Saturday, April 24, 2021

See you my dear

 


Saya malas untuk hadir pada acara makan malam menyambut dubes yang baru bertugas di Jakarta. Karenanya saya selalu punya alasan untuk tidak hadir. Dan tak lupa mengirim email salam hormat dan selamat datang ke pada sang dubes. Hanya itu. Sejak politik semakin terbuka dan sistem demokrasi bekerja efektif , rasanya dekat dengan dubes asing untuk menekan politisi lokal udah engga efektif. Kalau engga ada manfaat untuk apa ketemu. Namun sahabat saya di Beijing mengingatkan bahwa dia akan hadir dalam acara makan malam itu. Ya saya terpaksa datang dengan satu tujuan bertemu dengan sahabat saya itu.


Acara dimulai jam 7 di kawasan Kuningan. Benarlah dia datang dengan gaun malam yang mempesona.


“ B, akhirnya kita ketemu lagi.” Katanya ketika menghampiri saya yang sedang asyik bicara dengan teman yang punya saham stasiun TV. Saya segera menyalaminya. 

“ Terakhir kita ketemu tahun 2013 ya. Sekarang masih jadi banker di London? “ Kata saya seraya melangkah menjauh dari teman saya.

“ Saya udah kembali ke Beijing. Sekarang duduk dalam komite kebijakan investasi asing di bawah Pimpinan Polit biro bidang ekonomi reform”


“ Woh... sekrang kamu jadi politisi”


“ Tetap sebagai profesional untuk memberikan advice kepada partai dalam membuat kebijakan ekonomi” Katanya dengan senyum indah. Dia melirik ke dasi saya. Dia mendekat dan memegang dasi saya” Terimakasih udah pakai dasi yang aku beri “


“ Ya Ya” saya tersenyum memberi kesan bahwa saya menyukai pemberiannya.


“ Dengar kabar kamu ditawari jabatan direktur independen BUMN kami ya”


“ Ya. Tapi…”


“ Mengapa ?


“ Saya belum dapat izin dari istri”


“ Semoga dia izinkan dan saya bisa kenalan dengan istrimu”


“ Terimakasih “


Dia permisi karena ada panggilan dari Dubes yang baru saja kedatangan tamu Pimpinan Partai dan Pimpinan DPR. Dia diminta mendampingi Dubes. Saya hanya mengangguk berusaha melangkah kearah pintu taman yang agak temaram lampunya. Ini tempat yang aman menjauh dari suasan pesta. Tak berapa lama dia datang lagi. 


“ Acara saya sudah selesai. Gimana kalau kita keluar. Kembali ke hotelku untuk ganti pakaian. Saya ingin kamu ajak saya meliat jakarta underground. Ingat loh janjinya waktu di Beijing”


“ Kamu masih ingat aja janji saya” kata saya tersenyum 


“ Jadi engga serius? Matanya melotot.


“ Serius. Ayo jalan keluar” kata saya seraya menarik tangannya kearah pintu keluar. Saya baru sadar semua mata memandang kami karana saya baru saja menenteng pejabat otoritas paling berpengaruh dari negara dengan populasi lebih 1 miliar. Tapi dia sendiri tidak peduli.


Setelah menanti agak berapa lama di lobi,  dia sudah ada di hadapan saya dengan celana pendek warna putih, kaus warna kuning terang. Kakinya yang panjang bersepatu ket, lengkaplah dia tidak seperti usia 40 tahun. Lebih muda dari usianya.. 


Kami meluncur ke kawasan mangga besar. Dia perhatikan semua situasi disana” ternyata banyak juga orang Tionghoa yang hidupnya miskin. Tidak seperti cerita bahwa orang china kaya kaya di Indonesia”

“ Sebagian besar mereka hidup miskin tapi mereka tidak pernah mengeluh. Semangat mereka untuk survival luar biasa. Kalaupun ada yang kaya itu hanya segelintir saja.”


“ Dimana kantong kemiskinan komunitas meraka ?


“ Hampir semua kota ada kantong kemiskinan etnis Tionghoa. Semua meraka menerima proses berkompetisi yang tidak adil terhadap mereka. Dan biasanya mereka tetap survival”


Saya ajak dia makan bubur ayam di kawasan pangeran Jayakarta. Dia menikmati namun matanya selalu melirik kearah pengunjung dengan wajah lucu. “ Mereka middle class disini. Liat kendaraan mereka “ kata saya. Dia mengangguk ngangguk. 


Dalam perjalanan pulang dia berkata “ B, selain saya, apakah  kamu sering bawa wanita lain jalan jalan seperti ini ?


“ Engga pernah.”


Dia mengangguk sambil tersenyum. “ Kita kembali ke hotel ya”


“ Siap Madam “


“ Saya bukan madam. “ katanya mencubit saya “ Tadi kan yang datang diacara pimpinan partai Islam. Kenapa kamu menghindar ketemu mereka? Katanya. 


“ Saya ogah berinteraksi dengan orang partai” kata saya.


“ Kami lebih suka berkomunikasi dengan elite politik dari partai Islam. Mereka lebih terbuka dan mudah saling memahami “


“ Oh ya.” Saya terkejut.


“ Benar. Makanya kami engga kawatir investasi disini dan lebih nyaman dibandingkan di Afrika dan Pakistan”


“ Oh Ya. Gimana dengan partai lain?


“ Enak juga tapi susah di tebak sikap mereka. Terlalu oportunis. Tapi presiden anda memang the best. 


“ Thanks  “


“ Oh ya. Terimakasih  ya. “


“ Apa?


“ utang kamu udah lunas dengan cic” katanya


“ Terimakasih udah bantu saya dulu “


“ Saya hanya membantu secara profesional.”


“ Benar karena alasan profesional saja? Kataku mencari makna dibalik matanya. 


“ B, ..” dia menutup mulut saya dengan dua jarinya. Dan berbisik. Saya tersenyum. Sampai di kamar hotel jam 10 malam. 


Cahaya malam kota dibalik kabut debu jakarta, aku dapati wajah menjelang senja. Ada kerinduan yang menghentakan disetiap lenguhannya. Dia berusaha menggapai ujung langit dan akhirnya berlabuh dalam kepasrahan dan lelah. “ You are something else, B. “ katanya dengan mata terperam dan tersenyum indah.

 

“ Selamat malam. See you my dear. “ kataku seraya melangkah keluar kamar hotel. Di lounge Executive hotel terdengar lagu “ save the last dance for me”


No comments: