Friday, May 23, 2025

Korup dan jebakan utang

 




Saya duduk santai di teras outlet retail market. Tunggu Lina jemput saya. Mau merokok tidak ada asbak. Saya terpaksa urung merokok. Ada anak muda mendekati saya. “ Pak, ini Asbak nya. “ Katanya ramah. Sepertinya dia lihat saya mau merokok batal karena tidak ada asbak. 

“ Kamu merokok ? tanya saya.

“ Ya pak. “

“ Tarik aja kursinya ke mari. Jadi kita satu table. Merokok bareng. “ kata saya tersenyum. Dia membalas senyum dan menarik kursinya. Pria ini anak baik. Tahu sopan santun kepada orang tua seperti saya.  Sesuatu hal yang sudah jarang terjadi di era sekarang. 


Belum satu batang rokok habis. Saya lihat pria itu berdiri dan mendekati wanita yang baru turun dari motor bersama pria.  Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Karena agak jauh. Namun keliatan wanita itu menunjuk nunjuk pria itu. Tak lama. Wanita pergi berlalu naik motor bersama pria temannya. Pria itu kembali ke table. Dia seperti baru tersengat listrik. Wajah nya pucat.


“ Kamu baik baik saja” Tanya saya kepada pria itu. Dia menoleh kesaya. Berusaha tersenyum. “ Saya sengaja duduk disini untuk mergoki pacar saya selingkuh. Kata teman saya, dia selalu dari kantor di Sudirman diantar pria ke stasiun untuk pulang.  Tadi saya saksikan dengan kedua mata dan kepala saya. Dia mengakui.  Saya berusaha memaafkan. Tetapi sepertinya dia tidak ingin lanjutkan hubungan dengan saya. “ kata Pria itu.


“ Sabar aja. Biasa itu. Kamu masih muda. Masa depan kamu masih Panjang. Engga usah dibawa hati. Dulu waktu saya muda seperti kamu juga Mengalami hal yang sama. “ Kata saya berusaha memberi semangatnya.


“ Yang salah saya. Sudah dua tahun pacarana. Saya belum siap diajak menikah.” 


“ Kenapa ?


“ Saya kerja di perusahaan Marketing sebagai Admin online. Gaji take home pay Rp. 6 jutaan sebulan. Untuk saya sendiri saja tidak cukup. “ Katanya.


“ 6 juta kan diatas UMR. Kenapa engga cukup? Tanya saya.


“ Hitung aja.” Katanya. “  Uang kos Rp. 1,5 juta. Makan dan minum Rp. 1,5 juta. Bayar quota Rp. 200.000. Angsuran Hape Rp.500.000. Bayar angsuran motor Rp. 600 ribu. Angsuran pinjol Rp 1. Juta. “ Katanya. Sebetulnya masih ada sisa tuh duitnya. Dan tentu masih ada celah untuk berhemat. Kalau menikah, biaya hidup bisa dikelola bersama dengan istri, yang katanya juga bekerja. Tapi udahlah. Engga perlu saya pertanyakan lagi. 


Di hadapan saya adalah contoh generasi muda, yang kata statistic berjumlah 44,47 juta jiwa pada tahun 2023. Dan anak muda itu harus bersukur. Karena dia tidak termasuk dari 9,9 juta anak muda yang tidak bekerja, berpendidikan atau tidak terlatih berkerja. Harus bersukur karena tidak termasuk 40 juta orang yang bekerja dengan gaji dibawah Rp. 5 juta sebulan. Tentu tidak termasuk 60% dari populasi Indonesia yang miskin menurut bank dunia.


Tahun 1983 pertama kali kerja sebagai salesman. Gaji saya Rp. 150.000. Kalau dikurs kan dengan harga emas yang saat itu Rp. 7500 per gram. Sekarang harga emas Rp. 1,5 juta/gram. Artinya pendapatan saya sebulan setara dengan Rp. 30 juta pada saat sekarang. Makanya saya bisa merencanakan masa depan termasuk menabung. Tahun 85 saya sudah tidak lagi salesman. Dengan tabungan yang ada saya bisa jadi pengusaha formal.


Era saya generasi baby boomers, cari uang di kota itu mudah bagi yang tamat SMA. Teman seangkatan SMA saya kebanyakan memilih masuk universitas. Wirausaha dianggap orang gagal yang tidak qualified bekerja pada pemerintah. Umumnya yang sarjana engga sulit dapatkan kerjaan bergengsi di Instansi pemerintah atau BUMN atau PMA. Maklum saat itu yang sarjana tidak banyak. Makanya mudah dapatkan jodoh. Engga aneh kalau saya dapat istri karena dijodohkan orang tua.  Karena saya hanya tamatan SMA.


Tapi saya tidak bisa menyalahkan anak muda itu bila dia  tidak bisa berhemat dan bersyukur. Mengapa ? Keadaan kelas menengah seperti anak muda itu dikepung oleh ekosistem rente. Tersedianya fasilitas berhutang yang mudah lewat fintech, seperti Paylater, pinjol. Tersulut budaya konsumsi yang berasal dari social media. Yang era saya tidak ada itu. Belum lagi rendahnya literasi keuangan dalam mengelola penghasilan dan merencanakan masa depan, membuat mereka sampai tua tidak akan mengalami  financial freedom. 


Dalam skala nasional, model pendapatan kelas menengah seperti itu akan membuat middle income trap. Stuck. Maju engga bisa, malah kalau tidak ada terobosan kebijakan nasional  bisa terancam jatuh jadi negara poor lagi.  Karena jumlah penduduk terus bertambah, angka penganguran meningkat, sementara sumber daya income negara tidak meningkat significant. Negara harus terus berhutang untuk menutupi defisit anggaran. Artinya masyarakat  maupun negara masuk dalam  skema debt trap.


***

Lina akhirnya datang jemput saya untuk meeting di kantor teman. “ Pak, berita kemarin mantan pejabat MA yang kena OTT. Di rumahnya ada uang cash hampir Rp 1 triliun. Gila ya segitunya korupsi dan TPPU yang tercatat di luar system perbankan. Itu yang ketahuan, yang engga tahuan mungkin lebih besar lagi. ” Kata Lina sambil setir.


“ Sementara yang tercatat secara system perbankan lebih besar lagi. Pada tahun 2024, PPATK mengidentifikasi total transaksi keuangan mencurigakan sebesar Rp1.500 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1000 triliun diduga terkait dengan tindak pidana korupsi. Selain itu, transaksi mencurigakan terkait perjudian daring mencapai 360 triliun. 


Kalau membaca data yang ada, dengan jumlah yang sangat besar itu,  tidak akan terjadi tanpa keterlibatan system kekuasaan. Dan terbukti, sekian besar korupsi tidak banyak yang masuk penjara. Kalau ada yang masuk penjara, tidak menjangkau actor intelektual. “ Lanjut Lina.


“ Mengapa terkesan terjadi pembiaran korupsi itu? Tanya Lina.


“ Semua karena bisnis. “ Kata saya sekenanya dan tersenyum. 


“ Maksudnya ? 


“ Dalam system demokrasi terbuka, kekuasaan itu just a business. Mau jadi caleg, kepala daerah, bahkan presiden, tanpa uang engga mungkin bisa lolos melewati proses yang berkompetisi. Mau berkarir bagus di BUMN, di instansi pemerintah, harus pintar dekati elite politik. Semua proses politik itu perlu ongkos. Engga ada yang gratis. Termasuk kalau semua cerita itu berujung skandal, aparat hukum juga minta uang. Siapa yang ongkosi? Ya pengusaha. “ kata saya.


“ Artinya, pengusaha lah penyebab system yang ideal terdistorsi.” Kata Lina mengerutkan kening.


“ Idealisme itu karena idiologi. Nah system yang ada menghapus idiologi. Jadi tidak ada istilah terdistorsi.  Semua berlaku business as usual “ 


“ Tapi kan engga banyak pengusaha yang mampu capitalisasi kekuasaan untuk menghasilkan uang banyak. Apalagi keluar uang lebih dulu untuk ongkosi politik sebelum hasil didapat. “ kata Lina.


“ Benar. Karena memang create peluang rente itu tidak mudah. Perlu kecerdasan, networking business kelas dunia dan menguasai literasi keuangan dan ekonomi. Jadi untuk jadi oligarki, juga harus bersedia jadi komprador asing.” Kata saya.


  Contohnya ?


“ Business pembangkit listrik dalam skema PPP. Dengan adanya vendor international, maka Power purchase agreement dengan PLN akan mendatangkan uang mudah dari vendor. Kamu jadi pemilik pembangkit listrik yang pasar dan resikonya dijamin oleh negara. Kalau investasi katakanlah Rp 1 triliun, kamu mark up jadi Rp. 2 triliun. Terus kamu korbankan sebesar 500 miliar rupiah untuk pejabat, elite politik, termasuk ormas. Kan bukan masalah. Its just a business. 


Kalau kamu punya buyer international yang punya kapabilitas sebagai offtaker market. IUP mineral tambang yang kamu dapat dari pemerintah, itu bisa mendatangkan uang tanpa kamu keluar uang banyak. Semua proses explorasi, exploitasi, smelting di tanggung oleh buyer lewat skema counter trader off set. Kalau kamu dapat uang Rp. 100, kamu bagi Rp. 10 untuk pejabat, elite, aparat, dan ormas untuk amankan konsesi kamu, kan engga ada masalah. “ Kata saya.


“ Sekilas bisnis rente semacam itu mendatangkan pajak dan menyerap Angkatan kerja. Sama saja dengan bisnis kebun sawit. Dimana investasi dari offtaker market di Singapore, pengusaha local hanya jadi proxy aja. “ Kata Lina.


“ Tapi proses nya engga berhenti sampai disitu aja. “ Kata saya. “ Biasanya bisnis rente itu masuk ke bursa. Lagi lagi perlu dukungan elite dan pejabat otoritas untuk meloloskan agenda IPO. Engga sulit ajak Lembaga Dana Pensiun BUMN jadi standby buyer untuk create value saham diatas ratusan kali dari harga buku. Karena proses ini adalah rekayasa. Berlalunya waktu saham akan terus jatuh semakin jauh dari harga perdana.” Kata saya.


“ Ya. Akhirnya yang korban adalah dana pensiun, dana haji, dana asuransi. Karena uang yang sudah berubah jadi asset saham, nilainya susut. Bank yang ikut memberikan kredit kepada emiten itu, juga terjebak dengan collateral saham yang terus turun. Berpotensi NPL. Investor retail yang bego juga jadi korban halu bursa saham. Pada gilirannya penerimaan pajak negara juga susut. Karena business plan dari emiten memang bukan untuk create value lewat growth real, tapi hanya money game dan money laundry.  “ Kata Lina menyimpulkan. Saya senyum aja.


“ Apakah kita masih bisa berharap dengan rezim yang ada sekarang? Tanya Lina. Saya diam saja.


“ Mengapa kamu peduli dengan keadaan politik? Saya mengerutkan kening. " Bukankah hidup kamu sudah aman. Sebagai dirut dari group perusahaan, kamu dapat gaji setahun diatas Rp. 5 miliar. Belum lagi fasilitas yang kamu dapat. “ Tanya saya sambil rebahkan kursi untuk siap tiduran. “Aneh..” gerutu saya.


“Memang Lina secure. Tetapi itu didapat dari profesionalitas yang tentu karena Pendidikan. 90% rakyat Indonesia tidak bisa seperti Lina. Kalau orang seperti Lina tidak peduli, lantas siapa lagi yang akan melindungi rakyat miskin dan bodoh ? kata Lina. Saya senyum aja. Dia engga tahu. Orang miskin dan bodoh sudah dibeli oleh elite untuk jadi buzzer  menyerang mereka yang kritis dan ironinya dalam kemiskinan dan kebodohan, malah jadi pendukung setia.


“ Kalau ketidak adilan terus terjadi dan sangat vulgar. Lama lama rakyat miskin pasti marah. Pada akhirnya orang sepeti Lina ini engga lagi secure.  “ lanjut Lina. Saya diam saja. Karena sikap Lina itu make sense. Tapi just a business. Kalau ingin hidup kita aman ya harus pastikan orang lain juga aman. Tapi itu tidak dipahami oleh orang rakus. “ Bangunkan saya kalau sudah sampai” kata saya mejamkan mata. " Apakah nasip atau kutukan bagi kita. living in a dangerous place" terdengar sayup sayup suara lina.

 

Thursday, May 22, 2025

Mengapa IDR menguat atau melemah ?

 






Saat santai di cafĂ© sore hari bersama Albert, Doni dan Hasan. Kami berteman lebih dari 20 tahun. Di usia menua kami sudah jarang bersibuk diri di luar rumah. Hanya keluar rumah kalau ada meeting penting. Setelah itu santai lagi. “ Bet,  lihat tuh Rupiah menguat. “  Doni berujar seraya mencibir. “ Mana ramalan lue rupiah bakal tembus Rp. 20.000.? mingkem dah lue “ Lanjut Doni ketawa.


“ Ah jangan besar hidung duluan lue. Tunggu aja, entar juga tumbang.” Jawab Albert. Saya senyum aja. Albert dan Doni cermin orang kebanyakan. Walau mereka bedua pengusaha. Tetapi tidak begitu paham dibalik pergerakan kurs. Mereka hanya tahu dari berita media mainstream. Umumnya pendapat pengamat ahli atau analis keuangan pada perusahaan forex, yang bisa jadi itu bagian  dari influencer bursa, yang kadang bias. Memancing orang awam berspekulasi forex.


“ Dalam system Kurs mengambang bebas maunpun terkendali, kurs menguat atau melemah, itu biasa.  Kuat belum tentu bagus, lemah belum tentu buruk” 


“ Loh kok pengertiannya jadi absurd. Kalau kurs lemah, itu artinya buruk. Kalau kuat, ya  bagus. “ Kata Albert. 


“ Ya engga begitu. “ kata saya tersenyum. “ Yang harus dipahami bukan berapa kurs tetapi apa yang membuat kurs menguat atau melemah. Dengan memahami itu, kita bisa tahu apakah kurs melemah bagus atau kuat bagus. Atau sebaliknya, kuat dan lemah engga bagus.” Kata saya.


“Mengapa ? Doni mengerutkan kening.


“ Menguatnya IDR terhadap USD, itu bukan berarti fundamental ekonomi kita kuat atau kebijakan fiskal dan moneter kita hebat. Faktanya ruang fiscal sangat sempit untuk ekspansi akibat defisit. DSR kita hampir 50% terhadap penerimaan negara. Sementara moneter kita juga rentan terhadap capital outflow. Itu bisa dilihat dari data akhir tahun 2024, posisi Investasi International kita mengalami defisit USD 245 miliar. Neraca pembayaran dan transaksi berjalan masih defisit kwartal 1 tahun ini.


Artinya kekuatan kurs kita ditopang sepenuhnya oleh utang luar negeri atau factor eksternal. Nah, konsekuensi nya kalau Index USD atau DXY melemah.  Otomatis asset bermata uang USD jadi menyusut nilainya. Investor  jual USD dan pindah ke asset bermata uang negara emerging market, termasuk Indonesia. Akibatnya permintaan rupiah jadi meningkat di pasar untuk berinvestasi pada surat utang negara dan saham. Menguatlah kurs IDR  terhadap USD.  


Nah yang jadi masalah adalah apakah IDR menguat itu bagus ? Perhatikan. Kalau DXY melemah artinya Cadev kita yang berupa asset bermata uang USD juga menyusut nilainya. Tentu kekuatan Cadev menjaga stabilitas belanja valas jadi melemah. Kalau Cadev tidak di topup tentu beresiko. Itu buruknya. Makanya response BI sangat menentukan terhadap fenomena market ini. “ kata saya.


“ Apa response BI sekarang dengan kurs IDR menguat terhadap USD, ? Tanya Albert.


“ BI turunkan suku bunga. “ jawab saya.


“ Mengapa ? albert penasaran ingin tahu.


“ Dengan turunnya suku bunga BI, IDR semakin kokoh dan liquid. Biasanya dengan USD melemah, harga komoditas ekspor seperti minerba dan CPO akan naik di pasar Global. Nah ini peluang mendapatkan valas untuk topup cadangan devisa yang menyusut.” Kata saya seraya tersenyum. 


“ Terus apa yang terjadi kalau karena USD melemah diikuti dengan kebijakan the Fed menurunkan suku bunga T-bill.? Tanya Albert. Nah ini seperti berita media massa, yang selalu menyebut issue kenaikan atau turunnya suku bunga the fed


“ Likuiditas akan semakin mengalir deras ke luar AS. Mengalir ke surat utang negara yang yield nya lebih tinggi. Termasuk ke Indonesia. Itupun kalau suku bunga dan value SBN kita lebih tinggi dari Tbill. Mau engga mau kan BI engga leluasa menurunkan suku bunga. Harus jaga spread yang reliable untuk mengalirkan likuiditas ke Indonesia.


Artinya kurs yang terlalu kuat akibat aliran modal lewat pasar uang, itu juga engga bagus. Itu hot money. Berongkos mahal. Apa jadinya kalau terjadi pembalikan. Uang balik ke AS. Kan bisa tumbang moneter kita. Jadi BI harus sangat prudent mengelola kurs dan likuiditas.” Kata saya.


“ Maksud, Ale “ kata Hassan menimpali. Mungkin dia lihat mereka tidak paham apa yang saya katakan. ” penguatan kurs rupiah terhadap USD lewat moneter tidak bisa dijadikan andalan  menjaga stabilitas rupiah. Karena gimanapun juga stabilitas kurs yang sehat itu berasal dari kekuatan fiscal. Nah fiscal itu terkait dengan defist APBN dan defisit neraca pembayaran dan neraca berjalan  “ Lanjut Hassa. Dia memang sarjana Ekonomi dan punya usaha bisnis konsultan.


“ Mengapa ? Tanya Albert


“ Karena USD melemah akan membuat harga komoditas di pasar global naik dan menjadi mahal bagi konsumen AS. Nah ini akan memicu inflasi. Yang pada gilirannya the fed terpaksa naikan lagi suku bunga guna meredam inflasi. USD akan mengalir lagi ke AS. IDR akan melemah. Rentan sekali. Kecuali memang fiscal kita sehat. Mau kuat atau lemah USD, IDR  tetap solid dan stabil menjadi mesin pertumbuhan “  Kata Hassan.


Albert dan Doni menyimak. Saya senyum aja.


“ Bisa jadi pelemahan USD ulah AS sendiri, atau by design. Karena AS gagal perang dagang dengan China, ya cara terbaik agar harga ekspor produk AS murah di pasar dunia, ya jatuhkan nilai  USD. Jadi dari segi harga AS lebih kompetitif terhadap China dan negara lainnya dan ini mendorong arus investasi real masuk ke AS. “ Lanjut Hassan.


“ Ya bisa juga begitu. Namun tidak bisa cepat proses relokasi indusri ke AS. Karena struktur industry AS tidak bisa bersaing dari segi upah dan ekosistem dengan China dan negara lain. Sebagai substitusi dari tarif resiprokal, penurunan USD, itu termasuk smart. “ kata saya.


Albert dan Doni saling tatap. Entah mereka ngerti atau engga. Saya diamkan saja sambil seruput kopi.


“ Dari penjelasan lue, Ale dan ditambah dari Hassan, kata kuncinya ada pada kekuatan fiscal. Kurangi defisit dan tingkatkan penerimaan negara. Artinya kerja keras meningkatkan pajak atau berusaha hemat APBN. “ Kata Doni sambil mengangguk.


 “Gimana dengan program populis Pemerintah sepeti MSB, 3 juta rumah dan Koperasi desa Merah Putih. Bukankah itu membuat APBN jadi defisit dan rasio utang meningkat terhadap PDB?  ” Tanya Abert.


‘ Setahu saya, selama 6 bulan pemerintahan Prabowo, efisiensi itu berjalan efektif. Belanja Kementerian kontraksi 11%. Sementara  realisasi belanja MSB baru 3% sampai April. Realisasi pengadaan rumah 3 juta juga 3 %. Soal koperasi Desa Merah Putih. anggaran dialokasikan kepada Pemda. Tidak menambah pos APBN. Ya, anggaran ada tapi standar kepatuhan untuk belanja diperketat. Kan sama saja ikat pinggang kencang kencang. “ Kata Hassan. Saya senyum aja. 


“ Prabowo smart. Dia player soal control uang. Uang masuk welcome, uang keluar entar dulu. Program tinggal program tapi kalau Menteri engga bisa bawa duit non APBN atau tingkatkan penerimaan negara  ya sorry aja. “ kata Doni tersenyum.


“ Memang caranya itu berdampak kepada kinerja pemerintah jadi engga keliatan. Terkesan hanya omon omon doang. Ya wajar. Sebagai konsekuensi berkurangnya ekpansi pemerintah lewat belanja APBN “ Kata Hassan.


“ Make sense. Background Prabowo kan pengusaha. Dimana mana pengusaha kan begitu mindset nya ” kata Albert. Doni mengacungkan jempol. Nah berdamai mereka. Saya senyum aja.


Saya seruput kopi dan melirik ke arah table yang agak jauh. Hassan melihat ke arah table itu “ Itu istrinya Ale, merangkap jadi supirnya. Ale kan engga bisa setir.” Kata Doni tersenyum seakan menjawab rasa ingin tahu Hassan terhadap wanita yang terus saya lirik dari tadi.


“ Ya gara gara Ojol pada demo, terpaksa istri antar gua meeting tadi di SCBD. Terus udah meeting, kemari ketemu lue orang.” Kata saya.  Hassan tersenyum. 


" Indah sekali masa tua Ale, Selalu bersama dengan istri. " Kata Albert.

" Ya padahal masa mudanya sibuk banget. Mungkin setahun 3 bulan  di atas pesawat dia. " Kata Doni.


“ Ale, lue kan lama di China. Gimana aturan soal ojol di China. “ Tanya Hassan.


“ Di China, provider aplikator harus menjamin pendapatan driver tidak boleh dibawah UMR. Harus dapat fasilitas asuransi dan jaminan jam kerja tidak boleh diatas normal. Provider aplikator juga harus transfarance terhadap cost operationya,  sehingga kalau mereka mengenakan tarif fee, itu bisa diterima oleh driver. Artinya tarif fee harus persetujuan dari driver sebagai mitra.” Kata saya.


“ Wah demokratis sekali mereka ya. Padahal mereka tidak menerapkan demokrasi liberal” Kata Hassan. 


“ Demokratis itu memungkinkan lebih buruk daripada otoriter. Karena merasa suara mayoritas suara Tuhan. Walau perbedaan suara hanya kurang 10%. Yang terjadi, yang mayoritas menganeksasi yang minoritas.  Apalagi electoral vote diongkosi oleh pengusaha. Dimana mana begitu” Kata saya dengan tersenyum. “ Ya udah. Gua undur diri dulu. Kasihan istri kelamaan nunggunya. Sehat selalu ya.” Kata saya menyalami mereka satu persatu. Sebelum pergi istri bayar bill kami.


Wednesday, May 21, 2025

Kepentingan nasional atau personal?

 




Saya makan siang bersama Abeng, Akim, Akok dan Herman di  Kawasan Jayakarta. Kami berteman sejak tahun 80an. Saat usia muda sebagai salesman jalanan. Tentu usia kami kini tidak jauh beda. Diatas 60 tahun semua. Walau kami semua pengusaha dan berbeda bisnis. Namun persahabatan tetap terjalin sampai kini.  “ Hebat ya. “ Seru Herman. “ BYD perusahaan China berinvestasi di Subang. Investasi lebih Rp 15 triliun. Rencana tahun 2026 selesai dibangun. Kapasitas engga tanggung tanggung. Mencapai 150.000 unit kendaraan listrik. ” Lanjutnya


“ Belum lagi, PT Frisian Flag Indonesia sedang bangun fasilitas pabrik baru dengan luas 45 hektar, berkapasitas  400.000 kilogram susu segar setiap hari.” Kata Hermen dengan bersemangat. Dia satu satunya teman kami yang bukan pengusaha kreatif. Bisnisnya lebih berfocus kepada rente, bidang minerba dan pembangkit listrik. Memang dia kaya karena itu dan tak nampak berlelah urus bisnis. Mitra asing nya yang handle operation. Dia duduk manis dapat cuan.


Saya melirik Abeng yang tersenyum melihat ke Herman. 

“ Artinya ambisi Presiden untuk mencapai petumbuhan 8% bukan omong kosong. Walau sekarang menurut IMF, tahun ini diprediksi PDB tidak tumbuh diatas 5%. Namun ditahun tahun mendatang harapan itu ada. “ Kata Herman lagi.


“ Man, seru saya. “ BYD bangun pabrik di Subang hanya manufacture. Semua bahan seperti baterai, motor listrik, dan sistem elektronik, didatangkan dari China. Di sini hanya merakit saja. Begitu juga dengan Frisian Flag, 80% bahan baku susu dari impor. Hanya 20% local, itupun harga murah karena kualitas rendah.


Seperti halnya BYD dan Frisian Flag, mereka bangun pabrik dengan tujuan memanfaatkan pasar domestic kita yang besar. Nilai tambah terbangunnya TKDN dalam negeri tidak ada. Justru memperkuat basis produksi mereka kuasai pasar domestic dan Kawasan ASEAN. Dan kita hanya konsumen.  “ kata saya.


“ Loh gua dengar BYD dan Frisian Flag punya program peningkatan TKDN. Bahkan pemerintah beri insentif untuk itu.” Kata Herman.


“ Duh, kita semua tahulah. Aturan dengan kenyataan beda. Logika aja. Kalau pemerintah memang peduli kepada local konten, mengapa mengizinkan BYD buat pabrik di Indonesia. Kan kita tahu, BYD itu pabrik ekosistem EV, yang 70% part nya mereka produksi sendiri. Engga mungkin mereka mau patuhi TKDN. “ Kata Abeng tersenyum. 


“ Begitu juga dengan Frisian Flag, anak perusahaan dari Friesland Campina yang bermarkas di Belanda. Mereka kan raksasa food dan beverage kelas dunia. Mereka punya pabrik di 100 negara dan di sini mereka sudah beroperasi sebelum Indonesia merdeka “ Lanjut Abeng.


“ Ya benar, Kemarin Apple gagal investasi karena alasan TKDN. Seharusnya Apple belajar sama orang China dan Belanda gimana elus telor pejabat kita. “ kata Akok menyela. Semua ketawa. Saya senyum aja dan Herman tersenyum masam.


“ Tapi kan investasi masuk dan itu berdampak kepada pertumbuhan ekonomi dan menyerap Angkatan kerja. Benar engga?” Kata Herman berargumen menatap saya. 


“ Benar. “ kata saya tersenyum. “ Tetapi pertumbuhan ekonomi lewat investasi tidak selalu bagus kalau ingin mencapai pertumbuhan berkelanjutan. “ Kata saya.


“ Mengapa? Tanya herman.


“ Mereka yang invest itu kan datang ke Indonesia dengan mindset pedagang. Bukan mindset industry yang membutuhkan riset untuk kemandirian kita sebagai bangsa. Kalau pasar jenuh akibat persaingan dengan produk impor atau perubahan tarif, mereka akan redup dan hengkang ketempat lain. Kan itu sudah dibuktikan sejak era Soeharto. Pabrk datang dan pergi begitu saja. Kita tetap aja tidak mandiri. Malah terjadi deindustrialisasi “Kata saya.


“ Engga ngerti gua. “ kata Herman. Awi dan Abeng tersenyum melihat Herman mengerutkan kening.


“ Selama era Jokowi total  investasi APBN untuk infrastruktur mencapai Rp. 3000 triliun lebih. Kalau ditambah proyek PSN bisa mencapai Rp 4000 triliun lebih. Artinya setiap tahun lebih Rp. 400 triliun dana investasi. Hasilnya rata rata pertumbuhan PDB hanya mencapai 5%. Bandingkan dengan Vietnam dan Rwanda yang mampu mencapai pertuumbuhan diatas 6%. Padahal investasi mereka tidak sebesar kita. “ Kata saya.


“ Dan lucunya udah begitu besar investasi APBN dengan growth hanya 5%, makmur juga engga. Malah kemiskinan menurut bank dunia diatas 50% dari populasi.  Makanya perlu bansos dan subsidi sebagai bantalan ekonomi yang selama era Jokowi mencapai Rp 6000 triliun lebih.  Nah kini saat ruang fiscal terbatas, DSR terhadap penerimaan negara hampir 50%, tidak cukup uang untuk ekspansi, pertumbuhan malah drop. Paham lo man! “ kata Abeng. 


“ Artinya memang engga salah investasi bisa memicu pertumbuhan, tapi tidak  menjamin inklusif dan tidak menjamin terjadinya sustainable “ kata saya  menimpali untuk dipahami Herman. Memang diantara kami hanya Abeng yang sarjana ekonomi lulus tahun 86,


" Januari 2024, Mubadala Energy berhasil menemukan cadangan gas  di Blok Andaman II dan South Andaman,  lepas pantai Aceh. Ini merupakan salah satu cadangan gas terbesar di dunia. Rencananya tahun 2025 sudah final investment decision. Ini investasi raksasa. Tentu akan meningkatkan PDB kita. “ Kata Herman lagi dan ngotot.


“ Sampai sekarang engga jelas tuh kelanjutan dari Proyek itu. Memang engga mudah dan engga pasti. Yang pasti, Mubadala Energy udah dapat kontrak jual Gas ke Pupuk Indonesia, dengan produksi gas dari sumur Tangkulo-1. Rencana delivery akhir 2028. Dan kalaupun nanti Blok Andaman II dan South Andaman berproduksi, gua dengar semua di offtake oleh Pertamina. Jadi kita yang punya SDA, orang asing yang invest, market nya kita sendiri, dan lucunya market international price dengan mata uang USD. Bukan IDR. " Kata saya.


" Well, you know. In reality, our officials are not smart enough to be trusted to manage natural resources for national interests. They only work for personal interests. " Kata Abeng menimpali. Kami semua tersenyum. Walau kami jarang ketemu namun setiap pertemuan sangat menyenangkan. Seakan masih terasa muda. Ya teringat dulu waktu masih muda kami melata di jalanan untuk bertahan hidup sebagai salesman.


“ Jadi baiknya menurut lue gimana ? tanya Herman tetap focus ke saya tanpa peduli komentar Abeng. 


“ Sebaiknya industry yang mengandalkan pasar domestic dan bahan baku impor dikelola oleh BUMN. Jadi pemerintah bisa awasi langsung perkembangan local konten atau TKDN. Keterlibatan UMKM sebagai supply chain akan lebih banyak. Multiplier effect terjadi. Program sinergi riset antar lembaga pemerintah dan antar swasta bisa lebih terarah. Dengan itu kita bisa berharap tercapai kemandirian dalam jangka Panjang. Engga takut dengan hengkang nya asing. Sehingga pertumbuhan bisa sustain.” Kata saya.


“ Ah BUMN lagi.” Kata Akim kibaskan tangan. Padahal dari tadi dia diam Ternyata dia menyimak pembicaraan kami “ Sejak kapan BUMN melaksanakan tugas negara? Yang ada malah boncosin APBN, minta talangin utang bank karena rugi dan skandal korupsi ” Lanjut Akim.


  Aneh aja. “ Sela Akok. “ Di group gua engga pernah dengar tuh anak usaha yang berani minta suntikan modal  atau minta bailout utang bank. Laporan kwartal laba dan omzet turun, udah gua omelin dirutnya. "


“ Akhir tahun rugi, pecat semua dewan direktur yang engga Kok” kata Abeng ketawa.  

“ Kita kan bayar kerjaan, bukan bayar orang. Enak aja mereka hidup mewah dengan fasilitas perusahaan. Pas rugi ngeles. Kick out lah “ Timpal Akok. 


“ Susah sama lue orang. Paranoid terus“ kata Herman dengan nada kesal. 


" Ya bedalah dengan lue. Yang kaya raya karena bisnis konsesi. Harus elus telor terus pemerintah. " Kata Akok.


"Kritis itu sehat dan menyehatkan. Sama dengan bini di rumah. Engga berhenti ngomel salahin kita. Kan awet muda kita semua. " kata Akim.

Aku dekat lewat doa..

  Setiap pagi jalan ke sekolah aku tahu Ale ada di belakangku. Sekolah kami beda. Sekolah Ale lebih jauh.  Aku tidak perlu menoleh untuk mer...