Friday, April 30, 2021

Mencari yang tidak ada.

 

.


Di Paninsula Hotel Beijing, musim dingin. Aku keluar dari kamar. Ketika itu malam menjelang tahun baru. Menghabiskan waktu dipergantian tahun di Jing Restaurant And Bar adalah pilihan cerdas daripada sendirian di kamar. Petugas Restaurant menyediakan table untukku sebagai tamu panthouse. Restaurant itu menyediakan menu Perancis namun dengan sentuhan Asia. Aku suka. Perpaduan barat dan timur begitu kompak dalam suasana kosmopolitan. Tamu yang datang, umunnya adalah pengusaha papan atas atau professional.


Setelah duduk, pandangan kuarahkan keseluruh ruangan. Mataku tertuju kepada seorang wanita yang duduk sendirian. Wajah yang tak bisa hilang dalam ingatanku. Mengapa dia ada disini? Menjelang tahun baru lagi. Apakah dia turis. Kalau iya, pasti dia sudah masuk kalangan the have dengan status sebagai sosialita. Dari kacamatanya aku tahu itu harga diatas UDS 2000. Pasti yang lain  seperti tas dan jam tangan diatas itu harganya. Walau posisinya menyamping, sebenarnya tidak sulit  bagi dia untuk menoleh kekanan untuk besetatap denganku. Entah mengapa dia seperti patung.


Aku melangkah menghampiri tablenya “ Mey..” Kataku lembut. 

“ Kaukah itu Ale? Dia terkejut dan segera berdiri. Wajahnya sangat dekat denganku.

“ Ya Mey. “ Kataku menganguk. Dia merebahkan tubuhnya dalam pelukanku. “ So long..my dear…” katanya seakan dia sangat merindukanku.

“ Tidak terlalu lama, May. Hanya 30 tahun atau 6 windu kurang ya tidak jumpa” Dia memukul dadaku dengan lambat. “Aku kangen, Ale “ Katanya. Mey menangis. Mengapa Mey berubah. Bukankah dia wanita yang tegar. Tak mudah menangis. Bahkan merasa tidak bersalah meninggalkanku.


Mey adalah sahabatku sejak masih muda. Dia tidak pernah jatuh hati kepadaku. Akupun begitu. Tapi kedekatan kami, membuat kami kadang sulit membedakan sahabat dan pacar. Kedekatanku dengan dia adalah hubungan kapitalis semata. Aku perlu dia untuk kelancaran bisnis dengan pemerintah dan dia butuh uang mudah dariku. Tapi ketika aku mundur dari bisnis rente, dia juga menjauh driku. “ kamu terlalu idealis. Padahal kamu belum kaya. Kayalah dulu, barulah idealis.  Kalau kamu kaya semua hal jadi mudah.”  Katanya. 

“ Aku ingin idealis dan tidak miskin” Kataku

“ Kamu naif. “ Katanya menyerigai. 

“ Dan apa rencana kamu selanjutnya.?

“ Aku akan menikah dengan direktur perusahaan milik keluarga cendana. “ katanya tersenyum kebanggaan.


***


“ Ceritakan kepadaku tentang 30  tahun yang tidak aku ketahui.? kataku. Mey lama memandangku. “ perlukah? 

Aku mengangguk.

Direktur anak perusahaan dari Group keluarga penguasa itu, memang gagah. Dia pintar. Waktu menikah, dia menghadiahiku satu set berlian. Kalung, gelang dan anting serta jam. Waktu itu harganya USD 200.000. Aku tahu harganya. Karena dia perlihatkan bonnya. Dia hadiahi aku rumah mewah di Cinere. Rumah besar lengkap dengan kolam renang. Kendaraan mewah lengkap dengan supir yang selalu siap mengatarku kemana saja. Tapi dia jarang di rumah. Dia sibuk sebagai eksekutif perusahaan dan entah apalagi sibuknya.


Tapi Ale, 10 tahun berumah tangga serasa kering. Dia benar memanjakanku dengan hartanya. Tetapi itu sama saja dia memanjakan anjing peliharaannya. Tak ada sentuhan yang menghangatkan jiwa. Kamu bisa bayangkan Ale, malam pertama setelah dia nikmati tubuhku dengan fast track, dia langsung memunggungiku. Saat itu aku merasa sampah. Seonggok daging BBQ. Tapi ada dayaku. Selanjutnya, begitu. 


Siapapun tamu dari keluagaku datang dia bermuka masam. “ Tidak perlu kamu terlalu dekat dengan mereka.  Orang orang miskin selalu ada alasan merongrong kita. Dan lagi apa untungny dekat dengan mereka. “ Katanya. Dia marah kalau aku ke salon yang tidak dia kenal. Bukan cemburu. Tetapi lebih soal harga diri. Dia tidak mau aku sebagai aksesori jatuh kelas dihadapan orang lain karena salah tempat. 


Suatu saat aku jatuh sakit. Sakit Ginjal. Saat sakit itu dia ceraikan aku. Alasannya dia butuh anak. Sebetulnya dia anggap tubuhku tidak lagi sesuai dengan kesukaannya. Dia beri aku uang dan aku keluar dari rumahnya. Apa yang bisa kulakukan. Aku masuk ke dalam hidupnya, dia sudah punya segala galanya. Sementara aku datang dalam kemiskinan. Tapi bagaimanapun pemberian uangnya lebih dari cukup untuk aku memulai hidup baru. 10 tahun rumah tangga berjalan tampa makna.


***

Setelah bercerai aku bertemu dengan pria. Dia tidak kaya tapi baik da cerdas. Kehidupan sex kami baik walau tidak sempurna. Dia bekerja di kampus. Aku jadi istri dosen. Dengan uang yang ada aku beli rumah mungil di luar kota. Sisa uang, aku biayai sekolahnya sampai S3 di Eropa. Aku sabar menanti dia pulang dengan mengelola bisnis  impor boneka.  Tapi apa daya. Usahaku bangkrut. Rumahku disita bank. Dia kembali dari Eropa tidak pernah pulang untukku. Dia memutuskan bercerai denga kepulangannya. Ternyata dia kembali ke mantan pacarnya. 5 tahun waktu berlalu tampa makna.


***

Setelah bercerai untuk kedua kalinya, Usiaku sudah kepala tiga.Tepatnya 32 tahun. Aku bekerja sebagai pengajar tari. Dua tahun setelah itu, aku bekenalan dengan pria yang lebih muda  1 tahun dariku. Dia manager pada perusahaan Asuransi.  Dia cerdas dan banyak impian. Ternyata dia hanya punya ambisi dengan memanfaatkan kelemahan orang lain. Dia jadikan aku umpan dengan calon kastomernya. Memang sukses. Karirnya cepat melesat dan penghasilan meningkat. 


Tapi setelah itu dia tidak mau lagi menyetuhku. Setelah itu dia selingkuh denga teman satu kantornya. Aku memilih bercerai. 10 tahun perkawinan sia sia. Usiaku sudah 42 tahun.


***

Setelah bercerai yang ketiga kalinya, aku bekerja pada sebuah rumah tanggai sebagai perawat manula.  Tugasku merawat dan menemani pria manula kesepian yang kaya raya. Kemanapun dia pergi aku mendampinginya. Tugasku mengingatkan obat yang harus dimakannya dan memandikannya. Tak lupa memastikan dia tidur dengan nyaman. Ya itulah hidupku kini. Sekarag ada disini di hotel super mewah. Ya hanya sekedar bertahan hidup. 


Tapi Ale…antara aku dan pria manula itu dua sosok yang sama. Sama sama mengejar photomorgana. Dia kumpulkan harta, dimasa tuanya dia harus menghindari makan enak. Dia punya istri dan selusin selir, tapi di masa tuanya dia sendirian dan kesepian. Dia besarkan anak dan manjakan tetai masa tuanya hidup dijaga perawat. Tidak ada beda dengan aku. Aku selalu mencari suami yang sempurna tapi yang kudapati adalah kesendirian juga. Dia bukan pria suamiku tapi aku berbakti kepadanya karena dibayar. Aku bukan istrinya, tapi hidupnya butuh aku orang bayarannya. 


***

Dia terdiam setelah bercerita panjang tentang hidupnya. Ada air menggenang ditubih matanya. “ Sebetulnya siapa yang pecundang Ale? Apakah aku atau orang orang yang pergi meninggalkanku. Apakah si manula itu atau keluarganya? “ Katanya.


“ Mey, masalah kamu dan mereka adalah tidak pernah saling mencintai. Diantara kalian masing masing mencintai diri sendiri. Karenanya semua kalah. Tidak ada yang menang. Pemenang sejati adalah mereka yang bisa mencintai orang lain namun tak pernah merasa memiliki “ Kataku. Dia terseyum tipis seperti tersadarkan. Mey adalah sahabatku, tentu akulah yang pantas mengingatkannya.


“Bagaimana tentang hidupmu. Ceritakan kepadaku. “ katanya.


“ Hidupku biasa saja. Kamu kan tahu aku menikah dengan wanita biasa. Kalau sampai sekarang kami tetap bersama,  karena kami tidak merasa saling memiliki,  tapi kami saling menjaga. Karenanya berlalunya waku kami semakin tak berjarak. Selalu saling mengkawatirkan dan  tentu saling mendoakan.” Kataku.


“Ale…” Mey sekarang benar benar menangis seperti menyesali hidupnya. Aku peluk dia untuk menentramkan hatinya. “Sabar ya Mey. Kamu akan baik baik saja. Ambil hikmahnya. Cobalah gunakan pekerjaan merawat orang tua ini tampa pikirkan uang. Ikhlas sajalah. Jadikan merawat orang tua itu sebagai ladang ibadah bagi kamu untuk mendekat kepada Tuhan” Kataku. Mey mengangguk. 


***

Dua tahun kemudian,  aku dapat kabar dari Mey, orang tua yang dirawatnya meninggal dengan memberikan warisan kepada dia. Jumlahnya lebih dari cukup untuk Mey menghabiskan masa tuanya yang sedirian. Walau kini usianya 58 tahun. Mey tetap cantik dan dia sahabatku

No comments: