit, Muklis diminta menggantikannya. Angka-angka yang sebelumnya berantakan ia susun ke dalam kolom yang rapi. Barang datang, barang keluar, piutang pelanggan, dan uang tunai dicatatnya tanpa selisih.


“Kamu belajar dari mana?” tanya Babah Oei.


“Dari sekolah, Bah.”


“Kamu tamat apa?”


“SMP.”


Babah Oei memandangnya lama. “Sayang kalau kepalamu cuma dipakai mengangkat karung.”


Sejak itu, Muklis lebih sering diminta membantu di meja administrasi. Malam hari ia tetap tidur di gudang, sampai suatu ketika istri Babah Oei—yang dipanggil Enci oleh para pekerja—menemukannya sedang demam. Enci membawanya masuk ke rumah. Ia diberi bubur, obat, dan tempat tidur di kamar kecil dekat dapur. Setelah sembuh, Babah Oei tidak menyuruhnya kembali ke gudang.


“Mulai sekarang kamu tinggal di rumah,” katanya. “Tetapi jangan merasa jadi tuan muda. Kamu tetap bekerja.”


“Saya mengerti, Bah.”


Rumah keluarga Oei berada tidak jauh dari toko. Bangunannya memanjang, dengan lantai tegel, jendela tinggi, dan altar leluhur di ruang tengah. Di bagian belakang terdapat pekarangan kecil yang ditumbuhi pohon jambu air.


Babah Oei mempunyai tiga anak. Anak sulungnya bernama Ling Ling. Di bawahnya ada Agok dan Chan. Kehadiran Muklis segera mengubah suasana rumah. Agok dan Chan menyukainya karena ia pandai membuat perahu kertas, memperbaiki layang-layang, dan menjelaskan pelajaran berhitung tanpa membentak. Ling Ling, yang lebih pendiam, sering datang membawa buku sekolah.


“Ko Muklis, ajari aku pecahan.”


Muklis tersenyum. “Kemarin sudah belajar.”


“Aku lupa.”


“Kamu bukan lupa. Kamu tidak mengulang pelajaran.”


Ling Ling mencibir, lalu duduk di sebelahnya. Mereka tidak memanggil Muklis sebagai pembantu. Mula-mula mereka menyebutnya koko, seperti seorang abang. Lama-kelamaan, bahkan Enci memperlakukannya sebagai anak sendiri.


Pada suatu malam, setelah toko tutup, Babah Oei memanggil Muklis ke ruang makan. Di atas meja terletak sebuah formulir sekolah. “Kamu masuk SMA,” kata Babah.


Muklis tertegun. “Saya?”


“Siapa lagi?”


“Tapi biayanya—”


“Itu urusan Babah.”


Muklis memandang lelaki yang telah memberinya pekerjaan, makanan, dan tempat tinggal. Dadanya terasa sesak.


“Saya tidak tahu bagaimana membalasnya.”


“Jangan dibalas kepada Babah,” ujar Babah Oei. “Kalau kelak kamu berhasil, bantulah orang lain yang datang kepadamu dalam keadaan seperti kamu sekarang.”


Itulah bentuk kemurahan hati yang dipahami Babah Oei. Kebaikan tidak harus kembali kepada orang yang memberikannya. Kebaikan cukup diteruskan agar tidak berhenti pada satu kehidupan.


Muklis didaftarkan ke sebuah SMA di kawasan Salemba. Pagi hari ia bersekolah. Sore hingga malam ia membantu di toko. Ketika ujian tiba, ia belajar di bawah lampu minyak sambil menahan kantuk. Ling Ling sering menemaninya. “Ko Muklis mau jadi apa?” tanyanya.


“Belum tahu.”


“Kalau sudah kaya, mau pergi dari rumah ini?”


Muklis menutup bukunya. “Mengapa bertanya begitu?”


Ling Ling mengangkat bahu. 


“Aku tidak akan melupakan Babah, Enci, kamu, Agok, dan Chan.”

“Janji?”


“Janji.”


Ling Ling tersenyum. Bagi Muklis, itu senyum seorang adik yang merasa aman. Namun bagi Ling Ling, percakapan sederhana tersebut tinggal jauh lebih lama daripada pelajaran apa pun yang diajarkan di sekolah.


Muklis lulus SMA pada 1951. Pada tahun yang sama ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, fakultas yang ketika itu masih sangat muda. Fakultas Ekonomi UI sendiri baru berdiri pada September 1950, setelah bagian sosial-ekonomi memisahkan diri dari Fakultas Hukum. Kampus Salemba masih membawa suasana awal sebuah republik yang sedang membangun lembaga pendidikannya sendiri. Buku ajar terbatas, dosen tidak banyak, tetapi ruang-ruang kuliahnya dipenuhi perdebatan mengenai jalan ekonomi negara yang baru merdeka. 


Muklis tidak meninggalkan pekerjaannya di toko. Akan tetapi, biaya kuliah dan kebutuhan buku membuatnya mencari penghasilan tambahan. Melalui seorang dosen, ia diterima bekerja di sebuah surat kabar kecil sebagai tenaga administrasi. Mula-mula pekerjaannya hanya menyusun surat pembaca, mencatat pelanggan, mengarsipkan naskah, dan mengantarkan lembar koreksi ke percetakan. Ruang redaksi selalu berbau tinta, tembakau, dan kertas lembap. Mesin tik berdetak sejak pagi. Para wartawan berdebat tentang kabinet, nasionalisasi perusahaan Belanda, harga beras, dan nasib buruh.


Suatu sore, seorang wartawan tidak kembali dari sebuah rapat umum. Pemimpin redaksi menunjuk Muklis. “Kamu pergi. Catat siapa yang bicara dan apa yang dikatakannya.”


“Saya belum pernah membuat berita, Tuan.”


“Kalau menunggu pernah, tidak seorang pun akan menjadi wartawan.”


Muklis pergi membawa pensil dan buku catatan. Berita pertamanya pendek, tetapi jernih. Ia tidak memasukkan pendapatnya sendiri. Ia memisahkan fakta, ucapan, dan kesimpulan. Pemimpin redaksi menyukai caranya menulis.


Sejak itu, Muklis mulai dipercaya meliput rapat buruh, sidang parlemen, diskusi mahasiswa, dan pertemuan partai. Dunia politik membentang di hadapannya—gaduh, penuh gagasan, sekaligus sarat kepentingan.


Orientasi politik Muklis dekat dengan Masyumi. Ia tertarik kepada gagasan Islam sebagai dasar moral bagi demokrasi, pendidikan, keadilan sosial, dan pemerintahan yang bertanggung jawab. Namun ia tidak menganggap setiap orang di luar Masyumi sebagai musuh agama. Baginya, keyakinan yang hanya berani hidup di tengah orang-orang yang sepaham bukanlah keyakinan. Itu hanya ketakutan yang memakai pakaian kesalehan.


Sementara Muklis sibuk dengan kuliah dan pekerjaan, Ling Ling tumbuh menjadi seorang gadis cerdas. Ia bukan lagi anak kecil yang meminta diajari pecahan. Diam-diam ia jatuh cinta kepada lelaki yang dibawa nasib ke rumah keluarganya. Muklis pun sebenarnya menyukai Ling Ling. Namun setiap kali perasaan itu muncul, ia mengingat Babah Oei. Keluarga itu telah membuka pintu ketika seluruh Jakarta menutup pintu baginya. Babah memberinya sekolah. Enci merawatnya ketika sakit. Agok dan Chan menganggapnya sebagai abang. Karena itu, Muklis menempatkan Ling Ling dalam wilayah yang tidak berani disentuhnya.


Keluarga Oei adalah amanah. Dan seorang lelaki miskin boleh kehilangan banyak hal, tetapi tidak boleh kehilangan kehormatan di rumah orang yang telah menyelamatkannya.


Setelah tamat SMA, Ling Ling memilih tidak melanjutkan kuliah. Ia bekerja sebagai wartawan pada surat kabar berhaluan kiri dan aktif dalam lingkungan Partai Komunis Indonesia. Baginya, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Pabrik, kampung buruh, rapat tani, dan meja redaksi juga merupakan sekolah. Pilihan itu membuat hubungan mereka berubah. Di rumah, Ling Ling masih memanggilnya Ko Muklis. Namun di luar rumah, mereka berdiri di dua lingkungan politik yang berbeda.


Muklis berada dekat dengan Masyumi. Ling Ling berjalan bersama kaum komunis. Mereka tinggal di bawah atap yang sama, makan di meja yang sama, dan menghormati orang tua yang sama. Namun sejarah perlahan-lahan menarik keduanya ke arah yang berlainan. Belum ada yang mengetahui apakah cinta akan menjadi jembatan—atau justru korban pertama dari pertentangan itu.


Wahyu dan Akal di Sebuah Ruang Redaksi

Pertemuan itu berlangsung pada suatu malam di awal 1950-an, di lantai atas sebuah rumah percetakan di kawasan Senen. Ruangan tersebut tidak luas. Kursinya tidak seragam. Sebagian peserta duduk di bangku panjang, sedangkan yang lain bersandar di dekat jendela. Asap rokok menggantung di bawah lampu. Di luar, suara trem dan pedagang malam sesekali menyusup ke dalam ruangan.


Hampir semua yang hadir adalah kader atau simpatisan PKI. Hanya Muklis yang dikenal dekat dengan Masyumi. Seorang peserta sempat mempertanyakan kehadirannya. “Ini diskusi kader. Mengapa orang Masyumi ikut masuk?”


Subroto, wartawan muda yang memimpin pertemuan, mengangkat tangan. “Kalau pikiran kita hanya boleh diuji oleh orang yang menyetujuinya, berarti kita tidak sedang berdialektika. Kita sedang bercermin.”


Ling Ling duduk di barisan kedua. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya mengikuti Muklis sejak lelaki itu memasuki ruangan. Muklis datang bukan untuk memata-matai mereka. Ia sudah terbiasa menghadiri forum yang berbeda pandangan. Baginya, perbedaan partai bukan alasan untuk memutus persahabatan. Republik terlalu muda untuk dipecah menjadi kelompok-kelompok yang saling meniadakan.


Subroto membuka diskusi. “Sosialisme-komunisme kita tidak boleh sekadar menyalin Karl Marx atau Lenin,” katanya. “Kita belajar dari Tan Malaka dan dari revolusi rakyat di Tiongkok. Tetapi pemikiran mereka pun tidak boleh dijalankan sebagai dogma.”


Beberapa orang mengangguk.


“Jalan perubahan di Indonesia,” lanjutnya, “harus tumbuh dari modal sosial rakyat sendiri—dari kebudayaan, kerja bersama, dan tradisi gotong royong. Tujuan komunisme bukan menciptakan negara yang menggantikan satu penguasa dengan penguasa lain. Tujuannya adalah emansipasi, membuat rakyat mampu menentukan hidupnya melalui pendidikan, organisasi, dan kemandirian ekonomi.”


Ia berhenti sejenak, lalu menatap seluruh peserta. “Karena itu, kita harus menolak penjelasan yang berada di luar akal sehat. Akal diuji melalui dialektika, sedangkan dialektika memerlukan ilmu pengetahuan sebagai pijakannya.”


Muklis mengangkat tangan. “Boleh saya bertanya?”


“Silakan.”


“Kesan yang saya tangkap, Saudara Subroto menolak wahyu karena wahyu tidak lahir dari eksperimen ilmiah.”


Ruangan mendadak hening. Subroto belum menjawab ketika seorang peserta bernama Darsono menyela. “Saudara Muklis menyamakan kritik terhadap logika mistika dengan penolakan terhadap wahyu. Itu dua perkara yang berbeda.”


“Apa perbedaannya?” tanya Muklis.


Darsono menarik kursinya ke depan. “Dalam Madilog, Tan Malaka tidak terutama sedang menulis tafsir tentang benar atau tidaknya agama. Ia sedang mengkritik cara berpikir yang membalik hubungan antara sebab dan akibat. Jika banjir dianggap semata-mata sebagai kemarahan kekuatan gaib, orang tidak akan memeriksa hutan yang ditebang, sungai yang dangkal, atau tanggul yang rusak.”


Muklis menyimak.


“Tan Malaka menyebutnya logika mistika,” lanjut Darsono. “Yang ia lawan adalah kebiasaan menjadikan kekuatan gaib sebagai jawaban langsung atas persoalan alam dan masyarakat, lalu menghentikan penyelidikan. Dalam cara berpikir Madilog, suatu kejadian harus diperiksa melalui materi yang nyata, perubahan dan pertentangan yang bekerja di dalamnya, serta hubungan logis antara sebab dan akibat.”


“Lantas bagaimana kedudukan wahyu?” tanya Muklis.


“Wahyu adalah perkara keimanan,” jawab Darsono. “Tetapi ketika seseorang menjelaskan penyakit, kelaparan, atau kemiskinan dalam kehidupan bersama, penjelasannya harus dapat diperiksa. Orang sakit membutuhkan doa, tetapi ia juga membutuhkan tabib. Rakyat miskin boleh diminta bersabar, tetapi kita tetap harus memeriksa siapa yang menguasai tanah, menentukan upah, dan mengambil hasil kerjanya.”


Beberapa peserta mengetukkan jari ke meja sebagai tanda setuju.

Darsono melanjutkan dengan suara lebih tenang. “Madilog tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Ia menunjukkan bahwa nama Tuhan tidak boleh digunakan untuk menutupi kemalasan berpikir. Mengatakan ‘semua sudah ditentukan’ tidak membebaskan manusia dari kewajiban mencari sebab dan mengubah keadaan.”


Muklis memandang Subroto.


“Jadi, Saudara menerima wahyu?”


Subroto tersenyum tipis. “Saya menerima kenyataan bahwa wahyu merupakan sumber kebenaran bagi orang beriman. Yang saya tolak adalah ketika tafsir seseorang atas wahyu dipaksakan sebagai jawaban teknis yang tidak boleh diuji.”


Muklis berdiri perlahan. “Kalau begitu,” katanya, “barangkali yang kita perdebatkan bukan Tuhan, melainkan batas kemampuan manusia memahami Tuhan.”


Ia berjalan beberapa langkah ke depan. “Imam Al-Ghazali tidak merendahkan akal. Tanpa akal, manusia tidak dapat mengenali tanda-tanda kebenaran, memahami bahasa wahyu, ataupun membedakan dalil yang kuat dari prasangka. Akal adalah timbangan. Namun timbangan mempunyai batas. Ia hanya dapat menimbang sesuatu yang berada dalam jangkauannya.”


Muklis mengambil kapur dan menulis dua kata di papan: AKAL — WAHYU.


“Menurut Al-Ghazali, akal dan wahyu tidak harus dipertentangkan. Akal menyiapkan manusia untuk menerima kebenaran, sedangkan wahyu memberi petunjuk mengenai perkara yang tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh pengalaman indrawi.”


“Bukankah itu berarti akal harus menyerah?” tanya seorang peserta.


“Bukan menyerah,” jawab Muklis. “Mengetahui batas bukanlah kekalahan. Mata dapat melihat, tetapi tidak dapat mendengar. Telinga dapat mendengar, tetapi tidak dapat menimbang keadilan. Setiap alat pengetahuan memiliki wilayahnya.”


Subroto menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Lalu bagaimana dengan sebab dan akibat? Apakah api membakar karena hukum alam atau karena Tuhan?”


Muklis tersenyum. Ia telah menduga pertanyaan itu akan muncul. “Al-Ghazali mengingatkan bahwa kebiasaan kita melihat dua peristiwa terjadi secara berurutan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa yang pertama mempunyai kekuasaan mutlak untuk menciptakan yang kedua. Kapas terbakar ketika bersentuhan dengan api. Ilmu pengetahuan wajib mempelajari proses itu. Tetapi seorang beriman tidak perlu menganggap api sebagai kekuatan yang berdiri sendiri di luar kehendak Tuhan.”


“Kalau setiap kejadian dikembalikan kepada kehendak Tuhan, bukankah penyelidikan ilmiah menjadi sia-sia?” tanya Darsono.


“Justru sebaliknya,” jawab Muklis. “Jika alam diciptakan dengan keteraturan, mempelajari keteraturan itu adalah bagian dari mengenali ciptaan-Nya. Kesalahan terjadi apabila orang beriman berhenti pada kalimat ‘Tuhan menghendaki’, lalu menolak mencari bagaimana kehendak itu berlangsung dalam alam.”


Muklis menatap Subroto. “Anak yang sakit tidak cukup dibacakan doa. Ia harus dibawa kepada tabib. Namun tabib yang berhasil menyembuhkan juga tidak berhak merasa telah menguasai rahasia kehidupan.”


Untuk pertama kalinya malam itu, Subroto mengangguk kepada Muklis. “Jadi, menurut Saudara, sains menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, sedangkan iman memberi dasar mengapa manusia harus menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab?”


“Kurang lebih demikian. Ilmu dapat mengajarkan cara membuat senjata. Tetapi ilmu saja belum tentu menjawab kepada siapa senjata itu boleh diarahkan. Akal memberi kemampuan. Moral memberi batas. Wahyu, bagi orang beriman, memberi orientasi.”


Perdebatan terus berlangsung. Mereka membahas tanah yang dikuasai tuan besar, nasib buruh perkebunan, hak milik, pendidikan rakyat, serta hubungan antara agama dan kekuasaan. Muklis menolak komunisme yang menganggap agama semata-mata sebagai alat kelas penguasa. Subroto menolak agama yang dipakai elite untuk mengajarkan kepasrahan kepada kaum miskin.

Akan tetapi, tidak seorang pun meninggikan suara.


Menjelang tengah malam, Subroto menutup diskusi. “Malam ini kita tidak menyatukan komunisme dan Islam. Itu tidak mungkin dilakukan hanya dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok.”


Orang-orang tertawa kecil.


“Tetapi kita menemukan satu hal,” lanjutnya. “Akal sehat bukan milik satu partai. Kejujuran juga bukan monopoli satu agama atau ideologi. Kita boleh berbeda tentang sumber tertinggi kebenaran, tetapi dalam kehidupan bersama, setiap pendapat harus bersedia diuji dan setiap manusia harus dihormati.”


Muklis menambahkan, “Tidak semua perkara iman dapat dibuktikan di laboratorium. Namun keimanan yang benar tidak semestinya takut kepada ilmu. Sebaliknya, ilmu yang maju tidak boleh membuat manusia merasa dirinya telah menjadi Tuhan.”


Ruangan kembali hening.


Perdebatan malam itu tidak menghapus perbedaan. Mereka tetap pulang membawa keyakinan masing-masing. Namun setidaknya mereka mengerti bahwa dialektika bukan seni mengalahkan lawan. Dialektika adalah keberanian membiarkan pendapat sendiri diperiksa oleh orang lain.


Ling Ling menunggu Muklis di tangga setelah peserta lain beranjak pulang. “Aku tidak menyangka Ko Muklis membaca Al-Ghazali,” katanya.


“Aku juga tidak menyangka kamu membaca Madilog.”


“Aku membaca banyak buku.”


“Tetapi kamu tetap tidak mau kuliah.”


“Belajar tidak selalu membutuhkan ijazah.”


Muklis tertawa kecil. “Kalimat itu biasanya diucapkan orang yang malas mengikuti ujian.”


Ling Ling memukul lengannya dengan gulungan koran. Mereka kemudian berjalan menuju jalan raya. Udara malam membawa bau tanah, asap arang, dan air selokan. Seorang penjual sekoteng mendorong pikulannya melewati mereka.


“Ko,” ujar Ling Ling setelah cukup lama diam, “mengapa kamu datang ke pertemuan kami?”


“Karena aku diundang.”


“Kamu tidak takut disebut komunis oleh kawan-kawanmu di Masyumi?”


“Apakah duduk bersama orang komunis membuat seseorang kehilangan imannya?”


“Bagi sebagian orang, mungkin.”


“Itu karena mereka lebih takut kepada nama daripada kepada kebodohan.”


Ling Ling menatap wajahnya. Di bawah cahaya lampu jalan, Muklis tidak tampak seperti seorang politikus. Ia tetap lelaki yang dahulu mengajarinya pecahan di meja makan.  Namun malam itu, Ling Ling melihat sesuatu yang lain: keberanian untuk masuk ke ruangan yang dipenuhi lawan politik tanpa membawa kebencian. Perasaannya tumbuh semakin dalam. Akan tetapi, bersamaan dengan itu muncul kecemasan. Di lingkungan politik Islam, perdebatan mengenai negara, syariat, dan komunisme semakin keras. Ling Ling pernah membaca pidato-pidato Isa Anshary—tokoh Persatuan Islam dan Masyumi,—yang dikenal tajam dalam menentang komunisme.


Ia takut Muklis suatu hari terseret ke dalam bahasa politik yang menjadikan orang berbeda keyakinan sebagai ancaman. Bukan karena ia meragukan kecerdasan Muklis, melainkan karena zaman sedang bergerak menuju kutub-kutub yang semakin berjauhan.


“Ko Muklis,” katanya pelan, “berjanjilah satu hal.”


“Apa?”


“Jangan berubah menjadi orang yang membenci manusia demi membela Tuhan.”


Muklis menghentikan langkah. Ia memandang Ling Ling cukup lama, seolah baru menyadari bahwa gadis di hadapannya bukan lagi adik kecil yang takut pada pelajaran matematika. “Dan kamu,” jawabnya, “jangan berubah menjadi orang yang menolak Tuhan demi membela manusia.”


Mata mereka bertemu. Tidak ada yang menang. Tidak ada pula yang kalah. Di antara mereka berdiri dua keyakinan, dua jalan politik, dan satu perasaan yang belum berani diberi nama. Di kejauhan, Jakarta terus bergerak sebagai ibu kota republik yang masih mencari bentuk—seperti Muklis dan Ling Ling yang sedang mencari jalan untuk mencintai tanpa mengkhianati keyakinan masing-masing. Malam itu mereka berjalan pulang berdampingan.

Namun sejarah, tanpa mereka sadari, sedang menyiapkan jarak yang jauh lebih kejam daripada perbedaan pikiran.


Surat dari Negeri yang Pernah Menjadi Musuh

Jakarta, 1955.


Pemilihan umum pertama dalam sejarah Republik telah usai. Sepanjang masa kampanye, kota-kota dipenuhi lambang partai, rapat umum, pawai, pidato, dan selebaran yang ditempel di tembok toko hingga tiang listrik. Rakyat yang sebagian besar belum lama terbebas dari penjajahan datang ke tempat pemungutan suara dengan pakaian terbaik mereka. Bagi banyak orang, mencoblos bukan sekadar memilih partai. Itu adalah pengalaman pertama menentukan arah negara tanpa perintah pemerintah kolonial.


Hasilnya tidak memberikan kemenangan mutlak kepada siapa pun. PNI muncul di urutan pertama, disusul Masyumi, Nahdlatul Ulama, dan PKI. Keempatnya menjadi kekuatan terbesar di parlemen, tetapi tak satu pun cukup kuat untuk memerintah sendiri. Republik akhirnya harus dijalankan melalui perundingan, koalisi, dan kompromi yang mudah berubah. 


PKI menyambut hasil itu sebagai kebangkitan besar. Partai yang beberapa tahun sebelumnya masih dibayangi luka pemberontakan Madiun kini kembali memperoleh tempat melalui kotak suara. Keberhasilan tersebut menumbuhkan keyakinan di kalangan kader bahwa sosialisme dapat diperjuangkan melalui organisasi massa, parlemen, surat kabar, dan pendidikan politik rakyat.


Bagi Ling Ling, kemenangan itu bukan sekadar angka. Ia telah bekerja siang dan malam selama masa kampanye. Ia mendatangi kampung buruh, berbicara dengan perempuan-perempuan pekerja, mencatat keluhan pedagang kecil, dan meliput rapat tani di pinggiran Jakarta. Ia menyaksikan orang-orang yang tidak mampu membeli sepatu berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendengar pidato tentang masa depan.


Dalam usia yang masih muda, Ling Ling telah menjadi wakil redaktur Koran Rakyat, surat kabar yang menjadi corong partai. Ruang kerjanya tidak lebih besar daripada kamar belakang toko Babah Oei. Meja-mejanya dipenuhi naskah, guntingan koran, cangkir kopi, dan asbak yang tidak pernah kosong. Mesin tik berbunyi hampir tanpa jeda. Apabila listrik mati, mereka menyalakan lampu minyak dan meneruskan pekerjaan.


Ling Ling bertugas memeriksa berita sebelum naik cetak. Ia membetulkan judul, memangkas kalimat, dan memastikan setiap laporan mendukung garis perjuangan partai. Namun naluri kewartawanannya kadang-kadang berbenturan dengan tuntutan politik.


“Berita bukan pamflet,” katanya kepada seorang wartawan muda. “Kalau kita mengubah semua fakta agar sesuai dengan keinginan partai, kita tidak sedang mendidik rakyat. Kita sedang menipu mereka.”


“Surat kabar kita alat perjuangan,” jawab wartawan itu.


“Benar. Tetapi perjuangan yang meninggalkan kebenaran akan berubah menjadi perebutan kekuasaan.”


Pernyataannya sering membuat beberapa kader senior tidak nyaman. Namun mereka tidak dapat mengabaikan kecerdasan dan ketekunannya. Ling Ling mengenal bahasa rakyat, memahami kehidupan pedagang, dan mempunyai kemampuan menyusun persoalan rumit menjadi tulisan yang mudah dipahami.


Namanya semakin dikenal. Waktunya bersama keluarga semakin sedikit. Ia berangkat sebelum sarapan dan sering pulang setelah tengah malam. Enci selalu menyisakan makanan di atas meja, ditutupi tudung saji. Kadang-kadang Muklis masih duduk membaca ketika Ling Ling pulang. Mereka hanya sempat bertukar pandang sebelum salah seorang mengucapkan selamat malam.


Mereka tinggal dalam satu rumah, tetapi kesibukan membuat keduanya seperti berada di dua kota yang berbeda. Muklis pun sedang menyelesaikan tahun-tahun terakhir kuliahnya. Selain mengikuti perkuliahan, ia tetap bekerja sebagai wartawan. Tulisan-tulisannya semakin matang. Ia tidak hanya melaporkan pidato politik, tetapi juga menulis mengenai inflasi, kekurangan devisa, nasionalisasi perusahaan asing, dan perlunya membangun industri nasional.


Dalam salah satu artikelnya, ia menulis bahwa kemerdekaan politik tidak akan bertahan tanpa kemandirian ekonomi. Negara yang selalu bergantung pada modal, teknologi, dan barang impor akan mudah dipengaruhi oleh kekuatan dari luar. Namun ia juga mengingatkan bahwa nasionalisme ekonomi tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Negara memerlukan tenaga ahli, administrasi yang bersih, pendidikan, dan disiplin dalam mengelola uang rakyat.


Ling Ling membaca tulisan itu di ruang redaksi. Ia mengguntingnya, melipatnya, lalu menyimpannya di dalam laci meja. “Aneh,” kata seorang rekannya. “Kamu menyimpan tulisan wartawan Masyumi.”


Ling Ling tidak mengangkat wajah. “Aku menyimpan tulisan yang masuk akal.”


“Kenal dengan penulisnya?”


“Dia abangku.”


Jawaban itu benar, tetapi tidak seluruhnya benar. Di rumah, Muklis memang diperlakukan sebagai abang. Akan tetapi, di tempat yang tidak dapat dimasuki siapa pun, Ling Ling telah lama mencintainya sebagai seorang lelaki.


***

Pada pertengahan 1957, Muklis menyelesaikan ujian akhirnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia pulang membawa sebuah map cokelat. Tidak ada pawai dan tidak ada pesta besar. Muklis hanya berdiri di pintu toko ketika Babah Oei sedang menghitung uang hasil penjualan. “Bah,” katanya.


Babah tidak segera menoleh. “Kalau mau minta uang, tunggu toko tutup.”


“Saya sudah lulus.”


Tangan Babah berhenti di atas sempoa. “Lulus apa?”


“Ujian sarjana.”


Babah menatapnya seolah tidak memahami arti kalimat itu. Kemudian ia bangkit dari kursinya. “Jadi kamu sekarang sarjana?”


Muklis mengangguk. “Berkat Babah dan Enci.”


Babah berjalan mendekat, lalu menepuk kedua bahu Muklis. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tertahan. Lelaki yang sepanjang hidupnya terbiasa menghadapi jatuh bangunnya harga barang itu tiba-tiba tidak sanggup menyembunyikan air mata.


Ia memeluk Muklis. “Dulu kamu datang ke toko Babah kurus sekali,” katanya terbata-bata. “Bajumu cuma dua. Tidur di gudang, dekat peti sabun. Sekarang kamu pulang sebagai sarjana.”


Para pekerja toko berhenti bekerja. Agok dan Chan, yang sedang menurunkan barang, datang menghampiri. Enci keluar dari rumah setelah mendengar suara gaduh. “Ada apa?” tanyanya.


“Anakmu sudah jadi sarjana,” jawab Babah.


Enci memandang Muklis. Kedua tangannya yang masih berlumur tepung terangkat menutupi mulut. Ia kemudian memeluk anak angkatnya tanpa memedulikan tepung yang menempel pada baju Muklis. “Ayahmu di alam sana pasti bangga,” katanya.


Muklis tidak sanggup menjawab. Selama bertahun-tahun, ia berusaha tidak mengingat ayahnya terlalu lama. Kenangan dapat membuat seorang perantau kehilangan kekuatan. Namun sore itu, di tengah toko yang dahulu menerimanya sebagai kuli, Muklis kembali menjadi anak yatim berusia lima belas tahun yang merindukan tangan ayahnya.


Ling Ling pulang menjelang malam. Ketika mendengar kabar itu, ia berdiri di ambang pintu sambil membawa tumpukan koran. “Selamat, Ko,” katanya. Hanya dua kata. Namun mata mereka berbicara lebih banyak daripada yang diizinkan oleh hubungan di antara mereka.


“Makan bersama malam ini!” seru Babah. “Toko tutup lebih cepat. Tidak boleh ada yang bekerja!”


Malam itu Enci memasak lebih banyak daripada biasanya. Di atas meja tersedia ikan kukus, ayam kecap, tumis sayuran, tahu, dan semangkuk sup panas. Babah mengeluarkan sebotol anggur beras yang telah lama disimpannya. Ia menuangkan sedikit ke dalam beberapa cangkir. “Kita minum untuk Muklis,” katanya. “Bukan karena dia sudah mempunyai gelar. Gelar bisa dipajang di dinding. Kita minum karena dia tidak menyia-nyiakan kesempatan.”


Babah mengangkat cangkirnya. “Semoga ilmu membuatmu semakin berguna, bukan semakin sombong.”


Muklis menundukkan kepala. “Saya tidak akan melupakan nasihat Babah.”


Ling Ling duduk di seberangnya. Ia tersenyum, tetapi di balik senyum itu ada kegelisahan yang tidak dipahami siapa pun. Ia merasa Muklis sedang berdiri di depan sebuah pintu besar. Cepat atau lambat, lelaki itu akan melangkah keluar. Sementara dirinya masih berada di rumah lama, menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah dijanjikan. Kegelisahan itu ternyata benar.


***

Beberapa pekan setelah kelulusannya, sebuah surat tiba di kantor surat kabar tempat Muklis bekerja. Amplopnya berwarna putih kusam. Di bagian depan terdapat tulisan dalam bahasa Jepang dan Inggris. Muklis membacanya berulang kali sebelum berani mempercayai isinya. 


Ia memperoleh beasiswa pemerintah Jepang—yang ketika itu dikenal sebagai beasiswa Monbusho—untuk melanjutkan studi ekonomi. Program beasiswa pemerintah Jepang bagi mahasiswa asing memang baru dimulai pada 1954. Muklis termasuk generasi awal pelajar dari negeri yang belum lama sebelumnya pernah diduduki Jepang.


Kesempatan itu terasa ganjil. Belum sampai lima belas tahun berlalu sejak tentara Jepang memasuki Hindia Belanda. Banyak keluarga Indonesia masih menyimpan kenangan tentang romusha, kekurangan pangan, penyiksaan, dan ketakutan. Namun Jepang yang akan didatangi Muklis bukan lagi kekaisaran militer yang datang membawa senapan. Negeri itu sedang bangkit dari kehancuran perang dan membangun ekonominya melalui industri, pendidikan, serta disiplin produksi.


Bagi Muklis, Jepang adalah sebuah pertanyaan besar, bagaimana sebuah negeri yang kalah perang dapat bangkit lebih cepat daripada bangsa yang menang memperoleh kemerdekaan?


Ia membawa surat itu pulang. Babah Oei sedang minum teh di ruang tengah. Enci menyulam di dekat jendela, sedangkan Ling Ling baru pulang dari kantor. “Ada yang ingin saya bicarakan,” kata Muklis.


Babah langsung mengerutkan kening. “Kamu mau menikah?”


Ling Ling tersentak. Jarum yang sedang dipegang Enci berhenti di udara. Muklis tertawa gugup. “Bukan, Bah.”


Entah mengapa, wajah Ling Ling terasa panas. Ia menunduk dan pura-pura membetulkan tumpukan koran di pangkuannya. Muklis menyerahkan surat itu kepada Babah. Babah membacanya perlahan. Bahasa Belandanya cukup baik untuk urusan dagang, tetapi surat berbahasa Inggris itu membuatnya beberapa kali meminta penjelasan.


“Jepang?” tanyanya.


“Ya, Bah.”


“Berapa lama?”


“Belum pasti. Mungkin dua atau tiga tahun, tergantung program dan penelitian.”


“Semua biaya ditanggung?”


Muklis mengangguk. “Uang kuliah dan biaya hidup.”


Babah membaca surat itu sekali lagi. Wajahnya tidak memperlihatkan kegembiraan yang sama seperti ketika Muklis lulus. Ia justru terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat. “Jepang pernah membuat negeri ini menderita,” katanya.


“Benar, Bah.”


“Babah juga pernah kehilangan barang dan saudara pada zaman pendudukan.”


Muklis diam.


“Tapi orang tidak boleh hidup hanya dari luka,” lanjut Babah. “Kalau Jepang punya ilmu yang dapat dipelajari, ambillah ilmunya. Kita tidak perlu mencintai masa lalunya untuk belajar dari kemajuannya.”


Muklis menatap ayah angkatnya dengan rasa hormat yang semakin dalam. Enci menyeka sudut matanya. “Jauh sekali,” katanya. “Siapa yang akan memastikan kamu makan?”


“Saya bisa menjaga diri, Enci.”


“Dulu waktu demam saja kamu diam di gudang. Kalau tidak ditemukan, mungkin sudah mati.”


“Saya sudah bukan anak lima belas tahun lagi.”


“Bagi seorang ibu, anak tidak pernah bertambah umur.”


Muklis mendekat lalu berlutut di hadapan Enci. Ia menggenggam kedua tangan perempuan yang dahulu menyuapinya bubur ketika demam. “Saya dapat pergi sejauh itu karena Enci pernah membawa saya keluar dari gudang.”


Enci mengusap rambutnya. “Pergilah. Belajar yang sungguh-sungguh. Tetapi pulanglah. Jangan sampai negeri orang mengambil anak Enci.”


Ling Ling tidak mengatakan apa-apa. Sejak kata Jepang disebutkan, seluruh percakapan terdengar seperti bunyi dari tempat yang jauh. Muklis akan pergi. Dua atau tiga tahun, katanya. Namun bagi orang yang menunggu tanpa kepastian, sehari pun dapat menjadi sangat panjang.


“Ling Ling,” tegur Babah, “mengapa diam saja? Abangmu dapat beasiswa.”


Ling Ling memaksakan senyum. “Selamat, Ko. Itu kesempatan besar.”


Muklis menatapnya. “Terima kasih.”


“Hanya itu?” tanya Agok yang baru memasuki ruangan. “Biasanya kau paling banyak bicara.”


“Aku lelah.”


Ling Ling bangkit membawa korannya dan berjalan menuju kamar. Sebelum menutup pintu, ia masih sempat mendengar Babah membicarakan koper, pakaian musim dingin, dan biaya perjalanan.


Di dalam kamar, ketegarannya runtuh. Ia duduk di tepi ranjang. Tidak ada tangis keras. Hanya air mata yang jatuh perlahan ke atas koran di pangkuannya. Di halaman depan terdapat berita mengenai pergolakan kabinet dan perselisihan antarpartai. 


Namun malam itu semua pertarungan politik terasa tidak penting. Ia dapat berdebat di hadapan puluhan kader. Ia berani menghadapi teguran pemimpin redaksi. Ia sanggup menulis kritik terhadap menteri dan pejabat negara. Tetapi di hadapan Muklis, ia tidak pernah mempunyai keberanian untuk mengatakan kalimat paling sederhana: Aku mencintaimu.


Ling Ling takut bukan hanya kepada penolakan. Ia tahu Muklis juga menyimpan perasaan yang sama. Ketakutan terbesarnya justru terletak pada kesetiaan Muklis kepada Babah dan Enci. Jika ia menyatakan cinta, Muklis mungkin merasa telah mengkhianati kepercayaan keluarga yang mengangkatnya dari jalanan. Cinta mereka tidak terhalang oleh kebencian. Cinta itu terhalang oleh rasa tahu diri yang terlalu dalam.


***

Hari-hari berikutnya dipenuhi persiapan. Babah memesan sebuah koper kulit dari kenalannya di Pasar Baru. Enci membeli kain wol dan meminta penjahit membuatkan mantel. Agok mencari kamus Jepang-Inggris bekas, sedangkan Chan menghadiahkan sebuah pulpen. Ling Ling tidak memberikan apa-apa. Ia justru semakin sibuk di kantor. Ia pulang ketika Muklis sudah tidur dan berangkat sebelum lelaki itu bangun. Kesibukan menjadi tempat persembunyiannya.


Tiga hari sebelum keberangkatan, Muklis menunggu di ruang makan sampai lewat tengah malam. Ling Ling pulang membawa tas dan setumpuk naskah. “Mengapa belum tidur?” tanyanya.


“Aku menunggumu.”


Ling Ling meletakkan tas. “Ada apa?”


“Kamu menghindariku.”


“Aku bekerja.”


“Dulu kamu tetap punya waktu untuk berdebat denganku.”


“Sekarang partai semakin besar. Pekerjaanku juga bertambah.”


Muklis mengangguk perlahan. “Kalau begitu, mungkin aku yang terlalu banyak berpikir.”


Ia bangkit hendak meninggalkan ruang makan. “Ko Muklis.”


Muklis berhenti.


Ling Ling ingin mengatakan semuanya. Ia ingin meminta Muklis tidak pergi. Ia ingin mengingatkan janji masa kecilnya—bahwa Muklis tidak akan meninggalkan rumah setelah berhasil. Namun ia tahu permintaan itu tidak adil. Mencintai seseorang tidak berarti berhak memperkecil masa depannya. “Belajarlah dengan baik,” katanya akhirnya. “Lihat bagaimana Jepang membangun industrinya. Jangan hanya mempelajari angka. Pelajari juga manusianya.”


Muklis berbalik menghadapnya. “Aku akan menulis surat.”


“Tidak usah kalau sibuk.”


“Aku akan tetap menulis.”


Ling Ling menahan air matanya. “Surat dari luar negeri mahal.”


“Aku akan menyisihkan uang.”


“Lebih baik ditabung.”


“Ling Ling.”


Nada suara Muklis membuat pertahanannya hampir runtuh. “Aku tidak pernah menganggap rumah ini sebagai tempat persinggahan,” kata Muklis. “Ke mana pun aku pergi, rumah Babah adalah tempatku pulang.”


“Rumah Babah,” Ling Ling mengulang lirih.


Muklis memahami luka dalam kalimat itu. Namun seperti Ling Ling, ia tidak cukup berani melangkah melewati batas yang telah dibuatnya sendiri. “Dan kamu adalah bagian dari rumah itu,” katanya.


Ling Ling tersenyum getir. “Kadang-kadang seorang perempuan tidak ingin hanya menjadi bagian dari rumah, Ko.”


Muklis terpaku. Untuk beberapa detik, segala sesuatu yang selama bertahun-tahun mereka sembunyikan seakan berdiri telanjang di tengah ruang makan. Tidak ada lagi Masyumi atau PKI. Tidak ada komunisme, wahyu, ataupun perdebatan tentang negara. Hanya ada seorang lelaki dan seorang perempuan yang takut kehilangan satu sama lain.


Namun suara pintu kamar terbuka memecah keheningan. Enci keluar untuk mengambil air minum. “Kalian belum tidur?”


“Sebentar lagi, Mah” jawab Ling Ling.


Kesempatan itu berlalu. Dan beberapa kesempatan dalam hidup, apabila dibiarkan berlalu, tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.


***

Pada hari keberangkatan, keluarga Oei mengantar Muklis ke Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal-kapal besar berdiri di kejauhan, dikelilingi perahu kecil, buruh pelabuhan, pedagang makanan, dan keluarga yang melepas sanak saudara. Angin laut membawa bau garam, solar, dan karung goni. Muklis mengenakan kemeja putih serta jas yang dijahit khusus oleh Enci. Koper kulit pemberian Babah berdiri di sampingnya. Di tangannya ada map berisi ijazah, surat beasiswa, dan dokumen perjalanan.


Babah berkali-kali memeriksa koper itu. “Uangnya simpan di tempat berbeda. Jangan semua dalam dompet.”


“Sudah, Bah.”


“Alamat kampus jangan hilang.”


“Sudah saya salin tiga kali.”


“Kalau bertemu orang yang menawarkan dagangan—”


“Bah,” sela Agok sambil tertawa, “Ko Muklis mau belajar, bukan membuka toko.”


“Semua orang harus tahu cara berdagang,” jawab Babah. “Sarjana sekalipun perlu makan.”


Ketika pengumuman keberangkatan terdengar, wajah Babah berubah. Ia berdiri tegak, seolah tidak ingin seorang pun melihat kesedihannya. “Kemarilah,” katanya. Muklis mendekat. Babah membetulkan kerah jasnya, lalu memasukkan sebuah amplop ke saku. “Ini tidak banyak.”


“Saya tidak bisa menerimanya. Semua sudah ditanggung.”


“Beasiswa membayar sekolahmu. Uang ini dari ayah kepada anaknya.”


Untuk pertama kalinya Babah menyebut dirinya ayah. Muklis langsung memeluknya. “Terima kasih, Bah.”


“Jangan berterima kasih terus,” kata Babah dengan mata berkaca-kaca. “Pulanglah membawa ilmu. Itu cukup.”


Enci memeluk Muklis lebih lama. Ia menangis tanpa malu. “Makan yang teratur. Jangan lupa sembahyang. Kalau musim dingin, pakai mantel. Jangan sok kuat.”


“Ya, Enci.”


“Kalau sakit, pergi ke dokter. Jangan tidur di gudang lagi.”


Muklis tertawa di tengah air matanya. “Tidak ada gudang di kampus, Enci.”


Agok dan Chan memeluknya bergantian. Ling Ling berdiri paling belakang. Ketika yang lain menjauh, Muklis berjalan menghampirinya. “Aku berangkat.”


“Aku tahu.”


“Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?”


Ling Ling menyerahkan sebuah buku bersampul kain merah. Muklis membukanya. Buku itu kosong, kecuali satu kalimat pada halaman pertama: Catatlah apa yang tidak dapat disimpan oleh ingatan. Sebab manusia sering melupakan jalan pulang setelah menemukan dunia yang lebih luas.

Tidak ada nama di bawahnya. Muklis menutup buku itu. “Aku tidak akan lupa jalan pulang.”


Ling Ling mengangkat wajah. “Aku tidak takut kamu melupakan alamat rumah.”


“Lalu?”


“Aku takut kamu pulang sebagai orang yang berbeda.”


Muklis tersenyum lembut. “Setiap orang yang belajar seharusnya pulang sebagai manusia yang berbeda.”


“Maksudku bukan itu.”


“Aku tahu.”


Mereka berdiri saling menatap. Ling Ling ingin memeluknya, tetapi tubuhnya tidak bergerak. Di hadapan Babah dan Enci, ia tetap anak perempuan keluarga Oei, sedangkan Muklis tetap anak angkat yang selama ini dipanggilnya sebagai abang. Akhirnya Muklis mengulurkan tangan. Ling Ling menyambutnya. Jari-jari mereka bertaut sedikit lebih lama daripada sebuah salam perpisahan. Muklis kemudian melepaskannya dan berjalan menuju kapal.


Dari geladak, ia melambaikan tangan. Babah mengangkat topinya. Enci menangis sambil bersandar pada Chan. Agok berteriak meminta Muklis segera pulang membawa radio buatan Jepang. Ling Ling tidak melambaikan tangan. Ia hanya berdiri memandang kapal yang perlahan meninggalkan dermaga. Wajahnya tenang, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ikut berlayar bersama Muklis.


Enci mendekat lalu menggenggam lengannya. “Kamu mencintainya, ya?” Kata mamanya. Ling Ling menoleh dengan terkejut. Seorang ibu mungkin tidak mengetahui seluruh isi kepala anaknya. Namun ia selalu mengenali kesedihan yang pernah hidup di dalam hatinya sendiri.


Ling Ling menunduk.


“Mengapa tidak pernah bilang?”


“Karena dia terlalu menghormati Babah dan Mama”


“Itu alasan dia,” ujar Enci. “Bukan alasanmu.”


Air mata Ling Ling akhirnya jatuh. “Kalau aku mengatakannya, dia mungkin tidak jadi berangkat.”


Enci memandang kapal yang semakin kecil di cakrawala. “Kalau seorang lelaki membatalkan masa depannya hanya karena cinta, suatu hari dia dapat menyalahkan perempuan yang dicintainya. Kamu benar membiarkannya pergi.”


“Apakah dia akan pulang?”


“Kalau hatinya masih berada di rumah, sejauh apa pun dia pergi, dia akan pulang.”


Ling Ling menyandarkan kepala di bahu ibunya. Di kejauhan, kapal itu berubah menjadi bayangan kecil di antara laut dan langit. Muklis sedang menuju Jepang untuk mempelajari bagaimana sebuah bangsa bangkit dari kehancuran. Babah dan Enci melepasnya dengan kebanggaan seorang pedagang sederhana yang berhasil mengantarkan anak yatim ke pintu dunia. 


Sementara Ling Ling tinggal di Jakarta—bersama surat kabar, partai, dan cinta yang tidak pernah selesai diucapkan. Mereka belum mengetahui bahwa tiga tahun dapat mengubah sebuah negara. Dan bagi dua orang yang berdiri di sisi sejarah yang berbeda, tiga tahun mungkin cukup untuk mengubah seluruh jalan kehidupan.


Dua Jalan Menuju Keadilan

Jakarta, 1960.

Tiga tahun setelah meninggalkan Tanjung Priok, Muklis kembali ke tanah air dengan kapal penumpang dari Yokohama. Kota yang menyambutnya tidak lagi sama. Demokrasi parlementer yang dahulu riuh oleh perdebatan telah melemah. Konstituante dibubarkan. Undang-Undang Dasar 1945 diberlakukan kembali melalui Dekret Presiden 5 Juli 1959. Presiden Soekarno memperkenalkan Demokrasi Terpimpin sebagai jalan keluar dari kabinet-kabinet yang jatuh bangun tanpa sempat menuntaskan pekerjaannya.


Di jalan-jalan, poster revolusi semakin banyak. Pidato politik terdengar melalui radio dan pengeras suara. Kata-kata seperti Manipol, revolusi, Nasakom, imperialisme, dan kontra-revolusi memasuki percakapan sehari-hari. Republik tidak lagi sekadar mencari bentuk pemerintahan. Ia sedang memilih arah sejarahnya.


Muklis turun dari kapal dengan sebuah koper kulit yang mulai kusam, beberapa buku ekonomi, dan gelar pascasarjana dari Jepang. Babah Oei, Enci, Agok, Chan, dan Ling Ling menunggunya di pelabuhan. Enci mengenalinya lebih dahulu. “Itu dia!” serunya.


Muklis tampak lebih dewasa. Tubuhnya lebih berisi. Ia mengenakan jas kelabu dan kacamata berbingkai tipis. Rambutnya dipotong pendek seperti para sarjana Jepang. Namun ketika melihat keluarganya, ketenangan itu lenyap. Ia mempercepat langkah lalu memeluk Babah dan Enci bergantian.


“Kamu pulang juga,” kata Enci sambil menangis. “Enci kira perempuan Jepang sudah menahanmu di sana.”


Muklis tertawa. “Tidak ada yang mau dengan orang miskin seperti saya.”


“Kamu sekarang bukan orang miskin,” kata Babah. “Kamu sudah jadi orang pandai.”


“Orang pandai bisa lebih miskin daripada pedagang, Bah. Terutama kalau hanya hidup dari buku.”


Babah menepuk bahunya. “Kalau begitu, kamu masih anak Babah. Mulutmu tetap suka membantah.”


Agok dan Chan berebut mengangkat kopernya. Ling Ling berdiri sedikit menjauh. Penampilannya juga telah berubah. Ia mengenakan blus putih dan rok gelap, dengan rambut disanggul sederhana. Di tangannya terdapat tas kulit berisi buku catatan dan beberapa surat kabar. Muklis menghampirinya. “Apa kabar, Ling?”


“Baik, Ko.”


“Kamu tampak semakin sibuk.”


“Partai tidak pernah kekurangan pekerjaan.”


Muklis tersenyum. “Dan wartawan tidak pernah kekurangan persoalan untuk ditulis.”


Mereka berjabat tangan. Sentuhan itu singkat, tetapi cukup untuk mengembalikan tiga tahun kenangan yang mereka simpan dalam surat-surat berhati-hati.


Selama di Jepang, Muklis memang menepati janjinya. Ia menulis tentang salju pertamanya, kereta api yang selalu datang tepat waktu, pabrik yang kembali berproduksi setelah dihancurkan perang, serta kehidupan mahasiswa asing yang harus berhemat. Ling Ling membalas dengan berita keluarga dan perkembangan politik Indonesia. Tidak satu pun surat mereka berbicara tentang cinta. Mereka menuliskan keadaan dunia karena tidak berani menuliskan keadaan hati.


***

Sebulan pertama setelah kembali, Muklis tinggal di rumah Babah Oei di Sawah Besar. Kamar lamanya masih dipertahankan Enci. Beberapa bagian rumah telah diperbaiki, tetapi gang menuju rumah itu semakin padat. Anak-anak berlarian di antara penjual makanan, tukang jahit, gerobak, dan jemuran pakaian.


Setiap pagi, tetangga datang untuk bertemu Muklis. Ada yang ingin bertanya tentang Jepang, meminta bantuan menulis surat lamaran, atau sekadar melihat sarjana yang dahulu pernah menjadi kuli toko. Muklis melayani mereka tanpa merasa terganggu.


Suatu siang, seorang kurir datang membawa surat resmi. Amplopnya berkop Kementerian Keuangan. Muklis diminta menghadap seorang pejabat tinggi pada keesokan harinya.


Ia datang mengenakan jas terbaiknya. Di kantor kementerian, ia ditanya tentang pembangunan industri Jepang, pengendalian inflasi, pembiayaan negara, dan hubungan antara bank sentral dengan pemerintah. Beberapa pejabat telah membaca artikel-artikelnya sebelum ia berangkat. Mereka juga memperoleh laporan mengenai hasil studinya.

“Negara membutuhkan orang yang memahami ekonomi, bukan hanya politik,” kata seorang pejabat. “Apakah Saudara bersedia bekerja sebagai staf ahli menteri?”


Muklis tidak langsung menjawab. Ia memahami bahwa memasuki pemerintahan berarti memasuki ruang yang penuh pertentangan. Keputusan ekonomi tidak pernah semata-mata lahir dari angka. Di belakang anggaran terdapat partai, tentara, pengusaha, kepentingan daerah, dan kehendak politik Presiden.


Namun ia juga sadar bahwa ilmu yang hanya disimpan di perpustakaan tidak akan mengubah kehidupan siapa pun. “Saya bersedia,” katanya. “Dengan satu syarat.”


Pejabat itu mengangkat alis. “Saudara belum mulai bekerja, tetapi sudah mengajukan syarat?”


“Saya harus diizinkan menyampaikan analisis berdasarkan data, sekalipun kesimpulannya tidak menyenangkan.”


Pejabat itu tersenyum tipis. “Di pemerintahan, Saudara akan mengetahui bahwa data sering kali lebih berbahaya daripada pidato.”


“Saya siap menanggung risikonya.”


Begitulah Muklis menjadi staf di lingkungan Menteri Keuangan. Pekerjaannya membuat ia sering pulang larut. Ia harus membaca laporan penerimaan negara, kebutuhan devisa, pembiayaan perusahaan negara, serta catatan mengenai jumlah uang yang beredar. Kadang-kadang ia juga diminta menyusun bahan bagi rapat kabinet.


Setelah beberapa minggu, Muklis memutuskan pindah ke sebuah rumah sewaan di Menteng.  Keputusan itu sulit disampaikannya kepada Babah dan Enci. “Saya tidak meninggalkan rumah,” katanya saat makan malam. “Dari Sawah Besar ke kantor terlalu lama. Kadang saya harus menerima pejabat atau tamu dari luar negeri. Gang kita terlalu sempit untuk kendaraan mereka.”


Enci langsung terdiam. Muklis tahu perempuan itu terluka. Rumah tersebut telah menjadi tempat tinggalnya sejak remaja. Kepindahannya dapat dianggap sebagai tanda bahwa ia telah merasa terlalu tinggi untuk hidup bersama keluarga pedagang. Babah justru mengangguk. “Sudah waktunya kamu punya rumah sendiri.”


“Bah, saya tetap akan pulang.”


“Babah mengerti. Kamu bukan lagi kuli toko. Kamu staf menteri. Orang datang membawa dokumen, bukan membeli sabun dan gula.”


Ia menoleh kepada Enci. “Anak itu membutuhkan ruang kerja dan ruang untuk menerima tamu. Masa kita suruh menteri masuk lewat gang sambil melangkahi selokan?”


Enci tersenyum tipis. “Menteri juga manusia. Kakinya tidak akan patah karena melangkahi selokan.”


“Tetapi sebelum sampai rumah, sepatunya sudah kotor.”


Semua tertawa, kecuali Ling Ling. Ia memahami alasan Muklis. Namun kepindahan itu terasa seperti penegasan bahwa masa kecil mereka telah berakhir. Muklis sedang membangun kehidupan yang tidak lagi berpusat pada rumah Babah Oei.


Rumah sewaan di Menteng itu tidak besar, tetapi cukup layak. Ada ruang tamu, ruang kerja, dua kamar tidur, dan halaman kecil. Muklis membeli sebuah meja tulis, rak buku, serta kursi untuk menerima tamu. Di dinding ruang kerjanya ia memasang peta Indonesia dan sebuah foto keluarga Oei yang diambil sebelum keberangkatannya ke Jepang.


Ia tidak pernah menyebut rumah itu sebagai rumahnya. Baginya, rumah tetap berada di gang sempit Sawah Besar. Menteng hanyalah tempat tinggal yang dibutuhkan oleh pekerjaannya.


***

Ling Ling semakin jarang berada di Jakarta. Sebagai wakil redaktur Koran Rakyat sekaligus kader partai, ia mengikuti kunjungan petinggi PKI ke berbagai daerah. Ia melihat sendiri kehidupan buruh perkebunan dan petani penggarap di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, dan Bali. Sesekali ia ikut dalam rombongan partai ke Beijing, Moskwa, Praha, atau Hanoi untuk menghadiri konferensi wartawan dan organisasi perempuan.


Namun tulisan-tulisannya selalu kembali kepada persoalan di desa.

Pada suatu malam, di rumah Menteng, Muklis membaca kolom Ling Ling berjudul Tanah Bukan Singgasana Tuan Besar. Tulisan itu dibuka dengan kisah seorang petani penggarap di Jawa Tengah. Lelaki tersebut telah mengolah sawah yang sama selama lebih dari dua puluh tahun. Ia mencangkul, menanam, menjaga air, dan memanen. Namun lebih dari separuh hasilnya harus diserahkan kepada pemilik tanah yang tinggal di kota dan tidak pernah menyentuh lumpur.


Ling Ling menulis. Petani tidak boleh terus menjadi kuli di atas tanah yang dihidupkan oleh tangannya sendiri. Mereka yang menanam harus memperoleh bagian yang memungkinkan keluarganya makan, menyekolahkan anak, membeli benih, dan kembali berproduksi. Jika seluruh hasil habis untuk sewa, utang, dan bagian tuan tanah, kemiskinan tidak lagi menjadi nasib. Kemiskinan telah menjadi sistem.


Muklis melanjutkan membaca. Ling Ling menjabarkan perjuangan agraria kaum komunis bukan sekadar membagi tanah secara serampangan. Ia menuliskan beberapa dasar yang menurutnya harus diwujudkan. 


Pertama, tanah pertanian tidak boleh menumpuk tanpa batas pada segelintir orang. Penguasaan yang terlalu luas menciptakan kelas tuan tanah, sedangkan sebagian besar penduduk desa berubah menjadi buruh tani tanpa kepastian hidup.


Kedua, kepemilikan tanah secara absentee—tanah dimiliki orang yang tinggal jauh dan tidak menggarapnya—harus dibatasi. Tanah bukan surat berharga yang dibiarkan menghasilkan sewa tanpa kerja. Fungsi sosial tanah harus didahulukan daripada hak memperoleh rente.


Ketiga, petani penggarap harus memperoleh kepastian dalam perjanjian bagi hasil. Pembagian tidak boleh ditentukan sepihak oleh pemilik tanah. Biaya benih, pupuk, pengairan, pajak, serta risiko gagal panen harus diperhitungkan secara adil. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil telah memberikan dasar hukum, tetapi tanpa organisasi petani dan pengawasan pemerintah desa, ketentuan itu mudah tinggal sebagai tulisan di atas kertas.


Keempat, kelebihan tanah yang melampaui batas maksimum harus diambil negara dengan prosedur hukum dan kompensasi yang ditentukan pemerintah, lalu dibagikan kepada buruh tani serta petani miskin. Prinsip ini selaras dengan Undang-Undang Pokok Agraria 1960 dan ketentuan pembatasan luas tanah pertanian yang menyusulnya.


Kelima, pembagian tanah tidak boleh berhenti pada penyerahan sertifikat. Petani membutuhkan kredit murah, benih, pupuk, irigasi, koperasi, gudang, penyuluhan, serta akses pasar. Tanpa itu, petani penerima tanah akan kembali meminjam kepada tengkulak. Ketika gagal panen, tanahnya berpindah lagi kepada orang kaya.


Keenam, organisasi tani diperlukan sebagai alat tawar. Seorang petani sendirian terlalu lemah menghadapi pemilik tanah, rentenir, pedagang besar, dan aparat desa. Melalui organisasi seperti Barisan Tani Indonesia, mereka dapat memperjuangkan hak, membeli sarana produksi bersama, dan menjual hasil panen dengan harga yang lebih baik.


Ling Ling menutup kolomnya dengan kalimat: Berdiri di atas kaki sendiri bukan berarti petani ditinggalkan sendirian. Kemandirian hanya lahir apabila orang kecil mempunyai alat produksi, pengetahuan, organisasi, dan hak yang dilindungi hukum.


Muklis meletakkan koran di atas meja. Ia sepakat dengan sebagian besar isinya. Selama di Jepang, ia telah melihat reforma agraria pascaperang mematahkan dominasi tuan tanah dan memperluas kepemilikan lahan kepada petani. Perubahan itu ikut memperbesar daya beli masyarakat desa dan membentuk pasar domestik bagi industri Jepang.


Namun Muklis juga melihat bahaya yang tidak dibahas Ling Ling. Reforma agraria dapat berubah menjadi kekerasan apabila partai mengambil alih peran hukum. Keadilan tidak boleh ditegakkan melalui penghinaan, perampasan tanpa pemeriksaan, atau penetapan sepihak mengenai siapa yang disebut tuan tanah. Tanah harus didata. Hak harus dibuktikan. Batas kepemilikan harus ditentukan menurut keadaan daerah. Negara wajib menjamin bahwa orang yang menyerahkan kelebihan tanahnya memperoleh perlakuan hukum yang adil.


Muklis mengambil pulpen dan menulis catatan di pinggir koran: Tujuannya benar. Namun revolusi yang mendahului hukum dapat melahirkan ketidakadilan baru. Ia kemudian melipat koran itu dan menyimpannya di dalam laci.


Seperti Ling Ling dahulu menyimpan artikelnya, Muklis kini menyimpan tulisan Ling Ling. Keduanya tidak pernah mengetahui bahwa gagasan mereka tinggal berdekatan di dalam laci-laci yang berbeda.


***

Beberapa minggu kemudian, ketika berada di Beijing, Ling Ling menerima kiriman surat kabar dari Jakarta. Di antara tumpukan itu terdapat sebuah majalah ekonomi yang memuat artikel Muklis.

Judulnya sederhana: Bank Sentral Bukan Kasir Kekuasaan. Ling Ling membacanya di kamar penginapan.


Muklis menjelaskan bahwa bank sentral mempunyai tugas berbeda dari kementerian biasa. Pemerintah bertanggung jawab menjalankan program pembangunan, memungut pajak, dan membelanjakan anggaran. Bank sentral bertanggung jawab menjaga nilai uang, mengatur peredaran uang, memelihara sistem pembayaran, serta membantu kestabilan perbankan. Keduanya harus bekerja sama, tetapi tidak boleh melebur tanpa batas.


Apabila penerimaan negara tidak mencukupi, pemerintah menghadapi tiga pilihan, menaikkan pajak, mengurangi pengeluaran, atau meminjam. Semua pilihan mengandung biaya politik. Karena tidak populer, pemerintah sering tergoda mencari jalan yang paling mudah—meminta bank sentral menciptakan uang untuk menutup defisit.


Pada awalnya, pencetakan uang terlihat seperti penyelesaian. Pemerintah dapat membayar pegawai, membangun proyek, dan membiayai program politik tanpa segera menaikkan pajak. Namun jumlah barang tidak otomatis bertambah hanya karena uang diperbanyak.


Jika uang tumbuh jauh lebih cepat daripada produksi, terlalu banyak uang akan mengejar terlalu sedikit barang. Harga naik. Nilai tabungan turun. Upah kehilangan daya beli. Orang miskin menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya karena mereka tidak mempunyai tanah, emas, atau barang lain untuk melindungi kekayaan.


Muklis menulis: Inflasi adalah pajak yang tidak pernah dibahas di parlemen. Ia mengambil beras dari piring buruh, mengurangi susu anak-anak, dan menghapus tabungan pegawai tanpa mengirimkan surat tagihan.


Menurut Muklis, independensi bank sentral bukan berarti bank sentral menjadi negara di dalam negara. Bank sentral tetap harus mendukung tujuan nasional—lapangan kerja, produksi, perdagangan, serta pembangunan. Namun lembaga itu memerlukan otonomi profesional untuk menilai kemampuan ekonomi menyerap tambahan uang dan kredit.


Independensi tersebut setidaknya membutuhkan empat pagar. Pertama, pimpinan bank sentral tidak boleh diberhentikan hanya karena menolak permintaan pembiayaan yang berbahaya.


Kedua, kredit kepada pemerintah harus dibatasi, dicatat secara terbuka, dan dipertanggungjawabkan kepada lembaga perwakilan.


Ketiga, keputusan moneter harus didasarkan pada data mengenai produksi, harga, devisa, kredit, dan jumlah uang beredar—bukan kebutuhan pidato atau kepentingan partai.


Keempat, bank sentral wajib menjelaskan kebijakannya kepada publik. Independensi tanpa pertanggungjawaban hanya akan mengganti kekuasaan politik dengan kekuasaan teknokrat.


Gagasan itu terasa berani untuk zamannya. Pada awal 1960-an, Bank Indonesia belum berdiri independen seperti pengertian modern. Pemerintah memiliki pengaruh kuat terhadap kebijakan moneter. Dalam alam Demokrasi Terpimpin, hampir semua lembaga ekonomi diarahkan menjadi alat revolusi dan pembangunan negara.


Muklis memahami kebutuhan pembiayaan pembangunan. Indonesia kekurangan jalan, pelabuhan, sekolah, listrik, dan industri. Namun ia menolak pendapat bahwa kekurangan modal dapat diselesaikan hanya dengan menciptakan uang. Mesin cetak uang tidak dapat mencetak beras, baja, obat, dan tenaga ahli, tulisnya. Ia hanya mencetak tuntutan baru atas barang yang jumlahnya belum bertambah.


Ling Ling membaca artikel itu sampai selesai. Ia mencari tanda-tanda pandangan Masyumi yang pernah melekat pada Muklis. Namun ia tidak menemukannya. Tidak ada serangan terhadap komunisme. Tidak ada pembelaan terhadap pengusaha besar. Tidak ada pula bahasa agama yang dipakai untuk menghakimi orang lain.


Muklis tetap seorang Muslim yang taat. Ia masih salat, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an. Akan tetapi, pendidikan serta pengalamannya di Jepang telah memperluas cara pandangnya. Ia tidak lagi melihat persoalan negara hanya sebagai pertarungan antara yang saleh dan yang tidak saleh. Baginya, kebijakan yang baik harus dinilai dari akibatnya bagi manusia.


Niat yang mulia tidak dapat membenarkan cara yang salah. Slogan revolusi tidak dapat menggantikan produksi. Kesalehan seorang pemimpin tidak dapat menghapus kesalahan anggaran. Demikian pula angka pertumbuhan tidak berarti apa-apa apabila sebagian besar rakyat tetap lapar.


Ling Ling melipat majalah itu. “Dia berubah,” katanya dalam hati. Namun perubahan Muklis bukan menjauhi keyakinan. Ia justru telah belajar memisahkan iman sebagai sumber moral dari partai sebagai alat kekuasaan. Ling Ling merasa bangga. Sekaligus semakin takut kehilangan dirinya.


***

Sesibuk apa pun pekerjaannya, setiap hari Minggu Muklis berusaha pulang ke Sawah Besar. Ia datang membawa buah, roti, atau buku untuk Agok dan Chan. Kadang-kadang ia membantu Babah memeriksa pembukuan toko. Jika Enci mengeluh atap bocor atau saluran air tersumbat, Muklis segera memanggil tukang. “Kamu staf menteri,” kata Babah. “Jangan urus genteng.”


“Staf menteri juga akan basah kalau genteng bocor.”


Muklis selalu makan siang di rumah. Di meja yang sama tempat ia dahulu mengajari Ling Ling berhitung, Babah membicarakan harga gula, kesulitan memperoleh barang, dan nilai uang yang terus melemah.


“Dulu uang seratus rupiah bisa membeli banyak,” keluh Babah. “Sekarang sebentar saja sudah habis.”


“Itulah yang saya tulis, Bah. Kalau uang bertambah tetapi barang tidak bertambah, harga akan naik.”


Babah mengangguk seolah memperoleh pembenaran atas sesuatu yang sudah dipahaminya melalui pengalaman berdagang. “Jadi menteri harus lebih sering menjaga toko. Biar tahu uang itu ada gunanya atau tidak.”


Sayangnya, Muklis tidak selalu bertemu Ling Ling. Kadang-kadang perempuan itu sedang meliput persoalan tanah di Jawa Timur. Pada minggu berikutnya, ia berada di Sumatra menghadiri pertemuan buruh perkebunan. Sebulan kemudian, ia berangkat bersama rombongan partai ke Beijing.


Setiap kali Muklis datang dan mendapati kursi Ling Ling kosong, ia berpura-pura tidak kecewa. “Ling Ling ke mana?” tanyanya sambil mengambil nasi.


“Semarang,” jawab Enci.


“Minggu lalu katanya ke Surabaya.”


“Dari Surabaya langsung ke Semarang.”


“Kapan pulang?”


“Tidak bilang.”


Muklis hanya mengangguk.

Pada Minggu berikutnya, ketika Ling Ling berada di rumah, justru Muklis dipanggil menghadiri rapat mendadak di kementerian. Begitulah kehidupan mempermainkan keduanya. Ketika jarak Jepang telah hilang, waktu justru menjadi pemisah baru. Mereka sama-sama bekerja untuk rakyat, tetapi melalui pintu yang berbeda.


Ling Ling percaya perubahan harus didorong dari bawah: petani diorganisasi, buruh disadarkan, dan tanah dibebaskan dari kekuasaan tuan besar. Muklis percaya negara harus dibangun melalui lembaga yang tertib: anggaran yang sehat, mata uang yang terjaga, hukum yang adil, dan kebijakan yang tidak menjadi tawanan partai.


Ling Ling berbicara tentang siapa yang berhak memiliki tanah. Muklis berbicara tentang siapa yang boleh menciptakan uang. Pada dasarnya keduanya sedang mempersoalkan hal yang sama: batas kekuasaan. Sebab tanah dan uang dapat menjadi alat pembebasan apabila diatur dengan adil, tetapi dapat berubah menjadi alat penindasan apabila dikuasai tanpa batas dan tanpa pertanggungjawaban.


***

Suatu Minggu sore, Muklis datang ke Sawah Besar dan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Babah tertidur di kursi rotan. Enci sedang mengunjungi kerabat, sedangkan Agok dan Chan menjaga toko. Pintu kamar Ling Ling sedikit terbuka. Muklis tidak berniat masuk. Namun di atas meja dekat pintu terlihat beberapa lembar naskah. Halaman pertamanya hanya memuat sebuah judul: Ketika Negara Takut kepada Pikiran yang Merdeka. Tidak ada nama penulis. Muklis mengenali susunan huruf mesin tik dan koreksi dengan tinta biru di pinggir halaman. Itu tulisan Ling Ling.


Ia membaca paragraf pertama: Setiap partai lahir dengan janji membebaskan manusia. Namun setelah menjadi besar, partai sering lebih sibuk menjaga kebenarannya sendiri daripada menjaga kemerdekaan berpikir anggotanya. Kritik dianggap sebagai pengkhianatan. Pertanyaan diperlakukan sebagai keraguan ideologis. Pada saat itulah perjuangan berhenti menjadi jalan emansipasi dan mulai berubah menjadi agama baru—lengkap dengan kitab, imam, dan hukuman bagi orang yang berbeda tafsir.


Muklis tercekat.


Tulisan itu bukan serangan kepada pemerintah atau lawan politik. Itu kritik Ling Ling terhadap partainya sendiri. Ia meneruskan membaca: Komunisme yang melarang dialektika sedang menyangkal dasar pemikirannya sendiri. Partai yang berbicara atas nama rakyat, tetapi takut mendengar rakyat, pada akhirnya hanya akan melahirkan kelas penguasa baru. Baju mereka boleh berbeda, semboyan mereka boleh revolusioner, tetapi wataknya akan sama dengan tuan tanah yang ingin mereka tumbangkan.


Di luar kamar, terdengar pintu depan dibuka. Muklis cepat-cepat meletakkan naskah itu ke tempat semula. Ling Ling berdiri di ruang tengah. Wajahnya tampak lelah setelah perjalanan dari luar kota. Ketika melihat pintu kamarnya terbuka dan Muklis berdiri di dekat meja, matanya langsung tertuju pada naskah tersebut.


“Kau membacanya?” tanyanya.


Muklis tidak berbohong. “Ya.”


“Kau tidak berhak masuk ke kamarku.”


“Pintunya terbuka.”


“Tetapi naskah itu bukan untukmu.”


Muklis memandangnya dengan cemas. “Kalau tulisan ini diterbitkan, partaimu tidak akan diam.”


“Aku tahu.”


“Kalau tidak diterbitkan, mengapa kamu menulisnya?”


“Karena tidak semua kebenaran ditulis untuk diterbitkan. Ada yang ditulis agar penulisnya tidak ikut menjadi pendusta.”


Muklis mendekatinya. “Ling, apa yang terjadi di dalam partaimu?”


Ling Ling tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu kamar, lalu mengambil naskah tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. “Aku mulai melihat orang-orang yang lebih mencintai partai daripada rakyat.”


“Itu berbahaya.”


“Yang lebih berbahaya adalah membiarkan mereka.”


“Apa yang akan kamu lakukan?”


Ling Ling menatapnya. Di matanya terdapat keberanian yang dahulu membuat Muklis kagum, tetapi kini bercampur ketakutan.

“Aku belum tahu.”


Untuk pertama kalinya, perbedaan di antara mereka tidak berasal dari Masyumi dan PKI. Mereka berdiri di tempat yang sama—dua orang yang percaya bahwa kekuasaan, apa pun warna benderanya, harus berani diperiksa. Namun Muklis juga menyadari sesuatu yang mengerikan. Ling Ling tidak lagi hanya berhadapan dengan lawan politik. Ia mulai berhadapan dengan rumah ideologisnya sendiri.


Negeri yang Menolak Kepulangan

Jakarta, 30 September 1965. Malam itu, Muklis masih berada di kantornya ketika kabar mengenai gerakan pasukan di sekitar pusat kota mulai beredar. Telepon berdering tanpa henti. Informasi datang sepotong-sepotong, saling bertentangan, dan sulit dibedakan antara fakta, kepanikan, serta desas-desus.


Beberapa perwira tinggi Angkatan Darat dikabarkan diculik. Radio Republik Indonesia kemudian menyiarkan pengumuman tentang sebuah gerakan yang menyebut dirinya Gerakan 30 September. Nama-nama pejabat baru diumumkan. Dewan Revolusi diperkenalkan. Namun sebelum orang memahami apa yang sedang terjadi, keadaan berbalik. Pasukan di bawah Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih pusat-pusat penting di Jakarta.

Dalam beberapa hari, PKI dituduh berada di belakang gerakan tersebut.


Muklis mengenal cukup banyak orang di pemerintahan untuk memahami bahwa peristiwa itu tidak akan berakhir sebagai pergantian kekuasaan selama satu malam. Pembunuhan para jenderal telah membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar: pembalasan terhadap partai, kader, organisasi massa, keluarga, dan siapa pun yang pernah dianggap dekat dengan komunisme.


Hal pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Ling Ling. Ia menghubungi kantor Koran Rakyat. Tidak ada jawaban. Ia mendatangi kantor surat kabar itu, tetapi bangunannya telah dijaga tentara. Beberapa karyawan ditangkap. Mesin cetak dihentikan. Tumpukan koran berserakan di lantai seperti benda terlarang.


Seorang wartawan yang dikenalnya berbisik dari kejauhan. “Ling Ling tidak ada di Jakarta. Dia berangkat ke Beijing  minggu lalu.”


Muklis tidak tahu apakah harus lega atau semakin cemas. Ling Ling selamat dari penangkapan pertama. Namun keberadaannya di Beijing—dalam tugas partai—dapat berubah menjadi bukti paling berat terhadap dirinya.


***

Di Beijing, Ling Ling menerima kabar mengenai peristiwa di Jakarta melalui laporan kantor berita asing. Informasinya tidak utuh. Setiap negara menulis berdasarkan kepentingannya sendiri. Media Tiongkok menyebutnya sebagai serangan terhadap kekuatan revolusioner. Media Barat menggambarkannya sebagai kegagalan kaum komunis mengambil alih kekuasaan.


Ling Ling hanya ingin mengetahui satu hal: apakah keluarganya selamat? Ia mendatangi kantor perwakilan Indonesia, tetapi suasananya telah berubah. Para pegawai bersikap hati-hati. Nama-nama anggota rombongan PKI mulai diperiksa. Sebagian paspor mereka terancam tidak diperpanjang.


“Aku harus pulang,” kata Ling Ling kepada seorang kawan sesama wartawan.


“Pulang untuk apa?”


“Keluargaku di Jakarta.”


“Kalau kau kembali sekarang, kau akan ditangkap di bandara.”


“Aku bukan bagian dari gerakan itu.”


“Tidak ada yang sedang bertanya siapa yang terlibat dan siapa yang tidak.”


Ling Ling berjalan mondar-mandir di dalam kamar. “Aku wartawan. Aku sedang menjalankan tugas resmi.”


“Justru itu masalahnya. Kau kader partai, wakil redaktur surat kabar partai, dan sekarang berada di Beijing. Bagi orang-orang yang sedang mencari musuh, tiga hal itu sudah lebih dari cukup.”

Kawannya menyarankan agar ia menunggu sampai keadaan terkendali.


“Beberapa minggu saja,” katanya. “Setelah itu mungkin kau bisa pulang.”


Namun minggu berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun. PKI dibubarkan. Anggota serta orang-orang yang dituduh sebagai simpatisannya ditangkap. Di berbagai daerah terjadi pembunuhan, penahanan tanpa pengadilan, dan penghilangan. Identitas Tionghoa ikut dicurigai karena kedekatan politik pemerintahan Soekarno dengan Beijing dan hubungan sejumlah organisasi kiri dengan Tiongkok. Walaupun korban utama penumpasan adalah anggota maupun orang yang dituduh terkait PKI, keluarga Tionghoa juga mengalami intimidasi, perusakan, pemeriksaan, dan tekanan politik.


Hubungan Jakarta dan Beijing semakin memburuk. Pada 1967 hubungan diplomatik kedua negara dibekukan—dan baru dipulihkan kembali pada 1990. Pintu pulang bagi Ling Ling akhirnya tertutup.


***

Pada hari-hari pertama setelah peristiwa itu, rumah Babah Oei di Sawah Besar mulai diawasi. Orang-orang mengetahui Ling Ling bekerja di surat kabar komunis. Beberapa tetangga yang dahulu ramah mulai menjaga jarak. Ada yang mencoret dinding toko pada malam hari. Sebuah batu dilemparkan ke jendela dengan secarik kertas bertuliskan: KELUARGA KOMUNIS. Babah Oei mencabut kertas itu sebelum Enci melihatnya. Namun keesokan harinya, tulisan serupa muncul di pintu belakang.


Muklis datang malam-malam dengan kendaraan dinas. “Kita harus pergi,” katanya.


Babah berdiri di tengah toko yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. “Pergi ke mana?”


“Lampung.”


“Babah tidak punya rumah di sana.”


“Saya sudah menyiapkannya.”


“Bagaimana dengan toko?”


“Toko bisa dicari kembali. Nyawa tidak.”


Babah menatap rak beras, gula, sabun, dan perkakas rumah tangga. Ia tiba di Jakarta sebagai pedagang kecil. Dari toko itulah ia membesarkan anak-anaknya, menolong Muklis, dan memberi makan beberapa keluarga pekerja.


“Kalau Babah pergi, orang akan mengira kita bersalah.”


Muklis mendekat. “Dalam keadaan seperti ini, Bah, orang tidak membutuhkan kesalahan untuk menghukum seseorang. Mereka hanya membutuhkan nama.”


Babah terdiam.


Muklis menggunakan hubungannya dengan beberapa perwira dan pejabat pemerintah daerah. Ia tidak meminta agar Ling Ling dibebaskan dari tuduhan. Ia hanya menjelaskan bahwa Babah Oei dan Enci bukan pengurus partai. Mereka pedagang yang sepanjang hidupnya membantu lingkungan sekitar.


Seorang perwira yang pernah mengenalnya di Kementerian Keuangan bersedia mengeluarkan surat perjalanan. “Saya membantu karena saya mengenal Saudara,” kata perwira itu. “Tetapi saya tidak bisa menjamin keselamatan mereka kalau tetap tinggal di Jakarta.”


“Itu sudah cukup.”


Muklis membawa Babah dan Enci keluar dari Jakarta sebelum subuh. Mereka hanya membawa pakaian, uang secukupnya, dokumen keluarga, dan beberapa foto. Bagian belakang kendaraan ditutupi terpal seolah membawa barang dagangan.


Enci terus memandang ke belakang ketika kendaraan meninggalkan Sawah Besar. “Bagaimana kalau Ling Ling pulang?” tanyanya.


“Dia akan mencari saya,” jawab Muklis.


“Bagaimana dia tahu kita berada di mana?”


“Saya akan memastikan dia tahu.”


Muklis sendiri tidak yakin dapat melakukannya. Babah dan Enci ditempatkan di sebuah perkampungan pesisir di Lampung Selatan. Daerah itu jauh dari pusat pergolakan Jakarta. Seorang pedagang hasil bumi yang pernah mempunyai hubungan dagang dengan Babah menyediakan rumah kayu tidak jauh dari pantai. Di sana, Babah kembali memulai hidup sebagai pedagang kecil. Ia membeli ikan dari nelayan, menjual garam, beras, minyak tanah, dan kebutuhan rumah tangga. Toko besarnya di Pasar Baru telah hilang, tetapi kebiasaan bekerja tidak dapat dirampas oleh keadaan.


“Dulu Babah menolong saya ketika datang tanpa apa-apa,” kata Muklis sebelum kembali ke Jakarta. “Sekarang giliran saya menjaga Babah dan Enci.”


Babah memegang bahunya. “Kamu sudah membalas terlalu banyak.”


“Saya tidak sedang membalas. Saya sedang menjaga keluarga.”


Agok dan Chan tidak ikut menetap di Lampung. Keduanya masih bersekolah dan membutuhkan akses pendidikan yang lebih baik. Muklis membawa mereka tinggal di rumahnya di Menteng. Nama keluarga mereka tidak ditonjolkan. Ia mengurus sekolah, kebutuhan hidup, dan memastikan keduanya tidak terlibat dalam kegiatan politik.


Pada malam hari, Agok sering berdiri di depan kamar Muklis. “Ko, apakah Cici Ling Ling terlibat?”


Muklis selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Kakakmu seorang wartawan dan kader partai. Itu fakta. Tetapi apakah dia mengetahui atau terlibat dalam gerakan tersebut, kita tidak mempunyai bukti.”


“Orang-orang bilang semua PKI harus dihukum.”


“Tidak ada manusia yang boleh dihukum hanya karena orang lain membutuhkan musuh.”


“Apakah Cici akan pulang?”


Muklis tidak mampu menjawab. Ia hanya menutup pintu ruang kerjanya, lalu memandang foto keluarga Oei di dinding. Dalam foto itu, Ling Ling berdiri di sampingnya, masih muda dan tersenyum. Seakan-akan sejarah belum menemukan cara untuk memisahkan mereka.


***

Muklis berusaha mengirim kabar ke Beijing melalui berbagai jalur. Surat biasa terlalu berbahaya. Hubungan kedua negara memburuk. Setiap korespondensi dengan Tiongkok dapat menimbulkan kecurigaan terhadap jabatannya. Ia menitipkan surat melalui diplomat negara sahabat, wartawan asing, dan mahasiswa Indonesia yang singgah di Hong Kong. Beberapa surat kembali. Sebagian tidak pernah diketahui nasibnya.


Dalam salah satu surat, ia menulis: Ling, Babah dan Enci selamat. Mereka tinggal di pesisir Lampung. Agok dan Chan bersamaku di Menteng dan tetap bersekolah. Jangan pulang sebelum keadaan memungkinkan. Aku akan mencari jalan.


Surat itu tidak pernah mendapat balasan. Ling Ling juga menulis dari Beijing. Namun tidak semua suratnya berani dikirim. Di salah satu lembar yang kemudian disimpannya selama bertahun-tahun, ia menuliskan: Ko Muklis, dahulu aku takut Jepang akan mengubahmu. Sekarang aku takut negeriku sendiri tidak lagi mengenal kita. Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai tanah air. Tetapi selama Babah, Enci, dan kamu masih mengingatku, barangkali aku belum sepenuhnya menjadi orang buangan.


Ling Ling akhirnya bekerja sebagai penerjemah dan kemudian wartawan pada sebuah kantor berita Tiongkok. Kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan sedikit bahasa Belandanya sangat berguna. Ia meliput negara-negara Asia-Afrika serta pertemuan organisasi internasional. Ketika paspornya tidak dapat diperpanjang dan peluang pulang semakin mustahil, Ling Ling menerima kewarganegaraan Tiongkok. Ia melakukannya bukan karena berhenti mencintai Indonesia. Ia melakukannya karena manusia memerlukan dokumen untuk bekerja, bepergian, dan tetap hidup.


***

Tahun-tahun berlalu. Muklis tetap bekerja dalam pemerintahan. Ia tidak menjadi tokoh politik. Ia memilih menjadi teknokrat yang bekerja di belakang meja, menyiapkan angka, menyusun kebijakan, dan menghadapi pejabat yang sering kali hanya ingin mendengar kabar baik.


Pada 1976, ia diangkat menjadi duta besar untuk sebuah negara di Eropa Barat. Penugasan itu bukan semata-mata untuk menghadiri jamuan diplomatik. Pemerintah Orde Baru sedang mengonsolidasikan program pembangunan. Inflasi yang pernah mencapai tingkat sangat tinggi telah ditekan. Anggaran mulai ditata. Namun Indonesia tetap kekurangan modal, teknologi, dan devisa.


Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing telah membuka kembali pintu bagi investasi langsung dari luar negeri. Setelah itu, pemerintah membangun hubungan dengan negara-negara donor melalui IGGI, konsorsium yang sejak 1967 mengoordinasikan bantuan dan kredit untuk Indonesia. Tugas Muklis adalah meyakinkan pemerintah serta lembaga keuangan Eropa bahwa Indonesia layak menerima pinjaman jangka panjang.


Ia membawa proposal pembangunan irigasi, pembangkit listrik, jalan, pelabuhan, pupuk, dan pendidikan. Dalam setiap pertemuan ia menekankan satu hal: Indonesia tidak hanya membutuhkan uang, tetapi pembiayaan yang memberi waktu bagi proyek untuk menghasilkan manfaat ekonomi.


“Kalau pinjaman berjangka pendek digunakan membangun bendungan yang baru menghasilkan sepuluh tahun lagi,” katanya kepada seorang pejabat bank pembangunan, “negara akan membayar utang sebelum sawah menerima air.”


“Lalu apa yang Anda inginkan?”


“Tenor panjang, masa tenggang, bunga rendah, dan komponen alih teknologi.”


“Negara Anda meminta banyak.”


“Karena kami tidak ingin kembali meminta pinjaman untuk membayar pinjaman lama.”


Muklis mengetahui bahwa utang dapat mempercepat pembangunan. Namun ia juga mengerti bahwa utang bisa menjadi bentuk ketergantungan baru apabila dipakai tanpa disiplin. Kredit luar negeri harus meningkatkan produksi, ekspor, dan penerimaan negara. Jika hanya membiayai proyek kebanggaan, generasi berikutnya akan mewarisi kewajiban tanpa memperoleh manfaat. Atasannya menyukai kecermatan Muklis. Negara-negara donor menghargai kemampuannya berbicara dalam bahasa teknis tanpa kehilangan martabat sebagai wakil negara berkembang. Namun tidak seorang pun mengetahui bahwa di balik seragam diplomatiknya terdapat rahasia lama bernama Ling Ling.


***

Pada musim gugur 1976, Muklis datang ke Jenewa untuk mengikuti pertemuan mengenai pembiayaan pembangunan dan perdagangan negara-negara berkembang. Kota itu dipenuhi diplomat, bankir, wartawan, dan perwakilan organisasi internasional.


Selepas sidang, Muklis berjalan keluar dari gedung pertemuan sambil membawa map. Udara dingin menyusup ke balik mantelnya. Daun-daun menguning di sepanjang jalan menuju Danau Jenewa. Di dekat tangga, beberapa wartawan menunggu para delegasi. Salah seorang perempuan berdiri membelakanginya. Rambutnya telah dipotong pendek. Ia mengenakan mantel hitam dan membawa buku catatan. Ketika perempuan itu berbalik, waktu seakan berhenti.


Muklis mengenali matanya. “Ling Ling?” Perempuan itu tidak bergerak. Map di tangan Muklis jatuh. Kertas-kertas berhamburan ditiup angin, tetapi ia tidak peduli. “Ko Muklis?”


Selama sebelas tahun, mereka hanya hidup sebagai nama di dalam ingatan. Kini mereka berdiri beberapa langkah dari satu sama lain di negeri orang. Muklis mendekat. Ia ingin memeluknya, tetapi ragu. Ling Ling yang akhirnya menghapus jarak. Ia memeluk Muklis dengan kedua tangan dan menangis di dadanya.


“Babah?” tanyanya.


“Selamat.”


“Mama ”


“Sehat. Mereka tinggal di Lampung.”


“Agok dan Chan?”


“Sudah menyelesaikan sekolah. Mereka bekerja.”


Ling Ling menangis semakin keras. Orang-orang yang melintas memandang mereka, tetapi keduanya tidak peduli.


“Kenapa tidak ada surat?”


“Aku mengirimnya.”


“Aku juga.”


“Tidak ada yang sampai.”


Mereka tertawa di tengah air mata. Negara dapat membekukan hubungan diplomatik. Pemerintah dapat menutup perbatasan. Surat dapat disita atau dihilangkan. Namun ingatan ternyata mempunyai jalur sendiri yang tidak dapat dikendalikan oleh kekuasaan.


Malam itu mereka duduk di sebuah kedai kecil dekat danau. Ling Ling menceritakan kehidupannya di Beijing. Ia telah menjadi warga negara Tiongkok dan bekerja sebagai wartawan. Ia beberapa kali bepergian ke negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa. Namun ia tidak pernah diizinkan datang ke Indonesia.


“Aku sudah tidak punya hak untuk pulang,” katanya.


“Indonesia tetap negerimu.”


“Negeri tidak hanya ditentukan oleh tempat lahir. Negeri juga ditentukan oleh paspor. Tanpa paspor Indonesia, aku hanyalah orang asing.”


“Aku akan mengurusnya.”


Ling Ling tersenyum getir. “Kau sekarang duta besar Republik Indonesia. Aku mantan kader PKI dan warga negara Tiongkok. Hubungan kedua negara bahkan tidak ada. Apa yang ingin kau urus?”


Muklis terdiam. Secara politik, Ling Ling adalah segala sesuatu yang harus dijauhi seorang pejabat Orde Baru. Ia mantan pengurus surat kabar komunis, pernah bekerja untuk partai, tinggal di Beijing, dan kini menjadi warga negara dari negeri yang dianggap mendukung musuh negara. Pertemuan itu saja dapat menghancurkan karier Muklis.


Tetapi setelah kehilangan sebelas tahun, ketakutan tidak lagi mempunyai kuasa yang sama atas dirinya. “Aku tidak peduli pada jabatan,” katanya.


“Kau bisa berkata begitu karena belum kehilangannya.”


“Aku pernah kehilanganmu. Tidak ada jabatan yang lebih mahal daripada itu.”


Ling Ling menunduk. “Aku sudah bukan gadis yang kau tinggalkan di Tanjung Priok.”


“Aku juga bukan mahasiswa yang berangkat ke Jepang.”


“Aku mungkin tidak akan pernah bisa tinggal di Jakarta.”


“Kalau begitu aku akan menunggumu sampai bisa.”


“Berapa lama?”


“Selama yang diperlukan.”


Ling Ling menatapnya. “Sebelas tahun tidak cukup?”


“Justru karena sebelas tahun telah hilang, aku tidak mau kehilangan sehari lagi.”


***

Keesokan malamnya mereka bertemu kembali. Muklis membawa sebuah kotak kecil. Tidak ada cincin mahal di dalamnya. Hanya cincin emas sederhana yang dibelinya dari toko tua di Jenewa. Mereka berjalan di tepi danau. Lampu kota memantul di permukaan air. Angin dingin membuat Ling Ling merapatkan mantelnya. Muklis berhenti di bawah sebuah pohon.


“Ling, ada sesuatu yang seharusnya kukatakan sebelum berangkat ke Jepang.”


“Dua puluh tahun lalu?”


“Ya.”


“Itu waktu yang terlalu lama untuk menyusun satu kalimat.”


“Karena aku pengecut.”


“Kau bukan pengecut. Kau terlalu menghormati Babah.”


“Aku menjadikan kehormatan sebagai alasan untuk menyembunyikan ketakutan.”


Muklis memegang kedua tangannya. “Aku mencintaimu sejak kita masih belajar di meja makan. Aku mencintaimu ketika kau memilih partai yang berbeda denganku. Aku mencintaimu ketika membaca tulisanmu tentang petani. Dan selama sebelas tahun aku tidak pernah berhenti mencarimu.”


Air mata memenuhi mata Ling Ling. “Aku tidak punya apa-apa untuk kubawa sebagai istri.”


“Kamu punya dirimu sendiri.”


“Aku membawa masa lalu yang dapat menghancurkanmu.”


“Kalau negara menghukum seseorang karena mencintai, berarti yang bersalah bukan cintanya.”


Muklis membuka kotak kecil tersebut. “Menikahlah denganku.”


Ling Ling menutup mulutnya dengan tangan. “Kau gila.”


“Mungkin.”


“Kau duta besar.”


“Aku tetap Muklis yang pernah tidur di gudang toko ayahmu.”


“Aku warga negara Tiongkok.”


“Kamu tetap Ling Ling yang mengajariku bahwa manusia tidak boleh membenci Tuhan demi membela manusia.”


“Aku mantan kader partai yang dilarang di negerimu.”


“Aku tidak menikahi partaimu. Aku menikahi manusia yang ada di hadapanku.”


Ling Ling menangis. “Aku sudah menunggumu sejak SMA, Bang.”

Itulah pertama kalinya ia tidak memanggil Muklis dengan sebutan Ko. Ia memanggilnya Bang—bukan lagi sebagai abang angkat, melainkan sebagai lelaki yang dicintainya. Muklis memeluknya. Di bawah langit Jenewa, dua orang buangan oleh sejarah itu akhirnya mengakui sesuatu yang telah mereka sembunyikan hampir seperempat abad.


***

Mereka mengetahui bahwa pernikahan resmi hampir mustahil dilakukan tanpa menimbulkan pemeriksaan politik. Muklis harus melaporkan identitas calon istrinya. Pemeriksaan latar belakang akan segera menemukan hubungan Ling Ling dengan PKI dan kewarganegaraan Tiongkok.


Namun Muklis tidak ingin hubungan mereka berdiri tanpa ikatan. Ling Ling mengatakan bahwa selama hidup di Beijing ia terus membaca buku-buku yang pernah dibicarakan Muklis. Ia membaca Al-Ghazali, sejarah Islam, dan terjemahan Al-Qur’an. Dalam kesendiriannya, ia menyadari bahwa kritik terhadap penggunaan agama sebagai alat kekuasaan tidak sama dengan penolakan terhadap Tuhan.


“Aku tidak ingin memeluk agamamu hanya agar dapat menikah,” katanya. “Kalau aku mengucapkan syahadat, aku harus melakukannya karena aku percaya.”


“Tidak ada paksaan,” jawab Muklis. “Aku lebih memilih kehilangan pernikahan daripada memaksamu mengkhianati hati.”


Beberapa hari kemudian, atas kehendaknya sendiri, Ling Ling mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang imam dan dua saksi Muslim yang dipercaya Muklis. Ia tidak mengganti namanya. Bagi Muklis, Islam tidak datang untuk menghapus asal-usul seseorang. Mereka menikah secara agama dalam sebuah upacara kecil. Tidak ada pejabat, tidak ada wartawan, dan tidak ada keluarga. Muklis menyerahkan cincin sederhana sebagai mahar.Pernikahan itu sah dalam keyakinan mereka, tetapi tidak tercatat dalam administrasi Indonesia. Bagi negara, Muklis tetap seorang diplomat tanpa istri. Bagi partai dan kantor berita tempat Ling Ling bekerja, perjalanan itu hanya tugas peliputan.


Mereka mempunyai beberapa hari sebelum Ling Ling kembali ke Beijing. Pada malam terakhir, salju tipis turun di luar jendela penginapan. Muklis dan Ling Ling duduk berdekatan, berbicara sampai larut tentang Babah, Enci, rumah Sawah Besar, dan laut di Lampung. Tidak ada lagi jarak yang perlu dipertahankan. Malam merunduk di balik tirai. Dua kehidupan yang terlalu lama dipisahkan sejarah akhirnya bertemu dalam keheningan. Mereka saling menyerahkan rindu tanpa kemarahan, seperti dua sungai yang menemukan muara setelah berkelana melalui tanah yang berbeda.


Menjelang pagi, Ling Ling bersandar di dada Muklis. “Apakah abang menyesal?” tanyanya.


“Yang kusesali hanya mengapa aku membutuhkan dua puluh tahun untuk melakukan ini.”


“Bawa aku pulang, Bang.”


Muklis mencium keningnya. “Aku berjanji.”


***

Muklis berusaha memenuhi janjinya. Ia menghubungi seorang pejabat senior di Jakarta melalui jalur pribadi. Ia meminta kemungkinan izin khusus bagi Ling Ling untuk masuk ke Indonesia atas dasar penyatuan keluarga. Jawabannya datang singkat: Tidak mungkin.


Muklis mencoba lagi. Ia mengusulkan agar Ling Ling lebih dahulu tinggal di negara ketiga, melepaskan kewarganegaraan Tiongkok, dan menjalani pemeriksaan keamanan. Seorang pejabat lama yang menghormatinya memberi peringatan. “Berhentilah mengurus perempuan itu.”


“Dia istri saya.”


“Secara resmi, tidak ada pernikahan.”


“Sah bagi agama saya.”


“Negara tidak sedang menanyakan agama. Negara menanyakan riwayat politik.”


“Dia tidak terlibat dalam Gerakan 30 September.”


“Dia kader PKI, bekerja di surat kabar partai, dan kemudian menjadi warga negara Tiongkok. Apakah Saudara mengerti bagaimana berkas itu akan dibaca?”


“Saya mengenalnya sejak kecil.”


“Justru itu yang akan menimbulkan pertanyaan mengenai loyalitas Saudara.”


Muklis mengepalkan tangan. “Apakah pengabdian saya selama bertahun-tahun tidak cukup?”


“Dalam politik, pengabdian panjang dapat dihapus oleh satu kecurigaan.”


Beberapa kolega menyarankan agar ia tidak lagi bertemu Ling Ling jika ingin mempertahankan jabatan. Ia tidak takut kehilangan jabatan. Namun jika dicopot dengan tuduhan mempunyai hubungan rahasia dengan Tiongkok, seluruh keluarganya dapat terkena akibat. Agok dan Chan bisa kehilangan pekerjaan. Babah serta Enci kembali diperiksa. Upayanya membawa Ling Ling pulang justru dapat menghancurkan orang-orang yang ingin mereka lindungi.


Permohonan itu ditolak. Muklis bahkan mulai diawasi secara tidak resmi. Perjalanannya diperiksa. Hubungannya dengan wartawan asing dicatat. Diapun di Tarik dari pos nya di Eopa dan kembali ke Indonesia. Untuk kedua kalinya, Muklis kalah bukan karena cintanya kurang besar. Ia kalah karena negara lebih besar daripada dua manusia yang ingin hidup bersama.  Ling Ling tetap Beijing. Muklis tetap di Indonesia. 


***

Hampir setahun setelah pertemuan di Jenewa, sebuah amplop tiba di kediaman Muklis. Tidak ada nama pengirim. Cap posnya berasal dari sebuah kota di Eropa Timur, bukan Beijing. Surat itu tampaknya dititipkan melalui seseorang agar tidak langsung menghubungkan Muklis dengan Tiongkok. Muklis membuka amplop tersebut di ruang kerjanya. Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah foto hitam-putih. Foto itu memperlihatkan Ling Ling sedang menggendong bayi perempuan. Wajah Ling Ling tampak lebih kurus, tetapi matanya memancarkan kebahagiaan yang tidak pernah dilihat Muklis sebelumnya. Tangannya gemetar ketika membuka surat.


Tulisan Ling Ling hanya beberapa baris: Bang, maaf aku baru dapat mengirim kabar. Putri kita lahir dengan selamat. Matanya seperti matamu. Aku memberinya nama Mei Lan. Mei berarti indah, Lan berarti anggrek—bunga yang tetap tumbuh meskipun jauh dari tanah asalnya. Pada baris terakhir tertulis: Anak kita, Bang.


Muklis duduk tanpa bergerak. Selama bertahun-tahun ia membantu menyusun anggaran negara, mencari pinjaman, dan meyakinkan dunia bahwa Indonesia sedang membangun masa depan. Namun pada saat itu, ia bahkan tidak mampu menyeberangi perbatasan untuk memeluk masa depannya sendiri.

Ia mengangkat foto tersebut dan menyentuh wajah bayi itu dengan ujung jarinya.


Untuk pertama kalinya sejak dewasa, Muklis menangis seperti anak kecil. Di luar jendela, bendera Merah Putih berkibar di halaman kedutaan. Muklis memandangnya lama. Ia mencintai negeri itu dengan seluruh hidupnya. Ia mengabdi tanpa meminta kekayaan. Ia menyelamatkan orang-orang yang dapat diselamatkannya. Ia membawa pulang kredit pembangunan dan menjaga kehormatan negaranya di hadapan bangsa lain. Namun negeri yang dicintainya belum menyediakan tempat bagi istri dan anaknya.


Malam itu Muklis memasukkan foto Mei Lan ke dalam buku bersampul merah pemberian Ling Ling. Buku yang dahulu memuat pesan agar ia tidak melupakan jalan pulang. Kini ia memahami bahwa pulang bukan sekadar kembali ke suatu negeri. Pulang adalah ketika seorang manusia diperbolehkan hidup bersama orang-orang yang dicintainya. Dan untuk Muklis, jalan pulang itu masih dijaga oleh ketakutan, ideologi, serta dendam sejarah.


***

Jalan Pulang

Beijing, 1992.

Dua tahun telah berlalu sejak Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok memulihkan hubungan diplomatik yang dibekukan sejak 1967. Kedua negara mulai kembali bertukar utusan, membuka jalur komunikasi, dan membicarakan perdagangan. Namun bagi Ling Ling, pulihnya hubungan diplomatik bukan sekadar perubahan kebijakan luar negeri. Itu adalah pintu yang perlahan terbuka menuju masa lalu.


Pagi itu, Ling Ling berdiri di ruang kedatangan Bandar Udara Internasional Beijing bersama Mei Lan. Di luar gedung, angin musim gugur menggoyangkan daun-daun poplar. Udara dingin menyusup setiap kali pintu otomatis terbuka.


Sudah beberapa kali Ling Ling memeriksa jam tangannya. Mei Lan berdiri di sampingnya dengan mantel biru tua. Usianya lima belas tahun—sama seperti usia Muklis ketika pertama kali datang ke Jakarta sebagai anak yatim. Wajahnya mewarisi garis lembut Ling Ling, tetapi sorot matanya sangat mirip ayahnya, tenang, tajam, seakan selalu ingin mengetahui alasan di balik setiap kejadian. Di tangannya terdapat foto Muklis yang telah menguning. Foto itu diambil ketika Muklis masih bertugas di Eropa. Lelaki dalam gambar mengenakan jas dan berdiri di depan sebuah bangunan pemerintahan. Selama bertahun-tahun, foto itulah yang dikenal Mei Lan sebagai ayah.


“Mah,” katanya pelan, “apa Papa akan menyayangiku?”


Ling Ling menoleh. Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghunjam tempat paling rapuh dalam hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menjelaskan mengapa Muklis tidak dapat datang. Ia bercerita tentang politik, hubungan antarnegara, dan masa lalu yang rumit. Namun bagi seorang anak, semua penjelasan tersebut tidak dapat menggantikan kehadiran seorang ayah.


Ling Ling menggenggam tangan putrinya. “Kamu adalah mutiaranya,” katanya. “Papa sangat mencintaimu, bahkan sebelum sempat menggendongmu.”


“Tapi Papa belum mengenalku.”


“Dia mengenalmu dari setiap surat Mama. Dia menyimpan fotomu sejak kamu masih bayi. Setiap ulang tahunmu, dia menulis doa meskipun tidak semua suratnya sampai.”


Mei Lan menunduk menatap foto. “Bagaimana kalau Papa kecewa?”


“Mengapa dia harus kecewa?”


“Aku bukan orang Indonesia sepenuhnya. Aku lahir dan besar di sini.”


Ling Ling mengusap pipi putrinya. “Dengarkan Mama. Dalam darahmu mengalir darah Tionghoa dan Minangkabau. Darah para perantau, pedagang, ulama, dan orang-orang terpelajar yang ikut melahirkan gagasan tentang Indonesia. Tetapi seseorang tidak menjadi Indonesia hanya karena darahnya.”


“Lalu karena apa?”


“Karena kesediaannya mencintai negeri itu—termasuk ketika negeri itu belum mampu mencintainya dengan adil.”


Mei Lan memandang ibunya. “Apakah Mama masih mencintai Indonesia?”


Ling Ling tersenyum getir. “Mama pernah marah. Mama pernah merasa dibuang. Tetapi marah kepada tanah air tidak sama dengan berhenti mencintainya. Kadang-kadang kita justru marah karena cinta kita terlalu besar.”


Pengumuman kedatangan terdengar melalui pengeras suara. Ling Ling segera menoleh ke arah pintu. Para penumpang mulai keluar sambil mendorong koper. Ada keluarga, pedagang, diplomat, dan orang-orang yang baru kembali dari perjalanan. Dari kejauhan, Ling Ling melihat seorang lelaki berjalan perlahan membawa koper kulit tua.


Koper itu sama dengan koper yang diberikan Babah Oei kepada Muklis ketika berangkat ke Jepang pada 1957. Warnanya telah memudar. Sudut-sudutnya aus. Namun Muklis menolak menggantinya karena benda itu mengingatkannya bahwa seluruh perjalanan hidupnya dimulai dari sebuah toko kelontong di Pasar Baru.


Rambut Muklis telah dipenuhi uban. Tubuhnya tidak lagi setegap ketika berada di Jenewa enam belas tahun sebelumnya. Akan tetapi, cara berjalannya masih sama: tenang, lurus, dan tidak tergesa-gesa.


Ling Ling mengenalinya sebelum wajah itu terlihat jelas. “Itu Papa kamu,” katanya.


Suaranya bergetar. Senyum merekah di wajahnya, sementara air mata mengalir tanpa dapat ditahan. Mei Lan mengikuti arah pandangan ibunya. “Papa gagah sekali, Mah.”


Ling Ling tertawa di tengah tangisnya. “Dahulu lebih gagah.”


Muklis melihat mereka. Ia berhenti. Selama beberapa detik, orang-orang terus berjalan di kanan dan kirinya, tetapi Muklis seakan berdiri sendirian di tengah waktu. Pandangannya mula-mula tertuju kepada Ling Ling, lalu beralih kepada gadis remaja di sampingnya. Ling Ling tidak sanggup lagi menunggu. Ia berlari. Muklis melepaskan koper dan merentangkan tangan. Ling Ling menghambur ke dalam pelukannya. Enam belas tahun perpisahan runtuh dalam satu dekapan. Ling Ling menangis di dada lelaki yang telah dicintainya sejak masih mengerjakan pekerjaan rumah di meja makan.


“Kamu datang juga, Bang.”


“Maafkan aku terlalu lama.”


“Aku takut akan mati sebelum melihatmu lagi.”


Muklis memegang wajah Ling Ling dengan kedua tangan. “Jangan bicara tentang kematian pada hari kepulanganku.”


Ling Ling mengangguk. Ia kemudian teringat pada gadis yang masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia menarik tangan Muklis dan mengarahkannya kepada Mei Lan. “Bang,” katanya dengan suara pecah, “itu Mei Lan. Putri kita.”


Muklis memandang gadis itu. Mei Lan berdiri kaku sambil memeluk foto ayahnya. Seluruh keberanian yang dikumpulkannya sepanjang perjalanan menuju bandara tiba-tiba hilang. Lelaki di hadapannya bukan lagi wajah di dalam gambar. Ia nyata—dan sedang menatapnya dengan air mata.


Muklis membuka kedua tangannya. Tidak diperlukan kata-kata lain. Mei Lan berlari dan menghambur ke dalam pelukannya. “Papa,” katanya sambil menangis, “Mei kangen Papa.”


Muklis memeluknya erat. Tangannya bergetar ketika mengusap rambut putrinya. “Papa juga rindu, Sayang. Papa sangat rindu.”


“Kenapa Papa lama sekali datang?”


Pertanyaan itu membuat Muklis memejamkan mata. “Karena Papa gagal mengalahkan keadaan.”


“Papa tidak sayang kepada Mei?”


Muklis melepaskan pelukannya sedikit, lalu berlutut agar wajah mereka sejajar. “Lihat Papa.”


Mei Lan mengangkat wajah. “Tidak ada satu hari pun Papa melupakanmu. Ketika kamu lahir, Mama mengirimkan sebuah foto. Papa menyimpannya di dalam buku merah. Foto itu selalu Papa bawa, ke mana pun Papa ditugaskan.”


Muklis mengeluarkan dompet dari sakunya. Di dalamnya terdapat foto hitam-putih Ling Ling sedang menggendong bayi. Lipatannya telah memutih dan pinggirnya hampir robek. “Itu aku?” tanya Mei Lan.


“Ya. Itu satu-satunya cara Papa menggendongmu selama bertahun-tahun.”


Mei Lan mengambil foto tersebut, lalu kembali memeluk ayahnya.

Orang-orang di ruang kedatangan memandang mereka. Sebagian mungkin mengira itu pertemuan keluarga biasa. Tidak seorang pun mengetahui bahwa pelukan tersebut harus menunggu enam belas tahun, dua pemerintahan, dan pulihnya hubungan antara dua negara.


Muklis berdiri lalu memandang Ling Ling. “Mei Lan bisa berbahasa Indonesia?”


“Aku yang mengajarkannya,” jawab Ling Ling. “Dia harus mengetahui bahasa ayah dan ibunya. Dan tentu saja, dia harus tahu jalan pulang.”


Muklis tersenyum. Kalimat itu membawanya kembali kepada buku bersampul merah yang diberikan Ling Ling di Tanjung Priok. Dahulu, gadis itu menulis agar ia tidak melupakan jalan pulang setelah melihat dunia yang luas. Muklis memang tidak pernah melupakannya. Hanya saja, sejarah membuat jalan itu menjadi sangat panjang.


***

Mereka meninggalkan Beijing melalui Hong Kong sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Sepanjang penerbangan, Ling Ling hampir tidak tidur. Ia beberapa kali membuka penutup jendela, meskipun yang terlihat hanya awan dan kegelapan. Mei Lan duduk di antara kedua orang tuanya. Sesekali ia menyandarkan kepala di bahu Muklis, seakan sedang menebus seluruh masa kecil yang dilewatinya tanpa kehadiran ayah.


Ketika pesawat mulai menurunkan ketinggian, suara awak kabin mengumumkan bahwa mereka akan segera mendarat di Jakarta.

Ling Ling menggenggam tangan Muklis.


“Bang.”


“Ya?”


“Aku takut.”


“Takut kepada siapa?”


“Aku tidak tahu. Mungkin kepada kenangan.”


Muklis merapatkan genggamannya. “Kenangan tidak dapat menangkapmu lagi.”


Dari jendela terlihat gugusan lampu Jakarta. Kota itu telah berubah. Tidak ada lagi trem, becak semakin jarang, dan gedung-gedung tinggi berdiri di tempat yang dahulu hanya berupa jalan sempit serta rumah-rumah tua. Namun bagi Ling Ling, setiap cahaya terasa seperti bagian dari sebuah peta lama.


Ketika roda pesawat menyentuh landasan, ia menutup wajah dan menangis. “Indonesia,” bisiknya.


Mei Lan memeluk lengannya. “Mama sudah pulang.”


Ling Ling menggeleng. “Belum, Sayang. Pulang bukan ketika pesawat mendarat. Pulang adalah ketika ada seseorang yang masih membuka pintu untuk kita.”


Muklis memandangnya. “Pintu itu tidak pernah ditutup.”


***

Muklis tidak membawa mereka lebih dahulu ke Menteng. Dari Jakarta, mereka melanjutkan perjalanan menuju Lampung. Rumah Babah dan Enci berdiri tidak jauh dari pesisir. Bangunannya sederhana, dengan dinding kayu dan beranda menghadap pohon kelapa. Di samping rumah terdapat toko kecil yang kini lebih banyak dijaga orang lain. Agok dan Chan telah tiba lebih dahulu bersama keluarga masing-masing.


Kendaraan yang membawa Muklis berhenti di depan halaman. Ling Ling tidak segera turun. Dari dalam kendaraan, ia melihat seorang lelaki tua duduk di kursi rotan. Tubuh Babah telah jauh menyusut. Rambutnya seluruhnya putih. Di sampingnya, Enci duduk di kursi roda dengan selimut menutupi kaki.


“Mah,” kata Mei Lan, “itu Babah dan Enci?”


Ling Ling tidak menjawab. Tangannya gemetar ketika membuka pintu. Ia turun perlahan, kemudian berdiri di halaman seperti seorang anak yang takut dimarahi karena pulang terlambat. Agok keluar dari rumah. Ketika melihat kakaknya, ia berhenti di anak tangga.


“Cici?”

Ling Ling menutup mulutnya. “Agok…”


Chan muncul di belakangnya. Wajahnya langsung berubah. Kedua adiknya berlari menuruni tangga dan memeluk Ling Ling secara bersamaan. “Cici masih hidup,” kata Chan berulang-ulang.


“Maafkan Cici,” ujar Ling Ling. “Cici tidak bisa pulang.”


“Kami tahu,” jawab Agok. “Ko Muklis sudah menceritakan semuanya.”


Tangisan mereka membuat Babah mengangkat kepala. Penglihatannya telah kabur. Ia hanya dapat melihat bayangan beberapa orang di halaman. “Siapa datang?” tanyanya.


Ling Ling melepaskan pelukan adik-adiknya. Ia berjalan mendekat, tetapi kakinya terasa berat. Setiap langkah membawa kembali seluruh masa kecilnya: suara sempoa di toko, meja makan, pekerjaan rumah, pertengkaran dengan Agok, pelukan Enci, dan nasihat Babah.


Ia berlutut di hadapan ayahnya. “Bah,” katanya dengan suara bergetar. “Ling Ling pulang.”


Babah diam.


Tangannya terangkat perlahan, mencari wajah anaknya. Ling Ling segera meraih tangan tua itu dan menempelkannya ke pipinya. Jari-jari Babah meraba dahi, mata, dan rambutnya. “Ling Ling?”


“Ya, Bah.”


Babah menarik napas panjang. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Anak Babah pulang.”


Ling Ling meletakkan kepalanya di pangkuan ayahnya dan menangis seperti anak kecil. “Maafkan Ling Ling, Bah. Ling Ling pergi terlalu lama.”


Babah mengusap rambutnya. “Kamu tidak pergi. Kamu hanya tidak bisa pulang.”


Enci menangis dari kursi rodanya. “Bawa dia kemari,” katanya.


Ling Ling berpindah dan berlutut di hadapan ibunya. Enci menatap wajah anaknya lama sekali, seakan ingin mengganti seluruh tahun yang hilang hanya dengan pandangan.


“Kamu semakin kurus,” kata Enci.


Ling Ling tertawa di tengah tangisnya. “Enci masih saja memikirkan makan.”


“Seorang ibu harus memikirkan makan anaknya. Negara boleh berganti pemerintahan, tetapi anak tetap harus makan.”


Ling Ling memeluk ibunya. “Maafkan Ling Ling.”


“Sudah. Jangan bawa kata maaf ke rumah. Bawa dirimu saja.”

Mereka berpelukan begitu lama hingga Mei Lan yang berdiri di belakang Muklis ikut menangis. Babah mendengar isaknya. “Siapa itu?”


Ling Ling segera berdiri dan memanggil putrinya. “Mei Lan, kemarilah.”


Mei Lan berjalan mendekat, lalu berlutut di antara Babah dan Enci. Ia menyatukan kedua tangannya dengan gugup.


“Babah, Enci,” katanya dalam bahasa Indonesia, “nama saya Mei Lan. Saya cucu Babah dan Enci.”


Babah meraba wajahnya. “Cucu Babah?”


“Ya.”


“Anak Muklis dan Ling Ling?”


Mei Lan mengangguk sambil menangis. “Ya, Bah.”


Babah memandang ke arah Muklis meskipun matanya tidak lagi dapat melihat dengan jelas. “Muklis.”


Muklis mendekat. “Ya, Bah.”


“Kamu menepati janji.”


“Janji apa?”


“Dahulu kamu bilang tidak akan melupakan keluarga ini.”


Muklis berlutut di samping Ling Ling dan Mei Lan. “Saya tidak pernah melupakannya, Bah.”


Babah menggeleng pelan. “Bukan begitu. Kamu bukan hanya mengingat keluarga ini. Kamu menyatukannya kembali.”


Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, keluarga itu berkumpul dalam satu beranda: Babah, Enci, Muklis, Ling Ling, Agok, Chan, dan Mei Lan. Ada wajah-wajah baru—istri, suami, serta anak-anak yang lahir ketika Ling Ling berada di negeri seberang. Namun tidak seorang pun merasa asing.


Malam itu mereka makan bersama. Enci memaksa agar ikan dimasak lebih banyak. Babah beberapa kali bertanya apakah Mei Lan menyukai sambal. Agok menceritakan kenakalannya ketika tinggal di rumah Muklis. Chan menunjukkan foto toko lama di Pasar Baru yang berhasil diselamatkannya.


Mei Lan duduk di antara Babah dan Enci, mendengarkan setiap cerita tentang masa kecil ibunya. “Jadi Mama dahulu sering minta Papa mengerjakan pekerjaan rumah?” tanyanya.


Ling Ling memelototi Agok. “Siapa yang menceritakannya?”


“Babah,” jawab Mei Lan.


Babah tertawa. “Ibumu pintar politik, tetapi malas berhitung.”


Semua orang tertawa.


Di meja makan sederhana itu, sejarah kehilangan kuasanya. PKI, Masyumi, Orde Lama, Orde Baru, Beijing, dan Jakarta tidak lagi mampu memisahkan mereka. Semua ideologi menyusut di hadapan sepiring nasi, semangkuk sup, dan tangan-tangan tua yang kembali menggenggam anaknya.


***

Menjelang tengah malam, Muklis dan Ling Ling berjalan ke pantai.

Bulan menggantung di atas laut. Suara ombak datang bergantian, seperti napas panjang bumi. Di kejauhan tampak lampu perahu nelayan.


Ling Ling menyandarkan kepala di bahu Muklis. “Aku pernah mengira tidak akan melihat laut Indonesia lagi.”


“Sekarang kamu sudah di sini.”


“Aku kehilangan dua puluh tujuh tahun, Bang.”


“Kita semua kehilangan sesuatu.”


“Aku kehilangan masa tua Babah dan Enci. Aku tidak melihat Agok dan Chan tumbuh. Mei Lan kehilangan masa kecil bersama Papanya. Kamu kehilangan kesempatan membesarkan anakmu.”


Muklis diam beberapa saat. “Kita tidak dapat meminta kembali waktu.”


“Itulah yang paling menyakitkan.”


“Tetapi kita masih bisa menentukan arti dari waktu yang tersisa.”

Ling Ling memandang laut.


“Apakah kita generasi yang gagal?”


“Mengapa kamu berkata begitu?”


“Kita bermimpi membangun negeri yang adil. Namun politik mengubah kawan menjadi musuh. Orang dibunuh karena partainya. Keluarga dicurigai karena darahnya. Tuhan, rakyat, dan negara dipakai untuk membenarkan kebencian.”


Muklis mengambil segenggam pasir lalu membiarkannya jatuh di antara jari-jarinya. “Barangkali generasi kita gagal menjaga agar cita-cita tidak berubah menjadi nafsu berkuasa. Tetapi kegagalan bukan alasan untuk mewariskan dendam.”


“Lalu apa yang harus kita wariskan?”


“Kebenaran, tetapi tanpa kebencian. Ingatan, tetapi tanpa keinginan membalas. Kita harus mengatakan kepada Mei Lan bahwa sejarah pernah berlaku kejam, agar ia tidak mengulanginya. Namun kita juga harus mengajarinya bahwa tidak semua orang di dalam kelompok yang salah adalah manusia jahat, dan tidak semua orang dalam kelompok yang benar bebas dari kesalahan.”


Ling Ling menggenggam tangan Muklis. “Dahulu kita berdebat tentang Tuhan dan akal.”


“Aku masih ingat.”


“Aku takut kamu menjadi orang yang membenci manusia demi membela Tuhan.”


“Dan aku takut kamu menolak Tuhan demi membela manusia.”

Ling Ling tersenyum.


“Pada akhirnya kita sama-sama keliru.”


“Dalam hal apa?”


“Tuhan tidak membutuhkan kebencian untuk dibela. Manusia juga tidak perlu menolak Tuhan untuk memperoleh keadilan.”


Muklis mengangguk. “Mungkin itulah pelajaran dari seluruh hidup kita. Akal mengajarkan manusia memahami perbedaan. Iman mengajarkan manusia tetap mencintai ketika akal tidak lagi menemukan jalan.”


Mereka berhenti di tepi air.


“Bang,” kata Ling Ling, “apakah aku benar-benar sudah pulang?”

Muklis memandang rumah kayu di kejauhan. Dari jendelanya masih terlihat cahaya. Di dalam rumah itu terdapat orang tua yang menunggu hampir tiga puluh tahun, dua adik yang tidak pernah berhenti mengingat, serta seorang anak yang baru mengenal tanah air ayahnya.










Pendidikan Adalah Jalan Naik Kelas

  Setelah satu bulan Amel mengikuti sekolah malam untuk mendapatkan ijazah SMA, saya datang ke tempat belajarnya di kawasan Cempaka Putih. S...