Saturday, May 02, 2020

Hati tetap sama walau waktu berganti

Perjalananku sendiri lamat saja. Belum pernah kurasa hidup menjadi amat sepi. Hidupku datar saja namun selalu ada harapan karena kamu selalu ada untukku. Selalu, kuingat tentang kisah picisan kita, Esther. Setiap aku menelusurikota pada malam hari. Bahkan dari gigil udara malam, dendang lagu tentangmu dapat memancing kehangatan. Kamu adalah mataku. Yang kugunakan untuk menaklukan dunia. 

Bagiku, pelan adalah keselamatan. Menekuri ketelitian. Menghindari bakhil yang celaka. Hanya mata hati yang berfungsi. Pandangan itu menipu. Semenjak beberapa tahun lampau. Ketika passion-ku wakafkan. Karenanya tak mengenal aku kebanggaan atas credit card centurion dan palladium. Tetapi karena itu, aku bisa mendengar bulan mendengkur, di antara awan dan gedung tinggi. Bulan selalu tertidur selepas tengah malam. Bosan barangkali. Lelah juga mungkin. Tapi kamu selalu mengatakan, ”bulan bukan bosan. Ketika kota hening, ketenangan akan membiusnya.” Tak setuju benar aku perihal itu. Tapi memang keheningan selalu dapat membius. Keheningan adalah jenis racun dengan wujud yang lain.

”Kamu ingin hadiah apa untuk ulang tahun?” tanyaku ketika membalas WA mu mengabarkan kau akan ke Jakarta di hari ulang tahunmu. Ingin mengbabiskan kebersamaan denganku.

”Gandeng aku seperti ditahun 1993 berjalan dimalam hari dari Cikini ke Raden Saleh, Hotel Pardede!”. Itu jawaban WA mu. .
”Ayolah, ke Jekarta, kita lakukan napak tilas seperti dulu saat kita masih muda.”

Ingatanku melambung jauh di tahun 1996 di Bali. Kamu tertawa, nampak susnan gigimu begitu indah. Dapat kulihat bibirmu indah sekali ketika menyuap es cream.. ”Tak percayakah kamu? Baiklah, esther, aku hanya pria kampung. Peragu dan kadang inferior, di mata orang normal seperti kamu. Yang tak selalu memiliki mimpi besar seperti kamu, yang ingin menguasai dunia. Menaklukan Hong kong. Bahkan selama ini, aku takut dengan kemewahan. Sepertinya aku tidak bisa menjadi predator yang rakus.”

”Jangan, jangan pernah bicara seperti itu lagi, Jaka.? Suatu saat kamu akan jadi elang perkasa. Aku meliat itu di matamu, mata elang, sayang” kamu merapatkan wajahmu ke wajahku seakan sedang mencari mata elang itu. Sementara aku memperhatikan sebuah lesung pipit tersemat di hulu pipimu, kiri.

Aku terpengkur. Nanar kesabaranku. ”Esther, tak usahlah berharap aku akan jadi apa seperti imaginasimu. Terimalah aku sebagai sahabat yang terburuk dari yang buruk yang kamu punya.”
”Kamu yang terbaik, Jaka, Terbaik dari yang terbaik. Tahu mengapa? kamu mengerti arti dari balas budi. Bukan hanya tentang berbagi. Harga diri. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, mimpimu.”
”Mimpi? aku tidak punya mimpi, Esther.”
”Peluk aku.”Esther membentangkan kedua tangannya. Aku memeluknya 
“ Dengar, kamu pria satu satunya yang pernah menyentuhku. Tidak akan ada orang yang bisa merendahkan kamu. Ingat itu”

Bahkan bertahun-tahun aku menghadapi pasang surut. Jangankan jadi elang, jadi ayam jago aku tak pantas. Sementara engkau, esther telah jadi ayam merak di pusat keuangann dunia. Bahkan ketika aku menemuimu di Hong Kong, aku sedang sekarat menuju kebangkrutan. Sudah luluh benar rasanya kejantananku. Kodrat sebagai seorang lelaki. Simbol kesuksesan. Dan mimpi itu lapuk dimakan rayap. Waktu. Dan bumi yang berputar menyelipkan kusam. Seperti sesusun batu di balkon rumah susun ”Maaf, Esther, nasib baik enggan menghampiriku,” kataku ketika melahap makan malam sebelum kepulanganku ke Jakarta setelah 1 tahun di Hong Kong dalam perjuangan lelah dan kalah di tahun 1999.

***
Tahun 2018, Jam 5 sore, Jakarta
“ Aku di Pullman Hotel Thamrin. Datanglah” WA dari Esther. Aku terkejut secepat itukah dia datang. Dia menantiku di loby. Dari jauh dia merentangkan kedua tanganya. Aku memeluknya hangat. 
“ Akhirnya kamu datang juga. “ kataku. Esther memerah wajah. 
“ Aku libur sampai minggu depan. Mau ke Yogya ke makam ibu.”
“ Mau aku temanin.?
“ Engga usah. AKu ingin sendirian aja.”
“ Yakin ?
“ Ya..”
Aku hanya tersenyum. Kami asyik ngobrol panjang lebar. Cerita soal kelakuan Wadah, dan cerita sendu tentang Lyly yang mewakafkan semua tabunganyna untuk panti Asuhan di mana dia pernah dibesarkan. Kami menikmati makan malam. “ Jaka, kamu tidak pernah menggodaku bahkan ketika menikmati makan malam direstoran semahal ini” 

Aku berdiri dari tempat duduk seraya menarik lengannya. “ kemana ? Esther nampak bingung.
“ Kita naik taksi ke Cikini raya. Terus dari sana kita ke Jalan Raden Saleh. Kita bergila seperi dulu kala kita muda di Hotel Pardede “
“ Emang masih ada hotel itu ?
“ Lihat aja nanti. Kita mampir dulu ke Plaza Indonesia beli Wine. Gimana?
“ Siapa takut….Ayuk”

***
Di dekat TIM kami nongkrong di warung. Ada pengamen datang membawakan lagu “ Kenangan terindah, “. Esther meminjam gitar itu, dia menyanyikan lagu favoritinya. “ Perpect “.
I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found a boy beautiful and sweet 
I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Well I found a man, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry…

Saya terharu. Begitu arti sebuah persahabatan. Secara spiritual persahabatan itu sejati , selalu membuat kamu rindu dan selalu ingin jadi kanak kanak….dan saling menguatkan mimpi dan seling bergandengan tangan untuk berubah lebih baik karena waktu. Dulu kali pertama aku mengenalnya usiaku 30 tahun dan Esther 32 tahun. Sekarang tahun 2018, usiaku 55 tahun dan Esther 57 tahun. Kami  memang berubah, menua namun hati kami tidak pernah berubah.

No comments: