Monday, March 29, 2021

Mengembalikan ayah mereka ke rumah.

 


Kami terlibat dalam proyek pembangunan pipa gas alam dari Iran ke Pakistan. Kami bukan EFC hanya subkontraktor. Perusahaan kami di Beijing memenangkan kontrak. Itu semua keputusan sepenuhnya ada pada anak perusahaan. Saya sebagai CEO holding tidak terlibat sama sekali. Namun empat bulan proyek itu berjalan.  Tahun 2016, saya dapat kabar bahwa Pimpro di culik oleh teroris. Menurut informasi dan komunikasi dengan penculik, mereka dari ISIS. Saya membuat keputusan. Saya sendiri yang akan memimpin penyelamatan Pimpro itu. Saya bertemu dengan istri, anak serta kedua orang tua dari pimpro itu. Bahwa saya janji kepada istri pimpro itu.  Saya akan membawa pulang suaminya.


Piihak China sangat membantu saya. Mereka memberikan dukungan segala galanya agar bisa membawa pulang Pimpro itu. Kami berangkat ke Turki bersama team. Pihak aparat Turki membantu penuh. Sahabat saya di Moscow membantu saya dengan mengirim perwira Rusia datang menemui saya. Saya terharu begitu besar perhatian sahabat saya. Padahal saya hanya orang asing. Penculik meminta uang tebusan USD 15 juta ketika komunikasi dibuka lagi. Selanjutnya strategi diatur untuk operasi penyelamatan. 


Saya gunakan semua sumber daya saya untuk dapatkan informasi tentang penculik. Dari informasi itulah team bekerja. Walau terkesan rumit untuk mengetahui posisi penculik. Namun berkat tekhonologi canggih, tak lebih 3 hari posisi sudah diketahui. Sehingga rencana detail operasi dapat disusun. Penculik minta saya mengantar uang ke Yerevan, Armenia. Penculik tidak ingin ada barter. Saya harus percaya. Janji demi Allah, mereka akan kirim sandera kalau pembayaran berjalan lancar. Team terbagi dua. Satu mengawal saya dan satu lagi ke lokasi sandera. Waktu disusun dengan ketat. Saya harus ulur waktu agar timing tepat saat penyerbuan lokasi sandera disekap.


Jam 8 pagi jadwal penyerahan itu. Tepat jam 8.00 saya bertemu di titik penyerahan uang. Jam 8.07 menit saya pergi dari lokasi penyerahan uang. Jam 8.13 relawan Hizbullah dan para komando Iran berhasil menghabisi penculik. Merebut kembali uang itu. Dari mereka saya tahu jam 8.09 team sudah berhasil melumpuhkan penculik dan menyelamatkan sandera. Penyerbuan itu cepat sekali. Hitungannya detik dan menit. Artinya kalau 8.07 saya tidak menyerahkan uang atau dihalangi oleh team penyerbu. Penculik yang jemput uang akan mengeluarkan komando kepada penyekap sandera untuk menghabisi sandera dan pasti bersiap menghadapi serangan dari team serbu. Pasti operasi gagal.


Tapi keberhasilan operasi itu tanpa dukungan Mary, sulit akan berhasil. Karena Mary, pengungsi Suriah-Armenia itu mengenal salah satu penculik. Mary pernah jadi pemuas sex mereka waktu mereka merebut Aleppo. Dari Mary kami tahu bahwa sandera ada di Karabakh. Dengan drone dan satelit China, titik lokasi sandera dapat dilihat dengan jelas. Terkonfirmasi. Saya mengenal Mary dari petugas ICF dan Bulan Sabit. Saya menemuinya di Yerevan, dan berusaha bersahabat. Sehingga dia punya keberanian membantu kami.


“ Jadi, gimana dengan rencanamu meninggalkan Armenia?" Mary bertanya, sambil tersenyum. Usianya mungkin belum empat puluh. Saya tak ingin tanya pasti usianya. Mungkin engga sopan bertanya tentang usia kepada wanita. 


"Di Suriah aku punya mobil," katanya. “ Bagus. Tapi aku tidak mampu membeli suku cadang. Orang Suriah punya cara mengakali agar kendaraan tetap jalan” Sambungnya dengan senyum tertahan getir. "Sekarang," dia memalingkan wajah kesamping. Menghentikan kata katanya. Lama terdiam. Aku maklum. “ Aku ingin kembali ke Suriah. Tidak ada yang bisa dilakukan di sini."  Katanya tertunduk. “ Dan kamu, mungkin besok sudah pergi. Mungkin setelah itu kamu tidak akan pernah ingat aku lagi.” Katanya dengan suara getir.


“ Bila keadaan sudah damai. Suatu hari, aku ingin kembali ke Aleppo“ Katanya. Di bawah rezim Bashaar, memang kelompok minoritas terlindungi dengan baik. Suriah menjadi kosmopolitan yang damai. Sangat berbeda dengan kelompok jihadis yang menteror semua penduduk yang berbeda dengan mereka. 


Aku kembali ke Beijing bersama Pimpro. Di Bandara, di depan gate kedatangan. Saya liat, istri dan anak serta orang tua Pimpro  itu menanti. Mereka berebut memeluknya. Saya berlinang air mata menyaksikan pemandangan kerinduan itu. Saya bersukur kepada Tuhan. Apa jadinya kalau saya gagal mengembalikan ayah kedua anaknya? Putra dari kedua orang tuanya. Suami dari istri yang setia. Padahal mereka titipkan ayahnya kepada saya untuk bekerja bukan untuk diculik atau dibunuh. Saya sholat dua rakaat sebagai tanda sukur. Terimakasih Tuhan atas semuanya. Tanpa Mu,  aku tidak akan berhasil mengemban tanggung jawab bagi mereka yang bekerja keras untuk perusahaan yang kupimpin.


Walau aku tidak berjanji apapun kepada Mary akan membantunya. Setelah berpisah dengan Mary, aku menggunakan segala sumber daya yang kupunya untuk menjaga Mary. Dia aman bersama diplomat Rusia. Februari 2020 Mary sudah kembali di Aleppo.

No comments: