Saturday, October 02, 2021

Sahabat.

 


Tahun 2004 di Kereta dari Zhenzhen ke Hong Kong saya melihat ada wanita duduk di samping saya sedang membaca novel berbahasa inggris. Saya seperti melihat air di tengah padang pasir. Maklum saya sedang bingung mendapatkan teman bicara. Semua orang di China tidak banyak yang bisa berkomunikasi bahasa inggris. Saya tidak paham bahasa Mandarin. Sementara, teman yang sudah hijrah di China sejak tahun 1998, tidak ada waktu menuntun saya berbisnis di China.  Maklum dia sangat sibuk. Saya lirik ke samping. Mencoba ramah dan tersenyum. 


“ Sepertinya anda sangat menikmati novel itu.” Kata saya dalam bahasa inggris. Dia melepas kacamata bacanya dan menoleh ke saya. “ Ya memang menarik sekali novel ini.” katanya memperlihatkan judul novel itu. “ Frankenstein”. Saya tahu novel itu.  Pernah bacanya. 


“ Penulisnya hebat dan berbakat. “ Kata saya.


“ Oh ya. Yang anda maksud  Mary Shelley ?“


“ Ya. Novel itu ditulisnya pada usia 18 tahun. Karena masih muda, penerbitnya tidak menyantumkan namanya. Tapi 12 tahun kemudian, pada terbitan kedua, namanya disebut. Diapun jadi terkenal. Itu sebenarnya novel mencari Tuhan dan memperolok sains. Artinya bijaklah hidup ini. Sains memang hebat, tetapi ia akan bernilai ketika orang tahu batas dirinya. “ Kata saya. Dia mengangguk.  


Setelah itu dia mulai relax. Ramah. “ Kenalkan. Nama saya, Wenny.” Katanya menjulurkan tanganya. Saya terima “ Nama saya, Jelly.” 


Hanya 20 menit perkenalan itu. Sebetulnya saya ingin lebih lama dan minta tolong. Tetapi terlalu naif untuk menawarkan sesuatu kepada orang yang baru kenal, apalagi di negeri orang. Kami berpisah di Hong Kong. Malamnya saya pergi ke Wachai untuk minum di Bar khusus untuk orang asing. Itu cara saya mendapatkan jaringan pertemanan dengan cara mudah. Ketika saya sedang berbicara santai dengan pengunjung Bar lain, orang Swiss, saya melihat ada wanita di table Bar. Itu Wenny. Apakah ini yang disebut Jodoh pertemanan. Ketika kami saling bersetatap, dia tersenyum dan menghampir saya. “ Ketemu lagi” Katanya.


Sejak pertemuan malam itu, kami jadi akrab. Saya baru tahu dia bekerja pada perusahaan investasi milik Jepang. Kantornya di Shanghai. Dia ke Hong Kong mewakili clientnya  untuk presentasi bisnis di hadapan Banker dan investor.


***

Di Indonesia saya berpengalaman dalam busisnes, Punya network ekspor beberapa komoditi. Dia sarankan saya untuk bisnis maklon di China. Soal modal dia akan bantu kenalkan dengan beberapa pabikan yang akan jadi supply chain. Jadi tidak perlu keluar uang didepan. Bayar setelah tagihan ekspor cair. Nanti kalau sudah jalan lancar, dia akan kenalkan saya dengan export credit agency di China.


Perusahaan saya dirikan di Hong kong namun kantor di Shenzhen. Ruang kantor merangkap tempat tidur. Ukuran 21 meter. Wenny kenalkan saya satu orang sebagai karyawan saya. Tahap pertama saya maklon Garmen ( Denim) ke Eropa. Selama 1 tahun, itu adalah  awal awal yang berat dan kerja keras siang malam. Supply chain sangat luar biasa. Tidak pernah bilang tidak bisa. Berapapun saya pesan , mereka layani.  Sebulan rata rata saya ekspor 40 kontainer.


Waktu datang ke Hongkong istri bekali saya uang USD 60,000. Setahun kemudian di rekening perusahaan saya ada USD 5 juta. Relasi dan network semua dari Wenny dan dia tidak pernah minta fee. Pernah saya beri uang, dia tolak dengan halus. Padahal pada waktu awal memulai dia pernah pinjamin saya uang Yuan 100.000 atau Rp, 100 juta. Itu uang tabunganya. Setelah saya dapat tagihan ekspor, uang itu saya kembalikan dengan bunga. 


Dia tersinggung. “ Apakah kurang cukup saya bersikap untuk pastikan saya sahabat kamu.  Berita tahu saya, apalagi yang kurang untuk yakinkan kamu bahwa saya sahabat kamu” Katanya. Saya seperti terjatuh dari atas bukit.  Emosi moral saya sepeti di tempatkan di bawah telapak kaki. Saya merasa rendah di hadapan Wenny. 


***

Waktu business trip di Shanghai, saya undang Wenny makan malam.  “ Saya berencana berhenti kerja di Shanghai. Saya akan mencoba mengadu nasip di Hong Kong.” Katanya. Tetapi karena kesibukan saya. Kata katanya itu tidak saya perhatikan lebih dalam. Bahkan saya senang. Karena kalau  dia di hong kong, saya lebih  mudah ketemu dia   Tahun 2006 saya sedang membangun bisnis private equity. Saya sudah rekrut profesional. Jadi saya memang sibuk. jarang sekali bertemu dan telp Wenny.


Pada satu malam, ketika saya sedang business trip di Bangkok. Saya dapat telp dari Wenny. “ Saya akan jual ginjal saya. “katanya dengan nada menahan tangis.


“ Untuk apa ?


“ Saya terjerat shark loan. Suami saya ceraikan saya. Di tidak tahan menghadapi teror debt collector. “


“ Mengapa sampai terjerat shark loan? 


“ Saya perlu biaya berobat ibu saya. Kena kanker. Akhirnya meninggal juga. “ Katanya menangis. “ Maksud saya, kalau saya meninggal, tolong jaga anak saya. “ lanjutnya dengan terbata  bata.


“ Apa apaan sih kamu? Berapa utangnya. ? Besok saya ke hong kong,  kamu ambil uang dari saya. Lunasi hutangnya“ kata saya.’

“Engga perlu B.  Ini masalah saya. Biarkan saya selesaikan. “ katanya dengan terbata bata.


“ Apakah arti persahabatan kita selama ini engga ada arti bagi kamu. Mengapa kamu selalu senang berkorban untuk saya, sementara kamu selalu menolak untuk saya berkorban. Ada apa sih, Wen..Telling me about the truth.” Kata saya memelas. Akhirnya saya dapat berdamai dengan diri saya sendiri. Bagaimanapun prnsipnya dapat saya hargai. Bahwa sudah sifatnya tidak ingin meminta, kecuali memberi. Dan itu sudah dibuktikan selama bersahabat dengan saya. 


***

Sekembali dari Bangkok, saya langsung terbang ke Shanghai menemuinya. Saya mengundangnya makan malam untuk sebuah solusi. “ saya punya peluang bisnis untuk trade financing transaksi Batu bara. Bahwa ada sebagian buyer China tidak selalu accepted beli batubara dari Indonesia dengan LC. Mereka hanya mau bayar lewat TT setelah barang sampai di pelabuhan pembeli. Sementara sebagian seller dari Indonesia tidak nyaman menjual batubara tanpa LC. “ Kata saya dengan hati hati.


“ Nah bisnisnya adalah sebagai payment gate way dan settlement agent. Ya, semacam Busines solution provider. Menawarkan solusi keterbatasan dan hambatan antara pembeli dan penjual. Kamu kan punya pengalaman dan network dengan lembaga keuangan di Hong Kong. Mari kita bermitra secara profesional. Mau ya Wen..”  Dengan airmata berurai dia menatap saya. Saya tahu dia terharu dengan tawaran saya. Secepatnya saya remas jemarinya untuk menentramkan batinnya bahwa saya peduli dengannya dan berharap dia mengerti sikap saya. Sehingga dia tidak perlu sungkan lagi terhadap saya. 


Keesokannya Weny bersama putranya terbang  ke Hongkong bersama saya. Saya sewakan apartemen untuk dia. Kemudian, membantu dia mendirikan perusahaan. Saya menyetor modal USD 200,000 agar dia dapat menjalankan rencana bisnisnya. “ Aku mau bermitra bisnis, bukan minta modal. Jadilah mitra venture ku. Aku pegang saham 30% dengan kewajiban jual sahanm itu ke kamu kapan saja dengan harga USD 1. Aku berjanji akan bekerja keras dan tidak akan mengecewakan kamu. “ Katanya berlinang airmata. Saya sanggupi.


Selama tahun tahun perjuangan mengembangkan bisnis itu dia sudah jarang bertemu dengan saya kecuali kirim email atau bicara lewat skype. Bila betemu kadang dia nampak murung karena tidak punya waktu cukup kebersamaan dengan saya. Dengan tegas saya katakan bahwa saya akan baik baik saja. Dia tidak perlu merasa bersalah. Kebahagiaan saya adalah bila dia dapat berhasil melewati hidup yang tidak ramah ini. 


Berkat kerja keras, dalam setahun, dia sudah bisa membayar hutang shark loannya. Dua tahun kemudian, dia berhasil mengirim putranya melanjutkan pendidikan ke Universitas di Canada. Dari modal awal USD 200,000,  bisnisnya kini berkembang jadi lebih 10.  Bergerak dibidang tambang, investment banker, Gold trading dan IT. 100% sumber daya perusahaan dia pegang. Saya hanya monitor dari jauh saja. Kni hidupnya sudah mapan.


“ Kamu telah melakukan banyak hal untuk saya. Kamu hadir disaat saya kehilangan tongkat dan terhuyung. Suami yang saya cintai pergi meninggalkan saya dalam keadaan menyalahkan saya. Padahal saya sangat membutuhkan. Sementara saya merasa tidak pernah melakukan apapun untuk kamu. Rasanya saya tidak pantas mendapatkan kehormatan ini. “ Katanya.


“ Kamu adalah sahabat saya yang harus saya jaga, dan kamu sudah membuktikannya bagaimana kamu selalu menjaga saya. Bukan soal siapa memanfaatkan siapa, tapi memang persahabatan ini berkah yang sangat luar biasa bagi saya. " Kata saya meremas jemarinya.


Kami  keluar dari cafe. Berjalan menyusuri jalan Queen road, Saat itu musim dingin. Saya membuka jas saya untuk dia agar terhindar dari angin musim dingin. Dia melingkarkan lengannya dipinggang saya agar hangat tubuhnya menghangatkan saya. Itulah sahabat. Saling menjaga, tidak perlu kata kata.


***

Moral cerita, menyebut istilah sahabat mudah, tetapi melewatinya sangat sulit. Persahabatan diuji oleh waktu, dan tidak dengan kata kata. Tetapi dengan sikap. Ketika dia berkata “Ya”, batin kamu harus bisa menterjemahkannya dalam arti “ tidak”. Begitu pula sebaliknya. Karena dia terlalu halus menjaga perasaan kamu. Kalau dia bayarin kamu makan di restoran, itu bukan berarti dia bossi..tetapi untuk sekedar menunjukan kepada kamu  bahwa persahabatan lebih penting daripada uang. Paham ya sayang.


No comments: