Thursday, September 23, 2021

Kedua tangan dirantai

 




Ada perasaan ganjil yang aku rasakan. Sepertinya ada yang aneh di desa ini. Tak henti aku bertanya dalam hati, ada apa gerangan dengan desa ini? Kehidupan sebuah desa yang seharusnya ramai, bersemangat dan penuh wajah sumringah, kini nampak murung. Mentari, kabut bahkan dedaunan perkebunan seolah ikut bermuram durja. Sepertinya mereka sedang berempati pada para petani. 


Esther menatapku seperti ada yang ingin dia sampaikan“ Inilah potret sebuah desa yang sengaja diciptakan untuk menampung warga kelas teri dari Jawa. Kumpulan manusia malas yang tersingkir dari kampung halamannya sendiri. Tergerus dan terpaksa menyingkir demi percepatan pembangunan. Mereka harus rela dikirim ke pulau lain untuk mengukuti program transmigrasi. Sebuah kata yang tampak modern namun menjerumuskan. Tujuannya untuk mengurangi penduduk dari wilayah padat ke wilayah jarang. Solusi instan dan cerdas. Namun pola pikir instan ini yang membuat segalanya jadi kacau.


Alih-alih memberdayakan wilayah mati, yang terjadi justru penyebaran semangat kemiskinan dan genetika pecundang ke wilayah lain. “ Kata Esther mengekpresikan sketsa  desa dengan persepsi dia. 


“ Mereka bukan pemalas. Buktinya mereka rela pergi dari kampung halaman. Mereka juga pekerja yang cerdas. Sekali lagi, mereka cerdas! Buktinya mereka  menolak bertani karena hasilnya tidak lebih baik dari pada menjadi kuli. Kalau benar pemerintah ingin mereka giat bertani, sudah seharusnya pemerintah juga menjamin harga jual panen mereka, bukan?” Kataku.

 

Perlahan-lahan pagi bergulir, merangkak menjemput siang. Kami  masih berjalan menyusuri jalan-jalan setapak. Dari kejauhan nampak sebuah warung kopi yang penuh oleh pengunjung. Mereka adalah kumpulan para kuli dan buruh tani. Warung kopi adalah tempat mereka bergabung membunuh hari. Masa bodoh dengan waktu. Di warung kopi mereka asik main domino, berkelakar dan bertukar cerita dengan beragam obrolan kosong. Ada juga yang hanya diam, larut menyaksikan keasikan orang-orang pinggiran. Khusyuk menikmati kopi hangat. 


“ Para kuli dan buruh tani itu menciptakan surga sendiri, di warung kopi! “ kata Esther.


“ Ya, Tempat di mana mereka menemukan sebuah keluarga yang di bangun atas dasar kesamaan nasib. Tempat mereka kembali bertemu untuk mengumpulkan cerita tentang kejenuhan hidup. Bukankah surga dapat dibangun di mana saja dan dihuni oleh siapa saja? kataku. Kami memilih duduk agak jauh dari mereka yagn sedang main kartu. 


“ Mereka memilih jadi kuli sama seperti nenek moyang mereka dulu yang terjajah. Memilih nasib menjadi wong cilik adalah lebih baik, lebih nyaman dan aman dari pada membebani pikiran dengan hal-hal rumit. Menjadi kuli dan buruh tani juga pilihan untuk menjauhkan diri dari godaan berbuat buruk. Setidaknya menjadi kuli atau buruh tani jauh lebih baik daripada menjadi  pencuri atau koruptor. 


Mereka percaya itu. Meski mereka juga sadar, bahwa status mereka sangat rendah dibandingkan yang lain. Hanya sedikit lebih baik di atas budak. Itu pun karena perbudakan sudah dihapuskan secara nama. Meski prakteknya masih sering terlihat dan terasa. Pun mereka tak peduli dan tak perlu tahu soal menyoal perbudakan itu. Waktu mereka terlalu berharga untuk memahami dan mengerti tentang status juga tentang kedudukan. Sebutan kuli atau buruh sudah sangat cukup memberi mereka kepercayaan diri. Bukankah kuli dan buruh tani jauh lebih baik daripada seorang gelandangan atau pengangguran? Jadi, tidak ada alasan apa pun untuk merasa rendah diri.


Ini adalah negeri kuli. Di setiap sudut kota, di kampung-kampung, di mana pun, jabatan kuli menyesaki rumah penduduk di sana-sini. Tidak percaya? Ribuan kuli kita di negeri jir, an, Hong Kong, Makau, Arab  adalah akibat melimpah ruahnya jumlah kuli di negeri ini. Dan mereka, yang kini duduk di warung kopi, tidak sudi jadi kuli di negeri orang. Mereka seolah tak menghiraukan kawannya yang dengan semangat membara bersusah payah untuk bisa jadi kuli di negeri orang. Sesekali mereka hanya mencibir, "kalian tak malu jadi kuli di negeri orang


Masa lalu telah membuang mereka. Kini mereka tak punya pilihan. Dengan hati lapang mereka berusaha untuk  terlihat wajar dan menerima masa lalu sebagai sebuah keputusan yang tak salah. Di telikung nasib, ditransmigrasikan dan akirnya kini menjadi kuli perkebunan. 


Mereka sengaja membuang jauh ingatan masa lampau. Seperti seseorang yang membuang sauh ke dasar laut. Bahkan kalau perlu, melarung dan membiarkannya hilang ditelan ombak. Orang tua, kakak, adik, abang, saudara-mara adalah wajah-wajah yang tak seharusnya hidup dalam ingatan mereka saat ini. Sebab kehadiran wajah-wajah itu hanya akan membuat kebebasan hidup mereka jadi terkekang dan penuh beban. Hanya akan menegaskan kembali rasa kehilangan dan kekalahan. Ini memuakkan!. Sama memuakkannya dengan wajah kampung-kampung tempat kelahiran mereka di tanah Jawa. Kampung yang membuat penghuninya merasa terbuang. Merasa tak punya nilai. 


Anak-anak yang terlahir dari sana adalah anak-anak yang menderita, ketakutan dan trauma akan masa depan. Anak-anak yang setiap subuh bertelanjang dada, bermain congkak  di bawah asuhan beruk-beruk  di hutan karet. Anak-anak yang pandai memanjat batang kelapa melebihi tupai. Anak-anak yang tahan berendam dalam lumpur gambut di akar-akar bakau untuk berburu ketam  atau siput. Anak-anak yang tiba-tiba tumbuh oleh seleksi alam dan kini siap dipekerjakan sebagai kuli. Atau menjadi anak buah tongkang yang berlayar dalam gelap ke negeri orang.


Hal-hal memuakkan inilah yang kini harus mereka tanggung. Mereka tertawa terbahak-bahak menertewakan kekalahan. Menertawakan segerombolan masyarakat yang tak punya masa depan. Masa bodoh dengan pecundang! Pekik mereka berusaha melepaskan masa lalu. Dan mereka pun terkekeh, seperti seseorang yang baru saja mencebur ke sungai dan meninggalkan karung berat di punggungnya. Lalu berendam dan bermandi air kebahagiaan. “ Kata Esther. Dia tidak mau menyentuh kopi yang dipesannya. Abu rokok bertebaran di sekeliling lantai. Bercampur ludah di sana-sini. Ludah yang di keluarkan bersama umpatan memuakkan yang mereka buang di tanah itu. 


Satu per satu para kuli datang ke sini. Mereka seperti memiliki waktu khusus untuk sepakat bertemu, berkumpul di warung kopi. Dengan sigap dan terlatih, mereka menggelar pesta judi kelas kampung. Membanting angka-angka keberuntungan. Beragam jenis minuman alkohol murahan pun jadi taruhan. Kata-kata yang membaur adalah lintasan-lintasan pikiran yang tak santun. Ruwet. Seronok. Jorok. Jauh dari norma dan tata krama.


Bagi para kuli, hari-hari begitu mudah terlewati dan kehilangan makna. Warung kopi di pinggir kebun sawit ini seolah menjadi pereguk kegalauan dan harapan.  Dan membiarkan sesuatu yang buruk itu berlalu begitu saja.  Hidup seorang kuli adalah hidup yang terbatas. Mereka tak terlalu berkeinginan untuk merespons sesuatu yang sedang bergerak di luar mereka. BBM, korupsi, asap hutan, demonstrasi, amuk massa, tawuran antar suku, penculikan, pembunuhan, kemiskinan dan segala macamnya sudah terlampau akrab di telinga mereka. 


Mereka tak ambil pusing dengan permasalahan dunia karena hidup sudah teramat pusing. Dan kini tak ada urusan selain menghitung keberuntungan dari meja judi. Urusan di luar diri mereka adalah urusan di dunia lain. Mencampurinya hanya akan membuat mereka tak bisa bebas berpikir tentang bagaimana memenangkan taruhan saat bermain di meja judi. Dan tentu, tak bisa membuat mereka bebas tertawa.


Kemudian kami melangkah keluar. Meninggalkan kedai kopi dan meneruskan perjalanan ke tempat lain. Dalam dandanan yang tidak formal, tentu tak ada satu pun dari mereka yang mengenal kami. Kami pun bebas menyusuri kehidupan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kehidupan yang tak pernah ditemukan dalam seminar atau laporan dari para ahli ekonomi.


Di suatu rumah yang kami lewati terdengar suara berteriak. Keterkejutan memaksa kami untuk mendekat. Lelaki penghuni rumah tak mempedulikan kehadiran kami. Begitu pula dengan wanita yang berusaha melepaskan pukulan dengan  kayu besar di tangan.


“Bangsat ya, kamu! Udah miskin, engga tahu diri. Gaji mingguan yang tak seberapa, kamu habiskan di meja judi dan melacur. Ini anak yang akan lahir mau diapain?!” Teriak wanita itu sambil mengarahkan kayu  kepada seorang pria di depannya. 


Dengan tangkas lelaki itu menangkis lalu melepaskan kepalan tangan hitamnya ke dagu si wanita. Pukulan telak mengenai dagunya dan wanita itu jatuh terjerembab. Dengan santai, pria legam itu berlalu  tanpa mepedulikan wanita  yang mungkin saja tengah pingsan.


Sekelompok pemuda kekar menghadang langkah pria itu di ujung jalan. Kami tak begitu paham apa yang selanjutnya terjadi. Yang pasti, sekilas kemudian pria itu sudah menjadi bulan-bulanan dan tersungkur ke tanah setelah para pemuda kekar selesai menghajarnya.


“Awas, ya! Kalau sampai minggu depan kamu masih menempati rumah itu, maka nyawamu sebagai gantinya. Segera lunasi hutangmu!” Kata salah seorang pemuda yang nampak parlente. Berwajah khas orang kota.


Kami tak ingin terlalu lama menyaksikan peristiwa demi peristiwa. Sebaiknya kami terus melangkah dan menjauh dari tempat itu. Kamipun sampai di rumah lain di pinggir kebun, yang sebenarnya tak layak disebut rumah. Ini  tak lebih baik  kandang kambing. Namun disinilah sebuah keluarga tinggal. Mereka adalah sepasang suami istri dan dua orang anak gadisnya. Keduanya masih terlalu muda dengan wajah yang nampak dipaksa dewasa. Inilah potret kehidupan lain yang juga sulit kumengerti.


Dengan ramah, mereka  mempersilahkan kami masuk. Di dalam kami tak melihat perabot apa pun kecuali sebuah dipan reot dan suasana rumah yang kotor. Ketika mereka menghidangkan minuman, ada perasaan sungkan untuk meminumnya. Kami mencium masih ada aroma sabun yang melekat pada gelas. Mungkin mereka tidak mencuci dengan bersih. Maklum, air bersih memang tidak mudah di sini.


“ Saya akan pindah kerja. Penghasilan sebagai kuli kebun di sini tak banyak yang bisa diharapkan,” kata sang suami.


“ Mau kerja di mana?” Tanyaku.


“ Saya akan melamar jadi TKI ke tanah Jiran. Katanya penghasilan di sana cukup baik. Banyak teman yang kembali membawa uang banyak dan bahkan dapat membeli kebun. Sementara di sini, tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Kita bekerja karena tidak ada pekerjaan lain dan terpaksa menerima gaji sedikit yang tidak cukup untuk menutup kebutuhan harian. Terpaksa hidup kekurangan tanpa masa depan. Semua kami lakukan dengan terpaksa walau juga tidak ada yang memaksa. Mungkin nasib yang memaksa kami untuk menerima kenyataan, tidak dimanusiakan oleh bangsa sendiri. Untuk itu saya berkeinginan merantau saja. Gaji sebagai kuli di negeri orang cukup membuat kita dihargai sebagai manusia,” kata pria kurus itu bersemangat.


Sementara sang istri hanya diam dan menunduk pasrah. Dia tak kuasa menahan mimpi sang suami yang menggebu. Raut wajahnya terlihat sangat tertekan. Seakan dia ingin cepat-cepat keluar dari masalah yang melilit keluarganya. Kukira dia terlalu risau karena sebentar lagi suaminya akan pergi jauh dan mereka tidak akan berjumpa untuk beberapa lama. Tapi kenapa harus risau bila kepergian suaminya akan membawa perubahan besar bagi keluarga? Ternyata dugaanku keliru. Dan kekeliruanku terjawab ketika beberapa saat kemudian, ada suara mobil mendekat dan berhenti tepat di depan rumah. 


Seorang pria keluar dari dalam mobil yang langsung di sambut dengan antusias oleh sang suami. Sedang sang istri hanya bisa menggigit bibirnya  dan segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan suami yang asyik bicara di luar dengan pria kota itu. Tak berapa lama istrinya keluar lagi bersama dua orang anak gadisnya. Pria itu lalu menuntun kedua gadis,  masuk ke dalam mobil sambil diiringi senyum srigala. Senyum yang licik dan culas. Sang suami hanya menyipitkan mata ketika mobil itu bergerak menjauh, membawa kedua putrinya dari tempat tinggal mereka.


“Suami saya butuh uang untuk mengurus segala sesuatunya demi bekerja di tanah Jiran. Pria itulah yang memberi pinjaman uang kepada suami saya. Kedua anak gadis kami akan berkerja dengan pria itu untuk membayar hutang kami,” hanya itu yang keluar dari mulut sang istri ketika kembali masuk dan menemuiku.


Aku mengerti betul arti ‘bekerja’ di sini. Namun apa yang bisa dilakukan oleh sepasang suami istri itu? Tak ada yang bisa dijadikan jaminan oleh keluarga yang tak punya kejelasan masa depan, kecuali anak gadisnya.  Besok sang suami akan pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Habis sudah harapan wanita paruh baya itu. Dia harus merelakan kepergian suaminya untuk menjadi kuli di negeri orang dan anak gadisnya menjadi pelacur di negerinya sendiri. Tragis! 


***


Hanya semalam di Kawasan Kebun Sawit, keesokannya Esther sudah berkemas di Mess. “ Pulang kita. “ katanya tegas.


“ Loh katanya mau liburan.? Kataku.


“ Sebaiknya cepat pergi dari sini. “ katanya terus memasukan pakainya ke dalam tas. Aku hanya tersenyum. Kenal betul sifatnya.


“Di dalam pesawat menuju Jakarta, “ Aku baru paham tentang hegemoni modal yang bagaimanapun tidak sehat untuk tujuan membangun peradaban. Entahlah. Sebagai banker aku sesak melihat realita dihadapanku kemarin.” Kata Eshter.


“ Sebetulnya hegemoni modal bukan hanya terjadi pada rakyat lapisan bawah. Pada lapisan atas juga sama. Bahkan negara juga terpasung dengan hegemoni modal. SBN tidak akan dipercaya kalau tidak ada underwrite dari lembaga keuangan papan atas. Dan tidak ada underwrite itu yang gratis. Ada standar kepatuhan yang harus dipenuhi oleh pemeritah, yang diantaranya  memberikan kebebasan modal menguasai sumberdaya negara.


Semua investasi asing maupun swasta yang sumber dananya dari luar negeri, entah melalui direct investment, atau penerbitan obligasi, sama saja. Tanpa dukungan investment banker dan underwriter first class, tidak akan ada sumber daya keuangan mengalir,. Tidak akan ada proyek terbangun. Semua dukungan modal itu dengan syarat yang merantai tangan negara.  Setelah proyek beroperasi, semua hasil produksi dikuasai oleh kartel perdagangan, yang mengontrol demand and supply, harga, yang pada waktu bersamaan arus kas korporat mereka kendalikan, termasuk pemasuk pajak untuk negara mereka yang kendalikan. “ Kataku.


“ Jadi, hidup mati korporate dan negara di tangan pemodal. Korporat dan negara sebagai sumber kemakmuran adalah omong kosong. Ya bagaimana negara dan korporat akan berpikir untuk kesejahteraan rakyat, sementara kedua tangan mereka dirantai?  “ Kata Esther dengan mimik dingin. Aku diam dan membiarkan Eshter berpikir sendiri dengan dirinya. 


***


" Mengapa kita harus merdeka, kalau akhirnya berhadapan dengan realita dimanana sistem terbangun tidak membuat kita merdeka secara ideal. “ Tanya Esther kemudian. Padahal saya sudah siap siap mau tidur.


“ Sebetulnya istilah merdeka itu konsep idealisme dari para kaum republikan. Mereka segelintir saja. Sebelum Jepang masuk tahun 1942, di Nusantara ini sudah ada kerajaan atau kesultanan. Keberadaan mereka di bawah koloni Belanda. Awalnya kehadiran PMA ( VOC) dilegitimasi oleh kerajaan atau kesultanan yang ada di Nusantara. Dari abad 17 dan 18, Belanda merupakan republik. Kemudian Belanda dijajah oleh Prancis, di bawah Napoleon. 


Ketika Belanda merdeka dari Prancis dan mendirikan sistem monarki, VOC bankrut dan diserahkan kepada Belanda. Belanda resmi menjadikan nusantara sebagai koloninya tahun 1813. Itupun tidak semua wiilayah yang jadi koloni Belanda. Aceh hanya jadi koloni Belanda selama 38 tahun dan Bali selama 36 tahun. Yang sampai 340 tahun jadi koloni Belanda hanya Maluku dan Banten/Jakarta.  


Selama 340 tahun Belanda di Indonesia lebih kepada kepentingan bisnis dan kebetulan para keluarga kerajaan dan bangsawan memberikan dukungan secara langsung. Ya mutual simbiosis. Kadang kerajaan membutuhkan perlindungan dari Belanda atas serangan dari kerajaan lain. Atau Belanda ikut membantu proses suksesi pengeran, yang kadang berujung perang saudara. 


Ya seni adudomba agar hanya pengeran yang loyal ke Belanda saja yang naik tahta. Situasi inilah yang membuat kaum terpelajar geram. Mereka bukan hanya tidak suka dengan Belanda tetapi juga tidak suka dengan kaum bangsawan dan kerajaan yang berkolaborasi dengan Belanda, yang membuat rakyat semakin miskin “


“ Lantas siapa dan bagaimana sampai muncul gerakan kemerdekaan? Bukankah sebelumnya keberadaan kerajaan atau kesultanan menerapkan sama dengan sekarang. Kerjasama ekonomi dengan asing untuk kepentingan mereka. Kerjasama itu dilegitimasi oleh hukum juga. "


“ Sebetulnya gerakan kemerdekaan itu bukan hanya sekedar mengusir kolonial tetapi gerakan melawan sistem feodalisme dari kerajaan yang bertaut dengan kolonialisme. Ini soal keadilan, dan islam punnya misi untuk itu. Itu sebabnya gerakan kemerdekaan secara politik kebangsaan pertama kali oleh Sarekat Islam dari seorang HOS Tjokroaminoto.  Sementara Tjokroaminoto sendiri terinspirasi oleh paham pembaharuan islam dari KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari”


“ Siapa yang menginspirasi KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari itu ?


“ Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah. Ia adalah seorang ulama Indonesia asal Minangkabau. Ia lahir di Koto Tuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Jadi kalau boleh disimpulkan, arsitek pembaharu politik di Indonesia adalah Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi. 


“ Mengapa sampai Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah bisa menginspirasi mereka “


“ Ya karena mereka berdua adalah murid kesayangan dia waktu mereka belajar di Makkah.”


“ Tapi itu kan soal agama. Bukan Politik.” Tanya Eshter antusias ingin tahu.


“ Islam bukan hanya urusan ritual tapi juga harus bertanggung jawab melakukan perubahan politik untuk tegaknya kalimah Allah. Itu sama dengan ajaran Tauhid.”


“ Gimana ceritanya sehingga pemikiran itu bisai meluas dan menjadi api revolusi terhadap status quo ?


“ Sepulang KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari dari Makkah, mereka didatangi oleh HOS Tjokroaminoto. Sejak itu mereka berkenalan dan akrab. Sering diskusi. Sejak itu HOS Tjokroaminoto terinspirasi dengan pemikiran KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari” 


“ Terus..”


“ Kebetulan HOS Tjokroaminoto punya rumah kos yang menampung para pelajar dari luar kota. Diantara pemuda yang ngekos itu adalah Sukarno, Alimin, Musso, Suherman Kartosuwiryo, dan Soemaoen. Selama ngekos itu mereka sering mendengar diskusi antara Tjokro dengan tokoh nasional seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Ashari, KH Mas Mansyur. Dari diskusi ini para pemuda itu tahu bagaimana menggunakan politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat. 


Mereka belajar tentang bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis di media. Mereka juga belajar bagaimana berorasi mempengaruhi massa dari atas panggung. Setiap hari diantara mereka sering terlibat diskusi cerdas. 


Dari tempat kos di rumah Tjokroaminoto itulah lahir tiga golongan dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Satu, gerakan Darul Islam oleh seorang Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Yang sampai sekarang basis pengikutnya masih kuat di Aceh, Sulawesi, Jawa Barat. Kedua, gerakan Komunis oleh pemikiran seorang Samaoen, Musso. Yang kini ajarannya dinyatakan terlarang oleh UU. Ketiga, sosio-nasionalisme dari pemikiran seorang Soekarno. 


Hebatnya ketika menghadapi Belanda mereka kompak. Bahkan Tjokroaminoto sendiri di era Kolonial pernah aktif dalam PKI. Dalam perkembangannya Seokarno sendiri pernah menggabungkan pemikiran tiga sahabatnya itu dalam front nasional bernama NASAKOM. Tetapi kemudian mereka bertiga itu berpisah jalan. 


“ Mengapa mereka bertiga itu sampai terbelah pemikirannya? 


“ Karena politik feodalisme dan kebangsaan. Setelah merdeka, walau ada UUD, namun phalsafah hukum yang tersurat maupun tersirat, tetap saja hukum Kolonial Belanda. Ya hukum berpihak kepada kekuasaaan dan kekuasaan berpihak kepada pemodal."


“ Gimana dengan sekarang. Apakah golongan islam masih kuat dan diperhitungkan dalam sistem politik?


“ Ya. Masih sangat kuat. Walau sejarah paska kemerdekaan mencatat, Darul Islam atau Khilafah atau NI sudah terlarang, dan Komunis juga terlarang. Namun pemikiran mereka tidak pernah hilang. Mau bukti? liat aja soal RUU Haluan Indiologi Pancasila, yang kandas disahkan DPR. 


“ Mengapa? 


“ Kalau ada Haluan idiologi Pancasila, maka definisi idiologi Pancasila menjadi definisi kaum sekular. Golongan islam engga percaya dengan kaum sekular. Mereka inginkan Pancasila dimaknai secara bebas oleh setiap golongan. " Kataku.


" Bukankah sekarang parlemen dikuasai oleh kaum sekular?. Paksa saja lewat voting"


"Kaum nasionalisme sendiri tidak punya reputasi untuk memaksakan kehendak atas nama Pancasila. Lah mereka gagal kok dengan nasionalisme. Gagal mendistribusikan keadilan ekonomi kepada rakyat karena kalah oleh kepentingan pemodal. Ya terpaksa kompromilah. “ Kataku. 


" Jadi kalau ingin mempersatukan, pastikan pemodal dibawah kekuasaan agar distribusi sumber daya sesuai dengan sila ke lima, ya keadilan sosial bagi semua. Itulah spirit cinta untuk bisa kokohnya persatuan" Kata Esther menyimpulkan. Cara banker bertanya kepada calon debitur dia pakai untuk mengetahui jalan pikiranku dan persepsiku. Dengan cepat dia dapat menyimpulkan, dan  kesimpulanya yang indah : Cinta.


" Tepat. Hanya cinta yang bisa mempersatukan, bukan jargon atau apalah. Hanya cinta yang membebaskan kita dari nafsu berkuasa dan kemaruk harta. Ya keadaan kini, sayang, sumber masalah karena miskin Cinta. Saling curiga, membenci, hedonisme, individualisme, itu karena miskin cinta. " Kataku. Esther tersenyum dan dia kemudian tertidur merebahkan kepalanya di bahuku.



***


No comments: