Sunday, December 20, 2020

Memanusiakan orang miskin

 


Aku engga apa apa. Rum. “ Kata Doni berusaha berdiri. Aku menangis melihat Doni teraniaya. Itu karena Doni berusaha melindungiku dari anak berandal yang megangngguku sedang olah raga di lapangan bersama teman teman. Sikunya berdarah. Dari kepalanya keluar darah karena kena pukulan kayu. Tetapi Doni petarung sejati. Dia berhasil membuat pengeroyoknya tidak ingin melanjutkan perkelahian. Dua dari mereka tejatuh.


“ Aku kasihan dengan ibuku. Ini dagangan untuk bantu ibuku menghidupi kami” Kata Doni dengan t sedih menatap pempek yang bertebaran di jalan. Termos es hancur. Namun Doni tidak meratap. Hanya airmatanya berlinang.

“ Kamu ke dokter sekarang. Aku panggil supirku datang sekarang. Kamu tunggu !” kataku seraya keluar dari lapangan olah raga ke tempat parkir.

“ Engga perlu Pak. Saya pulang aja. “ Kata Doni kepada supirku. Dia menutup luka kepalanya dengan kaus bajunya.

“ Pak cepat bawa Doni ke Rumah sakit. Dia teman sekelas saya. “ Kataku meraung kepada supirku. Namun Doni terus melangkah dan menjauh membawa baskom kosong. Keesokanya aku bertemu dengan Doni di kelas. Kepalanya tidak diperban. Aku tanpa sungkan melihat kepala dan sikunya. “ Dikasih kopi Rum. Engga apa apa “ kata Doni dengan tersenyum. Aku menitikan airmata.

“ Mereka jahat sekali. “Airmataku jatuh.

“ Engga apa apa, Rum “ Doni tersenyum seakan menguatkan aku bahwa dia akan baik baik saja.


***

Doni teman SMP ku. Kami dari SD sekalas. Waktu SD jam istirahat dia jualan kerupuk di halaman sekolah. SMP, dia jualan pempek di halaman sekolah. Pulang sekolah dia jualan Es Balon dan Pempek di tempat olah raga. Doni pintar sekolah khususnya matematika. Lainnya dia memang kurang. Namun dia tidak pernah punya masalah dengan temannya. Walau dia sering diejek karena pakaianya tambalan namun dia tak pernah tersinggung.. Dia hanya punya satu sepatu. Olah raga dia bertelanjang kaki. Karena dia tak mampu beli sepatu olah raga.


Tamat SMP aku masuk sekolah Swasta kristen. Karena aku etnis Tionghoa. Doni terima di sekolah negeri. Sekolah pavorit. Sejak itu aku jarang bertemu dia. Namun setiap malam minggu aku sering melihat Doni dagang rokok di kaki lima. Papaku selalu temani aku turun dari kendaraan menyapa Doni. “ Nak Doni, rame dagangannya ? Kata papa.

“ Biasa saja Pak. “

“ Ya udah, Saya beli rokok Djisamsoe ya “

Doni sempat melirikku ketika menyerahkan rokok itu kepada papa. Namun dia cepat sekali menundukan wajah di depanku.

“ Rum, Papa dulu waktu seusia Doni juga mengalami kehidupan seperti Doni. Biasa saja laki laki. ‘Kata Papa. Doni menunduk ketika kami pamit berlalu. Sesudah makan mie bersama papa, aku selalu pesan mie untuk dibugkus, untuk Doni. Papa hanya duduk di dalam kendaraan melihatku mengantar mie ke Doni yang sedang dagang di kaki lima. Itu aku lakukan selama tiga tahun setiap malam minggu. “ Kamu berbuat baik itu karena Tuhan. Dan nanti Tuhan juga yang akan membalas kebaikan itu ” Kata Papa. Itu tidak pernah aku lupa.


***

Setamat SMA aku melanjutkan ke universitas Swasta di Jakarta. Setahun kemudian, keluargaku juga hijrah ke Jakarta. Aku tidak tahu kelanjutan Doni. Namun kenangan tentang Doni tidak pernah hilang dalam ingatanku. Setamat Universitas aku bekerja di bank swasta di Jalan Roa Malaka, jakarta. Aku pacaran dengan nasabah bankku. Tiga tahun setelah itu aku menikah. Namun kenangan tentang Doni tak pernah juga hilang. Apakah aku jatuh cinta dengan Doni? Ah tidak. Aku hanya merindukan wajah teduh dan tenangnya. Semangat hidupnya tanpa mengeluh. Membuat aku aman bersamanya.


Usiaku sudah 50 tahun. Seusia itu aku sudah menjanda dua tahun. Suamiku meninggal. Aku harus mengambil alih tanggung jawab melanjutkan usaha suami. Papa udah meninggal. Mama tinggal bersamaku. Usahaku semakin sulit. Karena mendiang suamiku meninggal hutang yang cukup besar. Aku berusaha bertahan. Pertahanku terakhir adalah menyelesaikan utang bank. Agar pabrik tidak disita. Pihak bank berbaik hati untuk menyelamatkan bisnisku. Caranya aku harus bermitra dengan investor. Aku ikhlas. Yang penting aku tidak dibebani hutang. Amanah mendiang suami bisa kutanaikan.


Di hotel bintang Lima aku diatur oleh pihak bank untuk bertemu dengan calon investor yang akan jadi mitraku. Aku datang on time. Tak lebih 5 menit setelah itu, aku melihat pria berjalan kearah tableku. Jantungku berdetak kencang. Betapa tidak. Pria itu adalah Doni. “ Rum, kamu? lama ya engga ketemu. Kamu sehat.? Katanya beruntun. Aku perhatikan ada kerinduan pada wajah Doni. Dia tetap menaruh hormat kapadaku seperti waktu SMP dulu.


“ Aku baik saja, Don. Kamu sehat ?

“ Aku sehat. Kamu sendirian ? boleh aku gabung sebentar. “

“ Oh boleh Doni. Boleh. “

“ Nanti kalau relasi kamu datang. Aku pergi “

“ Ya. tapi tunggu aku.Jangan pergi. Aku kangen Don. “

“ Boleh tahu mau ketemu siapa ? Pria ?

“ Perempuan , Ibu Yuni. ?

“ Yuni dari yang di cengkareng. Yang punya pabrik footware di batuceper ?

“ Ya kok kamu tahu ?

“ Ya artinya kamu ketemu aku. Yuni itu direksiku.”

“ Hah..Doni! Kamu boss nya ?

Doni hanya tersenyum dengan rendah hati.

“ Ya tadi Yuni cerita soal kerjasama bisnis. Aku putuskan ketemu langsung. Dia engga bisa ikut meeting. Ada urusan lain. “

“ Oh..” Aku kehilangan kata kata.


Doni tidak jadi bermitra dengaku. Caranya sangat halus memperlakukanku. Dia bantu menyelesaikan masalah lewat skema venture linked MBO. Ya hutang perusahaanku dilunasinya di bank. Dengan cara itulah aku dapatkan pasar dan sumber daya keuangan. Doni, adalah pahlawam yang Tuhan kirim kepadaku.

" Ya tak pernah aku lupakan. Rasa kawatir kamu ketika melihatku terluka. Itu benar benar menginspirasiku. Air matamu itu tidak bisa dihapus dalam pikiranku. Itu akan abadi. Bahwa aku dimanusiakan di tengah kekurangan dan kemiskinanku." kata Doni. Namun sikap hormatnya tidak berubah kepadaku. Kadang aku risih tetapi itulah Doniku. Sampai kini kami bersahabat.

No comments: