Wednesday, April 14, 2021

Cara dia menemukan Tuhan.

 



Kalau itu tahun 2000. Usia 36 tahun. Setelah duduk di bangku business class pesawat menuju Hong kong. Pramugari memberiku welcome drink. Dari arah pintu masuk. Aku terkejut. Menatap wanita yang baru masuk melewati kuridor. Dia sempat melirik kearahku. Tak ada senyum ketika melewati kursiku. 


Aku melirik ke belakang. Wanita itu duduk di economy class. Tepat di perbatasan ekonomi class dan business class. Apakah aku baru melihat masa laluku? Benarkah itu Risa? Mengapa dia tidak mengenalku lagi.? Dalam kebingungan itu memaksaku untuk kembali menoleh ke belakang. Dia sempat tersenyum tipis ketika aku tatap.


***

Tahun 1983 aku bekerja sebagai sales. Sering mampir ke pasar glodok. Kebetulan ada rekananku yang berdagang di glodok. Saat itulah aku mengenal Risa. Awalnya aku tertarik membeli tape kaset lagu barat tahun 70an yang dia jual di kaki lima. Dia sabar melayaniku walau aku hanya membeli satu kaset saja.


Setelah itu  kalau aku mampir ke Glodok, aku pasti menemui Risa. Lama lama kami jadi akrab. Aku senang berteman dengannya, walau dia gadis Tionghoa. Dia cerdas dan punya rasa hormat. Kalau dia mau dapatkan pacar kaya tidak sulit. Dia memang cantik.


Aku pernah ajak dia ketempat kosku di Cempaka Putih. Akupun pernah diajaknya ketempat kosnya di bilangan Mangga Besar. Jadi kami saling memaklumi bahwa kami anak rantau. Aku tak pernah mendengar dia becerita tentang masa depannya. Dia sepertinya tidak punya cita cita. Hidup mengalir saja.  Hanya karena kesibukan masing masing, kami jarang bersama sama. Tapi pernah sekali makan bubur ayam di Mangga Besar. Dia sanang sekali aku traktir. Pernah sekali nonton di Eldorado. Itu saja. 


Suatu hari aku pulang ke tempat kosku dia sudah ada di teras paviliun. “ Aku tak bisa lagi bayar kos. Daganganku sudah habis untuk biaya berobat ibuku di kampung. Aku tidak tahu mau tinggal dimana? Katanya dengan tertunduk. 

“ Kalau kamu tidak keberatan, Kamu bisa tinggal sementara di kamarku. Aku tidur di lantai. Engga apa apa ?


“ Engga. Kamu tidur di ranjang. Aku tidur di lantai. Kalau engga, ya aku cari tempat lain saja.” katanya ketika masuk kamar. Akupun mengalah. Aku sibuk membaca dan dia cepat sekali tertidur.  Sepertinya dia lelah sekali. 


Keesokan paginya. “ Aku mau ke glodok. Jadi calo aja dulu. Moga dapat peluang untuk makan.” katanya. Aku biarkan dengan rencananya. Sebelum berangkat kerja, aku memberinya uang untuk trasport. Dia sempat berlinang airmata menolak uang itu. Tapi karena butuh, dia terima juga.  Setelah itu, dia sibuk. Malam hari baru pulang ketempat kosku. Langsung tidur kelelahan.


Pernah lebaran, dia  menemaniku pulang mudik ke sumatera. Dia sangat menghormati kedua orang tuaku. Namun ayahku menolak aku berteman dengan dia. Itu dikatakan terang terangan di hadapan dia. Risa hanya diam. Tak ada sedikitpun dia tersinggung. Setelah kembali ke Jakarta, dia tidak mempermasalahkan sikap ayahku. Hampir enam bulan dia tinggal satu kos denganku. Selama itu kami tidak pernah saling menyentuh dan tetap menghormati privasi masing masing.


Dia pergi dengan alasan dapat pekerjaan sebagai penjaga toko di Surabaya. Pamannya berbaik hati menampungnya. Aku tak bisa menahan kepergiannya. Aku hanya berdoa semoga dia baik baik saja. Dua kali lebaran aku tidak datang. Karena hidupku dirantau sedang sulit. Namun dari kampung aku dapat surat. Kedua orang tuaku berterimakasih. Walau aku tidak datang tetapi kiriman uang tetap datang. Aku bingung. Siapa yang kirim uang itu.  Belakangan baru aku tahu. Ternyata yang kirim uang adalah Risa. 


Stempel wesel dari Jakarta. Itu artinya dia tidak di Surabaya. Aku berusaha mencarinya dan bertanya dengan teman temannya di Glodok. Tidak ada yang tahu dimana dia berada. Dia hilang begitu saja. Sampai akhirnya aku melupakannya. Apalagi tahun 1985 aku sudah menikah. 


***

Setelah pesawat landing. Pintu pesawat terbuka. Walau business class lebih dulu keluar. Aku tidak segera berdiri dari tempat dudukku.  Setelah giliran ekonomi class diizinkan keluar. Aku berdiri menatap kearah ekonomi class dan melangkah kearah tempat duduk Risa. “ Lama ya engga ketemu. Kamu udah jadi orang hebat. “ Katanya tersenyum.


“ Ke Hong Kong ?tanyaku.


“ Ya” Katanya singkat.


“ Ada urusan apa ? Tanyaku.


Dia tidak menjawab. Namun dia memagut lenganku melangkah keluar dari pesawat. Sama seperti 16 tahun lalu ketika kami masih melata di kaki lima. “ Aku jadi TKW.”


“ Bagaimana dengan anakmu?


“ Aku tidak pernah menikah. “


“ Sudah berapa lama kerja di Hongkong?


“ Hampir 10 tahun. Kebetulan bossku orang baik. Dia sudah anggap aku sebagai keluarga sendiri. “


Aku termenung. 


“ Megapa kamu menghilang dariku. Bukankah kita sahabat.? Kamu pernah mengirim uang untuk keluargaku di kampung disaat aku terpuruk. Apakah itu tidak ada artinya bahwa kita memang sahabat” kataku


Risa hanya diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaanku. Aku mau antar dia ke tempat tinggalnya tapi dia menolak. Kami berpisah di gate bandara HKIA. Sejak itu dia tidak pernah telp aku. Akupun sibuk. 


***

Tahun 2005 aku kena Flue SARs. Saat itu sedang ada pandemi di Hong Kong. Kalau aparat tahu aku kena SARS, pasti aku dikarantina. Semua sahabat aku telp tidak mau datang. Tentu mereka kawatir ketularan. Mereka hanya menyarankanku pergi ke RS atau hubungi pusat bantuan SARS. Temanku di China, bisa membatuku berobat tanpa harus ke rumah sakit. Masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari gate Hong Kong -shenzhen yang punya detektor suhu  tubuh. 


Saat itulah, aku telp Risa. Aku tidak yakin dia mau terima telpku. Apalagi saat itu jam 2 pagi. Tubuhku panas dan sesak napas. Ternyata dia terima telpku. Dia berjanji akan ke tempatku. Benarlah. Dalam 30 menit dia sudah ada di apartemenku. Aku ceritakan alasanku tidak mau ke RS dan ingin ke China. Sampai pagi dia merawatku dengan mengompres kepalaku setelah memberi obat penurun panas. Jam 10 pagi dia bawa aku ke shenzhen. Berkat parasetmol, aku bisa lolos melewati gate imigrasi yang dilengkapi detektor suhu tubuh. 


Di gerbang kedatangan sudah ada Wenny menantiku. Mereka berdua membawaku ke klinik khusus. Semalaman dalam perawatan aku tertidur pulas.  Besok paginya aku bisa sembuh. Ternyata itu klinik khusus pengobatan dengan candu. Sebelum aku berterimakasih, Risa sudah kembali ke Hong Kong. 


“ Semalaman Risa ada di samping tempat tidur kamu. Dia menangis dalam doa. Aku dengar doanya,” Tuhan, sembuhkan pria yang pernah menjaga kehormatanku ketika aku terpuruk dan terabaikan. Sembuhkan pria yang aku cintai dengan tulus. Aku tak berharap apapun, kecuali sembuhkan dia Tuhan.” Demikian Wenny mengulang doa Risa.


“ Bro, dia mencintai kamu dengan tulus. Dia mencintaimu karena Tuhan. Dia sudah menemukan Tuhan ketika dia bisa berkorban untuk cintanya dan tahu berterimakasih. Kalau orang sudah menemukan Tuhan lewat pengorbanan cinta, dia tidak butuh apa apa lagi..” Kata Wenny.


***


Dari stasiun HungHom, saya jalan kaki ke apartement saya di Harbour View Horison. Tidak terlalu jauh. Kaluar dari stasiun, masuk gedung Metropolis. Keluar lewat belakang, terus menyeberang jalan. Ada skybridge ke apartement saya. Ya kurang lebih 2 KM. Waktu itu tahun 2010. Bulan januari. Tempratur sore hari sekitar 18 derajat celcius. Sampai di halaman kawasan Apartement, saya melihat ada wanita mengenakan jaket musim dingin warna merah. Dia tersenyum kearah saya.  Setelah dekat “ Ale, apa kabar ? Tegurnya. Saya terkejut “ Risa! saya langsung merangkul dia. “ Ada apa kemari? kataku.


“ Aku mau ketemu kamu.” 


“ Loh kenapa engga telp dulu. Sudah berapa lama nunggu di sini?


“ Dari jam 5” Katanya tersenyum. “Aku telp kamu, tapi yang jawab sekretaris kamu. Aku juga udah email berkali kali tapi tidak dijawab. “ Sambungnya.


‘ Maaf Risa, aku beri kamu kartu nama. Itu hape dan email yang kelola sekretarisku. Aku lupa kasih kamu nomor hape pribadiku. “ kataku. “ Ayo ikut aku ke apartement” lanjutku seraya mengambil tasnya. 


“ Aku rencana mau pulang besok. Aku hanya ingin pamit aja, Ale” Katanya ketika sampai di Apartement.


“Pulang liburan?


“ Bukan. Kotrakku tidak diperpanjang. Tadinya aku mengurus lansia selama 18 tahun.  Dua bulan lalu orang tua yang aku urus itu meninggal. Keluarganya tidak mau perpanjang kontrak. Karena mereka mau pindah ke Kanada.” Kata Risa.


“ Di pontianak, keluarga kamu masih ada?


“ Ibu sudah meninggal tahun lalu. Kokoh ku sejak 10 tahun lalu berlayar ikut kapal penangkap ikan. Sampai kini tidak tahu kabarnya. “ Kata Risa dengan wajah sedih. Aku tetap Risa namun dia cepat memalingkan wajah kesamping. “Ale , aku hanya ingin mampir saja. Besok aku pulang. “


“ Loh malam ini kamu mau tinggal dimana. Bawa tas lagi?


“ Tinggal di Mess Konjen di Causeway bay”


“ Risa..Tinggal di sini aja ya “Kataku lembut.


“ Aku malu Ale…” Kata Risa berlnang airmata. “ Bajuku kumuh. Apartement kamu mewah sekali. Aku engga pantas tinggal disini. Biarlah aku pergi aja.”


“ Tidak! Kamu tinggal disini. Engga ada lagi drama kamu bisa pergi  begitu saja menghilang dariku. “ kataku tegas, membawa tasnya ke dalam kamar. “ Kamu tidur disini dan aku di kamar sebelah. Rencana pulang batalkan saja. Besok kita bahas rencana kamu ya.” kataku.


“ Nah sekarang kita keluar cari makan” kataku.


“ Aku di apartement saja. Aku bisa masak.” Katanya sungkan.


“Engga Risa. Kita makan malam di luar saja.” kataku. Dia nurut. Kami pergi ke kawasan Financial center. Mampir sebentar ke toko pakaian. “ Kamu diam saja. Pelayan toko akan pilih pakaian yang cocok untuk kamu. “ 

“ Tapi mahal Ale?

“ Engga usah pikirkan. Kartu emas ini yang jamin bayar. “ Kataku menyerahkan CC ke pelayan toko. Aku segera telp Lena agar siapkan makan malam di Financial Club.


***

Besok pagi Wenny sudah datang ke apartement. Aku perintahkan Wenny untuk memikirkan masa depan Risa. Sementara dia tinggal sama Wenny. Risa terharu ketika meninggalkan apartemenku. Dia hanya tamatan SMA, tapi dia fasih bahasa inggirs , mandarin dan kanton. Yang sangat membantu masa depan Risa di Hongkong adalah dia sudah punya PR. Jadi mudah merencanakan pekerjaan untuk dia di Hong Kong atau di negara lain. Sementara dia magang di holding di bawah pimpinan Wenny.


Tahun 2011 Risa pindah ke Vietnam pada unit business kami bidang elektonik. Awalnya berkarir sebagai office manager. Tahun 2012 dia sudah pegang posisi GM. Tahun 2013 dia sudah pegang posisi sebagai direktur.  Benar kata Weny dia memang cerdas dan sangat mandiri. 


Tahun 2018 dalam pertemuan dengan seluruh anak perusahaan, Risa datang mewakili perusahaannya di Vietnam. Usai acara aku undang dia makan malam. Saat aku genggam erat jemarinya “ Ale aku sudah tua ya.  Udah lembek ya. “ Katanya tertunduk malu.


“ Tapi kamu tetap Risa ku. Itu tidak akan berubah. “ Kataku. Wenny bilang waktu aku sakit, kamu berdoa. Bilang kamu mencintaiku ya.” Lanjutku. Wajahnya bersemu merah. Dia cubit lenganku. Kini usianya 56 tahun. Kami menua namun tetap saling mendoakan. 

“ Walau hidupku mungkin tidak lama lagi. Aku bahagia, karena kamu tahu aku mencintaimu.” Katanya. 

Aku peluk dia. “  Aku bahagia Ale. Kamu selalu menghormatiku dan membuatku sangat sempurna sebagai wanita.” Katanya berlinang airmata.


No comments: