Saturday, October 16, 2021

Ayam Kampung

 


Tahun 1988. Ketika saya akan masuk ke kamar kerja Ago, di ruang tunggu ada pria berpakaian kumuh duduk. Wajahnya nampak lesu. Awalnya saya biasa saja. Namun empat kali saya datang, selalu nampak dia duduk berpakain kumuh di ruang tunggu. 


“ Biasanya sebelum jam kantor tutup, dia  sudah pergi. Biarkan saja. “ Kata Ago ketika saya tanya prihal pria yang selalu duduk di ruang tunggu.


“ Tentu ada alasan dia datang?


“ Dia baru keluar dari penjara. Dia minta kerjaan. Saya males bantu dia. Tetapi gimanapun dia teman. Biarkan saja.”


“ Ya terus teranglah kepada dia. Bahwa kamu tidak bisa bantu.”


“ Saya sudah katakan tidak ada lowongan. Tetapi dia terus datang. Biasa saja. Dia datang hanya minta uang kecil. Terserah dia saja.” Kata teman.


Ketika saya keluar ruangan teman, saya melirik pria itu masih duduk. Dia tersenyum. Berdiri menghampiri saya. “ Maaf, kamu temannya Ago? 


“Ya. “ 


“Saya Awi. “ katanya perkenalkan diri. “ Gini, saya ada proposal. Tetapi Ago tidak pernah baca. Apa kamu bisa baca proposal ini. .Tolong sampaikan maksud saya. Saya udah malu datang terus. Apalagi dia anggap saya berharap uang kecil. Tolong lah.” katanya berharap. Saya bisa merasakan suasana hatinya. Dia baru keluar dari penjara. Tentu tidak mudah dapatkan bisnis apalagi kerjaan. Saya mengangguk. Dia senang.


Di kantor saya pelajari proposalnya. Ini bisnis sederhana saja. Dia dapat penunjukan  Agent SDSB ( kupon judl ) dari kontraktor SDSB. Dalam proposal disebutkan fee sebesar 10% dari harga kupon. Dia hanya perlu jaminan berupa BG untuk ambil kupon dari kontraktor. Awi memang pengalaman soal bisnis judi. Dia masuk penjara karena judi gelap. Secara bisnis bagus.  Fee besar. Resiko tidak ada. 


Keesokannya saya ceritakan kepada Ago. Namun bagaimanapun Ago tidak tertarik. Mengapa ? “ secara bisnis engga elok punya staf mantan narapidana. Namun secara pribadi, Awi sebenarnya orang baik. Tidak pernah ada masalah soal financial. Hanya saja dia apes. Kena masalah hukum karena judi gelap.” Kata Ago


“ Kalau  begitu saya akan dukung Awi. Dia kan hanya butuh BG untuk dapatkan kupon dari kontraktor SDSB. Logika saya sederhana saja. Dia baru saja keluar dari penjara. Dukungan dari saya adalah cahaya baginya untuk  keluar dari kelam. 


“ Ya saya dukung saja tetapi tidak tanggung jawab kalau gagal.”


“ Kalaupun gagal,  ya sudah. Itu pelajaran hidup.” Kata saya enteng.  Uang modal itu saya serahkan ke Awi  dihadapan Ago. Dia berlutut dihadapan saya dengan mengucapkan terimakasih.  


Tiga bulan setelah itu tidak ada kabar dari Awi. Saya yakin dukungan saya kepada dia berujung kandas. Benarlah. BG itu di call oleh kantraktor. Rekening saya dipotong bank untuk cairkan BG itu. Sementara Awi tidak pernah bisa dihubungi lagi. Dia hilang begitu saja.  Setahun setelah itu saya sudah lupakan Awi. Tetapi dia nongol lagi ke kantor saya. “ Ri, maafkan saya karena telah kecewakan kamu. Tempo hari saya gagal. Sekarang saya dapat kerjaan dari teman di Singapore. Kalau berhasil saya dapat fee 50%. “


“ Apa kerjaannya ? tanya saya.


“ Jadi debt collector. Tagih utang. Dari fee itu saya bisa kembalikan uang kamu yang tempo hari.” Katanya. Saya terhenyak. Kenapa sih hanya bisnis miring beginian yang dia paham. Apa engga ada lagi yang lain!


“ Wi, kamu tidak pernah berhutang dengan saya. Kita kan kerjasama. Jadi kalau gagal ya sudah. Kamu jangan terlalu dibebani” Kata saya sekedar menolak halus.


“ Ri, saya hanya butuh ongkos pesawat ke Hong Kong.”


“ Ke Hong Kong ? 


“ Ya. Yang berhutang itu ada di Hong Kong.” Katanya memelas. Saya engga tega. Ya sudah saya beri dia uang untuk ongkos ke Hong Kong. Semoga dia sukses. Dan kalau gagal, dia tidak akan berani ketemu saya lagi.


Tetapi apa yang terjadi? tak lebih sebulan dia telp saya, bahwa dia ada di singapore dan sekarang dalam kejaran polisi. Kenapa? menurutnya,  orang Hong Kong yang punya hutang itu mau  bayar dia dua kali lipat kalau bisa bunuh orang suruh dia tagih utang itu.


“  Duh gimana? Apa matii orang yang suruh kamu tagih utang itu ? 


“ Engga. Pengawalnya banyak. Tapi sempat saya tusuk dua kali. Saya rencana mau ke Kota Baru terus ke Thailand, dan Kamboja. Ada teman banyak disana. Sementara sembunyi dululah.” Katanya. Setelah itu tidak ada berita lagi. 


Tiga tahun kemudian saya dapat kabar dari teman. Awi berhasil menguasai kasino di Kamboja. Dia rebut dengan menggunakan tenaga desersi tentara Vietnam. Saya hanya geleng geleng kepala. Tahun 1993 saya bertemu lagi dengan dia di Jakarta. Dia datang khusus bertemu saya. Dia bayar 4 kalilipat dari uang yang pernah saya keluarkan untuk dia. Tetapi saya menolak. Sekali lagi saya katakan bahwa dia tidak  berhutang. Bisnis gagal ya sudah. Kalau dia sukses dengan bisnis lain, itu hak dia. Engga ada urusan dengan saya. Setidaknya saya senang dia udah kaya dan tidak lagi ganggu saya.


Hubungan saya dengan Awi setelah itu seperti kakak beradik. Pernah di salah satu tempat hiburan di kawasan kota. Ketika itu kami datang enam orang. Entah mengapa  kami diserang mendadak oleh preman salah satu ormas. Mereka semua bawa pedang samurai. Targetnya adalah Awi. Empat teman kabur. Tetapi saya tetap di dalam ruangan. Saya lindungi dia dengan menjatuhkan salah satu preman dan berhasil merebut pedang dari tangan preman itu. Saat itulah terjadi adu pedang dalam jarak dekat di ruang karaoke. Saya berhasil keluar dari ruang karaoke dengan melukai kaki 2 orang preman. Tetapi punggung Awi  berdarah kena sabetan pedang samurai. Di lengan dekat urat nadi saya juga kena sabetan pedang. Tak berapa lama polisi datang dan kami digiring ke kantor polisi. Tidak ada yang dipenjara. Semua dibebaskan.


***

Setelah krismon saya disconnect dengan Awi. Baru bertemu lagi tahun 2002. Dia sudah berubah penampilannya. Dia cerita bahwa dia punya koneksi dengan bandar kasino international.  Dia punya bisnis menjual coin untuk berjudi dengan skema hutang. Atau istilah bisnis namanya Jangket. Dia engga paham jalankan bisnis itu. Dia minta saya jadi mentor dia. Namun saat itu saya sedang berpikir untuk hijrah ke Hong Kong. Disamping itu saya belum punya orang yang bisa saya percaya untuk mengelola bisnis yang ditawarkan Awi.


Tahun 2004, ketika di Hongkong. Ada telp dari Yuni. “ Pak, maafkan saya. Entah gimana saya harus bicara. Saya diusir oleh suami saya. Sekarang saya ada di stasiun Gambir bersama balita saya. Boleh saya pinjam uang untuk cari tempat tinggal sementara. Saya perlu malam ini” kata Yuni dengan suara terisak.


“ Saya sedang di Hong Kong. Saya akan kirim orang segera ke tempat kamu sekarang. Tunggu sebentar.” kata saya. Malam itu juga Yuni diantar ke apartement. Awi memberinya uang saku untuk makan bersama balitanya beberapa bulan. Setelah kembali ke jakarta. Saya sibuk. YUni tidak telp saya lagi atau sms. Tiga bulan kemudian Yuni minta bertemu. Saya sanggupi.


“ Berilah saya kerjaan pak. Saya malu numpang makan dan tidur di tempat bapak. “ Katanya dengan airmata berlinang seraya memeluk Balitanya. Saya minta dia bersabar. Dua bulan kemudian,  saya ajak dia ke Singapore. Dia senang sekali. Balitanya dititipkan dengan sahabatnya yang sudah seperti saudara. Dari Singapore saya ajak dia nai kapal Pesiar untuk melihat arena judi. Kemudian pergi ke Genting Malaysia dan Macao, lihat casino


“ Kamu udah lihat casino di kapal pesiar, Genting, Macao” Kata saya pada YUni, setelah usai makan malam.


“ Ya terimakasih. Ini kali pertama ke luar negeri langsung menikmati hiburan termewah. Saya tidak pernah memimpikan bisa menikmati kemewahan ini. Tapi Tuhan sangat baik..sangat baik.  Sentuhan kamu membuat saya merasa begitu sangat sempurna sebagai wanita. Terimakasih.” Kata Yuni.


“ OK. Saya aka dirikan perusahaan. Perusahaan itu semua saham atas nama kamu. Namun pemilik 100% saya. Kita akan atur perjanjian proxy. Saya akan tempatkan Awi sebagai komisaris untuk kawal kamu. Kamu akan dilengkapi dengan fasilitas layaknya dirut dan pemilik bisnis international. Nah selanjutnya saya minta kamu kelola bisnis itu “


“ Bisnis apa itu?


“ Memberikan pinjaman kepada para penjudi yang mau berjudi di casino. Bisnis ini juga bisa dipakai sebagai modus untuk cuci uag dan larikan uang ke luar negeri. Side business nya,  kamu bisa menjual paket tour lengkap ticket pesawat dan akomodasi. Bahkan kamu bisa sewa private jet untuk khusus layanan paket tour.  Dari bisnis pinjaman itu kita dapat bunga dan fee. Kita juga dapat margin dari harga ticket pesawat, hotel dan restoran. Tugas kamu kelola bisnis jangket ini. Tidak perlu cari pasar lagi. Tugas kamu dekati konsumen yang jadi target. Awi akan beri kamu daftar nama mereka. Lengkap dengan kebiasaannya.“


“Siapa saja mereka itu ?


“ Pengusaha, politisi dan aparat. Semua kalangan atas. Gimana?


“ Saya siap dan percaya kepada Bapak.  Saya janji akan setia. Hanya itu yang saya punya. Saya tahu diri siapa saya. Apa saja saya kerjakan asalkan halal, apalagi bekerja dengan Bapak. Itu kehormatan terlalu tinggi bagi saya “ Kata Yuni. Bagi saya, besok dia sudah jadi pegawai saya. Statusnya itu adalah dinding tebal antara saya dan dia. Namun perasaan cintanya akan memberikan alasan kuat baginya untuk setia. Apalagi belakangan kesetiaan itu sudah bercampur respect.  Dia tahu bahwa orang yang bisa bisnis jangket adalah orang yang dekat dengan gangster dan aparat. Apapun bisa dibeli termasuk nyawa. 


Usaha jangket itu berhasil memuaskan. Dia mampu membujuk clients kakap yang mau berjudi di casino terkenal di luar negeri. Termasuk mereka yang mau cuci uang. Awi senang dan bilang bahwa kami hocky dapatkan komandan lapangan yang setia seperti Yuni dan nyali lebih dari preman.


Saya tahu bisnis Awi itu tidak benar. Tapi Menjadikan Awi yang liar berubah jinak tidak mudah. Apalagi mengeluarkannya dari lingkaran gangster. Berat sekali. Saya terpaksa terjun dalam bisnis itu agar bisa menuntunya keluar. Benarlah, tahun 2006 usaha jangket bisa kami hentikan. Dari keuntungan selama dua tahun, dijadikan modal untuk ekspansi usaha halal.  Berawal dapat fasiltas dari teman di partai Penguasa untuk dapatkan izin tangkap ikan. Yang beroperasi dan keluar modal adalah mitra kami dari Jepang dan China. Kami dapat fee setiap ton ikan yang ditangkap. Kami juga dapat margin dari nilai ekspor ikan.  Dapat uang lagi dari penyewaan cold strorage. Saya percayakan bisnis itu untuk Awi dan Yuni kelola dengan baik. Itupun sukses. Dia bisa membuat mitra saya dari Jepang dan China puas.  Selanjut usaha berkembang berbagai bidang usaha di dalam dan luar negeri. 


Kini tak terasa, Awi dan Yuni sudah 17 tahun bekerja bersama saya. Saya, Awi, dan Yuni, kami tidak terlahir dari keluarga kaya. Walau kami pernah melakukan prakter bisnis amoral, itu tidak dengan niat buruk. Itu hanya upaya survival saja. Kami bangkit dari kehinaan dan rasa lapar diatas sistem yang sudah berengsek dari sononya. Ya maklum saja. Kami orang miskin yang tidak terpelajar, hanya ayam kampung yang berusaha menjadi ayam merak. Itu aja.

No comments: